Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Tiba Di Negeri Jawadwipa


__ADS_3

Karena dengan serbuk mesiu saja tetap belum bisa mendesak Sindunata dan Puruhita, akhirnya laki laki paruh baya itu diam diam mencampurkan sejenis cairan pada serbuk mesiu itu. Yang apabila serbuk mesiu itu terbakar dan meledak, cairan yang dicampurkan tadi ikut terbakar dan mengeluarkan asap tipis namun baunya sangat wangi.


Selama pertarungan, Sindunata dan Puruhita tanpa terasa menghirup asap wangi tersebut secara berulang ulang. Mata dan akal pikiran mereka berdua mulai terpengaruh oleh asap wangi tersebut. Mereka berdua mulai berhalusinasi. Dalam pandangan mereka, yang mereka keroyok, terkadang berubah menjadi Lintang Rahina.


Setelah melihat kedua lawannya agak bingung dan mulai kacau gerakannya, laki laki paruh baya itu melompat ke belakang sambil berteriak. Bukan teriakan biasa, tetapi teriakan yang diisi dengan getaran energi yang memperkuat pengaruh asap wangi tersebut pada lawannya.


"Berhenti ! Kakang Sindunata dan Mbakyu Puruhita, kenapa kalian mengeroyok aku ?" tanya laki laki Paruh baya yang di mata Sindunata dan Puruhita sudah berubah menjadi Lintang Rahina.


"Kenapa bisa begini ?" tanya Sindunata dan Puruhita keheranan.


"Sudahlah kakang dan mbakyu berdua, yang penting kalian berdua sudah sadar siapa aku. Sekarang ambil anak kalian yang sedang bermain di pantai sendirian. Kita berbincang di rumah," kata Laki laki paruh baya itu berperan sebagai Lintang Rahina.


Sindunata dan Puruhita pun terkejut. Mereka terlalu fokus bertarung sehingga sampai melupakan anak mereka. Segera saja mereka berdua berkelebatbke arah pantai dan mendapatkan Indrabayu anak mereka sedang jongkok bermain air laut yang kadang kala menjauh, kadang kala menggenangi tempat kedua kakinya berpijak.


Sementara itu, melihat Sindunata dan Puruhita bisa terpengaruh oleh asap sihirnya, laki laki paruh baya itu tersenyum.


"Puuiiihhh ! Akhirnya berhasil. Untungnya percobaanku pada mereka berhasil. Kalau tidak, entah bagaimana caraku membalas dendam. Baru dua orang ini saja, sangat berat untuk dikalahkan. Mungkin aku bisa menang melawan mereka berdua, namun pastinya juga tidak ringan luka luka yang aku terima," kata laki laki paruh baya itu, "Semoga asap sihir ini juga bisa mempengaruhi yang lainnya. Akan kuperalat mereka untuk membalaskan dendamku !"


Ketika Sindunata dan Puruhita tiba di rumah setelah mencari anaknya, mereka pun akhirnya berbincang bincang mengenai banyak hal.


Dari perbincangan itu, laki laki paruh baya itu bisa mengetahui, kalau guru dari Lintang Rahina, ada banyak. Sehingga laki laki paruh baya itu berencana menemui guru guru Lintang Rahina.


"Akan aku pengaruhi mereka dengan asap sihir. Kalau mereka semua bisa terpengaruh, akan aku buat mereka semua sebagai alat untuk menyerang Lintang Rahina !" kata laki laki paruh baya itu dalam hati.


Tuan Muda Kim atau laki laki paruh baya itu, sedikit banyak, bisa memperkirakan dan mengukur kemampuan Lintang Rahina dan istrinya.


Hanya orang dengan kemampuan yang tingkatannya jauh di atasnya, yang bisa mengalahkan adik dan kedua orangtuanya secara bersamaan. Dan itu tidak mungkin Sindunata dan Puruhita, pasangan suami istri yang tadi melawannya, karena dia masih bisa dan mampu mengalahkannya.


Akhirnya, berbekal informasi dari Sindunata dan Puruhita, Tuan Muda Kim mendatangi satu persatu guru Lintang Rahina, dan berhasil mengalahkannya walaupun dengan susah payah. Dengan berbekal ilmu sihir dengan alat peledaknya yang dia mainkan dengan energinya yang sudah sangat tinggi, membuat Tuan Muda Kim berhasil juga mempengaruhinya.


Kemudian, laki laki paruh baya atau yang dulu dikenal.dengan sebutan Tuan Muda Kim itu, mengumpulkan mereka semua guru guru Lintang Rahina, di tempat tinggal Sekar Ayu Ningrum di Parangtritis.

__ADS_1


Mereka semua, Ki Penahun, Ki Pradah, Ki Jagad Dahana, Ki Jagad Anila, bahkan Ki Dipo Menggala dan Ki Wongso Menggala bisa dipengaruhi. Kecuali Ki Ageng Arisboyo yang tidak diketahui keberadaannya, karena masih membantu perjuangan Panembahan Senopati. Hal itu juga menunjukkan, betapa sudah sangat tinggi tingkatan ilmu dan energi Tuan Muda Kim. Selain itu didukung juga faktor, semua guru guru itu sudah sangat rindu dengan Lintang Rahina.


----- o -----


Ketika sampai di perairan yang termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Campa, armada laut yang dipimpin oleh Raksa Samodra, sempat di hadang oleh Armada Angkatan Perang Kerajaan Campa. Namun berkat kesigapan Raksa Samodra dan pengaruh dari kata kata Lintang Rahina yang mengatakan kalau mengenal Sindu Amarajati.


Mendengar nama Sindu Amarajati disebut, para panglima Angkatan Perang Kerajaan Campa terkejut. Namun mereka tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan Lintang Rahina. Diam diam mereka mengutus beberapa prajurit untuk memberi kabar pada Sindu Amarajati.


Begitu prajurit itu menyebut nama Lintang Rahina, Sindu Amarajati langsung berangkat sendiri dengan melesat terbang, untuk menemui Lintang Rahina.


Sesampainya di tempat Lintang Rahina, Sindu Amarajati langsung menyambut Lintang Rahina dan hendak menegur para panglima angkatan perang Kerajaan Campa. Namun dicegah oleh Lintang Rahina.


Para panglima angkatan perang Kerajaan Campa yang sudah sangat hormat pada Lintang Rahina pun menjadi bertambah hormat dengan sikap Lintang Rahina.


Akhirnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum diajak ke istana kerajaan Campa oleh Sindu Amarajati.


Pada Sindu Amarajati, Lintang Rahina menceritakan tentang berhasilnya menyelamatkan anaknya. Tentang istrinya yang bertemu dengan Dewi Tara dan tentang siluman naga penguasa lautan sebelah selatan negeri daratan besar.


Setelah beberapa hari berada di negeri Campa, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum serta Raksa Samodra dan para prajuritnya, berpamitan untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju negeri Jawadwipa.


Kembali Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melakukan pelayaran bersama dengan armada laut pimpinan Raksa Samodra.


Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal selama sekitar sepulih hari, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tiba di pesisir utara negeri Jawadwipa.


Karena Raksa Samodra tidak mau diajak masuk ke pedalaman bersama sama, dengan alasan ingin menemui rekan atau kenalannya sesama pelaut, akhirnya Lintang Rahina berangkat ke pedalaman hanya dengan Sekar Ayu Ningrum dan anaknya.


Mereka berdua melakukan perjalanan dengan melesat melayang di udara.


Sehingga hanya dalam waktu satu hari, mereka sampai di pesisir selatan.


Ketika mereka memasuki pesisir Parangtritis, mereka dikejutkan dengan keadaan di tempat tinggal Parangtritis.

__ADS_1


Pada awalnya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sangat gembira, kedatangannya disambut oleh Sindunata dan Puruhita serta terutama oleh guru guru mereka.


Namun, mereka dikejutkan dengan sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh mereka semua. Seolah olah mereka seperti tidak kenal dengan mereka berdua.


Bahkan, Sindunata dan Puruhita tanpa basa basi langsung memberikan serangan pada mereka, yang kemudian diladeni oleh Sekar Ayu Ningrum.


Sekar Ayu Ningrum yang sekarang ini, sangat berbeda dengan sebelum mengembara ke negeri daratan besar.


Dengan kemampuannya yang sekarang, Sekar Ayu Ningrum menghadapi setiap serangan Sindunata dan Puruhita dengan tenang. Sementara itu, Lintang Rahina sangat kebingungan dalam menghadapi para gurunya.


Walaupun tingkat energinya sebenarnya jauh di atas para gurunya, namun Lintang Rahina tidak serta merta langsung melawannya.


"Kakek, ini aku Lintang Rahina. Apa kakek sudah lupa kepadaku ?" tanya Lintang Rahina saat Ki Penahun menyerangnya.


"Lintang Rahina tidak pernah berbuat jahat seperti yang kau lakukan !" jawab Ki Penahun.


Melawan guru gurunya, dengan niat dan penggunaan energi yang setengah hati, membuat Lintang Rahina sangat kewalahan.


Berkali kali, Lintang Rahina berkata memohon pada para gurunya untuk menghentikan serangannya. Namun seolah perkataan Lintang Rahina tidak didengar.


Berkali kali, pukulan ataupun tendangan guru gurunya dia terima, walaupun tidak terlalu berdampak pada tubuhnya. Karena Lintang Rahina juga menguasai ilmu itu bahkan dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi. Namun, ada hal yang membuat mata Lintang Rahina berlinang air mata. Semua yang dilakukan oleh para gurunya sepertinya tidak sewajarnya.


Maka, untuk mencegah agar tidak terjadi hal hal yang membahayakan mereka semua, Lintang Rahina segera mengajak Sekar Ayu Ningrum untuk meninggalkan tempat itu sementara waktu, sambil memikirkan bagaimana cara menghadapi masalah seperti itu.


"Adik Sekar ! Kita pergi dulu sambil mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi !" teriak Lintang Rahina.


Menyadari situasi yang membingungkan, Sekar Ayu Ningrum pun segera mengikuti perkataan Lintang Rahina.


Mereka berdua segera melesat pergi menjauh dulu dari tempat itu.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum seperti menghilang dari hadapan para gurunya tanpa bisa dikejar lagi.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2