Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertemuan Tiga Sahabat Lama


__ADS_3

Lintang Rahina berjalan beberapa langkah kemudian berhenti. Dia mencoba mengayunkan tangan kanannya ke depan. Tiba tiba sebuah senjata berbentuk trisula berada di dalam genggamannya.


Lintang Rahina mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke senjata itu. Seketika senjata itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan berpendar.


Yang lebih membuat Lintang Rahina terkejut, dia merasakan tenaga dalamnya meningkat berkali lipat.


Kemudian Lintang mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Pendaran cahaya berwarna kuning keemasan tampak menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina.


Lintang Rahina mencoba menotolkan ujung jarinya pelan ke tanah. Seketika tubuhnya melayang ke atas. Lintang merasakan tubuhnya bertambah ringan seringan kapas.


Dalam keadaan tubuhnya masih melayang ke atas, Lintang menambah sedikit aliran tenaga dalamnya ke kaki dan tangannya. Tubuh Lintang Rahina tertahan di atas dan tidak meluncur ke bawah.


"Melayang," teriak Lintang dalam hati, "tingkat tenaga dalamku bisa membuat aku melayang."


Dengan perasaan senang bercampur terharu, Lintang pelan pelan turun. Begitu kakinya sampai ke tanah, Lintang Rahina langsung bersujud menghadap arah dalam goa sambil berkata, "terimakasih eyang Prabu Brawijaya, Lintang akan sekuat tenaga menjaga amanat eyang."


Cukup lama Lintang bersujud seperti itu. Hingga beberapa waktu kemudian, Lintang bangun dari sujudnya dan menghadap ke arah mulut goa.


Dengan seluruh tubuh dilapisi tenaga dalam, Lintang berjalan ke arah mulut goa yang tertutup oleh air terjun.


Dengan tubuh melayang, Lintang Rahina masuk ke rapatnya air terjun.


Terkena hempasan air terjun, tubuh Lintang Rahina tetap melayang dan seluruh tubuh dan pakaiannya tidak basah. Setelah menembus derasnya air terjun itu, Lintang Rahina segera melesat ke atas dan turun di tempat pertarungan kemaren.


--- o ---

__ADS_1


Pagi yang cerah. Matahari baru saja memunculkan sinarnya. Titik titik embun yang menyelimuti dedaunan tampak berkelip kelip memantulkan sinarnya. Seluruh permukaan bumi seolah berkeringat karena embun yang mulai menguap.


Seperti tiga orang tua yang pagi itu sudah bermandikan keringat, di kedalaman hutan Penahun di punggung gunung Merbabu.


Sambil tertawa dan saling memuji, Ki Penahun, Ki Pradah dan Ki Ageng Arisboyo mengadu kekuatan dan kecepatan dengan saling serang menggunakan jurus jurus ciptaan mereka masing masing.


"He he he....Ki Penahun," kata Ki Pradah, "tanganmu semakin kotor dan nakal, terpaksa kujemput dengan tongkatku ini, he he he."


Sambil memutar tongkatnya untuk menahan serangan Ki Penahun, Ki Pradah memuji peningkatan ilmu 'Tapak Wulung' ciptaan Ki Penahun, yang disebutnya dengan 'tangan kotor dan nakal'.


Memang, saat dimainkan oleh Ki Penahun, ilmu pukulan 'Tapak Wulung' tampak semakin dahsyat hasilnya. Dari setiap dorongan telapak tangan Ki Penahun, dirasakan Ki Pradah, energi yang keluar tidak terlihat tetapi rasanya seperti dihantam oleh tangan raksasa.


Memang sejak Lintang Rahina meninggalkan hutan Alas Penahun, Ki Penahun bertapa sambil menyempurnakan ilmu ilmu silatnya.


Ilmu 'Tapak Wulung' ditambah dengan jurus yang gerakannya lambat, tetapi dari tiap hantaman tapak tangannya keluar energi tak terlihat yang sangat besar selebar sampai sepuluh meter yang bisa menghancurkan bukit dengan mudah.


Dan istimewanya lagi, ilmu 'Tongkat Pemungut Sampah' yang bila dimainkan dengan tehnik pengendalian tenaga dalam khas milik Ki Pradah, bisa menembus pertahanan dan lapisan tenaga dalam yang meyelimuti tubuh lawannya.


Apalagi ditunjang dengan ilmu meringankan tubuh Ki Pradah yang sudah termasuk tataran paling tinggi, menambah berbahayanya tongkat yang dipegang Ki Pradah.


Senada dengan Ki Pradah, Ki Ageng Arisboyo mengembangkan ilmu pedangnya 'Cumbita Jaladhi'. Yang bila dimainkan dengan tehnik pengendalian tenaga dalam Ki Ageng Arisboyo, setiap sabetan atau tusukan pedangnya, mengeluarkan luncuran energi seperti asap tipis berbentuk seperti senjata yang digunakan.


Yang bila dimainkan oleh Ki Ageng Arisboyo, luncuran energi itu keluar tidak hanya satu, tetapi berjumlah banyak dan datangnya bertubi tubi seperti gelombang lautan.


Pertarungan tiga orang yang kesaktiannya seimbang itu menimbulkan ledakan ledakan keras.

__ADS_1


Setelah lebih dari dua jam mereka bertiga saling menyerang dan diserang, mereka bertiga mengakhirinya dengan saling melompat ke belakang.


Nampak pernafasan mereka yang sedikit memburu, menandakan tingkat pengendalian energi tenaga dalam mereka yang sudah sangat tinggi.


"Ki Ageng, Ki Pradah," kata Ki Penahun, "pepohonan hutan ini akan habis bila aku terus menerus menahan gempuran kalian berdua."


"Cukup untuk latih tanding hari ini," sambung Ki Penahun, "kita istirahat dulu."


Kemudian mereka beristirahat sebentar dan membersihkan badan mereka di pancuran yang sengaja dibuat oleh Ki Penahun yang mengambil dari mata air yang keluar dari retakan tebing atasnya goa tempat Ki Penahun tinggal.


Siangnya mereka bertiga mengobrol dan saling menceritakan perjalanan hidup mereka masing masing.


Yang akhirnya obrolan mereka masuk ke hal yang selama ini mengganggu pikiran mereka. Mulai munculnya secara terang terangan, sekelompok orang yang menginginkan kembalinya tatanan kerajaan seperti masa kejayaan Majapahit.


"Ki Pradah, Ki Ageng," kata Ki Penahun, "menurut wisik yang aku terima saat terakhir aku bertapa kemaren lusa,nampaknya sudah saatnya aku menyampaikan suatu yang sampai saat ini belum aku sampaikan ke Lintang Rahina."


"Apakah itu tentang siapa diri Lintang Rahina, Ki ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.


"Benar Ki Ageng," jawab Ki Penahun, "sudah lama amanat ini aku simpan."


"Aku sudah menduga," sahut Ki Pradah, "sejak aku merawat saat dia terluka parah, aku sudah merasakan ada keistimewaan pada diri Lintang Rahina."


"Ki Ageng, Ki Pradah," lanjut Ki Penahun, "kita semua tahu, sepeninggal paduka Prabu Brawijaya V yang jengkar meninggalkan keraton untuk menyepi persiapan moksa menuju nirwana, diam diam terjadi perpecahan di dalam keluarga anak cucu paduka Prabu Brawijaya V. Dari trah permaisuri Dara Petak, Raden Patah memilih untuk mendirikan kerajaan baru dengan tatanan tatanan baru. Sementara dari trah Kanjeng Ratu Dara Jingga dan istri istrinya yang lain, yang sebelumnya diam saja ikut apa yang disabdakan paduka Prabu Brawijaya V, ahirnya timbul perpecahan. Setelah paduka Prabu Brawijaya moksa, sebagian ada yang tetap ingin memegang titah beliau paduka Prabu. Sebagian ada yang ingin melanjutkan kejayaan Majapahit dengan mengangkat raja yang baru dan mendirikan keraton di tempat yang baru. Dari situ mulai terjadi ontran ontran keluarga dalam. Aku saat itu berhasil menyelamatkan salah satu keturunan trah dari Kanjeng Ratu Dara Jingga yaitu dari garis keturunan Pangeran Katong."


"Betul Ki Penahun," kata Ki Ageng Arisboyo, "dalam penyepianku, paduka Prabu memberikan amanat kepadaku tentang wangsit yang diterima paduka Prabu Brawijaya V, agar kelak aku menyampaikan kepada anak turunnya."

__ADS_1


___ 0 ___


__ADS_2