
Begitu melihat ada yang sengaja menghadangnya, Prabu Wisa merasa mendapatkan lawan. Sambil meningkatkan energi yang dialirkan ke seluruh tubuhnya, Prabu Wisa berkata, "siapa namamu perempuan tua ?"
"Heeiii .... yang sopan kalau bicara. Tidak ada yang berani kurang ajar pada Nyai Cumbu Manik," jawab nyai guru yang bernama Nyai Cumbu Manik.
"Nyai Cumbu Manik, keluarkan seluruh kemampuanmu !" kata Prabu Wisa sambil mulai menyerang Nyi Cumbu Manik.
Segera saja terjadi saling serang antara Prabu Wisa dan Nyai Cumbu Manik.
Setelah Prabu Wisa dilawan oleh Nyai Cumbu Manik, Lintang Rahina mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat pertemuan dan sekitarnya.
Lintang Rahina terkejut saat melihat di sebelah kanan panggung pertemuan. Tidak jauh dari pertarungan Empu Bajang Geni melawan Biksu Wisnu Gatti yang bertarung sambil melayang, terlihat Sekar Ayu Ningrum sedang bertarung melawan Arga Manika.
Dilihat dari awal awal pertukaran serangan, tampak kalau Sekar Ayu Ningrum mampu mengimbangi Arga Manika baik dalam besar energi maupun kecepatannya.
Sejak diangkat murid oleh 'Sepasang Iblis' yaitu Nyi Rikmo Ore yang berjuluk 'Iblis Bumi' dan Ki Jangkung yang berjuluk 'Iblis Langit', Sekar Ayu Ningrum mengalami perkembangan yang pesat dalam energi dan ilmu silatnya.
Sekarang Sekar Ayu Ningrum bisa melayang di udara berkat latihan yang diajarkan oleh Ki Jangkung. Selain itu, Sekar Ayu Ningrum juga diajarkan ilmu 'Ambles Bumi' oleh Nyi Rikmo Ore.
Sebelumnya, saat ditinggal oleh kedua gurunya yang sedang bertarung melawan Dayu Diyu, Sekar Ayu Ningrum hendak menemui Lintang Rahina. Tetapi saat sedang berjalan mencari Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum melihat Arga Manika yang juga sedang berjalan hendak mendekat ke tempat gurunya bertarung.
Melihat Arga Manika, Sekar Ayu Ningrum segera mendekati dan berkata, "tidak usah kemana mana. Akulah lawanmu !"
Arga Manika yang diam diam terkejut melihat Sekar Ayu Ningrum, menjawab, "kamu belum kapok ku hajar ya ?"
"Sekarang aku yang akan menghajarmu !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil melesat menyerang Arga Manika.
Lintang Rahina melangkah lagi, berencana hendak menyaksikan pertarungan antara Sekar Ayu Ningrum melawan Arga Manika. Lintang Rahina berniat hendak melindungi Sekar Ayu Ningrum andaikata Sekar Ayu Ningrum terancam bahaya.
Baru saja Lintang Rahina beranjak tiga langkah, tiba tiba dari arah belakangnya terdengar suara gadis muda.
__ADS_1
"Kakang ... 'wong bagus', tunggu dulu, siapa nama kamu ?" tanya Mayang yang berjalan bersama Adik seperguruannya, Gendis.
Begitu mendekat, langsung saja kedua gadis cantik itu memegang lengan Lintang Rahina, dari kanan dan kirinya.
Lintang Rahina terkejut, tiba tiba ada dua orang gadis yang memegangi lengannya. Sehingga bicaranya jadi gelagapan, "Aku ... ehh anu ... eh ... nama saya Lintang."
"Kakang Lintang disini saja, duduk bersama kami," kata Gendis sambil agak menarik lengan Lintang Rahina.
Lintang Rahina kebingungan saat kedua lengannya digandeng oleh dua orang gadis cantik.
Saat sedang berpikir bagaimana caranya melepaskan diri dari dua orang gadis ini, tiba tiba terdengar suara alunan seruling .
Awalnya suara seruling itu pelan saja. Tetapi dari getaran suara yang Lintang Rahina tangkap, dalam suara seruling itu mengandung energi yang dapat mengganggu pikiran lawannya. Dan dari getaran suara yang Lintang Rahina tangkap, Lintang Rahina bisa merasakan, energi orang yang meniup seruling ini sangat tinggi.
"Eee ... maaf, ada yang harus saya kerjakan," kata Lintang Rahina sambil dengan cepat melepaskan kedua lengannya dari pegangan Gendis dan Mayang.
Baru saja Lintang Rahina menyeberang jalan, tiba tiba terdengar suara seorang pria paruh baya.
"Anak muda, siapa namamu ? Kau cukup berani untuk datang ke sini sendirian."
Lintang Rahina melihat seorang pria paruh baya memakai caping sedang duduk di dahan pohon bersandar batang pokok pohon sambil tangan kanannya memegang sebuah seruling.
Berdasarkan cerita eyangnya dan teman teman eyangnya kemaren malam, seorang pendekar yang selalu makai caping dan tangan kanannya memegang seruling bernama Ki Goprak.
Walau tampilannya sederhana, berpakaian seperti seorang petani, tetapi Lintang merasakan, energi milik Ki Goprak sangat tinggi.
"Nama saya Lintang, paman," jawab Lintang Rahina.
Sebenarnya Ki Goprak sangat terkejut, ada anak muda yang tidak terpengaruh oleh suara alunan serulingnya yang telah dialiri dengan energi. Bahkan berani menghampirinya. Anehnya, Ki Goprak tidak merasakan sama sekali tingkat energi yang ada pada abaj muda yang berdiri di depannya itu. Hal ini bisa terjadi karena dua hal. Anak muda ini memang bukan seorang pendekar, atau anak muda ini tingkat energinya sudah sangat sangat tinggi sehingga Ki Goprak sampai tidak bisa merasakan dan mengukurnya.
__ADS_1
"Anak muda, kamukah yang dikenal sebagai murid Ki Penahun ? Berarti kamu termasuk kelompok yang tidak menginginkan kembali berdirinya kerajaan Majapahit," kata Ki Goprak sambil melayang turun dari atas dahan pohon, "tetapi sudahlah, sebenarnya aku tidak peduli dengan urusan kerajaan. Aku hanya ingin melihat 'permainan' itu. Kalau kamu ingin menemaniku bermain barang sejurus dua jurus, ayo kita ramaikan anak muda."
Kemudian Ki Goprak mencabut seruling yang tadi sudah dia selipkan di pinggangnya.
Lintang Rahina baru akan bertanya pada Ki Goprak, ketika tiba tiba Ki Goprak sudah melesat cepat ke arah Lintang Rahina.
Ki Goprak menjejakkan kaki kanannya ke tanah, tubuhnya meluncur cepat ke arah Lintang Rahina. Ujung serulingnya mengarah ke kepala Lintang Rahina.
Lintang Rahina menghindari datangnya ujung seruling dengan memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
Tiba tiba kaki kanan Ki Goprak sudah mengancam pinggang kiri Lintang Rahina.
Lintang Rahina pun menggeser kaki kirinya agak ke belakang sehingga pinggangnya luput dari tebasan kaki Ki Goprak.
Begitu tendangan kakinya tidak mengenai sasaran, menyambung serangannya dengan sabetan seruling ke arah leher Lintang Rahina.
Dalam satu gebrakan, Ki Goprak langsung mengancam titik titik vital dari Lintang Rahina.
"Benar dugaanku, anak muda ini bukan anak sembarangan. Serangan yang kulancarkan dengan mengandalkan kecepatan mampu dihindarinya walaupun dirinya belum siap. Sekarang akan aku coba seberapa besar energinya," kata Ki Goprak dalam hati.
Kemudian Ki Goprak membalik posisi memegang serulingnya.
Pada serangan yang pertama tadi, Ki Goprak memegang seruling dengan posisi lubang tiup tertutup telapak tangan. Sekarang begitu dibalik, lubang tiup berada di luar, tidak terhalang apapun.
Ki Goprak agak membungkukkan badannya dengan posisi kaki kanan di depan. Tangan kanan yang memegang seruling berada di belakang badannya. Tangan kiri di depan dada dengan telapak tangan terbuka rata.
Ki Goprak memutar serulingnya sebentar hingga terdengar lengkingan pelan dari seruling itu.
Kemudian dengan menghentakkan kaki kanannya, kembali Ki Goprak melesat ke arah Lintang Rahina dengan kecepatan seperti tadi. Namun kali ini setiap gerakan seruling menimbulkan suara melengking yang bertujuan menyerang konsentrasi lawannya.
__ADS_1