Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Penangkapan Sekar Ayu Ningrum, Ki Sardulo dan Nyi Wilis III


__ADS_3

Ki Jiwo langsung masuk ke pertempuran dan menyuruh Arga Manika dan Galuh Pramusita untuk mundur. Apalagi melihat mereka berdua telah terluka.


Melihat Ki Jiwo menghadapi Sekar Ayu Ningrum, Ki Brata mendekati muridnya dan Arga Manika untuk membantu mengobatinya.


Ki Brata mengeluarkan ramuan obat yang bisa menghentikan keluarnya darah pada luka luka.


Kemudian Ki Brata menyalurkan energinya secara bergantian, untuk membantu menyembuhkan, khawatir mereka berdua mendapatkan luka dalam.


Sementara itu, Ki Jiwo langsung mendapat serangan dari Sekar Ayu Ningrum secara bertubi tubi.


Serangan tusukan dan sabetan pedang, ditambah lesatan energi yang dipadatkan, dilakukan Sekar Ayu Ningrum dalam waktu yang singkat.


Ki Jiwo yang terkejut dengan kecepatan gerak Sekar Ayu Ningrum, berusaha menghindar. Kalah dalam hal kecepatan, Ki Jiwo yang berusaha selalu menghindar, akhirnya terpaksa menangkis dengan tombaknya.


Tranggg !!!


Keduanya sama sama terdorong mundur.


Sekar Ayu Ningrum kembali bersiap untuk menyerang. Sementara Ki Jiwo dengan tangan yang bergetar kembali memasang kuda kudanya yang sempat goyah akibat terdorong ke belakang tadi.


"Anak gadis ini memiliki energi yang mampu mengimbangiku," kata Ki Jiwo dalam hati, "Kalau informasi dari 'Telik Sandi' benar, anak ini cucu dari Ki Ageng Arisboyo, seberapa kuat Ki Ageng Arisboyo sekarang."


Ki Brata mendekati ajang pertempuran saat Sekar Ayu Ningrum bersiap maju menyerang.


Melihat Ki Brata sudah mendekat ke arena pertempuran, Ki Jiwo mengajak Ki Brata untuk mengeroyok lawannya. Karena Ki Jiwo merasa, akan sulit dan lama mengalahkan gadis muda lawannya itu.


"Ayo kita selesaikan tugas ini dengan cepat Ki," ajak Ki Jiwo pada Ki Brata.


Karena Ki Brata sudah paham arti ajakan Ki Jiwo, maka Ki Brata langsung bersiap masuk dalam pertempuran.


Walaupun masih muda dan belum banyak pengalaman bertempur, Sekar Ayu Ningrum tidak gentar sedikitpun meski dikeroyok dua oleh tokoh tokoh senior.


Pertarungan kembali terjadi. Kali ini Sekar Ayu Ningrum menghadapi dua lawan yang sudah sangat berpengalaman menghadapi berbagai pertempuran.


Sekar Ayu Ningrum melesat maju dengan pedang di samping kanan dan tangan kiri di depan dada. Hanya butuh waktu sesaat, Sekar Ayu Ningrum tiba tiba sudah sampai di depan Ki Brata dan bersiap untuk melakukan tebasan pedang.


Ki Brata yang terkesiap dengan kecepatan Sekar Ayu Ningrum, menghindari tebasan pedang dengan mendoyongkan tubuhnya ke kiri belakang dengan kaki kiri mundur ke belakang. Kemudian telapak kirinya menangkis pukulan tangan kiri Sekar Ayu Ningrum yang tiba tiba datang setelah pedangnya tidak kena sasaran.

__ADS_1


Plakkk !!!


Sekar Ayu Ningrum terpental ke belakang dengan posisi melayang beberapa meter dan kemudian mendarat dengan posisi kuda kuda siap menyerang.


Sedangkan Ki Brata terjajar ke belakang sampai terhuyung beberapa langkah dengan tangan kiri yang terasa ngilu.


K Brata dan Ki Jiwo yang merasa tidak akan menang bila terus menerus mengadu tenaga dan kecepatan, akhirnya bekerja sama dengan menghindar dan saling melindungi.


Setiap Sekar bergerak untuk menyerang Ki Jiwo, Ki Brata segera melakukan serangan untuk memecah konsentrasi Sekar Ayu Ningrum.


Demikian juga sebaliknya, jika Sekar Ayu Ningrum hendak menyerang Ki Brata, Ki Jiwo membarengi juga dengan serangan.


Hal itu berlangsung hingga lebih dari lima puluh jurus.


Ki Jiwo dan Ki Rekso selalu menghindar dan tidak pernah lagi menghadapi serangan dengan tangkisan. Mereka berdua memang sengaja melakukan itu untuk menguras tenaga Sekar Ayu Ningrum.


Setelah pertempuran berlangsung seratusan jurus kecepatan dan energi Sekar Ayu Ningrum mulai berkurang.


Sebenarnya Sekar Ayu Ningrum bisa memulihkan energinya yang berkurang dengan tehnik penyerapan energi alam di sekitarnya. Tetapi karena selalu menyerang dan bertahan dari serangan yang terus menerus tanpa ada jeda, membuat Sekar Ayu Ningrum tidak ada kesempatan untuk melakukan olah pernafasan guna menyerap energi alam.


Hingga suatu saat, karena energi yang sudah menurun drastis, Sekar Àyu Ningrum terlambat dalam menghindar, sehingga terpaksa menangkis datangnya serangan tombak yang membuat pedangnya terlepas dan tubuhnya terhuyung huyung ke belakang.


Tranggg !!!


Disusul dengan serangan pukulan Ki Brata yang telah berada di dekatnya saat kuda kudanya goyah dan energinya berkurang banyak, membuat pukulan telapak kanan Ki Brata berhasil mengenai pinggang kirinya.


Buggg !!!


Sekar Ayu Ningrum terjatuh dalam posisi kedua lutut di tanah.


Belum sempat berdiri, datang lagi tusukan tombak dari Ki Jiwo. Tidak ada pilihan lain, Sekar Ayu Ningrum menahan serangan tombak dengan menangkap pangkal mata tombak dengan kedua tangannya.


Sekar Ayu Ningrum terdorong ke belakang dengan posisi berlutut.


Deesss !!!


Tiba tiba Sekar Ayu NIngrum merasakan gelap pandangan matanya dan kemudian tidak ingat apa apa, ketika pukulan telapak kanan Ki Brata mengenai tengkuknya.

__ADS_1


Sekar Ayu Ningrum Jatuh terkulai di tanah.


Pertarungan yang panjang dan melelahkan selesai.


Dengan nafas yang agak memburu, Ki Brata mendekati tubuh Sekar Ayu Ningrum dan membalikkan tubuh Sekar Ayu Ningrum dengan kakinya untuk memastikan lawannya benar benar telah pingsan.


Sambil agak terengah, Ki Brata berkata, "Galuh, ikat gadis itu. Dan segera kita bawa pergi dari sini."


"Baik guru," jawab Sekar Ayu Ningrum.


Setelah Galuh Pramusita selesai mengikat tubuh Sekar Ayu Ningrum, keempat orang itu segera melesat pergi dengan membawa Sekar Ayu Ningrum yang masih pingsan.


Sesaat kemudian, tempat yang tadinya penuh dengan hiruk pikuk pertempuran, menjadi hening lagi. Hanya terdengar lamat lamat suara rerumputan dan daunnya saling bergesekan karena tertiup angin. Terkadang disela dengan suara riak air sungai yang mengalir tenang.


---


Ki Penahun sedang berkemas untuk melakukan perjalanan mencari Lintang Rahina ketika tiba tiba hatinya bergetar dan pikirannya merasakan sinyal bahaya.


"Ki Sardulo," kata Ki Penahun lirih, "apa yang terjadi denganmu ? Kenapa tidak kurasakan sinyal keberadaan Lintang?"


Ki Penahun mempercepat berkemasnya dan kemudian melesat cepat bagai terbang menuju arah terakhir energi Ki Sardulo dirasakan.


---


Selama perjalanan pulang menuju Parangtritis, Ki Ageng Arisboyo merasakan gelisah. Selain memikirkan apa yang akan dilakukan oleh kelompok Ki Rekso, juga memikirkan keberadaan Sekar Ayu Ningrum cucunya.


Hingga sampailah Ki Ageng Arisboyo di sebuah hutan dekat dengan Kotagedhe.


Tiba tiba Ki Ageng Arisboyo merasakan tiga energi besar yang melesat ke arahnya. Ki Ageng Arisboyo menunggu.


Tidak berapa lama tibalah tiga orangtua yang berdiri di depannya yang membuat hati Ki Ageng Arisboyo sangat terkejut.


"He he he he.... lama tidak bertemu Ki Ageng," kata Ki Rekso sambil tertawa, "kenapa kau terkejut bertemu dengan kami ? Apakah begitu gembiranya hingga kau sampai terkejut?"


Ketiga orang yang mendatangi Ki Ageng Arisboyo adalah Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka.


___ 0 ___

__ADS_1


__ADS_2