
Begitu memasuki istana kerajaan gaib, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum disambut oleh Ratu Naga Wilis Kencana. Cara memandang Ratu Naga Wilis Kencana pada mereka berdua, sudah terlihat berbeda dari sebelum sebelumnya. Kali ini, perasaan segan tergambar pada sorot matanya.
Setelah mereka semua duduk, Ratu Naga Wilis Kencana mengatakan maksud kedatangan mereka tadi ke Pesisir Parangtritis.
Sebenarnya, Ratu Naga Wilis Kencana dan Senopati Dewi Gayatri ingin menguji seberapa tinggi tingkat kemampuan dan energi Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Tujuan mereka berdua menguji adalah, karena Ratu Naga Wilis Kencana ingin meminta pertolongan pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Namun, justru Ratu Naga Wilis Kencana dan Senopati Dewi Gayatri dibuat terkejut. Mereka awalnya tidak terpikir, kemampuan dan energi Lintang Rahina sangat tinggi, bahkan untuk ukuran manusia, kemampuannya mencapai tingkat dewa. Sehingga bisa mengalahkan Dewi Gayatri yang merupakan senopati terkuat kerajaan gaib.
Ratu Naga Wilis Kencana juga dibuat terkejut, jika ternyata Sekar Ayu Ningrum juga mempunyai kekuatan setingkat dewa, bahkan menjadi titisan dari Dewi Tara.
Selain merasa terkejut, Ratu Naga Wilis Kencana dan juga Senopati Dewi Gayatri juga merasa senang. Dengan tingkat kemampuan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, permintaan tolong mereka akan lebih mudah.
Kemudian, Ratu Naga Wilis Kencana menceritakan. Beberapa waktu setelah kerajaan gaib sepakat untuk membantu Kanjeng Panembahan Senopati dalam memenangkan peperangan, Kerajaan gaib mendapatkan gangguan dari manusia kerdil yang menghuni Pulau Liliputan, sebuah pulau di Samudra selatan negeri Jawadwipa. Dalam alam siluman, Pulau Liliputan berada tepat di belakang Kerajaan gaib yang menghadap ke arah utara.
Di Pulau Liliputan itu berdiri Kerajaan Liliputan yang dari raja hingga seluruh rakyatnya merupakan orang orang kerdil.
Walaupun tubuh mereka kecil, tingginya hanya separuh dari manusia biasa, namun raja dan seluruh takyatnya merupakan orang yang kejam, licik dan sangat jahat.
Beberapa waktu, akhir akhir ini, mengetahui kerajaan gaib sering ditinggal oleh ratu dan para senopati andalannya, Kerajaan Gaib memanfaatkan situasi itu untuk merongrong ketenteraman kerajaan gaib.
Sudah banyak penduduk dan prajurit Kerajaan gaib yang terbunuh oleh manusia manusia kerdil dari Kerajaan Liliputan.
Sejenak Ratu Naga Wilis Kencana berhenti berbicara. Dilihatnya Lintang Rahina masih diam saja. Sorot matanya terlihat seperti mempertanyakan sesuatu.
"Anak muda, kami sebenarnya bisa menyerbu ke Kerajaan Liliputan dengan kekuatan kami sendiri. Namun, saat ini kami sedang tidak bisa. Kami, bahkan aku sendiri sudah terikat janji untuk membantu Panembahan Senopati dengan sepenuh kekuatan kami. Jika kami mengambil separuh dari kekuatan kami untuk menyerang Kerajaan Liliputan, kami tidak tahu butuh waktu berapa lama. Karena yang kami lawan bukan hanya kekuatan fisik mereka, namun juga kelicikan orang orang Liliputan. Selain itu, dengan berkurang separuh kekuatan kami, akan mempengaruhi keberhasilan cita cita Panembahan Senopati !" kata Ratu Naga Wilis Kencana.
Mendengar penjelasan Ratu Naga Wilis Kencana yang tetakhir ini, barulah Lintang Rahina bisa memahami situasinya.
"Baiklah Ratu, kami akan membantu kalian untuk membuat Kerajaan Liliputan tidak mengganggu Kerajaan Gaib lagi !" jawab Lintang Rahina, "Tolong berikan gambaran tentang Kerajaan Liliputan, rajanya, rakyatnya, pulaunya dan semua yang kalian tahu tentang Kerajaan Liliputan pada kami."
Kemudian tugas Dewi Gayatri yang memberikan gambaran tentang Kerajaan Liliputan dan semua yang dia ketahui tentang Kerajaan itu pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Setelah mendengar keterangan dari Dewi Gayatri, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sejenak saling pandang, kemudian Sekar Ayu Ningrum mengangguk sekali.
"Ratu Naga Wilis Kencana, kami akan berusaha membantu kalian. Besok pagi pagi, kami akan ke Kerajaan Liliputan, dan akan menghentikan apa yang mereka lakukan pada Kerajaan gaib ini !" kata Lintang Rahina.
Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum meminta ijin untuk tetap tinggal di istana Kerajaan Gaib dan beristirahat di Kerajaan Gaib.
__ADS_1
----- * -----
Keesokan harinya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berangkat untuk mencari Kerajaan Liliputan.
Terlihat tubuh mereka berdua melesat dengan sangat cepatnya ke atas hingga sangat tinggi. Kemudian, mereka berdua melesat ke arah tengah tengah samudra luas.
Hanya dalam waktu sesaat, tubuh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera hilang dan tidak bisa terlihat lagi.
Hingga hampir setengah hari, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menjelajah samudra luas melalui udara untuk mencari sebuah pulau yang dihuni oleh orang orang kerdil yang mendirikan Kerajaan Liliputan.
Hingga akhirnya, mereka berdua merasakan suatu getaran energi yang sangat besar yang berasal dari arah depan mereka.
Dengan terus melesat ke depan, akhirnya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melihat sebuah pulau yang masih cukup jauh di depan mereka.
Beberapa saat kemudian, terlihat sebuah pulau yang cukup besar terbentang di depan mereka.
Mereka melihat, pulau itu dilapisi oleh selubung transparan yang terbentuk dari energi yang sangat besar. Energi itulah yang tadi mereka tangkap dan mereka rasakan.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melihat, pulau itu cukup besar. Di tengah tengah pulau, ada gunung berapi yang cukup besar dan tinggi yang kawahnya memperlihatkan lahar yang selalu menyala merah. Di sepanjang pantai yang mengelilingi pulau itu tumbuh pepohonan yang membentuk hutan melingkari pulau itu mengikuti garis pantai.
Di antara pohon pohon hutan itu, dibuat jalur jalur jalan yang berkelok kelok dan saling bertemu menyilang seperti membentuk pola tertentu.
Selain bangunan bangunan yang mirip candi, ada juga bangunan berbentuk rumah rumah.
Di keempat penjuru arah mata angin, ada tanah lapang yang cukup luas.
Secara keseluruhan, dilihat dari tempat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melayang, susunan bangunan bangunan dan tanaman terlihat teratur namun sangat rumit.
Lintang Rahina memperhatikan selubung energi yang mengelilingi pulau itu. Selubung energi itu hanya menutupi pulau di sekelilingnya saja. Di bagian atas tidak ada selubung energi.
Untuk beberapa saat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berhenti dan melayang di depan selubung energi itu.
"Hebat ! Mereka menggunakan energi tingkat tinggi untuk melindungi pulau mereka !" kata Lintang Rahina.
"Tapi di permukaan pulau sepertinya tidak ada tanda tanda kehidupan, kakang !" tukas Sekar Ayu Ningrum.
"Sepertinya mereka hidup dan membangun peradaban, di dalam tanah adik Sekar !" jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
"Ayo kita coba melewati atas pulau itu adik Sekar !" ajak Lintang Rahina yang kemudian melesat tidak terlalu cepat melintasi selubung energi.
Saat melewati garis selubung energi itulah, Lintang Rahina merasakan seperti menabrak sesuatu atau tubuhnya seperti ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat, yang menjadikan gerakannya melambat.
Dengan menambah aliran energinya, Lintang Rahina membuat gerakan mendorong dengan kedua telapak tangannya.
Perlahan sesuatu yang tidak terlihat yang menahan gerakannya itu terdorong hingga kemudian Lintang Rahina merasa gerakannya menjadi ringan kembali.
Sekar Ayu Ningrum yang mengikuti dari belakang pun merasakan hal yang sama, namun seperti halnya Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum juga cukup mudah melewatinya.
"Pertahanan yang sangat kuat. Jika yang melewati selubung energi ini, pendekar yang baru saja masuk ke tingkat tinggi, masih akan kesulitan melepaskan diri dari hadangan selubung energi," gumam Sekar Ayu Ningrum.
Namun saat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum baru hendak bergerak melintasi wilayah udara pulau itu, tiba tiba, dari arah bawah, melesat dengan sangat cepat, bola bola yang wujudnya bermacam macam dan dari arah yang berbeda beda.
Bola bola yang keluar dari kawah, berwujud gumpalan bola lava merah menyala. Sementara yang keluar dari bangunan bangunan yang ada, meluncur bola bola berwarna hitam legam. Yang melesat keluar dari sudut sudut tanah lapang, bola bola berwarna coklat.
Semua bola bola yang meluncur ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, mengandung energi yang sangat tinggi. Sehingga jika mengenai tubuh lawan, lawan akan merasa seperti dihantam atau ditendang dengan tangan atau kaki yang berenergi sangat besar.
Plaaasss ! Plaaasss ! Plaaasss !
Plaaasss ! Plaaasss !
Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menghindari beraneka bola bola yang meluncur ke arah mereka melayang. Terkadang mereka berdua menangkis atau menyapok dengan telapak tangannya, bola bola berenergi yang hampir mengenai tubuhnya. Setiap bola bola berenergi itu tersentuh telapak tangan mereka berdua, bola bola berenergi itu langsung meledak. Ada beberapa yang mental kembali kemudian meledak.
Lintang Rahina mencoba melayang lebih tinggi lagi, namun sersngan bola bola berenergi itu tidak menjadi berkurang karena ketinggian.
Akhirnya Lintang Rahina mengajak Sekar Ayu Ningrum untuk lebih mendekat ke bawah, agar dapat mengetahui wujud dari manusia kerdil Liliputan. Karena, sampai saat ini mereka berdua belum mengetahui siapa dan bagaimana wujud orang orang yang menyerang mereka.
Saat melayang lebih rendah itu, Lintang Rehina melihat beberapa kali kelebatan tubuh yang melesat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum pun melayang semakin rendah dan akhirnya mendarat di depan sebuah bangunan yang berbentuk seperti candi.
Saat mereka berdua berdiri di daratan pulau itu, serangan bola bola berenergi itu berhenti.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memperhatikan dengan cermat setiap tempat di sekitar mereka. Terlihat, di setiap bangunan ataupun persimpangan jalan, ada lubang di tanah.
"Betul ! Mereka membuat kehidupan di dalam tanah. Bangunan bangunan di atas permukaan tanah ini hanya untuk menutupi jalur masuk ke bawah tanah dan untuk mengecoh lawan lawannya," gumam Lintang Rahina.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_