
Lintang menerima kitab yang diserahkan oleh Ki Penahun. Dilihatnya sejenak sampul kitab itu. Ada perasaan tidak asing terhadap kitab itu, padahal baru sekali ini Lintang Rahina melihat kitab itu.
"Kitab itu, hanya orang orang yang 'terpilih' yang bisa mempelajari kitab itu. Kakek bisa membacanya, tetapi tidak akan bisa mempelajarinya," kata Ki Penahun.
"Kamu simpan dulu kitab itu. Besok pagi, eyang ajari kamu cara menyatukan energimu dengan energi yang kamu terima dari eyangmu Prabu Brawijaya," kata Ki Penahun lagi sambil tangan kirinya memegang bahu kanan Lintang Rahina, "setelah energi itu bisa menyatu di dalam tubuhmu dan kamu sudah bisa mengendalikannya, akan eyang beritahukan caranya kamu mempelajari kitab itu. Hal itulah yang dititipkan Prabu Brawijaya kepadaku ngger."
"Baik eyang, terimakasih eyang," kata jawab Lintang Rahina.
"Sekarang istirahatlah dulu, besok pagi sebelum matahari terbit kita sudah latihan," kata Ki Penahun.
Sesaat kemudian mereka berdua tenggelam dalam istirahat mereka dengan posisi bersila.
Tanpa disadari oleh Lintang Rahina, selama beristirahat dengan semedi duduk bersila, muncul butiran butiran sangat kecil seperti kabut yang kadang keluar menyelimuti hampir seluruh tubuh Lintang Rahina, kemudian memudar. Muncul lagi, memudar lagi.
Pagi hari, walaupun matahari belum menyapa seisi bumi, langit sudah cerah walaupun tanah dan pepohonan masih sedikit gelap.
Di depan mulut goa, terlihat Ki Penahun sedang mengajari Lintang Rahina, cara menyatukan energi dan cara mengendalikannya.
Lintang Rahina dalam posisi duduk bersila dan mata terpejam. Sambil mendengarkan instruksi dari Ki Penahun.
Dengan kemampuan dan tingkat energi yang sudah sangat tinggi, hanya dengan sekali mencoba, Lintang Rahina berhasil menyatukan energinya dengan energi yang diberikan oleh Prabu Brawijaya.
Energi hasil penyatuan itu, yang awalnya hanya kecil saja dan berputar pelan di sekitar pusar, semakin lama semakin membesar dan kemudian merembes keluar memenuhi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Begitu seluruh tubuh Lintang Rahina diselimuti putaran energi, muncul butiran butiran sangat kecil seperti kabut berwarna kuning keemasan. Kabut kuning keemasan yang menyelimuti tubuh Lintang Rahina semakin lama semakin tebal dan meluas.
Bersamaan dengan itu, tubuh Lintang Rahina yang dalam posisi duduk bersila, kemudian terangkat melayang setinggi dua meter.
Kabut kuning keemasan itu semakin meluas, bahkan kemudian memenuhi seluruh hutan Alas Penahun dengan berpusat dari tubuh Lintang Rahina yang sekarang seperti menyala kuning keemasan. Seketika hutan menjadi sunyi. Angin seperti menghilang. Ranting, daun dan pepohonan seolah takut bergerak. Tidak ada kicauan burung dan suara hewan hewan lainnya. Alam di hutan Alas Penahun seolah sedang menghormat pada apa yang sedang terjadi.
Melihat hal itu, Ki Penahun yang tadinya berdiri di depan Lintang Rahina, tiba tiba merasa seperti didorong untuk duduk bersila dengan kepala tertunduk. Ki Penahun merasakan aura yang sangat berwibawa, yang menyebarkan rasa ingin tunduk bagi siapapun yang berada di dekatnya. Saat ini, Ki Penahun merasakan seolah sedang berhadapan dengan Prabu Brawijaya.
Tubuh Lintang Rahina masih melayang setinggi dua meteran, seperti terbang.
Lain lagi dengan apa yang sedang dirasakan oleh Lintang Rahina. Saat sedang melakukan olah pernafasan untuk menyatukan kedua energi yang dimilikinya, Lintang Rahina merasakan seluruh tubuhnya hangat. Perlahan lahan tubuhnya bergetar. Dia merasakan seluruh tubuhnya penuh dengan energi. Bahkan saking banyaknya energi yang dimiliki, energi itu terasa seperti merembes keluar lewat seluruh permukaan kulit.
Hal itu berlangsung hampir sekitar tiga jam. Dan selama tiga jam itu pula keadaan hutan Alas Penahun senyap.
Setelah lebih dari tiga jam, Lintang menghentikan olah pernafasannya, perlahan lahan tubuhnya yang masih dalam posisi bersila turun kembali di tempat dia duduk. Pendaran berwarna kuning keemasan yang keluar dari tubuh Lintang Rahina pun perlahan lahan menghilang seperti tersedot masuk kembali ke tubuhnya.
Segera saja Lintang Rahina turun dari duduknya dan menghampiri eyangnya kemudian duduk di depan eyangnya.
"Eyang," kata Lintang Rahina sambil memegang tangan Ki Penahun, "kenapa eyang duduk di bawah ?"
Ki Penahun terkejut lalu membuka matanya. Kemudian ketika sadar dari keadaannya, Ki Penahun perlahan berdiri dan berucap, "Jagad Dewa Bhatara."
Sambil melihat ke arah Lintang Rahina, Ki Penahun bertanya, "Kamu sudah selesai ngger ?"
"Sudah eyang," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
"Ngger," kata Ki Penahun lagi, "kamu sudah berhasil menyatukan kedua energi yang berada di dalam tubuhmu. Latihan berikutnya adalah mencoba mengendalikan dan menggunakan energi itu sesuai yang dibutuhkan. Untuk tehnik latihannya, sama dengan yang sudah kamu pelajari. Hanya cara mengatur keluarnya energi itu yang perlu kamu latih."
Kemudian Ki Penahun mengarahkan Lintang Rahina cara menggunakan energinya. Karena energi yang sekarang berada dalam tubuh Lintang Rahina sangatlah besar, sehingga perlu segera berlatih pengaturan penggunaannya.
Sambil mengajarkan cara penggunaan energinya, Ki Penahun juga menjelaskan bahwa energi pada dasarnya terbagi menjadi tiga, yaitu :
* energi satriatantra : Energi yang digunakan untuk kekuatan. Seperti halnya energi yang digunakan para pendekar dan ahli bela diri.
* energi brahmatantra : Energi yang digunakan penyembuhan dan pengobatan.
* energi indratantra : Energi yang bisa digunakan untuk kekuatan maupun penyembuhan atau pengobatan.
"Ngger, energi di dalam tubuhmu adalah golongan energi indratantra. Baik energi yang sejak awal kamu miliki, lebih lebih energi yang kamu terima dari eyangmu Prabu Brawijaya," kata Ki Penahun, "makanya perlu latihan khusus untuk bisa mengendalikannya. Karena, energi golongan indratantra yang sangat besar seperti yang kamu miliki, akan bersifat merusak bila tidak bisa mengendalikannya."
Dengan tidak punya rasa lelah, Lintang Rahina berlatih mengendalikan energinya sampai menjelang malam.
Dengan perintah dari pikirannya, Lintang Rahina bisa mengalirkan energi ke bagian tubuh manapun. Bahkan dengan matanya yang disertai dengan perintah dari pikirannya, Lintang Rahina bisa melontarkan energinya.
Demikian fokusnya Lintang Rahina dalam berlatih, hingga dia tidak merasa kalau Ki Penahun keluar dari goa sejak sore untuk berburu dan mencari makanan.
Bahkan sampai dengan Ki Penahun pulang dan menyiapkan makanan dan hasil berburunya, Lintang belum menyadarinya. Hal tersebut bukan karena Lintang Rahina tidak waspada atau instingnya tidak bekerja, tetapi karena sejak awal dia merasa tenang dan nyaman berlatih ditunggui eyangnya.
Hingga malam tiba, barulah Lintang Rahina menyudahi latihannya.
Segera saja hidungnya mencium aroma makanan yang sudah disiapkan oleh Ki Penahun. Hingga tanpa bisa ditahan, perutnya mengeluarkan bunyi berkerucuk. Begitu rasa laparnya datang, barulah Lintang Rahina menyadari kalau sejak tadi pagi belum makan.
__ADS_1
Melihat Lintang Rahina sudah selesai latihannya, Ki Penahun segera mengajaknya untuk menyantap makanan yang telah Ki Penahun sediakan. Ada buah buahan, ubi bakar dan ayam hutan yang dibakar hasil buruan Ki Penahun.
\_\_\_ 0 \_\_\_