Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Melawan Putri Dyah Pawatu


__ADS_3

Bentrokan antara Sekar Ayu Ningrum dan Putri Dyah Pawatu sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Gerakan mereka berdua yang sangat cepat membuat pertarungan mereka tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Hanya orang orang yang masuk golongan tingkatan energi yang sangat tinggi sajalah yang bisa mengikuti jalannya pertarungan mereka.


Lintang Rahina yang masih mengkhawatirkan Sekar Ayu Ningrum, selama beberapa saat memperhatikan jalannya pertarungan mereka.


Terlihat oleh Lintang Rahina, untuk energi dan kecepatan, Sekar Ayu Ningrum tidak mengalami kendala, bahkan terlihat menguasai keadaan.


Setelah tidak ada yang perlu dirisaukan, Lintang Rahina menatap tajam ke arah Ki Buyut Jalu Wisesa dan Ki Ujang Galih.


Ki Buyut Jalu Wisesa agak terkejut mendapati tatapan Lintang Rahina yang tajam seperti itu. Dia sedikit banyak telah mendengar tentang kekuatan Lintang Rahina. Bahkan dia pernah merasakan mendapat tekanan energi Lintang Rahina. Jadi dia tahu, betapa pemuda di depannya itu tidak mungkin dia lawan sendirian. Namun dengan adanya Ki Ujang Galih, dia agak tenang walaupun masih sempat ragu apakah mereka berdua mampu menghadapinya.


Sedangkan Ki Ujang Galih yang belum pernah bertemu dengan Lintang Rahina balas menatap ke arah Lintang Rahina.


"Anak muda ! Tatapanmu seolah kamu ingin ******* kita. Apa kemampuanmu juga sama tajamnya dengan tatapan matamu ? Atau kami memang sudah tidak sayang nyawamu berani beraninya memandangku dengan cara begitu ?" tanya Ki Ujang Galih.


Tanpa memperdulikan orang yang ditanya akan menjawab atau tidak, Ki Ujang Galih langsung melesat ke arah Lintang Rahina.


Dalam sekejap tubuhnya yang kecil sudah sampai di depan Lintang Rahina dengan kedua kaki melakukan tendangan beruntun.


Duuuggg ! Dug ! Dug ! Dug ! Dug !


Ki Ujang Galih kembali terlempar ke belakang setelah semua tendangannya ditangkis oleh Lintang Rahina.


"Hhmmm ... Boleh juga kau anak muda ! " kata Ki Ujang Galih yang sudah bersiap hendak menyerang lagi.


Tiba tiba terdengar suara Ki Buyut Jalu Wisesa yang membuat gerakannya terhenti.


"Ki Ujang Galih ! Kita harus melawannya bersama sama !" ucap Ki Buyut Jalu Wisesa.


"Ki Buyut Jalu Wisesa meragukan kemampuanku ?" tanya balik Ki Ujang Galih.


Seperti merasa tertantang, Ki Ujang Galih segera melesat lagi dan menyerang Lintang Rahina bertubi tubi.


Dengan kecepatannya yang sangat tinggi, membuat Ki Ujang Galih mampu melesatkan sedangan berkali kali dalam waktu sesaat. Gerakan itulah yang sangat ditakuti oleh lawan lawannya. Karena selain sangat cepat juga mengandung racun yang tidak terlihat dan sulit dideteksi oleh lawannya.

__ADS_1


Hal itu pulalah yang menjadikan Ki Ujang Galih sangat percaya diri, terutama karena racunnya yang menjadi andalan utamanya.


Sejak awal tadi, Ki Ujang Galih sudah melepas racun racunnya. Sehingga dia berniat mengurung Lintang Rahina dengan serangan beruntun yang diharapkan bisa menguras energi lawannya. Jika energi lawannya sudah banyak berkurang hingga mencapai tingkat tertentu, racun Ki Ujang Galih akan bekerja dengan sempurna.


Sementara itu, setelah menangkis tendangan beruntun Ki Ujang Galih, di dari tubuh Lintang Rahina muncul kesiuran angin yang mengelilingi seluruh tubuh Lintang Rahina. Disusul kemudian di sekujur tubuh Lintang Rahina muncul pendaran sinar putih transparan yang terasa panas. Itulah api putih yang mulai menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina.


Kemudian, dalam satu kedipan mata, Ki Ujang Galih sudah memberondong dan mengurung Lintang Rahina dengan serangan serangannya.


Dug ! Dug ! Dug !


Plaaak ! Plaaakkk !


Namun kali ini Ki Ujang Galih yang terkejut. Setiap kali selesai menyerang kedua tangan dan kakinya merasa bergetar. Selain itu juga terasa panas pada tangan dan kakinya.


Karena percaya diri dengan kekuatannya dan racunnya, Ki Ujang Galih tidak terlalu memperhatikan, betapa dengan cepatnya Lintang Rahina menangkis setiap pukulan dan tendangannya.


Tanpa terasa, tiga puluh jurus sudah berlalu dengan cepatnya. Hingga pada suatu saat, karena fokus pada serangan serangannya, telapak tangan Lintang Rahina berhasil menerobos dan mendarat di pangkal bahu kirinya.


Plaaakkk !!!


Namun tanpa menghiraukan rasa panas di lengan kirinya, kembali Ki Ujang Galih melancarkan serangannya.


Tidak ingin hanya bertahan, Lintang Rahina yang sudah kembali menaikkan tingkat energinya, juga sudah melesat ke arah Ki Ujang Galih. Adu pukulan pun berlangsung dengan sangat cepat.


Ki Ujang Galih yang masih menunggu racunnya bekerja, kembali terkena pukulan Lintang Dahina tepat di dadanya.


Duuuggghhh !!!


Tubuh kecil Ki Ujang Galih terlempar ke belakang dan jatuh dengan kerasnya.


Bruuukkk !!!


Dengan emosi yang meluap luap, Ki Ujang Galih segera bangun terduduk. Isi dadanya terasa panas dan nafasnya sesak.

__ADS_1


Sambil terduduk, Ki Ujang Galih menoleh pada Ki Buyut Jalu Wisesa.


"Apakah Ki Buyut hanya akan menjadi penonton ?" tanya Ki Ujang Galih.


"He he he he ... Ki Ujang Galih membutuhkan bantuanku ?" kata Ki Buyut Jalu Wisesa sambil terkekeh.


Tubuh Ki Buyut Jalu Wisesa melesat dengan cepatnya, menggempur Lintang Rahina. Disusul berkelebatnya tubuh kecil Ki Ujang Galih yang sudah mulai ikut menyerang lagi.


Dikeroyok dua lawan yang mempunyai kecepatan dan energi yang sangat tinggi, tidak membuat Lintang Rahina surut. Justru, dengan menambah lagi aliran energinya hingga api putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya semakin membesar, tubuh Lintang Rahina melesat dengan kecepatan yang tidak diduga oleh kedua lawannya. Semua serangan kedua lawannya ditangkis yang membuat tangan dan kaki mereka bergetar hebat.


Bahkan pada satu kesempatan, pukulan Lintang Rahina membali mengenai dada mereka.


Plaaakkk ! Plaaakkk !!!


Duuuggghhh ! Duuuggghhh !


Tubuh Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa terlempar cukup jauh dan jatuh terkapar.


Lintang Rahina baru saja akan menyusuli dengan serangan berikutnya, ketika sambil berusaha bangun sambil tangan kirinya memegangi dada, Ki Buyut Jalu Wisesa berkata, "Anak ... muda ! Hentikan ... seranganmu !"


"Kalau kami kau bunuh, berarti kamu membunuh guru gurumu !" sambung Ki Buyut Jalu Wisesa.


"Apa maksudmu kakek tua !!!" sahut Lintang Rahina sambil menambah aliran energi ke kedua telapak tangannya. Hingga di telapak tangannya muncul masing masing bola api putih.


"Kami telah menangkap guru gurumu ! Lepaskan kami, maka kami akan melepaskan guru gurumu," Ki Buyut Jalu Wisesa mengajak berkompromi.


"Lepaskan mereka, atau kepala kalian akan aku hancurkan dengan api ini !" sahut Lintang Rahina.


----- o -----


Di saat yang bersamaan dengan pertarungan Lintang Rahina melawan Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa, pertarungan Sekar Ayu Ningrum dengan Putri Dyah Pawatu masih belangsung seimbang. Lima puluh jurus sudah mereka lalui, namun belum bisa diperkirakan siapa yang akan menang. Ternyata tingkat energi mereka seimbang.


Saling melancarkan serangan yang berenergi tinggi membuat kedua telapak tangan mereka sering berbenturan. Bahkan beberapa benturan serangan energi mereka berdua, membuat Putri Dyah Pawatu terkejut.

__ADS_1


Sejak pertama mereka berdua bentrok, Putri Dyah Pawatu sudah dibuat terkejuk dengan tingkat energi dan kecepatan yang dimiliki Sekar Ayu Ningrum.


__________ 0 __________


__ADS_2