
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan, Sekar Ayu Ningrum melesat ke arah pertarungan Ki Pradah, Ki Wongso Menggala, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila melawan dua perempuan berbaju hijau.
Walau sudah maju berempat, namun keadaan mereka berempat justru terdesak. Apalagi ada beberapa pendekar yang ikut bergabung mengeroyok mereka berempat.
Sekar Ayu Ningrum datang tepat saat mereka sudah sangat kewalahan menghadapi keroyokan banyak orang.
"Guru sekalian, mari kita habisi mereka !" teriak Sekar Ayu Ningrum sambil melesat ke arah salah seorang perempuan berbaju hijau.
Melihat ada seorang perempuan yang baru datang, melesat ke arahnya, perempuan berbaju hijau itu menyambutnya dengan pukulan. Seketika terdengar suara benturan yang cukup keras saat pukulan mereka berdua bertemu.
Blaaarrr !!!
Terlihat perempuan berbaju hijau itu terdorong mundur hingga tiga langkah, sedangkan Sekar Ayu Ningrum mendarat dengan kuda kuda yang sudah siap menyerang lagi.
"Pantas saja guru semua kewalahan menghadapi mereka semua. Perempuan ini saja energinya sangat tinggi, setingkat diatas para guru. Memang bukan omong kosong, cerita tentang kesaktian para pendekar sari daratan besar," kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.
Sedangkan perempuan berbaju hijau, sangat terkejut saat tubuhnya bisa terdorong mundur dalam benturan pukulan tadi.
"Betul juga kata kakak pertama kemaren, kalau di negeri pulau pulau ini masih banyak pendekar yang tidak terukur kesaktiannya. Perempuan ini tingkat energinya di atasku," kata perempuan berbaju hijau dalam hati.
Kemudian, perempuan berbaju hijau itu mengeluarkan lengkingan sebagai sebuah kode bagi temannya yang satu untuk mendekat.
Seketika, perempuan berbaju hijau yang satunya lagi sudah meninggalkan arena pertempurannya dan dalam sesaat sudah berdiri di samping perempuan yang memberi tanda tadi.
"Suci, ayo segera kita selesaikan mereka !" kata perempuan berbaju hijau yang baru datang.
"Sumoi, hati hati ! Perempuan itu energinya sangat tinggi. Kita harus menggabungkan energi kita untuk melawannya !" kata perempuan yang di panggil Suci itu.
Kemudian mereka berdua mengeluarkan senjata pedang mereka dan bersiap menyerang.
Sementara itu, Sekar Ayu Ningrum yang sudah sangat marah mendengar anaknya diculik orang asing, segera melenting ke atas dengan senjata pedang sudah di tangannya. Bilah pedangnya yang berubah menjadi pendaran sinar putih pekat laksana berkabut, menggambarkan betapa jumlah energi yang saat ini dikeluarkan Sekar Ayu Ningrum sudah dalam tingkat yang sangat tinggi.
Sambil berteriak, Sekar Ayu Ningrum meluncur ke bawah ke arah kedua lawannya. Sekar Ayu Ningrum langsung menerjang kedua lawannya dengan tebasan dan tusukan pedang bertubi tubi.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengampuni kalian yang telah mengganggu anakku !" teriak Sekar Ayu Ningrum.
Trang trang trang trang !!!
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Suara dentingan senjata pedang yang beradu saling menebas, mengiringi gerakan tiga tubuh yang hanya terlihat kelebatannya saja. Sehingga bagi orang yang tingkat energinya belum tinggi, mereka tidak bisa mengikuti jalannya pertarungan mereka.
Jurus demi jurus mereka keluarkan. Dengan tingkat kecepatan yang mereka miliki, tanpa terasa hampir lima puluh jurus mereka lewati.
Hingga pada sekitar jurus ke lima puluh, Mereka bertiga melakukan tebasan dengan bilah pedang yang telah mereka isi dengan energi yang cukup besar.
Klaaannnggg ! Klaaannnggg !
Sesaat setelah terjadi benturan senjata pedang, terlihat ketiganya melompat ke belakang.
Terlihat kedua perempuan berbaju hijau melompat mundur dengan kuda kuda mereka yang masih kokoh, namun dada mereka yang naik turun, memperlihatkan kalau nafas mereka mulai terengah engah.
Di sisi lain, Sekar Ayu Ningrum mendarat dari melompatnya dengan kuda kudanya yang tidak berubah dan nafas yang masih teratur.
Melihat kedua lawannya saling mendekat dan memasang kuda kuda yang sama, Sekar Ayu Ningrum segera meningkatkan aliran energinya, terutama ke arah telapak tangan kirinya.
Kemudian, dari telapak tangan kirinya terbentuk senjata pedang dari pendaran energi, sehingga terlihat seolah Sekar Ayu Ningrum memegang pedang kembar.
Dengan kaki kiri ditarik sedikit ke belakang, dengan sangat cepat tubuh Sekar Ayu Ningrum kembali melesat ke arah kedua lawannya.
Kembali terlihat, ketiga tubuh terkadang saling bertumbukan yang menimbulkan suara dentingan, terkadang saling melompat menjauh.
Dengan tingkat kecepatan dan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat tinggi, tubuh ketiganya pun mulai terangkat seolah seperti terbang. Dan benturan benturan bilah pedang mulai terjadi di udara dan menimbulkan percikan percikan api yang sangat indah dipandang. Namun, di balik keindahan itu, terdapat bahaya yang sangat besar mengancam, karena, sedikit saja mereka lengah atau terlambat sedikit mereka mengelak ataupun menangkis, nyawa mereka bisa melayang.
Dengan dua pedang di kedua tangannya, Sekar Ayu Ningrum bisa mengimbangi serangan kembar dari kedua perempuan berbaju hijau yang menjadi lawannya itu.
Sementara itu, dua perempuan berbaju hijau tidak mengira jika mereka akan menemui lawan yang bisa mengimbangi permainan pedang kembar mereka. Karena, di tempat mereka, bahkan laki laki berbaju hijau yang mereka panggil dengan sebutan kakak pertama saja tidak bisa bertahan lebih dari lima puluh jurus menghadapi jurus pedang kembar mereka.
__ADS_1
Namun kali ini, yang mereka hadapi adalah Sekar Ayu Ningrum. Seorang pendekar wanita yang baru saja mendapatkan energi dari dari pohon keabadian yang merupakan perwujudan lain dari Dewi Tara.
Sudah seratus jurus lebih mereka bertiga bertarung di udara. Sampai saat ini belum ada tanda tanda serangan mereka berkurang.
Namun sebenarnya, kedua perempuan berbaju hijau itu sudah mulai merasakan bergetar pada tangan mereka yang memegang pedang.
"Sumoi, tampaknya kita harus segera menyusul kakak pertama. Mari kita buat celah untuk melarikan diri " kata perempuan berbaju hijau yang lebih tua.
Kemudian, masih dengan jurus jurus dalam ilmu pedang kembarnya, mereka mencoba mengurung Sekar Ayu Ningrum dari arah kiri dan kanan. Mereka berusaha menyudutkan Sekar Ayu Ningrum untuk kemudian melepaskan diri dari pertarungan.
Namun diam diam Sekar Ayu Ningrum bisa membaca niat mereka berdua.
Maka dengan energi dan kecepatan yang masih stabil, Sekar Ayu Ningrum kembali menggerakkan kedua pedangnya untuk memapaki setiap serangan pedang kedua lawannya. Bahkan kali ini, gerakan kedua pedangnya selalu didahului dengan meluncurnya beberapa pendaran energi berbentuk ujung pedang yang mengarah ke beberapa titik tubuh kedua lawannya. Hal itu membuat dua perempuan berbaju hijau harus memutar pedangnya untuk menangkis datangnya pendaran energi berwujud ujung pedang yang meluncur dengan sangat cepat.
Trang trang ! Trang trang !
Lagi lagi kedua perempuan berbaju hijau itu dibuat terkejut lagi. Setiap menangkis datangnya pendaran energi yang meluncur ke arahnya, pedang mereka serasa hendak terlepas dari genggaman. Selain itu, kekuatan luncur pendaran energi itu membuat mereka harus melangkah mundur untuk meredam kuatnya benturan.
Melihat lawannya yang sudah semakin kewalahan dan mulai terganggu pengaturan nafasnya, Sekar Ayu Ningrum segera melenting ke atas sambil memutar kedua pedangnya hingga mengeluarkan suara dengungan.
Kemudian, dengan cepat tubuhnya kembali meluncur ke bawah, melesat ke arah perempuan berbaju hijau yang dipanggil dengan sebutan Suci oleh perempuan yang satunya.
"Kalian harus membayar dengan nyawa kalian atas hilangnya anakku ! Rasakan ini !" teriak Sekar Ayu Ningrum.
Dengan kecepatan serangan yang tidak bisa mereka berdua imbangi lagi, Sekar Ayu Ningrum mengurung perempuan yang dipanggil dengan sebutan Suci itu dengan serangan kedua pedangnya.
Trang trang ! Trang trang !
Trang klang !
Jlep !
Hingga akhirnya pedang Sekar Ayu Ningrum berhasil menembus dadanya setelah pedang perempuan berbaju hijau itu patah menahan tebasan pedang Sekar Ayu Ningrum.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_