
"Siapa kalian ! Dari mana dan ada urusan apa kalian datang ke kuil ini ?" tanya salah seorang laki laki tua yang melayang di depan Lintang Rahina.
"Kami hanya seorang pengembara. Kami dari negeri banyak pulau. Kami datang ke sini untuk mengambil kembali anak kami yang diculik oleh pendekar dari negeri ini !" jawab Lintang Rahina.
"Kebetulan sekali ! Kami mendapat perintah untuk menangkap setiap orang asing yang datang ke negeri ini !" sahut laki laki tua tadi.
Kemudian, tanpa berkata kata lagi, kedua laki laki tua itu bersiap menyerang.
"Anak muda, jangan gegabah. Berhati hatilah dengan senjata mereka !" kata ketua biksuni mengingatkan Lintang Rahina.
"Terimakasih telah mengingatkan, ketua biksuni," jawab Lintang Rahina.
"Mari kita hadapi bersama," sahut ketua biksuni sambil melayang mendekat ke arah Lintang Rahina.
Sesaat kemudian, empat bayangan berkelebat dengan sangat cepat membentuk kilatan kilatan yang menghiasi langit diatas kuil itu. Ditambah lagi dengan suara suara yang ditimbulkan dari benturan pukulan yang penuh dengan energi.
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Blaaammm ! Blaaammm !
Dalam pertarungan dua lawan dua itu, Lintang Rahina dibuat kagum dengan kekuatan yang ditunjukkan oleh ketua biksuni, yang mampu membuat serangan serangan lawannya kembali mental ke belakang.
Sementara itu, kedua lawannya diam diam terkejut dengan kemampuan Lintang Rahina yang dalam usia yang masih muda, sudah mampu mengimbangi mereka. Selain itu, mereka juga terkejut, ternyata ketua biksuni menyimpan kekuatan yang sangat besar.
Setelah terjadi berkali kali benturan pukulan yang penuh dengan energi, yang selalu membuat dua tangan kedua laki laki tua itu bergetar, terdengar suara ledakan keras, setelah pukulan mereka berempat berbenturan di udara.
Jledaaarrr !!!
Dalam benturan pukulan itu, tubuh kedua laki laki tua itu terdorong ke belakang hingga beberapa langkah.
Setelah gerakan mundur mereka berdua terhenti, tiba tiba keduanya merubah cara bertarung mereka.
Terlihat kedua telapak tangan mereka, menggantung di samping tubuh mereka dengan jari jari tangan yang terbuka lebar.
__ADS_1
Kemudian, mereka mengayunkan kedua tangan mereka ke atas, ke samping dan ke arah berdirinya Lintang Rahina, setelah itu, kedua tangan mereka terkepal seperti menggenggam sesuatu.
Dalam posisi telapak tangan terkepal, kedua tangan mereka bergerak gerak dengan arah tertentu.
Tiba tiba telinga Lintang Rahina menangkap suatu suara yang sangat pelan dan juga kilatan cahaya yang yang hanya sekilas.
Trik trik ! Tik tik tik !
Trik trik ! Trik trik !
"Senjata benang baja berenergi, senjata yang jarang sekali ada yang mau mempelajarinya. Apalagi ini dimainkan dengan berpasangan !" kata Lintang Rahina dalam hati.
Senjata benang baja berenergi adalah senjata yang sangat jarang dipelajari oleh para pendekar. Karena selain sulit, juga membutuhkan energi yang sangat besar. Padahal, senjata benang baja berenergi sangat berbahaya, bila dimainkan oleh pendekar yang sudah mempunyai tingkat energi yang sangat tinggi. Senjata itu bisa membuat lawannya terpotong tubuh atau anggota tubuhnya tanpa lawannya menyadarinya atau mengetahui dari mana arahnya.
"Anak muda, waspada dengan senjata mereka !" kata ketua biksuni kembali mengingatkan. Di tangan kanannya sudah tergenggam tasbih berwarna kuning keemasan.
Sementara itu, begitu mendengar suara berkeritik, Lintang Rahina segera mengeluarkan senjata pedangnya. Dengan menambah aliran energinya Lintang Rahina membuat seluruh tubuh dan bilah pedangnya diselimuti pendaran sinar kuning keemasan. Bahkan bilah pedangnya berubah seperti menjadi sinar kuning keemasan.
Kemudian, bersamaan dengan kedua laki laki tua itu bergerak berpisah ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat, sambil mengayunkan senjata mereka ke depan secara memutar, ketua biksuni dan Lintang Rahina secara serentak juga berkelebat ke arah yang berbeda dengan masing masing memapaki datangnya lawan di depannya.
Tring tring tring !
Triiinnnggg tring !
Kedua laki laki tua itu bergerak berkeliling berusaha mengurung Lintang Rahina dan ketua biksuni agar tetap berdiri di antara mereka berdua.
Namun, kali ini yang mereka hadapi adalah Lintang Rahina, seorang pendekar dengan tingkat energi yang sudah sangat tinggi.
Lintang Rahina melesat ke arah lawannya dengan pedang berada di sampingnya. Sesaat kemudian, terdengar suara benturan benang baja dengan bilang pedang Lintang Rahina.
Task task ! Task task task !!!
Di luar perkiraan kedua laki laki tua itu, beberapa senjata benang baja mereka bisa putus terkena sisi tajam pedang Lintang Rahina. Hal itu membuat posisi melayang mereka agak terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Pada saat itulah, Lintang Rahina menambah kecepatannya, melesat ke arah salah satu laki laki tua yang terdekat dengannya.
Saat sudah dekat dengan lawannya, Lintang Rahina menebaskan pedangnya ke arah dada lawannya.
Pada saat lawannya mengarahkan benang bajanya untuk menangkis serangan Lintang Rahina dengan melilit bilah pedang dengan benang bajanya, tangan kiri Lintang Rahina sudah menyusuli serangan dengan pukulan tangan kiri yang tepat mengenai dada lawannya.
Buuuggghhh !!!
Tubuh laki laki tua itu meluncur ke belakang terkena pukulan Lintang Rahina. Dadanya terasa sesak. Dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya langsung meluncur ke bawah dan kemudian terhempas di tanah, tepat di dalam lubang yang terbentuk karena pukulan energinya.
Sementara itu, pada pertarungan lain. Saat senjata benang baja kedua laki laki tua itu mendekat, ketua biksuni memutar tasbihnya sedemikian rupa, hingga berbenturan dengan benang baja yang penuh dengan energi. Benturan kedua senjata itu menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
Tar tar tar ! Tar tar tar !
Sesaat kemudian, tubuh Ketua biksuni melesat ke arah laki laki tua yang menjadi lawannya. Tasbihnya meluncur cepat ke arah kaki lawannya dan tepat mengenai pahanya.
Taaakkk !!!
Tubuh laki laki tua itu limbung hingga tidak bisa mempertahankan kestabilan melayangnya.
Ketua biksuni segera melesat membuntuti arah jatuh lawannya untuk kemudian menotok tengkuknya. Laki laki tua itu pingsan sesaat sebelum tubuhnya ditangkap oleh ketua biksuni untuk kemudian dilemparkan ke tanah.
Melihat Lintang Rahina juga telah menyelesaikan lawannya, ketua biksuni segera turun ke tanah yang diikuti pula oleh Lintang Rahina.
Sesampainya di tanah, ketua biksuni segera memerintahkan pengurus kuil yang lain untuk menahan laki kali tua yang pingsan.
"Anak muda. Kelompok mereka tidak akan berhenti sampai di sini saja. Untuk keselamatan kalian, sebaiknya kalian segera pergi dan pulang ke negeri kalian. Kami tidak ingin, kalian menemui celaka hanya karena menolong kami," ucap ketua biksuni.
"Ketua biksuni, mohon maaf sebelumnya. Sebenarnya kami datang ke kuil ini, semata mata tidak hanya karena menolong para biksuni di kuil ini. Tetapi, kami ingin mencari anak kami yang diculik oleh seorang pendekar dari negeri ini. Dan juga, kami sedang mencari, sebuah kuil yang memendarkan sinar putih," jawab Lintang Rahina menjelaskan.
Mendengar jawaban Lintang Rahina, tiba tiba ketua biksuni kembali mengeluarkan tasbih yang menjadi senjatanya, diikuti oleh para biksuni yang lain yang berdiri di samping ketua biksuni.
Sret sret sret !
__ADS_1
"Anak muda ! Kiranya kalian sama saja dengan orang orang yang lainnya. Datang ke sini hanya untuk mencari apa yang diinginkannya !" kata ketua biksuni dengan keras, "Semuanya, tangkap orang asing ini !"
__________ 0 __________