
Benturan tangan dan kaki Lintang Rahina dengan tangan dan kaki suami istri Kim yang dipenuhi dengan energi itu terkadang menimbulkan suara yang keras disertai percikan sinar yang menyerupai api.
Plak plak !
Blarrr blarrr blaaarrr !
Itu semua terjadi dalam kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, walaupun oleh seorang pendekar yang sudah tinggi tingkat energi dan ilmu silatnya.
Walaupun sudah mengeroyok berdua dengan istrinya, tetap saja Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim belum bisa menguasai keadaan.
Hingga suatu saat, Lintang Rahina serta sepasang suami istri Kim sama sama melesat mendekat dan melontarkan pukulan.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Kali ini tubuh mereka tidak tertolak ke belakang, namun, telapak tangan kanan Lintang Rahina menempel dan saling dorong dengan telapak tangan Tuan Besar Kim, sedangkan telapak tangan kiri Lintang Rahina menempel dan saling dorong dengan telapak tangan kanan Nyonya besar Kim.
Terlihat, dalam keadaan melayang, mereka bertiga mengerahkan energi yang sangat besar yang mereka pusatkan ke telapak tangan mereka.
Benturan energi mereka bertiga menimbulkan kesiuran angin di sekeliling mereka dengan arah yang tidak beraturan.
Apalagi di sekitar tubuh Lintang Rahina. Angin yang bergerak mengitarinya berhembus semakin kencang. Energi dari putaran angin itu terserap masuk ke tubuh Lintang Rahina. Membuat semakin lama, dorongan Lintang Rahina menjadi semakin kuat, sehingga lambat laun, Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim merasakan tubuhnya bergetar menahan dorongan Lintang Rahina.
Tubuh Tuan Besar Kim dan tubuh Nyonya Besar Kim setapak demi setapak terdorong mundur.
Dalam keadaan tubuh yang sedikit demi sedikit melayang mundur, Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim saling berpandangan dan kemudian saling mengangguk.
Tiba tiba mereka berdua menggerakkan tangan kiri mereka dengan sangat cepat untuk menghantam kepala Lintang Rahina.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Karena energinya terbagi antara saling mendorong dan memukul ke arah kepala Lintang Rahina, membuat pertahanan Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim sedikit berkurang. Sehingga energi dari kedua telapak tangan Lintang Rahina langsung menerobos mendorong tubuh Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim hingga jatuh dan terseret di tanah.
Sreeettt ! Sreeettt !
Saat tubuh mereka berhenti meluncur dalam posisi tubuh merangkak, terlihat darah mengalir di kedua sudut bibir mereka pertanda mereka mendapatkan luka dalam. Nafas mereka sesak dengan muka yang sedikit memucat.
Kemudian dengan perlahan, mereka berdua bangkit lagi dan bersiap bertarung lagi.
__ADS_1
Sementara itu dalam waktu yang hampir bersamaan, karena terkena dua pukulan di kepalanya, Lintang Rahina terdorong dan terpelanting ke bawah dan tubuhnya meluncur deras dan terbanting ke tanah dengan keras.
Dbbbbuuummm !!!
Namun bantingan ke tanah itu tidak berdampak pada Lintang Rahina.
Dengan cepat Lintang Rahina bangkit lagi dengan kondisi tubuh yang tidak terluka sedikit pun.
Melihat kedua lawannya terluka, dengan cepat Lintang Rahina melesat lagi untuk menyerang lawannya yang sudah bersiap menunggu.
Dengan gerakan yang secepat kilat, Lintang Rahina sampai tepat di depan Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim. Kedua telapak tangan Lintang Rahina yang mengeluarkan nyala putih berkilat, siap untuk dilesakkan ke tubuh lawan.
Saat Lintang Rahina sudah bersiap hendak melepaskan serangan, tiba tiba terdengar suara Nona Kim berteriak.
"Hentikan ! Atau anak ini aku bunuh !" teriak Nona Kim sambil mengacungkan keranjang dari kayu rotan yang berisi Seruni di dalamnya. Sslain itu, terdengar suara Seruni yang mulai menangis karena sudah sadar dari pingsannya.
Mendengar ancaman itu dan mendengar tangisan Seruni anaknya, untuk sesaat Lintang Rahina memperlambat gerakan tubuhnya untuk melihat ke arah Nona Kim.
Namun, gerakan lambat Lintang Rahina yang hanya sesaat itu, cukup buat Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim untuk melakukan serangan balasan yang sudah mereka siapkan, begitu mereka mendengar suara teriakan Nona Kim anaknya.
Mereka berdua melayangkan satu pukulan tangan kanan ke arah dada dan perut yang terlambat dihindari oleh Lintang Rahina.
Paaaccckkk !
Buuuggghhh !
Terkena dua pukulan di dada dan perutnya, membuat tubuh Lintang Rahina terlempar hingga melayang ke belakang dan jatuh terbanting ke tanah dalam posisi tertelungkup.
Dalam sesaat, tubuh Lintang Rahina terdiam tidak ada gerakan. Kemudian, perlahan Lintang Rahina merangkak bangun. Anehnya, tanpa disadari oleh kedua lawannya, kesiuran angin tetap mengelilingi dan berada di sekitar tubuh Lintang Rahina.
Kemudian, pada saat Lintang Rahona baru saja mendongakkan kepalanya, sebuah tendangan kembali mengenai dadanya.
Buuuggghhh !!!
Seketika tubuh Lintang Rahina kembali terlempar agak jauh dan kemudian jatuh terhempas ke tanah.
Bruuuaaakkk !
__ADS_1
Pada waktu yang bersamaan dengan saat tubuh Lintang Rahina kembali terhempas ke tanah, tiba tiba terdengar suara pekikan yang sangat keras, yang berasal dari ruang tengah kuil, tempat tubuh Sekar Ayu Ningrum melayang melayang secara terbalik.
Suara pekikan itu disusul dengan suara ledakan berkali kali. Ledakan itu berasal dari setiap sisi dinding dan lantai. Dan kemudian diakhiri dengan ledakan energi dari tubuh Sekar Ayu Ningrum.
Daaammm !!!
Ledakan energi dari tubuh Sekar Ayu Ningrum itu membuat seluruh dinding kuil bergetar. Bahkan getarannya sampai merambat di tanah hingga sampai ke tempat pertarungan Lintang Rahina.
Sesaat setelah itu, tubuh Sekar Ayu Ningrum melayang turun dalam posisi berdiri dan dengan sangat cepat keluar dari kuil. Hanya dalam sekejap, Sekar Ayu Ningrum sudah berdiri melayang di depan Nona Kim.
Terlihat seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum terutama di kedua telapak tangannya, mengeluarkan percikan kilat berwarna keperakan.
"Serahkan anakku padaku !" ucap Sekar Ayu Ningrum pelan dengan tubuh yang secepat kilat melesat ke arah Nona Kim.
Nona Kim yang terkejut tiba tiba mendapatkan serangan, melemparkan keranjang rotan yang berisi Seruni di dalamnya ke arah para pembantunya.
Sementara Lintang Rahina yang terjatuh, begitu merasakan hadirnya getaran energi istrinya, segera bangkit berdiri lagi. Kesiuran angin yang mengelilinginya, berhembus semakin cepat dan membuat proses pemulihan energinya semakin cepat.
Sekilas Lintang Rahina melihat, Sekar Ayu Ningrum sedang mengurus tentang keselamatan anaknya. Membuat hati dan pikiran Lintang Rahina jadi tenang hingga bisa fokus lagi pada lawannya.
Saat kedua lawannya kembali mendekat dan melayangkan serangannya, tubuh Lintang Rahina berkelebat lenyap dari depan lawannya, kemudian tiba tiba muncul di samping lawannya sambil melayangkan pukulan.
Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim yang tidak mengira dengan kecepatan gerakan Lintang Rahina, harus merelakan perut mereka terkena pukulan Lintang Rahina.
Buuuggghhh !
Buuuggghhh !
Keduanya terlempar ke belakang hingga beberapa langkah dan terhempas di tanah dengan terbatuk batuk.
Huuukkk huuukkk !
Nafas mereka kembali sesak dan kali ini disertai dengan rasa panas di dada.
Dengan nafas yang agak tersengal, mereka bangkit berdiri lagi.
Namun, belum juga mereka berdua berdiri, masing masing sebuah tendangan mendarat di pinggang mereka berdua.
__ADS_1
Paaaccckkk ! Paaaccckkk !
__________ 0__________