Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Perjalanan Ke Hutan Panjalu


__ADS_3

Setelah Ki Buyut Jalu Wisesa sudah pergi jauh, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera berembug dengan Ki Penahun dan ketiga gurunya.


"Memang, sebelum kita pergi ke kawah Merapi ini, Ki Ageng Arisboyo sempat menyampaikan, kalau dia hendak menemani kanjeng Panembahan Senopati, melakukan perjalanan spiritual ke arah barat. Mungkin mereka sudah sampai ke hutan Panjalu dan mendapatkan gangguan di sana," kata Ki Penahun.


"Hanya yang jadi pertanyaan, bagaimana orang tua yang tadi mengaku bernama Ki Buyut Jalu Wisesa bisa mengetahui kalau itu Ki Ageng Arisboyo dan mempunyai hubungan dengan kita," tukas Ki Pradah.


"Aku pernah mendengar nama Ki Buyut Jalu Wisesa. Kabarnya dia orang kepercayaan Dyah Pawatu, seorang wanita yang menguasai sebuah wilayah di tlatah Pasundan," kata Ki Jagad Dahana, "Dyah Pawatu ini mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa di daerah itu. Kabarnya dia sangat kejam dan kesaktiannya sangat tinggi."


"Biar Lintang yang menyusul ke hutan Panjalu, eyang. Untuk sementara, saya titip adik Sekar. Biar adik Sekar tetap bersama eyang dan guru sekalian," kata Lintang Rahina.


"Kami percaya, kamu mampu ngger. Tapi yang jadi permasalahan adalah, tidak biasanya tokoh tokoh persilatan dari tlatah Pasundan berkeliaran di sini. Apalagi di bawah sana, kita bisa merasakan banyak getaran energi asing yang seolah mengelilingi kita dan selalu berpindah pindah," Ki Pradah menjelaskan.


"Itu pasti ada berkaitan dengan kekuatan yang dibawa oleh jabang bayi yang dikandung oleh Sekar. Karena munculnya sebuah kekuatan itu selalu menarik perhatian dunia persilatan, dan pasti selemah apapun getaran energi dari kekuatan yang akan muncul itu tetap bisa mereka rasakan. Karena, sesuatu yang istimewa seperti energi yang dibawa anak dalam kandungan Sekar, selalu muncul pertanda, yang bisa dibaca oleh orang orang yang mencari peningkatan kekuatan olah kanuragannya dengan jalan pengorbanan," Ki Jagad Anila menambahkan.


"Kabar yang pernah aku dengar, Dyah Pawatu juga menggunakan suatu ritual pengorbanan untuk menyempurnakan ilmunya !" kata Ki Jagad Dahana.


"Ngger Lintang, kemungkinan, berita tentang Ki Ageng Arisboyo itu hanya pancingan untuk mengalihkan perhatian. Tujuan utama mereka, bisa mendapatkan kekuatan yang dibawa oleh calon anakmu. Tetapi kita juga tidak bisa mengabaikan keselamatan Ki Ageng Arisboyo," kata Ki Penahun sambil berdiri dan mendekati Lintang Rahina, "Kamu pergilah ! Kamu cari Ki Ageng Arisboyo. Ajak serta istrimu. Dia akan sangat membantu, apalagi energinya juga sudah diatas kami semua. Kalau memang, semua getaran energi yang datang dan mengelilingi kita itu targetnya kekuatan yang dibawa anakmu, mereka akan mengikuti kemanapun kalian pergi. Biarlah kekacauan karena memperebutkan kekuatan yang akan lahir itu, terbawa ke tlatah Pasundan."


"Kami juga tidak akan membiarkanmu sendirian. Kami akan mengikutimu dari jauh, untuk menghindari kecurigaan mereka dan juga agar tidak memancing kecurigaan dari tokoh tokoh dunia persilatan tlatah Pasundan," Ki Pradah menambahkan.


"Baiklah eyang dan guru semua. Besok kami akan segera ke hutan Panjalu," jawab Lintang Rahina.


Akhirnya, mereka semua menghabiskan hari itu dengan beristirahat dan bersemedi. Walaupun tanpa dibicarakan, keempat orang tua itu bergantian berjaga dari segala kemungkinan.

__ADS_1


----- * -----


Pada pagi hari berikutnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah siap untuk melakukan perjalanan ke arah barat menuju hutan Panjalu.


Setelah selesai berkemas, mereka berdua segera berpamitan pada keempat orang tua yang menjadi guru guru mereka itu.


Sesaat kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melesat ke arah barat.


"Memang sudah menjadi takdir dariNya. Memiliki kekuatan yang besar, berarti tanggung jawab yang besar dan juga tantangan yang besar ! Semoga mereka bisa menghadapi semua rintangan yang ada !" kata Ki Penahun pelan sambil memandang ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum pergi dan kemudian menghilang.


Setelah beberapa saat dari kepergian Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila berpamitan untuk pulang terlebih dahulu ke pegunungan Menoreh. Mereka berjanji secepatnya akan menyusul Lintang Rahina walau mungkin lewat jalur lain.


Sedangkan Ki Penahun dan Ki Pradah ingin berkeliling dulu di sekitar kaki gunung Merapi dan sekitarnya, sekalian mencari tahu siapa saja tokoh tokoh persilatan yang sudah muncul kembali. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka sudah pergi menghilang terlebih dahulu sebelum Ki Penahun dan Ki Pradah turun mendekati mereka.


----- * -----


Mereka berdua sengaja tidak menggunakan tehnik melayang terbang di udara, untuk menghindari terdeteksi oleh para pendekar di setiap tempat yang mereka lewati. Karena, di suatu daerah, apalagi daerah yang diaku sebagai wilayah kekuasaan seorang ahli beladiri, melintas dengan cara melayang di udara, terkadang dianggap menantang atau memprovokasi, dan seolah memamerka kekuatannya pada seorang ahli beladiri yang dilewatinya.


Tetapi, walaupun sudah menghindari melakukan hal hal yang bisa menarik perhatian, tetap saja, saat berlari dengan ilmu meringankan tubuh, mereka berdua mengetahui, ada beberapa orang yang mengejar atau membuntuti mereka. Hal itu bisa mereka rasakan dari getaran energi yang mereka tangkap. Namun, selama mereka tidak mengganggu ataupun menghambat perjalanan mereka, mereka diamkan saja.


Pada sore hari menjelang petang, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah jauh melewati pegunungan Menoreh dan hampir memasuki daerah kaki dari sebuah gunung tang terlihat menjulang tinggi dari kejauhan.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berencana mencari tempat untuk beristirahat pada petang hari nanti, dan perjalanan akan mereka lanjutkan keesokan harinya.

__ADS_1


Mereka berdua mulai memperlambat lari mereka dan dilanjutkan dengan berjalan kaki biasa.


Sambil berjalan, mereka mencari cari tempat yang nyaman untuk .ereka beristirahat.


Setelah menemukan tempat yang mereka anggap nyaman untuk beristirahat, mereka pun berhenti dan membenahi tempat yang mereka temukan.


Di bawah pohon yang cukup besar dan menghadap ke daersh yang cukup datar, sehingga mereka bisa mengawasi tempat sekitarnya dengan mudah.


Saat sedang berbenah, mereka berdua merasakan datangnya satu getaran energi yang sangat kuat. Namun mereka berdua tetap berbenah seolah olah tidak akan terjadi apa apa.


Tiba tiba terdengar suara tawa yang memenuhi udara.


"Ha ha ha haaaaa ..... "


Sesaat kemudian, dari arah kanan mereka, terlihat sesosok tubuh berjalan ke arah mereka berdua.


Nampak seorang yang belum terlalu tua, berbadan kecil memakai pakaian serba hitam dengan ikat kepala berwarna hitam juga.


Walau berbadan kecil, namun Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bisa merasakan, dibalik badannya yang kecil, tersimpan energi yang sangat besar.


"Ha ha ha haaaaa .... ternyata aku kedatangan tamu," kata orang tua berbadan kecil itu.


"Maaf paman, jika kedatangan kami mengganggu ketenangan paman. Numpang ijin, kami berdua hanya ingin beristirahat menunggu waktu pagi tiba" jawab Lintang Rahina.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2