
Rombongan armada kapal perang Raksa Samodra berbalik arah dan kembali berlayar. Mereka berlayar dengan senyap. Kali ini mereka berlayar dengan menggunakan formasi tiga tiga.
Kapal yang ditumpangi oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum adalah kapal perang yang paling besar dan berada di baris kedua, di apit oleh kapal perang yang sedikit lebih kecil, yang berbentuk dan berukuran sama persis dengan tiga kapal yang berada paling depan.
Deretan kapal yang berjajar lurus memanjang ke belakang itu, bila dilihat dari jauh, tampak bagaikan bilah pedang yang membelah lautan luas.
Mereka berlayar dengan kecepatan yang stabil dan bisa dikatakan tidak ada gangguan.
Tanpa terasa, mereka telah berlayar hampir sehari semalam, dan belum ada tanda tanda pelayaran mereka sampai tujuan.
Di dalam bilik kapal perang yang paling besar tempat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum diajak berbincang, Raksa Samodra bercerita tentang pasukan laut angkatan perang Kerajaan Majapahit 'Suro Benowo'.
Armada laut pasukan perang Suro Benowo dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing masing melompok dipimpin oleh seorang senopati yang sakti dengan tingkat ilmu dan energi yang sudah sangat tinggi.
Komunikasi antar senopati berjalan dengan sangat baik karena mereka memanfaatkan burung merpati pilihan sebagai sarana berkomunikasi antar kelompok.
Mereka bekerja berdasarkan tujuan dan besar atau kecilnya lawan yang harus dihadapi.
Beberapa kelompok akan bergabung dan bekerja sama, saat menghadapi angkatan perang yang besar.
Namun, terkadang mereka cukup satu kelompok armada perang untuk menghadapi armada lawan yang kecil.
Kehebatan armada laut angkatan perangnya itu sangat diakui oleh negeri negeri lain, disegani kawan dan ditakuti lawan. Hal itulah yang membuat Kerajaan Majapahit bisa berjaya dan mencapai kebesarannya.
"Berdasar tingkat energi dan kekuatan para senopati dan prajuritnya, kekuatan pasukan perang yang berada di luar tembok keraton Kerajaan Majapahit, tidak kalah dengan para senopati dan prajurit yang selalu berada di sekeliling raja," kata Lintang Rahina dalam hati, "Kalau mereka semua bersedia kembali ke tanah leluhur, negeri Jawadwipa akan semakin hebat."
Kemudian Raksa Samodra melanjutkan dalam bercerita.
Namun ada hal yang membuat semua senopati armada laut angkatan perang Kerajaan Majapahit yang sedang berlayar di samudra untuk menjalankan tugas itu merasa sangat kecewa dan marah.
__ADS_1
Di kota kerajaan, di tanah Jawadwipa, kenapa dalam berebut pengaruh dengan kerajaan yang baru muncul, Prabu Brawijaya tidak melakukan peperangan seperti biasanya. Tidak sekalipun sang Prabu Brawijaya mengabari mereka dan meminta mereka untuk pulang untuk ikut berperang di daratan.
Dalam pemikiran mereka, kalau semua senopati dan prajurit yang sedang di lautan, turun dan ikut berperang di daratan, mungkin hasilnya akan lain. Dan kalaupun mereka akhirnya kalah, mereka tetap bangga karena sudah melakukan perlawanan.
Dua hal itu lah yang membuat mereka semua prajurit armada laut Kerajaan Majapahit, terutama para senopatinya merasakan sangat kecewa.
Perasaan kecewa dan pedasaan seperti tidak berguna lagi serta merasa sudah tidak mempunyai raja lagi itu membuat mereka para senopati jarang berkomunikasi dan akhirnya mereka tercerai berai seperti sapu lidi yang hilang tali pengikatnya. Hingga akhirnya, setiap kelompok armada laut pasukan perang Kerajaan Majapahit berjalan dan bergerak sendiri sendiri.
Ada yang akhirnya memilih menetap dan tinggal di negeri yang mereka lewati yang mau menerima mereka.
Ada juga yang masih memilih tetap hidup di kapal dan selalu berlayar berpindah pindah berpetualang hingga ada yang menjadi perompak.
Demikian juga prajurit armada perang yang dipimpin oleh Raksa Samodra. Mereka lebih memilih untuk tetap berada di kapal, berpetualang ke berbagai negeri. Namun, untuk menyambung hidup, terkadang dengan terpaksa mereka menjadi perompak. Walaupun mereka masih memilih milih mangsa. Biasanya yang mereka jadikan sasaran adalah kapal kapal asing yang bukan berasal dari negeri pulau pulau.
Setelah Raksa Samodra mengakhiri ceritanya, suasana sejenak menjadi hening dan senyap.
Sesaat kemudian, Lintang Rahina mencoba melontarkan pertanyaan.
"Kalau dengan kecepatan yang sama seperti sekarang, kemungkinan kita akan sampai tempat yang dituju sekitar sehari semalam," jawab Raksa Samodra.
Kemudian Lintang Rahina kembali bertanya tentang siluman naga yang akan mereka datangi.
Raksa Samodra pun menceritakan tentang siluman naga yang menghuni deretan pulau pulau kecil arah sebelah timur lautan yang sedang mereka arungi.
Pulau pulau kecil itu kadang muncul dan kadang hilang ditelan air laut jika sedang pasang.
Walaupun menghuni pulau pulau kecil itu, namun sebenarnya siluman naga itu lebih sering berada di air laut. Dan kadang bahkan muncul dari dalam laut yang jaraknya cukup jauh dari kepulauan kecil itu.
Tanpa disadari oleh sebagian besar prajurit, laju kapal kapal mereka menjadi agak melambat. Hal ini karena wilayah yang mereka lewati sekarang ini, kecepatan anginnya berkurang sangat drastis.
__ADS_1
"Kakang Lintang merasakan yang sekarang terjadi ?" tanya Sekar Ayu Ningrum pada suaminya.
Lintang mengangguk sambil memandang ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian mereka berdua menatap ke arah Raksa Samodra.
Raksa Samodra yang ditatap dengan penuh pertanyaan oleh kedua tamunya, segera balik bertanya pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, "apa yang kalian rasakan ?"
"Apakah kalian sudah sering melewati jalur ini ?" tanya Lintang Rahina tanpa menjawab pertanyaan Raksa Samodra.
"Sejujurnya, kami baru kali ini benar benar melalui jalur ini. Sebelum sebelumnya, kami lewat jalur yang searah dengan jalur ini, tapi yang agak dekat dengan garis pantai. Itu lebih aman. Karena berita berita yang kami terima, sudah banyak kapal yang melewati jalur ini, tiba tiba hilang tak berbekas dan tidak pernah sampai ke tujuannya.Tetapi karena sekarang kita memang hendak mencari naga itu, kita sengaja lewat jalur yang berbahaya ini," jawab Raksa Samodra menjelaskan.
Tiba tiba, laju kapal yang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tumpangi seperti berbelok dengan tajam. Sesaat kemudian terdengar teriakan teriakan para kru kapal yang saling memberi kabar dan perintah untuk berhenti.
Mendengar semua itu, Raksa Samodra diikuti oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melesat keluar menuju ke geladak kapal.
"Apa yang terjadi ? Apa kalian sudah melihat dan membaca tanda tandanya ?" tanya Raksa Samodra setengah berteriak.
"Kakek, prajurit pengawas dan pengintai sempat melihat sesuatu yang mencurigakan dari arah depan," jawab Jalu Samodra sambil menunjuk ke arah depan.
"Suruh semua kapal anak buahmu untuk berbalik arah dan menjauh secepatnya !" kata Raksa Samodra.
Tanpa menunggu jawaban dari Jalu Samodra cucunya, Raksa Samodra segera melesat melayang menuju tiang layar yang paling tinggi. Kemudian, dengan mengalirkan energi, terutama ke arah kedua matanya dan telinganya, untuk bisa merasakan dan melihat, kemungkinan munculnya naga yang mereka cari.
Sementara itu Jalu Samodra segera meniup alat seperti peluit untuk memberi perintah pada para prajuritnya untuk mundur berbalik arah.
Hingga beberapa saat, semua kru kapal sibuk untuk berputar haluan seperti yang diperintahkan oleh Jalu Samodra.
Setelah semuanya berbalik arah dan membentuk formasi berjajar, terlihat agak jauh ke depan, kapal perang yang paling besar yang ditumpangi oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, berada di depan, sendirian.
__ADS_1
Kapal besar itu terdiam dan sudah menurunkan semua layarnya. Sebagai gantinya, kapal itu digerakkan oleh sekelompok prajurit yang mempunyai energi yang cukup tinggi, dengan menggunakan energinya, di bawah komando Jenar Samodra. Hal itu membuat kapal besar itu bisa bergerak dengan lincah dan bermanuver seperti saat di dalam pertarungan. Tehnik itulah salah satu hal yang membuat armada laut angkatan perang Kerajaan Majapahit.
__________ 0 _________