
Selama proses mengirimkan energi itu, Sekar Ayu Ningrum, dengan tehnik mengirimkan suara, berkata pada Lintang Rahina yang berdiri di sampingnya.
"Kakang Lintang, apakah kakang sudah menemukan kembali Pohon Kehidupan ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang merasakan getaran energi adik Sekar berada di dua tempat. Apa mungkin, getaran energi adik Sekar yang satunya lagi, berkaitan dengan Pohon Kehidupan itu ?" jawab Lintang Rahina sekaligus juga bertanya.
"Kita bantu mereka dulu, secepatnya, kakang. Sambil kita memikirkan cara pergi ke tempat pohon kehidupan itu," kata Sekar Ayu Ningrum.
"Kita harus tetap hati hati. Kakang merasakan, ada beberapa orang yang berenergi sangat tinggi, membaur dengan penduduk biasa. Sepertinya mereka tokoh tokoh penting yang sedang menyamar, " jawab Lintang Rahina.
Setelah beberapa saat, Sekar Ayu Ningrum menghentikan pengiriman energinya.
"Sekarang semua dengarkan ! Akan kubantu kalian merebut kembali negeri kalian !" kata Sekar Ayu Ningrum yang terlihat sangat anggun dan penuh kharisma, dengan seluruh tubuh yang berpendar putih keperakan.
"Gadis muda, kumpulkan semua prajuritmu ! Kita tantang mereka berperang ! Aku yang akan melawan pemimpin pemimpinnya !" perintah Sekar Ayu Ningrum pada Esana Tara yang masih takjub dengan peningkatan energinya.
"Siap menjalankan titah Dewi !" jawab Esana Tara.
"Pria di sampingku ini aku angkat menjadi pengawalku. Dia juga akan ikut berperang bersamaku !" sambung Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian Esana Tara memerintahkan semua prajurit untuk mempersiapkan diri untuk berangkat berperang.
Selain itu, Esana Tara juga memerintahkan sekat pelindung yang tidak kasat mata, yang menutupi tempat mengungsi mereka dibuka.
Tiba tiba, dari kerumunan penduduk yang bukan prajurit, melesat ke atas dan melayang terbang, empat orang tua yang berpakaian biksu, yang masing masing memiliki energi yang sangat besar, menuju ke empat sudut.
Kemudian sambil melayang dan saling berhadapan,keempat biksu tua merentangkan kedua tangannya. Dari kedua tangan mereka masing masing, keluar pendaran cahaya berwarna putih tipis. Pendaran cahaya dari tangan mereka itu saling bertemu di udara sehingga membentuk persegi yang sangat besar.
Beberapa saat kemudian, dari sekeliling persegi itu, terlihat ada lembaran tipis transparan yang masuk ke dalam tengah tengah bentuk persegi dan kemudian lenyap.
__ADS_1
Setelah tidak ada lagi lembaran tipis transparan yang masuk, keempat biksu tua itu menarik lagi kedua tangannya, dan kemudian turun lagi ke tanah ke tengah tengah sekumpulan penduduk, sehingga persegi raksasa yang terbuat dari pendaran cahaya itu lenyap.
Begitu keempat biksu tua itu turun, Esana Tara segera memberikan aba aba pada pasukannya untuk segera berangkat ke medan perang.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berada pada barisan paling belakang. Namun, suatu waktu diperlukan, mereka bisa segera melesat ke depan.
"Kakang Lintang, empat biksu itukah yang kakang maksud dengan beberapa orang yang mempunyai energi sangat besar ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Bukan karena kita takut karena mereka mempunyai energi yang sangat besar, adik Sekar. Namun, kakang merasakan, sepertinya kita akan berurusan dengan mereka," jawab Lintang Rahina.
"Dan satu lagi, kakek tua berbaju petani yang kemaren menggandengku, belum memunculkan diri," sambung Lintang Rahina.
"Kita tidak usah terlalu memikirkan itu, kakang. Kelihatannya mereka orang baik. Lagi pula, aku mengirim energi ke anak gadis yang bernama Esana Tara itu, tidak mengurangi sedikitpun energi yang aku miliki," kata Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar perkataan Sekar Ayu Ningrum itu, Lintang Rahina menoleh dan memandang wajah Sekar Ayu Ningrum istrinya, dengan senyum dan tatapan yang tajam.
----- * -----
Sementara itu di barisan paling depan, Esana Tara diam diam merasakan semangat yang luar biasa. Semangat bertarung yang luar biasa. Hal itu di sebabkan, Esana Tara merasakan adsnya energi yang meluap luap di seluruh tubuhnya.
Selain Esana Tara, sebenarnya semua prajurit hingga para pemimpin prajurit, merasakan semangat juga, karena mereka meyakini, jalan yang mereka tempuh, sudah direstui oleh Dewi Tara, bahkan Dewi Tara telah memberikan sebagian energinya pada ratu mereka, pewaris tahta yang sah, Esana Tara.
Bahkan para penduduk biasa pun merasakan akan hal itu, sehingga dalam sepanjang perjalanan, dipenuhi oleh mantera mantera puja pujaan pada Dewi Tara.
Pada sore hari, mereka telah sampai di jalan yang mengarah ke pintu gerbang kerajaan yang terpaksa mereka tinggalkan.
Karena sudah menjelang malam, Esana Tara memerintahkan pada semuanya, untuk membangun perkemahan di tempat mereka berhenti ini.
Segera saja sebuah tenda yang sangat besar berdiri, yang dikelilingi oleh tenda tenda kecil secara melingkar. Namun kali ini, lingkungan tenda mereka, tidak mereka tutupi dengan sekat pelindung yang membuat perkemahan mereka tidak tidak dapat dilihat. Bahkan penjagaannya mereka buat secara bergilir.
__ADS_1
Pada kesempatan malam itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, berbincang dengan Esana Tara. Bahkan Lintang Rahina secara khusus meminta, agar keempat biksu yang tadi pagi membuka sekat pelindung, ikut hadir dalam pembicaraan mereka. Bahkan kakek tua yang berpakaian petani, juga Lintang Rahina minta untuk ikut berbincang.
Sebenarnya Lintang Rahina baru saja akan menyampaikan kepada keempat biksu tua dan kakek tua berpakaian petani itu. Namun ternyata kakek tua mengatakan hal mengejutkan.
"Anak muda, dari petunjuk yang kami terima, kami tahu, istrimu adalah orang yang terpilih untuk menjadi titisan Dewi Tara. Dan sampai sekarang, proses penyerapan energi masih berlangsung. Namun ada sedikit gangguan yang menyebabkan istrimu berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan. Kami tahu, itu ulah para biksu yang kebetulan sedang tersesat jalan, yaitu Biksu Candharra dan yang lainnya. Tapi percayalah, setelah perang ini usai, kami berlima akan membantu kalian menuju ke tempat pohon keabadian berada," kata kakek tua berpakaian petani panjang lebar.
Mendengar perkataan yang sangat panjang itu, Lintang Rahina merasa lega.
"Jadi ini, maksud dari perasaanku yang merasa seolah akan berurusan dengan orang orang ini," kata Lintang Rahina dalam hati.
----- * -----
Tanpa terasa pagi menjelang. Semua penghuni perkemahan sudah bersiap diri. Terlihat semangat mereka yang sangat besar, serta keyakinan mereka akan memperoleh kemenangan pada peperangan kali ini.
Dengan Esana Tara berjalan paling depan, mereka maju menuju pintu gerbang.
Pada kesempatan itu, Esana Tara sengaja menampakkan getaran energinya dan mengeluarkan pendaran tipis putih keperakan ke seluruh tubuhnya. Karena Esana Tara tahu betul kepercayaan yang diyakini oleh rakyat negerinya. Sehingga dia sengaja mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan.
Dengan anggun, Esana Tara berjalan maju hingga tepat di depan pintu Gerbang.
Kemudian, dengan sedikit membuat tubuhnya melayang, Esana Tara mengetuk pintu gerbang.
Tuuukkk ! Tuuukkk ! Tuuukkk !
"Apakah kalian tidak mengijinkan ratu kalian yang sah ini untuk memasuki istananya ?" tanya Lintang Rahina
Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Esana Tara, telah membuat mereka yang tadinya mendukung raja yang sekarang, menjadi ragu ragu.
__________ 0 __________
__ADS_1