
Dalam penglihatan Lintang Rahina dan ketua biksuni ataupun biksuni yang lain, semua bata pada dinding dan lantai ruang tengah kuil ikut memendarkan sinar putih saat terkena pendaran sinar putih keperakan yang keluar dari kedua telapak tangan Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian seiring waktu berjalan, satu demi satu pendaran sinar yang berasal dari bata dinding ataupun lantai, menghilang.
Satu hari berlalu. Sudah sepertiga bata yang hilang pendaran sinarnya.
Memasuki hari yang kedua, Sekar Ayu Ningrum masih tetap dalam posisinya yang terbalik. Hanya satu hal yang membedakan dengan hari yang kemaren.
Pada hari yang kedua ini, pusaran energi di sekeliling Sekar Ayu Ningrum yang menyebabkan udara di sekitarnya bergerak hingga seperti timbul angin, semakin besar. Namun keadaan kuil tetap tenang dan tenteram.
Hingga pada siang harinya, ketenteraman di kuil para biksuni menjadi terusik dengan datangnya tiga orang pria yang berpakaian serba hijau.
Mereka bertiga diutus datang ke kuil, karena dua orang anggota mereka, yang sudah lebih dahulu mendapatkan tugas, dan sampai sekarang belum kembali lagi. Hingga akhirnya ketiganya tiba di kuil dan ditemui oleh ketua biksuni yang didamping oleh Lintang Rahina.
Lintang Rahina menatap ketiga pria dihadapannya. Dia sedikit terkejut ketika menatap pria yang ketiga. Pria itu terlihat mirip dengan pria berbaju hijau yang dia kalahkan saat pertarungan di puncak Gunung Lawu.
"Apa dia yang menculik Seruni ?" kata Lintang Rahina dalam hati.
"Ketua biksuni, dimana dua orang yang aku utus datang kesini ?" tanya salah seorang dari tiga pria yang datang.
"Mereka, aku tahan. Karena telah membuat kekacauan dan kerusakan di kuil ini !" jawab ketua biksuni.
"Aku tidak peduli ! Lepaskan mereka sekarang !" bentak pria yang tadi.
"Bebaskan sendiri kalau kau menginginkannya !" jawab ketua biksuni.
"Kalian semua mencari mati !" jawab salah satu dari ketiga pria yang datang.
Kemudian, tanpa dikomando lagi, ketiga pria itu segera melesat, menyerang ketua biksuni dan Lintang Rahina.
Melihat datangnya serangan itu, Lintang Rahina dan ketua biksuni segera berpindah tempat dengan cepat, menyambut lawannya masing masing.
Pria berbaju hijau yang pertama langsung beradu pukulan berkali kali dengan Lintang Rahina.
Plak plak plak !
Buggghhh ! Buggghhh !
Pria berbaju hijau itu terkejut. Dirinya tidak menyangka, lawannya yang masih sangat muda, sudah mempunyai energi yang sangat tinggi. Bisa mengimbanginya, atau bahkan di atas tingkatnya.
Setelah beberapa kali secara beruntun beradu energi pukulan, pria itu kemudian meloloskan senjatanya, sebuah kipas besi yang bila dilipat panjang dan fungsinya seperti pedang.
__ADS_1
Dengan berlari sangat cepat ke arah Lintang Rahina, pria yang pertama itu membuka dan menutup kipas besinya berulang ulang sehingga menimbulkan suara dan angin yang menderu.
Dengan senjatanya inilah, dia bisa mencapai kedudukan wakil pimpinan yang pertama di Klan Kemala Hijau dan posisinya hanya di bawah Nona Kim.
Sementara itu, Lintang Rahina, melihat lawannya mengeluarkan senjatanya, diapun mencabut pedangnya.
Lintang Rahina langsung mengalirkan energi yang cukup besar ke seluruh tubuhnya. Bilah pedangnya pun berubah menjadi sinar kuning keemasan.
Sesaat kemudian, benturan senjata mereka terjadi berkali kali.
Trang trang trang !
Braaakkk ! Pack pack !
"Anak ini bisa menangkis semua seranganku dan bahkan mampu membuat tanganku kesemutan. Kecepatannya pun tidak di bawahku," kata pria yang pertama itu dalam hati.
Sementara Lintang Rahina juga kagum pada lawannya.
"Lawan yang sangat kuat," gumam Lintang Rahina.
Kemudian, dengan gerakan tangan kirinya, pria yang pertama itu memberi kode pada pria yang paling muda untuk ikut dengannya menghadapi Lintang Rahina.
"Kebetulan, akan aku ringkus dia untuk aku tanya," kata Lintang Rahina pelan, sambil menambah tingkat aliran energinya.
Kemudian, secepat kilat, tubuh Lintang Rahina berkelebat cepat ke arah dua pria yang juga menuju ke arahnya.
Suasana pertarungan pun berubah. Hanya terlihat kilatan kilatan bayangan tubuh yang berkelebat saling mendekat dan berbenturan kemudian menjauh lagi. Diiringi suara benturan senjata yang berdentangan berkali kali.
Tang ! Tang !
Trang trang trang !
"Aku harus menjatuhkan dulu pria yang pertama ini, sebelum menangkap pria yang paling muda itu," kata Lintang Rahina dalam hati sambil kembali menaikkan keluarnya tingkat energinya.
Kemudian, Lintang Rahina kembali melesat sambil menggerakkan bilah pedangnya beberapa kali hingga keluar beberapa pendaran sinar berbentuk ujung pedang.
Dengan sekali hentakan, pendaran sinar berbentuk ujung pedang itu melesat dengan sangat cepat ke arah pria yang paling muda.
Dab dab dab dab !!!
Pria yang paling muda itu memutar pedangnya untuk menangkis pendaran sinar yang meluncur deras ke arahnya.
__ADS_1
Tak tak tak tak !!!
Pria yang paling muda itu tidak menyangka, tubuhnya akan terdorong mundur cukup jauh saat mencoba menangkis luncuran pendaran sinar berbentuk ujung pedang. Sehingga kuda kuda kedua kakinya terseret mundur.
Sreeettt !!!
Saat tubuhnya yang meluncur ke belakang bisa dia hentikan, tiba tiba ada satu pendaran sinar berbentuk ujung pedang yang mengenai paha kirinya.
Taaakkksss !!!
Pria paling muda itu menjadi goyah kuda kudanya Berdirinya agak limbung dan terlihat kedua kakinya gemetar.
Pada saat yang bersamaan dengan meluncurnya beberapa pendaran sinar berbentuk ujung pedang ke arah pria paling muda. Di belakangnya, tubuh Lintang Rahina melesat ke arah pria yang pertama.
Pedangnya yang memendarkan sinar kuning keemasan, bergerak menebas dan menusuk berkali kali, yang ditangkis pria yang pertama itu dengan senjata kipasnya.
Hingga akhirnya, pada sebuah serangan, pedang Lintang Rahina mampu merobek bilah kipas lawannya sampai ujung pedangnya mengenai bahu lawannya.
Kraaakkk ! Jleb !
Disusul kemudian pukulan tangan kirinya menghujam ke dada lawannya.
Buuuggh !!!
Tubuh pria pertama itu terlempar cukup jauh hingga akhirnya terjatuh ke tanah.
Perlahan pria yang pertama itu bangkit berdiri lagi. Walau nafasnya agak memburu dan merasakan nyeri di dadanya, dia tetap bersiap menyerang lagi.
Kipas besinya yang telah robek, dia lipat hingga membentuk senjata pedang.
Sejenak pria yang pertama itu menatap ke pria yang paling muda, yang berdiri dengan paha kiri yang mengeluarkan darah. Namun pria yang paling muda itu tidak menunjukkan isyarat hendak bertarung lagi. Karena dia merasakan, kaki kirinya sedikit agak kaku.
Melihat hal itu, pria yang pertama itu kembali menatap ke arah Lintang Rahina. Sambil membersihkan kotoran di kedua sudut bibirnya dengan punggung telapak tangan kiri, dia menarik satu kali nafas panjang.
Kemudian, dengan sekali menompat, tubuhnya sudah berada di depan Lintang Rahina dengan gerakan pedangnya yang mengarah ke dada, perut dan leher Lintang Rahina.
Lintang Rahina pun memapaki serangan lawannya dengan tingkat energi dan kecepatan yang belum berubah.
Untuk ke sekian kalinya, terjadi benturan senjata keduanya berulang kali.
Trang trang trang !
__ADS_1
Kali ini, setiap menangkis, pedang pria yang pertama itu selalu terpental kembali ke belakang.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_