
Air lautan di sekitar kapal perang besar yang ditumpangi oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terlihat tenang. Bahkan angin pun tidak seperti berhembus. Semuanya seperti terdiam. Hanya bintang bintang nun jauh di atas sana yang berani bergerak memamerkan kerlipan cahayanya, yang terpantul di permukaan air laut yang hanya bergerak pelan. Membuat permukaan air laut seolah juga menampilkan kerlipannya.
Lintang Rahina yang berdiri di ujung depan kapal, menatap tajam ke sekeliling kapal. Kemudian matanya terhenti pada permukaan air laut persis di depan kapal yang menampakkan kerlipan yang terlihat lebih rapat jaraknya sehingga terlihat lebih terang.
Kerlipan cahaya itu ternyata berasal dari dalam air yang cukup dalam, yang wujudnya tampak semakin membesar karena bergerak naik dan semakin mendekati permukaan air.
Sesaat kemudian, di arah depan kapal, dari dalam muncul kepala siluman naga yang sangat besar yang besarnya mencapai sebesar badan kerbau dewasa. Sisiknya yang berwarna kuning keemasan berkerlipan sangat indah. Kedua bola matanya yang menyalang merah dan dua tanduk berwarna hijau kehitaman yang tumbuh di atas kepalanya menambah seram wujudnya. Di antara kedua matanya terlihat benda lonjong menonjol berwarna hijau tua dan mengkilat.
Kepala siluman naga itu masih terdiam dan hanya menatap ke arah kapal. Kemudian tatapan matanya terpaku pada sosok tubuh yang melayang di atas kapal, yang mengeluarkan getaran energi yang sangat besar. Lintang Rahina sengaja melayang dengan mengeluarkan energi yang cukup besar agar perhatian kepala siluman naga itu tertuju padanya.
Gggrrrrr !!!
"Siapa kau manusia ! Berani beraninya kau berdiri di depan mukaku !" kata siluman naga itu sambil terus menatap Lintang Rahina.
"Aku hanya kebetulan lewat jalur ini," jawab Lintang Rahina.
"Grrr ... setiap yang lewat sini akan menjadi santapanku !" kata siluman naga itu lagi sambil tubuhnya sedikit bergerak sehingga air lau di sekitar tubuhnya berriak.
Sesaat tidak terjadi apa apa. Namun tiba tiba, Lintang Rahina berteriak, "Semua waspada. Pindahkan kapal ke arah kanan !"
Kemudian, dengan dibantu oleh Sekar Ayu Ningrum, kapal besar itu bergerak ke arah kanan. Sementara Lintang Rahina, segera melayang di depan kepala siluman naga yang menjulur ke atas hingga tingginya mencapai setengah dari tinggi tiang layar kapal.
Kedua telapak tangan Lintang Rahina berwarna ungu kehitaman dengan diselimuti pendaran sinar putih pekat.
Sesaat kemudian, dari samping kiri kepala siluman naga itu melesat dengan sangat cepat ekor siluman naga itu mengarah ke tempat Lintang Rahina melayang.
Lintang Rahina segera menghindar dengan bergerak ke arah kanan dan kemudian kedua tangannya mendorong ke arah ekor siluman naga yang menyerangnya.
Plak plak !!!
Terkena pukulan kedua tangan Lintang Rahina, ekor siluman naga sebesar batang pohon kelapa itu oleng dan menghantam tempat kapal perang besar tadi berada.
Byuuurrr !!!
"Aku harus memancing siluman naga ini menjauh dari armada kapal perang ini !" kata Lintang Rahina dalam hati.
__ADS_1
Lintang Rahina baru saja akan bergerak, ketika dari dalam air laut, ekor siluman naga itu bergerak dengan sangat cepatnya menuju ke arah Lintang Rahina berada dan langsung menghantam tubuh Lintang Rahina.
Blaaarrr !
Terjadi ledakan keras saat kedua tangan Lintang Rahina menangkis ekor siluman naga yang hendak menghantam tubuhnya.
Ekor siluman naga itu kembali tercebur ke dalam laut, sedangkan, tubuh Lintang Rahina terlempar ke atas dengan sangat tingginya.
"Kekuatan ekornya sungguh sangat luar biasa ! Aku harus menyerang kepalanya !" gumam Lintang Rahina sambil tubuhnya kembali meluncur ke bawah ke arah kepala siluman naga itu.
Namun, saat hampir dekat, siluman naga itu tiba tiba membuka mulutnya dan dari mulutnya menyembur api yang berwarna biru.
Walaupun sudah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan energi berwujud pendaran sinar putih pekat, Lintang Rahina tetap menggunakan ilmu yang dia pelajari dari Ki Jagad Anila, yaitu ilmu 'Sindhung Alit'.
Meluncur dengan tubuh menghadap ke bawah, kedua tangannya terulur ke depan dengan telapak tangan terbuka mengarah ke depan.
Ketika tubuhnya yang terus meluncur hampir mendekati ujung api biru yang keluar dari mulut siluman naga, dari kedua telapak tangannya keluar angin yang dengan cepat menghantam apinya.
Api yang terus menyembur keluar itu semakin memendek dan akhirnya padam. Namun, gerakan meluncur tubuh Lintang Rahina tidak berhenti. Secepat kilat, tiba tiba tubuh Lintang Rahina sudah sangat dekat dengan mulut siluman naga yang masih menganga, dan kemudian kaki kanannya membuat gerakan menendang ke arah rahang siluman naga itu.
Aaarrrccchhh .... !!!
Terkena tendangan Lintang Rahina, kepala siluman naga itu seperti tertumbuk batu besar yang memaksanya meluncur ke bawah hingga masuk kembali ke dalam air.
Saat kepala siluman naga itu terdorong kebawah hingga masuk kembali ke dalam air laut, siluman naga itu mengangkat ekornya dan digerakkan untuk menghantam tubuh Lintang Rahina.
Melihat ekor siluman naga itu kembali meluncur mendekat, tubuh Lintang Rahina juga melesat ke arah datangnya ekor siluman naga itu dengan menjejakkan kedua kakinya.
Blaaammm !!!
Benturan ekor siluman naga yang penuh dengan energi, dengan kedua kaki Lintang Rahina yang dilapisi energi, mengakibatkan ledakan besar di permukaan air laut. Membuat air laut itu seketika bergejolak dengan hebat.
Tubuh Lintang Rahina masih berada di dekat permukaan air ketika tiba tiba kepala siluman naga itu muncul lagi dan langsung menabrak tubuh Lintang Rahina.
Dbaaammm !!!
__ADS_1
Tubuh Lintang Rahina langsung terlempar ke atas, sedangkan kepala siluman naga itu kembali meluncur ke bawah dengan derasnya.
Byuuurrr !!!
Sesaat air laut itu bergejolak.
Tidak berapa lama, permukaan air laut kembali terjadi gejolak. Kali ini, gejolaknya memanjang hingga sekitar seratus meter.
Tidak berapa lama, muncullah wujud utuh siluman naga. Badannya terlihat sangat besar dan panjang, penuh dengan sisik yang berwarna kuning keemasan.
Perlahan, siluman naga itu mendekat ke arah Lintang Rahina, dengan ekor yang mendekat ke arah kepalanya, hingga kepala dan ekor siluman naga itu sama sama berdiri diatas permukaan air.
"Hhrrrrr ... !
"Manusia, sebelum kau kutelan, siapa kau dan dari mana asalmu !" kata siluman naga itu.
"Agar kau tidak penasaran, aku berasal dari negeri pulau pulau, tepatnya di tanah Jawadwipa !" jawab Lintang Rahina.
Hrrrrr ..... !!!
"Senang rasanya bisa mencoba tingginya ilmu kesaktian pendekar dari tanah Jawadwipa !" sahut siluman naga itu.
"Kerahkan semua kemampuanmu untuk bisa melawanku, manusia !" kata siluman naga itu lagi, sambil mulai bergerak menyerang.
Ujung ekornya bergerak membuat putaran putaran, kemudian ekor siluman naga itu kembali membuat gerakan menghantam, sementara mulutnya mulai menyemburkan api biru yang lebih besar lagi.
Kali ini Lintang Rahina menghadapi serangan dari dua arah secara bersamaan.
Semburan api biru dari mulut siluman naga itu, terkadang diselingi dengan melesatnya sinar hijau dari benjolan hijau yang berada di dahi ular itu.
Dengan mengandalkan kecepatan geraknya, Lintang Rahina berusaha menghindari setiap serangan yang tiba. Namun, terkadang Lintang Rahina juga menangkis datangnya serangan ekor.
Pertarungan mereka yang terjadi di atas permukaan air itu menimbulkan pergolakan air laut yang sangat hebat.
Selain itu, udara di sekitar mereka bertarung, juga mulai berhembus kencang hingga mulai memunculkan badai.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_