
Setelah beberapa saat melesat di atas lautan, Lintang Rahina berhenti di depan sebuah pintu gerbang yang sangat besar yang berdiri di atas lautan. Pintu gerbang itu dijaga oleh banyak sekali prajurit yang semuanya adalah wanita cantik.
"Ada urusan apa cah bagus ? Sungguh sangat berani sekali kau berani datang ke sini ?" tanya salah seorang prajurit wanita.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian ! Aku hanya ingin bertemu dengan ratumu !" jawab Lintang Rahina.
"Sayangnya kami hanya ditugaskan untuk berjaga, tidak untuk mengijinkan!" teriak salah seorang prajurit.
"Minggirlah !" jawab Lintang Rahina.
Kemudian, hanya dengan menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, Lintang Rahina membuat semua prajurit wanita itu jatuh terjengkang.
Dengan berjalan biasa, Lintang Rahina melewati pintu gerbang. Tetapi di dalam gerbang, hingga ke gedung yang sangat besar dan megah yang masih jauh lagi masuk ke dalam, Lintang Rahina tidak merasakan adanya getaran energi manusia ataupun siluman yang tingkatannya tinggi di situ. Yang ditemuinya hanyalah getaran energi energi yang setingkat dengan para prajurit wanita di luar tadi.
Para prajurit yang berada di dalam pun juga tidak berani berbuat apa apa. Mereka hanya mencoba menghadang langkah Lintang Rahina.
Menyadari kalaupun dipaksakan juga tidak akan mendapatkan apa apa, Lintang Rahina pun akhirnya bertanya pada mereka semua.
"Kalian semua, aku akan kembali dan tidak akan melakukan apa apa di sini, asal kau jawab pertanyaanku !" kata Lintang Rahina.
Mendengar perkataan Lintang Rahina itu, semua prajurit siluman yang semuanya perempuan itu terlihat merasa lega. Karena oleh senopati mereka, mereka hanya dipesan untuk mencegah terjadinya pertarungan dsn menghindari kerusakan. Karena sebenarnya, semuanya, mulai dari Ratu, Senopati hingga punggawa punggawa kerajaan gaib di lautan yang membentang sangat luas ini sedang dalam misi membantu Kerajaan Mataram menyatukan kerajaan kerajaan kecil dan berperang untuk mengusir bangsa asing. Sehingga di setiap pintu gerbang masuk ke kerajaan gaib yang jumlahnya sangat banyak, hanya dijaga oleh prajurit prajurit siluman penjaga.
"Apakah betul, ada yang membawa masuk anak manusia ke dalam kerajaan gaib ini ?" tanya Lintang Rahina.
Mendengar pertanyaan itu, seluruh prajurit saling berpandangan dan terdengar seperti suara dengungan karena mereka saling berbicara satu sama lain.
"Kalian semua tidak usah takut. Aku hanya ingin memastikan kebenarannya !" teriak Lintang Rahina.
Mendengar ucapan itu, mereka semua pun mengangguk angguk berkali kali.
"Siapa yang membawa anak manusia itu masuk ke kerajaan gaib ini ?" tanya Lintang Rahina lagi.
Para prajurit itu menjawab dengan lirih.
"Pang ... li .. ma !"
"Panglima kalian ? Baiklah, terimakasih informasinya. Lain kali aku akan menemui Panglima kalian ?" ucap Lintang Rahina.
__ADS_1
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Lintang Rahina seperti menghilang dari pandangan para prajurit itu dan sesaat kemudian, dirinya telah kembali ke Pantai Parangtritis, dimana telah menunggunya Sekar Ayu Ningrum dan pasangan Sindunata Puruhita.
"Bagaimana kakang ?" tanya Sekar Ayu Ningrum, begitu Lintang Rahina tiba di depannya.
"Adik Sekar dan kakang mbakyu tentunya juga bisa merasakan. Di sini yang ada hanya para prajurit. Semua punggawa dan senopati kerajaan bahkan ratunya tidak ada di istana kerajaan gaib. Karena tidak kurasakan getaran energi yang berada di level tinggi," kata Lintang Rahina menjelaskan.
"Mengambil kembali Indrabayu, itu urusan mudah. Namun, khawatirnya, urusannya jadi tidak sesederhana itu, kalau sampai mengganggu jalannya perjuangan Kanjeng Panembahan Senopati. Beliau bisa murka," sambung Lintang Rahina, "Kita kembali ke rumah dan minta saran para guru dulu."
Kemudian mereka berempat kembali ke tempat tinggal milik Ki Ageng Arisboyo yang didiami oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Di rumah itu, Lintang Rahina menyampaikan seluruh permasalahan yang mereka hadapi pada semua gurunya.
"Memang benar, mengambil anak itu adalah perkara mudah. Namun, kalau sampai membuat kerajaan gaib menarik separuh atau mungkin keseluruhan pasukannya, jelas itu akan berimbas pada kekuatan Pasukan Mataram. Dan kemungkinan hal itu akan membuat Kanjeng Panembahan Senopati murka," kata Ki Penahun.
"Begini saja. Kami yang akan menjelaskan pada Ki Ageng Arisboyo, karena beliau dipercaya sebagai penasehat spiritual Kanjeng Panembahan Senopati," sambung Ki Pradah.
"Baiklah guru. Kami menunggu hasil pertemuan guru dengan Ki Ageng Arisboyo," jawab Lintang Rahina.
Akhirnya, hari itu juga Ki Penahun dan Ki Pradah segera pergi untuk mencari dan menemui Ki Ageng Arisboyo. Sedangkan Ki Dipo Menggala dan Ki Wongso Menggala kembali ke puncak Lawu, karena mereka sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan kerajaan dan akan secepatnya kembali bertapa. Demikian pula dengan Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila, hanya akan menemani perjalanan Ki Penahun dan Ki Pradah hingga perbukitan Menoreh. Karena mereka berdua juga akan kembali bertapa di tempat tinggal mereka dulu.
----- * -----
Sebagai ratu dan pemilik kerajaan gaib di sepanjang perairan selatan Negeri Jawadwipa, Ratu Naga Wilis Kencana, bisa merasakan apa yang terjadi pada istana dan kerajaannya.
Saat Lintang Rahina datang melalui pintu gerbang Pesisir Parangtritis pun, Ratu Naga Wilis Kencana juga bisa merasakan. Maka malam hari itu juga, Ratu Naga Wilis Kencana mengutus Dewi Gayatri senopati kepercayaannya untuk melihat ke gerbang Pesisir Parangtritis.
Dewi Gayatri, selain senopati kepercayaan dari Ratu Naga Wilis Kencana, juga merupakan senopati terkuat dan tersakti di kerajaan gaib.
Segera saja Dewi Gayatri melesat menuju pesisir Parangtritis. Karena kesaktiannya, hanya dalam sekejap, kereta kecil dengan satu kuda penariknya sampai diatas pantai Parangtritis.
Begitu sampai di atas Pesisir Parangtritis, Dewi Gayatri langsung merasakan ada getaran energi yang sangat kuat melesat menuju ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.
"Anak muda dengan tingkat energi yang sangat tinggi dan aura tubuh yang luar biasa," kata Dewi Gayatri sambil turun dari kereta kudanya. Diam diam Dewi Gayatri terkejut dan kagum dengan peningkatan energi dan kemampuan manusia yang melesat ke arahnya.
Sementara itu, Lintang Rahina, orang yang melesat mendekat saat Dewi Gayatri muncul, juga merasa terkejut.
"Inikah senopati terkuat di kerajaan gaib ini ? Sepertinya kesaktiannya meningkat dengan pesat. Tingkat energi yang dimilikinya sangat luar biasa," kata Lintang Rahina dalam hati.
__ADS_1
Dalam posisi melayang di atas lautan, mereka berdua saling menatap dengan tajam seolah hendak mengukur tingkat kekuatan pihak yang ditatapnya.
Desiran angin membelai ujung rambut mereka, menggerakkan ujung ujung baju mereka.
Dalam waktu yang singkat, suhu udara meningkat drastis di sekitaran mereka. Angin yang tadinya hanya pelan, berubah menjadi hembusan kencang dan tidak teratur.
"Anak muda ! Siapa kau berani menghadang arah jalanku ?" tanya Dewi Gayatri yang terlihat cantik dengan dandanan busana yang dipakainya.
"Aku Lintang Rahina. Aku sudah dua kali bertemu dengan ratumu !" jawab Lintang Rahina.
"Apakah kau senopati yang membawa anak manusia masuk ke kerajaan siluman ? Seperti yang diceritakan oleh prajurit prajuritmu," sambung Lintang Rahina.
"Benar sekali ! Akulah yang membawa anak manusia itu masuk ke kerajaan gaib !" jawab Dewi Gayatri.
"Apa tujuanmu membawa anak itu ?" sahut Lintang Rahina.
"Aku kasihan padanya, bermain sendirian di pantai !" jawab Dewi Gayatri.
"Aku tahu, itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Karena aku yakin, kau pun juga tahu, aku bisa dengan mudah mencari dan mengambil kembali anak itu !" kata Lintang Rahina dengan sedikit nyaring.
"Hhhh ... ! Rupanya kau anak muda yang sangat serius !" sahut Dewi Gayatri.
"Baiklah ! Sebenarnya, pada beberapa hari kemaren, aku merasakan adanya getaran energi siluman naga. Aku sedang mencarinya. Karena, kalau sampai Gusti Ratu Naga Wilis Kencana mendengar, beliau akan murka. Karena beliau tidak mau dikembari !" lanjut Dewi Gayatri menjelaskan.
"Dan sebenarnya kau juga tahu, dengan alasan itu, tidak seharusnya kau membawa pergi anak itu !" ucap Lintang Rahina pelan.
"Kembalikan anak itu pada kami ! Aku tidak akan mencampuri urusan kalian !" lanjut Lintang Rahina.
Keduanya kembali terdiam. Hawa udara di sekitar mereka semakin panas.
Kemudian, secara bersamaan, tubuh mereka berdua berkelebat lenyap. Sesaat kemudian, terjadi suara benturan ataupun suara ledakan.
Plak Plak ! Plak Plak !
Blam Blam ! Blaaammm ! Blaaammm !
Dilihat dari tempat yang jauh, tubuh mereka berdua terlihat seperti dua sinar yang saling menyambar. Sehingga seolah olah, di atas permukaan laut tempat mereka tadi melayang di atasnya, muncul kilatan kilatan petir yang menyambar ke semua arah.
__ADS_1
Kilatan kilatan petir itu muncul, karena terjadi gesekan antara energi Lintang Rahina yang bersifat panas dan energi Dewi Gayatri yang juga bersifat panas.
__________ 0 __________