
Setelah semuanya selesai dan kembali normal, Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina segera berpamitan pada biksu tua itu. Biksu tua itupun hanya mengiyakan dan mempersilahkan melanjutkan perjalanan.
"Akhirnya, tuntas sudah tugas kami menjaga energi itu. Semoga kalian mampu menerima beban tugas yang sangat besar," gumam biksu tua itu sambil tersenyum lega dengan memandang ke arah perginya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Sementara itu, dengan melayang di udara, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menuju ke suatu negeri yang menguasai daratan besar.
"Dengan wilayah yang seluas ini, semoga dalam mencari kuil itu tidak memakan waktu yang lama, kakang," kata Sekar Ayu Ningrum di sela sela perjalanannya.
"Kakang yakin, kita akan segera menemukannya, adik," jawab Lintang Rahina.
Begitu sampai di perbatasan, mereka berdua turun dan kembali melakukan perjalanan dengan berlari cepat, terkadang juga dengan berjalan kaki biasa.
Di setiap tempat yang ada kuilnya, mereka berdua mengeluarkan energi mereka untuk merasakan adanya getaran energi yang sama dengan getaran energi milik Sekar Ayu Ningrum.
Namun, hingga menjelang malam hari, mereka berdua belum mendapatkan tanda tanda sedikitpun.
Akhirnya mereka berdua menghentikan pencarian dan mencari tempat menginap untuk memulihkan tenaga mereka.
"Adik Sekar, besok saat kita melanjutkan mencari kuil, adik Sekar tidak usah mengeluarkan energi untuk merasakannya. Namun, cukup kita lewati saja. Nantinya, di mana adik Sekar merasa ingin turun, di situlah kita mencarinya," kata Lintang Rahina saat mereka sedang beristirahat.
"Mungkin memang begitu caranya, kakang. Sama seperti saat kita menemukan kuil yang memendarkan warna hijau," jawab Sekar Ayu Ningrum sambil tersenyum memandang suaminya.
----- o -----
Pagi hari berikutnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum kembali mencari keberadaan kuil yang memendarkan sinar putih.
Tidak seperti kemaren, hari ini mereka hanya melewati setiap kuil yang mereka temui.
Namun hingga tengah hari, mereka belum juga menemukan kuil yang dimaksud.
Sampai dengan ketika mereka tiba di pinggiran sebuah kota besar. Dari jalan besar, mereka menyaksikan ada sebuah kuil yang sangat unik.
__ADS_1
Pemimpin sampai dengan pengurus kuilnya, semuanya perempuan yang menjadi biksuni.
Namun, saat itu ada kejadian yang lebih menarik perhatian.
Saat itu, para biksuni dipaksa keluar dari kuil oleh sekelompok orang yang berpakaian pendekar berwarna serba hijau. Bahkan ada beberapa biksuni yang sampai mendapatkan luka luka di tubuhnya.
Sebenarnya para biksuni itu juga menguasai ilmu silat, bahkan biksuni yang menjadi pemimpin kuil, termasuk masuk dalam jajaran pesilat tingkat tinggi.
Namun yang mereka hadapi kali ini adalah suatu kelompok yang mempunyai anggota yang banyak sekali dengan tingkat energi dan ilmu silat yang sangat tinggi.
Kelompok itu merupakan sebuah perguruan silat sekaligus sebuah klan yang bernama Klan Kemala Hijau, yang menguasai wilayah dari Lembah Kemala Hijau hingga ke Pegunungan Kemala Hijau.
Pemimpin klan itu adalah seorang perempuan cantik berusia sekitar lima puluh tahun namun wajah dan tubuhnya masih terlihat muda seperti masih berusia tiga puluhan tahun.
Perempuan yang dipanggil dengan panggilan Nona Kim itu, selain terobsesi dengan kecantikan, juga sangat terobsesi dengan kekuatan dan ilmu bela diri. Apapun akan dia cari dan dia lakukan, sepanjang hal tersebut bisa untuk meningkatkan kekuatan.
Dia mendengar kalau di sebuah kuil yang ketua sampai dengan pengurusnya, semuanya seorang biksuni, tersimpan suatu benda pemberian seorang Dewi yang bisa memberikan ataupun menambah kekuatan.
Maka dia menyuruh anggota klan untuk mencarinya sampai dapat. Dia berencana akan menggabungkan kekuatan itu dengan kekuatan yang sudah dia ambil dari Negeri Pulau Pulau.
Namun, walaupun sudah menggeledah semua ruangan, bahkan sudah mengacak acak ruang perpustakaan hingga dapur, mereka belum menemukan apa yang dikehendaki oleh Nona Kim.
Kemudian salah seorang pendekar berbaju hijau yang menjadi pemimpinnya, berjalan ke arah ketua biksuni dan pengurus kuil yang lainnya.
"Biksuni ! Tunjukkan, dimana ruang menyimpan benda pusaka ?" bentak Pemimpin melompok pendekar berbaju hijau itu.
"Ini kuil, tempat untuk beribadah. Kami tidak mempunyai tempat untuk menyimpan benda pusaka," jawab ketua biksuni.
"Jangan berbohong. Nona Kim sudah merasakan, di kuil ini tersimpan sebuah pusaka !" sahut pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau.
"Kalau tidak percaya, silahkan cari sendiri," jawab ketua biksuni.
__ADS_1
Kemudian, sekali lagi, pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau memerintahkan untuk menggeledah semua ruangan. Bahkan di beberapa tempat yang dicurigai, ada dinding dan juga lantainya di yang dibongkar. Namun tetap saja, kelompok pendekar berbaju hijau tidak bisa menemukan apa yang mereka cari.
"Biksuni ! Serahkan pusaka itu ! Atau kalian semua aku bunuh !" kata pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau sambil menghunus senjata pedangnya.
"Sampai mati pun, kami tidak bisa mengatakannya. Karena memang tidak ada benda pusaka yang disimpan di kuil ini," jawab ketua biksuni dengan tenang.
Tiba tiba terjadi kegaduhan saat sekelompok pendekar berbaju hijau yang berada di dalam kuil melakukan pengrusakan terhadap ruangan dan peralatan untuk peribadatan.
Bugh bugh ! Trang trang trang !
Praaannnggg !!!
Mendengar suara suara itu dan setelah mengetahui kalau sekelompok pendekar itu melakukan pengrusakan, membuat biksuni kepala dan biksuni pengurus kuil lainnya, tidak terima.
"Kalian bisa mengambil semua yang ada di dalam kuil bahkan bisa membunuh kami semua ! Namun, kalau kalian membuat kerusakan di ruang beribadah dan merusak barang barang untuk peribadatan, kami tidak bisa tinggal diam !" kata biksuni kepala dengan lantang.
"Kalau begitu lawanlah kami !" teriak pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau sambil melesat dengan sangat cepat ke arah biksu kepala.
Segera saja di luar bangunan kuil tepatnya di halaman depan kuil terjadi pertarungan yang hebat antara sekelompok pendekar berbaju hijau melawan sekelompok biksuni.
Setelah pertarungan berjalan sekitar tiga puluh jurus, para biksuni sedikit demi sedikit mulai terdesak. Karena selain kalah dalam jumlah pasukan juga karena para biksuni bertarung tidak menggunakan senjata. Hal menyebabkan sebagian besar biksuni mulai mendapatkan luka dan jubah mereka mulai banyak terkena noda darah.
Melihat hal itu, Sekar Ayu Ningrum yang melihat semua kejadian di kuil dari tepi jalan besar, merasa sudah tidak sabar dan segera mendekat.
Dengan sekali menotolkan salah satu ujung kakinya, tubuh Sekar Ayu Ningrum melesat ke arah pimpinan pendekar berbaju hijau dengan pedang yang siap menyerang.
Dengan memutar pedangnya di depan dada sampai di atas kepala, pemimpin pendekar berbaju hijau memapaki datangnya serangan pedang Sekar Ayu Ningrum.
Seketika terjadi benturan dua senjata pedang.
Trang trang ! Trang trang trang !
__ADS_1
Dalam setiap benturan senjata itu, pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau merasakan telapak tangannya bergetar hebat hingga sampai ke pangkal lengan, hingga membuat pedangnya serasa hendak terlepas dari genggamannya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_