Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Tepi Sungai


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sedang berjalan dengan santai di jalan setapak yang ada di pinggir sungai Bengawan. Sambil berjalan, mereka juga menikmati pemandangan di sekitar aliran sungai. Sawah sawah terbentang luas dengan tanaman yang subur subur seolah memagari aliran sungai yang tampak tenang seakan memamerkan permukaannya yang luas.


Sampailah mereka berdua di jalan setapak yang tanahnya agak meninggi dari permukaan sungai. Sehingga membentuk seperti tebing sungai setinggi hampir sepuluh meter.


Terdengar suara gemuruh yang tiada hentinya. Ternyata agak maju ke depan lagi, aliran sungai menurun, sehingga membentuk seperti air terjun setinggi lima meteran sepanjang lebar sungai.


Tiba tiba Lintang Rahina menoleh ke belakang. Dia merasakan ada energi yang mendekati mereka berdua dari arah belakang.


Saat sampai di jalan setapak yang agak luas, tiba tiba mereka berdua merasakan kesiur angin dari belakang disusul oleh sebuah suara, "Anak muda, berhenti dulu."


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berhenti dan menghadap ke belakang.


Sesaat kemudian kemudian, di depan mereka telah berdiri tiga orang tua yang seumuran dengan guru mereka.


Mereka bertiga adalah Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka. Mereka bisa dengan cepat menemukan jejak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, karena mereka bertiga berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh sedangkan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berjalan biasa.


Begitu mereka saling berhadapan, Ki Rekso terkejut. Ki Rekso merasa seperti pernah bertemu dengan pemuda di depannya itu.


Ki Rekso dan kedua temannya diam diam juga heran, mereka bertiga hampir tidak bisa merasakan tingkat kekuatan kedua orang di depannya itu.


"Anak muda," Ki Rekso mengawali bertanya, "siapakah kalian dan dari mana asal kalian ?"


"Nama saya Lintang Rahina dari Merbabu dan ini adik saya Sekar dari Parangtritis, Ki," jawab Lintang Rahina yang meningkatkan kewaspadaannya karena merasa curiga dengan mereka bertiga.


"Ohhh..." Ki Rekso terkejut, "apakah kamu yang siang tadi bertempur di warung makan kampung belakang situ ?"


Ki Rekso sebenarnya semakin terkejut mengetahui asal kedua anak muda yang berdiri di depannya itu. Karena kedua tempat itu juga menjadi salah satu tujuan perjalanannya.


"Benar. Sayalah yang menghajar mereka semua yang telah kurang ajar kepadaku," jawab Sekar Ayu Ningrum.


"Ha ha ha ha.....apakah kamu kenal dengan Ki Ageng Arisboyo dan Ki Penahun, anak muda ?" tanya Ki Rekso lagi untuk memastikan dugaannya.

__ADS_1


"Ki Penahun adalah eyang dan sekaligus guru saya," jawab Lintang Rahina, "dan Ki Ageng Arisboyo adalah kakeknya adik Sekar sekaligus juga guru saya."


"Ha ha ha ha.......kebetulan kebetulan, Ki Pratanda, Ki Kawungka, agaknya ini keberuntungan kita. Dewa merestui cita cita kita, ha ha ha ha," Ki Rekso tertawa kegirangan dan mengatakan rencananya, "kita tangkap mereka, kita jadikan jaminan. Ki Ageng Arisboyo dan Ki Penahun harus mau mendukung kita ha ha ha ha."


"Adik Sekar," bisik Lintang Rahina, "apapun yang terjadi, jangan jauh jauh dari kakang. Sepertinya terpaksa kita harus bertempur dengan mereka."


"Sekar tidak akan takut kakang," jawab Sekar sambil berbisik juga.


"Ki Kawungka, tangkap gadis itu. Aku dan Ki Pratanda akan membereskan bocah bagus ini, "kata Ki Rekso, "anak muda, terpaksa kami menangkap kalian. Karena kalian punya dua kesalahan. Pertama karena kalian cucu dari Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo. Kedua, karena kalian telah melukai muridku. Menyerahlah baik baik agar kami tidak perlu memakai kekerasan."


"Aki bertiga," kata Lintang Rahina tegas, "maafkan kami bila kami tidak paham dengan maksud kalian. Tetapi kalau disuruh menyerahkan diri untuk hal yang tidak kami ketahui, maaf kami tidak bisa."


"Ha ha ha ha.....tidak sia sia Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo mendidik kalian. Keberanian kalian patut diacungi jempol. Baiklah anak muda, jangan salahkan kami yang lebih tua harus memaksa kalian," ucap Ki Rekso sambil bersiap menyerang.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bersiaga dengan segala kemungkinan.


Ki Kawungka yang bergerak pertama.


"Serahkan gadis itu padaku Ki Rekso. Aku akan membereskannya," kata Ki Kawungka sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah hingga bergetar seperti gempa.


Bummm !!!


Tanah tempat di mana Sekar Ayu Ningrum berdiri, terbentuk cekungan selebar dua meter.


Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina sudah menghindar dengan melompat ke belakang.


"Adik, hati hati," kata Lintang Rahina mengingatkan, "langsung gunakan perubahan energi. Serang titik titik di sekitar persendian."


"Iya kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum.


Ki Kawungka memang menggunakan tenaga kasar atau tenaga luar. Dengan tubuh yang tinggi besar, Ki Kawungka sangat ahli dalam mengolah tenaga luar. Tidak kalah saktinya dengan yang menggunakan tenaga dalam.

__ADS_1


Dengan ilmunya 'Kebo Saketi', Ki Kawungka sangat terkenal dan membuat namanya sejajar dengan tokoh tokoh atas lainnya.


Sekar Ayu Ningrum segera melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam, terutama di kedua tangannya.


Sebentar saja Ki Kawungka dan Sekar Ayu Ningrum sudah saling serang dan bertukar pukulan. Kadang saling menghindari serangan, tidak jarang pula beradu pukulan.


Dug dug dugg bugggh !!!


Serangan Ki Kawungka sangat cepat dan kuat beradu dengan serangan Sekar Ayu Ningrum yang cepat, lembut tapi bertenaga.


Otot otot tubuh Ki Kawungka memang sudah sangat terlatih, sehingga mampu menerima lesatan energi ataupun pukulan dari Sekar Ayu Ningrum.


Setelah puluhan kali Sekar Ayu Ningrum mencoba bertukar serangan dengan Ki Kawungka, Sekar Ayu Ningrum mulai merubah sedikit arah serangan.


Tadinya Sekar Ayu Ningrum langsung membenturkan serangan dengan serangan. Tangan membentur tangan, kaki membentur kaki.


Masih dengan pertukaran serangan, Sekar Ayu Ningrum memapaki setiap datangnya serangan Ki Kawungka dengan agak menggeser arah benturan sehingga agak menyudut.


Dengan agak menyudut, lesatan lesatan energi ataupun pukulan Sekar Ayu Ningrum mulai mengenai ujung ujung otot di sekitar sendi.


Di waktu yang bersamaan, Lintang Rahina mulai menghadapi serangan dari Ki Rekso dan Ki Pratanda.


Ki Rekso menyerang dengan pukulan tangan merahnya. Di mana kedua lengannya berwarna merah dan juga beracun. Selain itu, Ki Rekso kadang juga melemparkan senjata rahasianya berupa jarum jarum beracun.


Lintang Rahina yang mengetahui kalau lawannya adalah tokoh sakti, bersikap hati hati.


Awalnya Lintang Rahina masih lebih banyak bertahan dan lebih mengutamakan mengawasi keadaan Sekar Ayu Ningrum. Begitu melihat kalau Sekar Ayu Ningrum dalam posisi aman karena bisa mengimbangi lawannya, Lintang Rahina merasa tenang dan segera fokus pada lawannya.


Dengan tongkat rantingnya, selain untuk menyapok jarum jarum beracun yang mengarah ke tubuhnya, Lintang mulai mencecar Ki Rekso dengan jurus 'Ranting Pemungut Sampah'.


Seluruh tubuh Lintang Rahina dilapisi kabut tipis. Terutama pada tongkat di tangan kanannya yang mengeluarkan pendaran putih pekat.

__ADS_1


Dalam setiap gerakan jurusnya, dari ujung tongkatnya melesat energi berbentuk tongkat mengarah ke tubuh Ki Rekso. Ki Rekso berupaya menangkis dengan kedua tangannya. Hingga menimbulkan suara dentingan seperti benturan dua logam.


___ 0 ___


__ADS_2