
"Ha ha ha haaaaa ..... Silahkan anak muda, silahkan. Aku yang miskin ini, hanyalah orang yang disuruh merawat daerah ini. Panggil saja aku Ki Rowangbala," kata orangtua berbadan kecil yang mengaku bernama Ki Rowangbala.
"Terimakasih Ki," jawab Lintang Rahina.
"Tetapi, tolonglah orang tua yang miskin ini, berikan aku sesuatu yang dibawa oleh gadis muda itu, eh ... calon ibu muda itu," kata Ki Rowangbala sambil menatap ke arah Lintang Rahina.
"Maksudnya apa Ki ?" tanya Sekar Ayu Ningrum balas menatap tajam Ki Rowangbala.
"Ha ha ha haaaaa .... aku hanya ingin hadiah kecil yang kau kandung itu, perempuan muda !" jawab Ki Rowangbala sambil tertawa.
"Kami terpaksa tidak bisa memenuhi permintaanmu Ki Rowangbala. Maaf, kami akan pergi," sahut Lintang Rahina sambil memegang tangan Sekar Ayu Ningrum.
"Tidak bisa ! Tidak bisa ! Kalian sudah menginjak tanah ini, kalian tidak bisa pergi begitu saja !" kata Ki Rowangbala sambil melompat ke depan Sekar Ayu Ningrum, "Tinggalkan hadiah kecil itu di sini, baru kalian boleh pergi dari sini !"
"Ternyata paman sama saja dengan mereka yang di sana, yang selalu membuntuti kemanapun kami pergi dengan tujuan yang sangat keji !" kata Lintang Rahina.
"Terserah kalian mau bilang apa ! Yang penting aku harus mendapatkan apa yang dikandung perempuan muda itu terlebih dahulu !" bentak Ki Rowangbala yang kemudian melompat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Tubuh kecil Ki Rowangbala bergerak dengan sangat cepat. Tiba tiba saja, tangan kiri Ki Rowangbala sudah membentuk cengkeraman yang mengancam leher Sekar Ayu Ningrum. Sedangkan tangan kanannya dengan jari jari rapat lurus, mencoba menusuk ke arah perut Sekar Ayu Ningrum.
Sungguh suatu bentuk serangan yang berbahaya dan keji. Dalam satu kali gebrakan, langsung mengarah ke bagian berbahaya dan mengancam jiwa lawannya.
Mendapatkan serangan itu, Sekar Ayu Ningrum tidak gugup. Dengan gerakan yang lembut namun mantap, ditangkisnya kedua serangan itu dengan cepat.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Ki Rowangbala terdorong mundur dua langkah, dengan mimik wajah yang tidak percaya. Perempuan muda di depannya itu bisa membuat dirinya terdorong mundur dengan kedua tangan tergetar.
"Aku terlalu meremehkan perempuan ini !" kata Ki Rowangbala dalam hati.
"Ha ha ha haaaaa .... Bagus. Ternyata kau boleh juga," kata Ki Rowangbala.
Dalam sekali gebrakan tadi, Lintang Rahina bisa mengetahui, tingkat energi Ki Rowangbala masih di bawah tingkat energi Sekar Ayu Ningrum. Maka dari itu, akhirnya Lintang Rahina membiarkan Sekar Ayu Ningrum melawan Ki Rowangbala.
__ADS_1
Tanpa menunggu, Ki Rowangbala kembali melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum. Kali ini cengkeraman tangan kirinya mengarah ke bahu kiri Sekar Ayu Ningrum, kemudian dalam posisi melompat, lutut kanannya menyerang pinggang Sekar Ayu Ningrum.
Sekar Ayu Ningrum merasa orang tua berbadan kecil ini terlalu kejam. Dengan menarik badannya agak ke bawah, siku kirinya menangkis serangan lutut, sedangkan sambil menghindari cengkeraman lawan, Telapak tangan kanannya dipukulkan ke dada lawan dengan tubuh agak mendoyong ke depan.
Plaaakkk ! Buuugghhh !
Terkena pukulan telapak di bagian dadanya, tubuh Ki Rowangbala terlempar ke belakang hingga beberapa depa.
"Uhuuukkk ! Uhuhkkk !"
Ki Rowangbala merasakan dadanya agak sesak.
"Gadis ini ternyata juga sangat tinggi tingkat energinya. Aku harus memanggil yang lainnya dulu," kata Ki Rowangbala sambil tangan kirinya mengeluarkan kain hitam dari kantong bajunya.
Kemudiaan, Ki Rowabala kembali melenting keatas.
Saat tubuhnya melayang tepat di atas kepala Sekar Ayu Ningrum, kedua tangan Ki Rowangbala memegang ujung kain hitamnya. Kemudian, dengan gerakan cepat, dikebutkannya kain hitam itu. Seketika dari dalam kain hitam itu, keluar asap hitam yang langsung menerpa seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum. Disusul kemudian, dikebutkannya kembali kain hitam itu ke atas.
Sesaat kemudian, terdengar beberapa kali suara ledakan disertai munculnya nyala kembang api di atas pepohonan tempat mereka bertarung.
Ki Rowangbala yang tidak siap menerima serangan, harus merelakan punggungnya terkena tendangan lawan.
Bruuukkk !!!
Tubuh Ki Rowangbala terlempar ke arah samping dan jatuh tersungkur tubuhnya menghantam tanah.
Bdaaammm !!!
Sementara itu, Lintang Rahina langsung melenting ke arah Sekar Ayu Ningrum, kemudian meraih pergelangan tangan kanannya, mengajak melesat melayang meninggalkan Ki Rowangbala yang baru saja bangkit dari jatuhnya.
"Uhuuukkk .... kedua anak muda dengan tingkat energi yang sangat tinggi," gumam Ki Rowangbala sambil mengusap kedua sudut bibirnya yang menampakkan sedikit darah.
Ketika Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah pergi jauh, dua getaran energi yang sangat kuat tiba di tempat Ki Rowangbala.
__ADS_1
"Ada apa Ki Rowangbala ?" tanya suara perempuan tua.
"Nyi Lanjar Wangi, kita tidak akan mampu melakukan tugas kita untuk memisahkan mereka, jika kita tidak bekerja sama," jawab Ki Rowangbala dengan sedikit terengah engah karena merasakan sesak di dadanya.
"Ki Rowangbala takut menghadapi dua bocah itu ?" tanya Nyi Lanjar Wangi lagi.
"Ha ha ha haaaaa .... Nyi Lanjar Wangi, terserah apa yang kau katakan ! Tetapi, ketika kau menghadapi salah seorang dari mereka, kencing di celana pun kau tak akan sempat !" jawab Ki Rowangbala.
"Sudahlah ! Ayo kita buntuti mereka !" kata orang tua yang satunya lagi, yang seluruh kulitnya berwarna kemerahan.
"Ayo Ki Aswa Kumara ! Mereka ke arah sana !" kata Ki Rowangbala.
Segera saja mereka bertiga melesat ke arah yang ditunjuk oleh Ki Rowangbala.
Ki Rowangbala, Ki Aswa Kumara dan Nyi Lanjar Wangi, sama halnya seperti Ki Buyut Jalu Wisesa, adalah orang orang suruhan putri Dyah Pawatu yang sangat berambisi dengan kekuatan dan kekuasaan.
----- \* -----
Sementara itu, saat pergelangan tangan kanannya ditarik oleh Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum hendak menarik tangannya. Namun kemudian terdengar suara Lintang Rahina.
"Sementara kita belum menemukan keberadaan Ki Ageng Arisboyo, kita jangan terlibat pertarungan dahulu adik Sekar, walaupun kakang yakin, adik Sekar bisa mengalahkan mereka," kata Lintang Rahina.
"Tetapi orangtua berbadan kecil itu sudah sangat keterlaluan, kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Iya, tapi kita pastikan dulu Ki Ageng Arisboyo dan Kanjeng Panembahan dalam keadaan baik baik saja. Sambil menunggu guru guru menyusul kita," jawab Lintang Rahina.
Mendengar perkataan Lintang Rahina, akhirnya Sekar paham dan segera mengikuti arah bergeraknya Lintang Rahina.
Mereka berdua segera bergerak ke arah sisi lain kaki gunung.
Terpaksa Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sedikit menggunakan tehnik terbang agar segera bisa menghindar dari semua yang membuntutinya.
Setelah getaran energi orang orang yang membuntuti mereka, sudah hampir tidak bisa mereka rasakan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera turun membuat tempat istirahat untuk mereka.
__ADS_1
Dengan tingkat energi mereka yang sudah sangat tinggi, mereka bisa menyembunyikan getaran energi mereka hingga tingkat hampir tidak bisa dirasakan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_