Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertarung Lagi


__ADS_3

"Gadis muda, aku tidak pernah memilih lawan. Walaupun lawanku masih muda, tetap akan aku hajar !" bentak Bango Suro.


"Saya juga tidak pilih pilih lawan, paman. Walaupun orang tua, kalau sudah berbuat kurang ajar di tempat kakekku, tetap akan aku gebug !" jawab Sekar Ayu Ningrum tidak mau kalah.


Mendengar jawaban Sekar Ayu Ningrum, Bango Suro tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Aliran energi yang besar segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Telapak tangan kirinya terbuka rapat di depan dada. Jari jari tangan kanannya mengerucut dan menggantung di sebelah kanan badannya.


Sesaat kemudian tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


Memang sudah semestinya Bango Suro menjadi yang dituakan di pasukan 'Suro Benowo'. Tingkat energi dan kecepatannya memang sedikit diatas anggota pasukan 'Suro Benowo' yang lainnya.


Tetapi, kali ini, yang dia hadapi adalah Sekar Ayu Ningrum. Seorang gadis yang walaupun masih muda, namun tingkat energi dan kecepatannya sudah sangat tinggi.


Dalam sekejap mata, Bango Suro sudah berada di depan Sekar Ayu Ningrum. Serangan totokan dari jari jari tangan kanannya dan serangan tapak dari tangan kirinya, melayang berkali kali menyasar ke bagian bagian tubuh Sekar Ayu Ningrum yang mematikan.


Dengan tenang Sekar Ayu Ningrum menghindari beberapa serangan Bango Suro. Beberapa kali pula terjadi benturan energi dari telapak tangan kiri mereka.


Bango Suro diam diam terkejut yang semakin menambah rasa jengkelnya.


"Pantas Menak Manika dan Kebo Suro habis melawannya. Gadis muda ini energinya sudah sangat tinggi. Kecepatannya juga bisa mengimbangiku," kata Bango Suro dalam hati.


Setelah berkali kali terjadi benturan energi, pedang Sekar Ayu Ningrum sudah memberikan beberapa goresan di lengan dan beberapa bagian tubuh Bango Suro. Baju Bango Suro pun sudah robek robek di beberapa tempat. Sebaliknya, beberapa kali totokan Bango Suro juga mengenai Sekar Ayu Ningrum yang kadang membuat bagian tubuh yang terkena totokan, mati rasa sementara waktu.


Suatu saat pedang Sekar Ayu Ningrum mengarah ke paha kiri Bango Suro dengan serangan tusukan. Melihat hal itu, Bango Suro bukannya menghindar. Tapi membiarkan pedang itu mengancam paha kirinya disertai jari tangan kanannya mengancam pergelangan tangan Sekar Ayu Ningrum.


Jleeeppp ! Tuuukkk !

__ADS_1


Praaanggg !!!


Saat ujung pedang Sekar Ayu Ningrum mengenai paha Bango Suro, totokan Bango Suro pun mengenai pergelangan tangan Sekar Ayu Ningrum. Sehingga menyebabkan pedang Sekar Ayu Ningrum terlempar dan jatuh.


Sekar Ayu Ningrum segera melompat ke belakang. Pergelangan tangan kanannya beberapa saat terasa lemas dan kebas. Dengan cepat Sekar Ayu Ningrum mengalirkan energinya ke pergelangan tangan kanannya untuk menetralkan syaraf syaraf dan peredaran darahnya.


Sedangkan Bango Suro terdiam di tempat. Terlihat darah mengalir dari luka tusukan pedang di paha kirinya. Bango Suro segera mengalirkan energinya ke paha kirinya untuk menghentikan keluarnya darah.


Beberapa saat kemudian, Bango Suro mencoba menggerakkan kaki kirinya. Begitu lukanya tidak menghambat gerakannya, Bango Suro segera bersiap melesat kembali ke arah Sekar Ayu Ningrum. Sekarang kedua tangannya, jari jarinya membentuk kerucut semua.


Bango Suro mulai memainkan jurus andalannya 'Tarian Paruh Besi' secara penuh.


Kedua tangannya direntangkan berbesa arah. Tangan kanan ke atas agak miring dan tangan kiri ke bawah agak miring sehingga membentuk garis miring. Kedua kaki terbuka lebar, kaki kanan agak ditekuk dan kaki kiri diluruskan agak ke belakang.


Kedua ujung jari kakinya menotol ke tanah, sehingga tubuhnya pun melesat ke atas, kemudian menukik ke bawah ke arah Sekar Ayu Ningrum dengan sangat cepatnya.


Sekar Ayu Ningrum menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya terutama ke kedua tangan dan kakinya. Kedua telapak tangannya terbuka di depan dada dengan posisi atas bawah.


Pendaran energi energi keluar dari kedua telapak tangan dan kakinya sehingga seperti mengeluarkan kabut.


Saat Bango Suro yang menukik dari atas tiba di depannya, kedua tangannya didorongkan ke depan kemudian ditarik menyamping dengan cepat.


Dari kedua telapak tangannya, keluar sebaris kabut selebar telapak tangan yang melesat cepat dan kemudian menabrak tubuh Bango Suro.


Tubuh Bango Suro yang meluncur dari atas, tiba tiba berhenti di udara seperti membentur sesuatu yang tidak terlihat.


Dengan tetap merentangkan kedua tangannya, Sekar Ayu Ningrum menggeser ke depan sedikit kaki kanannya. Kedua telapak kakinya yang mengeluarkan pendaran energi membuat seolah kedua kakinya menginjak kabut.

__ADS_1


Angin berdesir berputar mengelilingi tubuh Sekar Ayu Ningrum. Membuat ujung rambutnya yang tergerai dan ujung ujung bajunya bergerak gerak.


Wajahnya mendongak ke atas ke arah Bango Suro.


Kemudian, dengan menambah sedikit energi ke kedua tangannya, Sekar Ayu Ningrum menarik tangannya ke depan hingga kedua telapak tangannya yang tetap terbuka hampir bersentuhan seperti orang bertepuk.


Dari antara kedua telapak tangannya melesat sebentuk energi seperti kabut yang dengan cepat mengenai tubuh Bango Suro. Seketika tubuh Bango Suro terlempar kembali ke atas hingga setinggi pohon kelapa.


Bersamaan dengan tubuh Bango Suro terlempar ke atas, Sekar Ayu Ningrum melayang ke arah Bango Suro yang terlempar dengan kedua telapak tangan terbuka di samping tubuhnya. Seluruh tubuhnya seperti mengeluarkan kabut dan kedua pupil matanya mengecil dan mengeluarkan kilatan seperti perak.


Ketika Sekar Ayu Ningrum mencapai ketinggian setengah dari terlemparnya Bango Suro, kedua tangannya mengayun ke depan dari atas ke bawah beberapa kali seperti orang menebas. Dari setiap ayunan keluar sebentuk kabut yang dengan cepat meluncur dan tepat mengenai tubuh Bango Suro.


Tar ! Tar ! Tar ! Tar !


----- o -----


Bersamaan dengan pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Bango Suro, Ki Ageng Arisboyo, Ki Pradah dan Ki Penahun sudah mendapatkan lawannya masing masing.


Ki Ageng Arisboyo berhadapan dengan Lembu Suro. Pertarungan mereka menimbulkan suara berdentingan yang paling berisik, karena benturan pedang Ki Ageng Arisboyo dengan golok hitam Lembu Suro yang terjadi berkali kali.


Setelah pertarungan mereka berjalan puluhan jurus, perlahan lahan terlihat Ki Ageng Arisboyo sedikit lebih unggul.


Pada waktu yang sama, Ki Pradah ganti melawan Badak Suro. Tombak bermata dua milik Badak Suro mendapatkan lawan yang rapat pertahanannya dengan tongkat kayunya. Walau kedua senjata mereka sering berbenturan, namun suara yang ditimbulkan tidak terlalu keras.


Apalagi Ki Pradah yang mempunyai kecepatan yang sulit dicari tandingannya, membuat keunggulan tombak Badak Suro dengan dua mata tombaknya tidak terlihat.


Di tempat yang tidak terlalu jauh dari kedua pertarungan itu, terjadi pertarungan yang sangat ramai. Gajah Suro yang mengandalkan kekuatan energinya, bertemu dengan jurus 'Tapak Wulung' yang didasari dengan energi yang sangat tinggi dari Ki Penahun. Kesiuran rantai besi yang berputar, yang di ujungnya terdapat bandulan besi berduri, bisa diredam oleh pukulan telapak 'Tapak Wulung'.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2