Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Jalan Menuju Puncak II


__ADS_3

"Terimakasih kamu mau datang. Banyak yang hendak aku tanyakan padamu," kata Puruhita sambil tersenyum pada gadis yang baru datang itu.


Gadis itu adalah Sekar Ayu Ningrum. Dia agak terlambat menemukan dan mengikuti perjalanan Lintang Rahina dan kedua temannya, karena jalur yang diambil oleh Lintang Rahina berubah ubah.


Melihat rencananya mengejar Lintang Rahina gagal, Resi Aksa Bagawanta melampiaskan kejengkelannya dengan menyerang Sekar Ayu Ningrum. Kipas di tangan kanannya masih terlipat. Dengan ujung kipasnya, Resi Aksa Bagawanta melakukan rentetan serangan totokan ke kepala, leher dan bahu Sekar Ayu Ningrum.


Sekar Ayu Ningrum yang sudah meningkatkan aliran energinya ke seluruh tubuh dan juga ke senjata pedangnya, segera menangkis semua serangan Resi Aksa Bagawanta.


Trakkk ! Trakkk ! Trakkk !


Resi Aksa Bagawanta sedikit terkejut merasakan benturan energi secara beruntun tadi. Tangannya sedikit bergetar.


Sedangkan Sekar Ayu Ningrum seperti tidak merasakan apa apa. Padahal diam diam telapak tangannya yang memegang pedang terasa kebas dan pedangnya serasa hendak lepas.


Sementara itu, dua pertarungan yang lain juga berjalan sengit. Sindunata yang melawan Nyi Mahiya Keswari serta Puruhita yang menghadang Resi Jalada Mawa yang sudah mengeluarkan senjatanya yang unik, papan catur yang diselingi dengan serangan jarak jauh, lemparan lemparan biji catur.


Tiga pertarungan itu sudah melewati limapuluh jurus. Tetapi keadaan masih seimbang dan belum bisa terlihat siapa yang unggul.


Dari tiga pertempuran itu, yang terasa agak berat pertempuran Sekar Ayu Ningrum melawan Resi Aksa Bagawanta.


Karena dari kipas Resi Aksa Bagawanta keluar hawa yang sangat dingin setiap kipasnya dibuka.


Sedangkan kedua golok Sindunata masih bisa mengimbangi tongkat Nyi Mahiya Keswari, dan kedua pisau Puruhita masih bisa menghadapi papan catur Resi Jalada Mawa.


Setelah memasuki di atas seratus jurus, mulai terlihat, banyaknya pengalaman juga menjadi faktor keunggulan.


Terlihat Sindunata sudah mulai sedikit terdesak. Walaupun tingkat energinya masih bisa mengimbangi tetapi variasi tehnik tipuannya masih kalah matang.


Puruhita pun demikian. Untuk energi dan kecepatannya masih bisa mengimbangi Resi Jalada Mawa.


Akhirnya sedikit demi sedikit, tiga orang muda itu mulai terdesak.


Walaupun juga bisa menyarangkan serangan dan membuat lawannya terluka, tetapi luka luka yang mereka dapatkan juga lebih banyak.


Walaupun terlihat paling berat, sebenarnya Sekar Ayu Ningrum masih bisa mengimbangi serangan Resi Aksa Bagawanta. Tetapi, melihat Sindunata dan Puruhita mulai banyak mendapatkan luka, membuat Sekar Ayu Ningrum gelisah. Sedikit kegelisahan itu bisa terbaca oleh Resi Aksa Bagawanta dan dimanfaatkan sebaik baiknya untuk membuat serangan.

__ADS_1


Kipasnya yang terbuka digerakkan sehingga menimbulkan gelombang angin yang terasa dingin.


Sekar Ayu Ningrum menghindari datangnya gelombang angin yang datang dengan melompat ke atas.


Resi Aksa Bagawanta melanjutkan serangannya dengan sabetan kipasnya yang terbuka ke arah perut Sekar Ayu Ningrum.


Dalam posisi melayang, Sekar Ayu Ningrum mencoba menangkis sabetan kipas dengan sabetan pedangnya.


Brettt !!!


Sabetan kipas Resi Aksa Bagawanta bisa ditangskis dengan pedang Sekar Ayu Ningrum. Bahkan ada sebagian kipas yang sobek terkena pedang.


Tetapi tangkai kipas pada sisi yang tidak sobek tiba tiba meluncur mengarah ke dada kiri Sekar Ayu Ningrum. Sekar Ayu Ningrum yang tidak mengira datangnya serangan yang tiba tiba membelok, terkena totokan tangkai kipas di dada kirinya.


Tukkk !!!


Seketika Sekar Ayu Ningrum merasakan dingin sekujur tubuhnya. Kemudian tubuhnya terjatuh merosot ke bawah dan tidak bisa digerakkan.


Resi Aksa Bagawanta sengaja mengorbankan sisi kipasnya sobek terkena pedang. Tetapi pada saat yang bersamaan, sisi kipas yang utuh tetap didorong untuk menotok dada Sekar Ayu Ningrum.


"Ka ...kang Lintang,"


Bersamaan dengan jatuhnya Sekar Ayu Ningrum, Sindunata dan Puruhita yang sudah mendapatkan banyak luka juga semakin keteter.


Mereka berdua melihat Sekar Ayu Ningrum sudah jatuh, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa apa. Karena mereka juga sedang sangat terdesak.


Tiba tiba, semua yang sedang bertarung mendengar suara bergemuruh dari arah puncak gunung. Terlihat awan bergerak seperti ditarik ke arah puncak.


Sesaat kemudian, terdengar ledakan berkali kali dan terlihat banyak sekali kilatan kilatan sinar dari arah puncak.


Melihat hal itu, Resi Aksa Bagawanta yang sudah tidak mempunyai lawan, segera melesat ke arah puncak.


Nyi Mahiya Keswari dan Resi Jalada Mawa yang sudah mendesak Sindunata dan Puruhita, tiba tiba meninggalkan pertarungan dan melesat menyusul Resi Aksa Bagawanta ke arah puncak.


 

__ADS_1


Sementara itu, Lintang Rahina yang terpaksa meninggalkan pertarungan demi hal yang lebih penting, segera melesat menuju ke puncak Mahameru.


Sesampai di Puncak Mahameru, Lintang mencari tempat tertinggi dan agak datar untuk menancapkan senjata trisulanya.


Clappp !!!


Senjata trisula itu tertancap di tanah pada bagian gagangnya.


Kemudian Lintang Rahina bersila di depan senjata trisula itu.


Sambil duduk bersila dengan tangan kanan di depan dada dan tangan kiri di atas paha kiri, Lintang Rahina mulai mengeluarkan energinya dan menyalurkan ke seluruh tubuhnya. Kemudian energi Lintang Rahina juga mencapai ke senjata trisula yang tertancap di depannya dan menyelimuti seluruh permukaan senjata trisula itu.


Beberapa saat kemudian, angin berhembus kencang di sekitar puncak Mahameru. Disusul kemudian awan bergulung gulung mengitari Puncak Mahameru.


Suasana menjadi agak gelap. Tetapi kegelapan itu tidak berlangsung lama. Karena dari awan awan yang bergulung gulung itu, mulai keluar kilatan kilatan petir yang mengeluarkan cahaya yang sangat terang.


Kilatan kilatan petir itu semakin lama semakin besar dan akhirnya mengarah ke bawah ke arah senjata trisula yang tertancap.


Tidak berapa lama, kilatan kilatan petir dari berbagai arah, semuanya menyambar ke arah senjata trisula. Hal itu menimbulkan suara ledakan berulang ulang.


Terlihat senjata trisula itu bergetar kencang dan mengeluarkan suara berdengung.


Angin yang berhembus kencang kemudian berputar putar ke arah senjata trisula, seperti ada sesuatu yang menarik angin dari segala arah itu untuk berhembus ke arah senjata trisula itu.


Setelah beberapa saat, awan yang bergulung gulung itu bergerak melebar dan seperti membentuk sebuah lubang yang sangat besar di angkasa.


Tiba tiba secarik cahaya dari angkasa turun melewati lubang awan itu dan menghujam ke arah senjata trisula itu.


Diiringi angin yang masih berhembus ke arah senjata trisula itu dan kilatan kilatan petir dari awan yang berada di segala arah, senjata trisula yang terkena sinar dari angkasa itu sedikit demi sedikit tercabut dari tanah dan kemudian melayang setinggi satu depa di depan Lintang Rahina yang masih duduk bersila dengan tubuh yang bergetar hebat.


Sesaat kemudian terjadi ledakan cahaya yang keluar dari senjata trisula itu.


Blasss !!!


Setelah ledakan cahaya itu, senjata trisula mulai mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan yang semakin lama semakin pekat.

__ADS_1


___◇___


__ADS_2