Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Tulisan Di Dìnding Dan Lantai Kuil


__ADS_3

Kemudian, semua biksuni segera bergerak dan mulai menyerang Lintang Rahina. Sambil menghindar dengan meliuk liukkan tubuhnya serta meloncat kesana kemari, Lintang Rahina berteriak ingin menjelaskan.


"Heeeiii ... ketua biksuni ! Biar aku jelaskan dulu ! Maksud kami bukan itu !" teriak Lintang Rahina.


"Maksud kamu sudah jelas ! Sama seperti yang lainnya. Ingin mengambil sesuatu dari kuil ini, yang bukan menjadi haknya !" jawab ketua biksuni ketus.


Karena para biksuni yang mengepungnya jumlahnya banyak, sedangkan Lintang Rahina tidak ingin melukai para biksuni, sehingga membuat Lintang Rahina harus membatasi penggunaan energinya.


Setelah terus menerus menghindar selama beberapa waktu, Lintang berpikir, dengan begini terus, tidak akan pernah selesai.


Akhirnya Lintang Rahina merubah cara menghadapi para biksuni ini. Dengan menambah aliran energinya, Lintang Rahina membuat kedua telapak tangannya mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan.


Kemudian, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti lagi oleh para biksuni, tubuh Lintang Rahina berkelebatan sambil melayangkan pukulan ke arah punggung dan bahu para biksuni.


Bugh bugh bugh !


Plak plak ! Plak plak !


Hanya dalam waktu sebentar saja, semua biksuni yang mengepungnya berjatuhan dengan nafas yang sesak serta kedua lengan yang lemas seperti mengalami lumpuh.


"Maaf para biksuni, kami tidak berniat jahat pada kalian semua," kata Lintang Rahina.


Namun, para biksuni itu, dengan menahan rasa sakit seperti tidak terjadi apa apa pada diri mereka, mereka semua kembali bergerak mengepung Lintang Rahina, walaupun mereka hanya bisa berdiri karena kedua tangan mereka masih terasa seperti lumpuh.


Ketua biksuni tahunya para biksuni hanya terjatuh karena terkena pukulan dan tidak menyadari keadaan para biksuni yang sebenarnya. Sehingga masih tetap memerintahkan para biksuni untuk mengepung Lintang Rahina.


"Tetap kepung dia. Jangan sampai dia lolos !" perintah ketua biksuni.


Ketua biksuni baru saja akan bergerak menyerang Lintang Rahina, ketika tiba tiba terdengar suara bata disusun atau dilepas dari susunan dari ruang utama kuil. Dan juga, ruangan utama atau ruang untuk peribadatan itu terlihat sangat terang, seperti ada ribuan lampu di dalamnya.


Mendengar dan melihat hal itu, mereka semua berhenti bergerak dan semua biksuni melihat ke arah ketua biksuni.

__ADS_1


"Terus kurung dia. Aku akan melihat ke dalam !" perintah ketua biksuni.


Sesaat kemudian, ketua biksuni sudah melesat ke dalam ruang utama kuil. Sesampai di pintu masuk ke ruang utama, ketua biksuni dibuat terkejut dengan kejadian yang ada.


Dilihatnya tamu mereka, Sekar Ayu Ningrum melayang di tengah tengah ruangan utama yang cukup luas hingga hampir mendekati langit langit. Kedua tangannya terentang ke samping kanan kirinya. Seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar putih keperakan. Kedua bola matanya seluruhnya berubah warna menjadi putih. Ujung rambut serta ujung ujung bajunya bergerak melambai lambai terbawa aliran energi dari seluruh tubuhnya.


Dari kedua telapak tangannya yang terbuka, terpancar pendaran sinar putih keperakan yang menyebar ke semua arah.


Anehnya, setiap keping bata dinding dan bata lantai yang terkena pancaran sinar putih keperakan, seperti lepas dari tempatnya dan membalik permukaannya. Yang awalnya permukaan bata dinding dan bata lantai, halus, berbalik menampakkan permukaan bata yang permukaannya tidak rata. Dan yang aneh lagi, walaupun bata dinding seperti lepas dan membalik, namun dinding kuil itu tidak runtuh dan tetap berdiri kokoh.


Setelah proses membaliknya bata dinding dan bata lantai selesai, tubuh Sekar Ayu Ningrum yang melayang di tengah tengah ruangan dekat dengan langit langit bangunan, perlahan berubah posisi tubuhnya dalam melayang.


Sekarang Sekar Ayu Ningrum melayang dengan posisi kepala berada di bawah dan kaki di atas. Kedua telapak tangannya tertangkup di depan dada.


Ketua biksuni yang melihat itu, merasa lega, karena dinding kuil tidak roboh dan kembali seperti sedia kala. Namun dia masih tidak percaya dengan kejadian di depannya.


"Apakah perempuan ini, orang yang sudah terpilih ? Kenapa aku tidak bisa merasakan tanda tandanya ?" kata ketua biksuni dalam hati.


Dengan posisinya yang sekarang, di dalam pikirannya terdengar suara perempuan yang sangat lembut.


"Alirkan energimu secukupnya ke arah seluruh permukaan dinding dan lantai. Kemudian bacalah dan pahamilah setiap kalimat yang tertulis pada dinding kuil dan lantai ruangan utama. Tidak usah tergesa gesa."


Begitu suara yang masuk ke pikirannya selesai, Sekar Ayu Ningrum segera mengeluarkan energinya kn langsung menyebar ke seluruh dinding dan lantai.


Begitu terkena pendaran energi dari Sekar Ayu Ningrum, lantai dan seluruh permukaan dinding kuil itu menampakkan tulisan yang hanya bisa dilihat oleh Sekar Ayu Ningrum.


Sementara itu, ketua biksuni, tadinya tertegun untuk beberapa saat. Namun kemudian, segera melesat ke halaman depan, dimana semua biksuni dia perintahkan untuk mengurung Lintang Rahina.


Sesampai di halaman depan, keadaan belum berubah. Lintang Rahina masih berdiri di tengah tengah, dikepung oleh para biksuni.


Kemudian, ketua biksuni menatap ke arah Lintang Rahina.

__ADS_1


"Anak muda, ikutlah masuk ke dalam," kata ketua biksuni.


Mendengar perkataan ketua biksuni, Lintang Rahina pun langsung melangkah masuk ke dalam kuil menuju ke ruang utama.


Para biksuni yang lainnya pun menjadi sedikit kebingungan, sehingga tadinya agak terlambat membukakan kepungan hingga Lintang Rahina bisa lewat.


Lintang Rahina sampai di ruang tengah dan berdiri di samping ketua biksuni.


"Anak muda, tolong ceritakan ceritakan padaku tentang semua ini," pinta ketua biksuni.


Untuk sesaat, Lintang Rahina menatap ke arah istrinya, Sekar Ayu Ningrum yang sedang melayang di dekat langit langit bangunan kuil dalam keadaan terbalik di tengah tengah ruang utama.


"Adik Sekar, semoga kau mampu menjalani ini hingga selesai. Kakang akan menjagamu sepenuh kemampuan kakang," gumam Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina kembali menatap ketua biksuni dan menceritakan tentang Semua yang telah Sekar Ayu Ningrum sejak awal bertemunya Dewi Tara hingga sampai perjalanannya sampai ke negeri daratan besar.


Mendengar yang diceritakan oleh Lintang Rahina, ketua biksuni barulah teringat dan memahami saat dahulu dia dipesan oleh ketua biksuni generasi sebelum dia.


Saat disahkan menjadi ketua biksuni, dia dipesan agar menjaga bangunan kuil tetap utuh. Tidak boleh merubahnya, namun kalau mau menambah bangunan, boleh.


Pada kesempatan itu, Lintang Rahina bertanya pada ketua biksuni.


"Bibi ketua biksuni, proses yang dilakukan oleh istriku, akan memakan waktu berapa lama ?" tanya Lintang Rahina.


"Maaf anak muda, kami tidak bisa menjawab pertanyaanmu, karena kami belum pernah melihat hal yang dilakukan istrimu," jawab ketua biksuni.


"Apakah istrimu sedang bertapa ?" tanya ketua biksuni.


"Tidak bibi ketua biksuni ! Istriku sedang membaca dan memahami sesuatu yang tertulis pada dinding dan lantai kuil," jawab Lintang Rahina.


__________ 0 __________

__ADS_1


__ADS_2