
Pertarungan para pendekar yang disewa oleh Saudagar Cheng melawan para perompak terjadi di atas kapal.
Lintang Rahina melihat, pertarungan berjalan seru dan imbang. Jumlah dan kekuatan masing masing pihak cukup imbang.
Namun, yang menjadi perhatian Lintang Rahina, bukan pertarungan mereka, melainkan dua hal.
Yang pertama, Lintang Rahina sangat tertarik dengan para perompak itu, karena pakaian yang mereka kenakan, sangat mirip dengan pakaian para pendekar ataupun prajurit dari tanah Jawadwipa.
Dan yang kedua, Lintang Rahina bisa merasakan, kalau di sekeliling kapal niaga yang dia tumpangi, ada beberapa kapal yang cukup besar. Lintang Rahina merasakan ada beberapa getaran energi yang sangat besar dari dalam kapal kapal itu, namun mengapa mereka tidak ikut bergerak menyerang. Karena, dirasakan dari besarnya getaran energi yang dikeluarkan, apabila satu saja dari mereka ikut menyerang, tidak ada seorangpun pendekar yang disewa oleh Saudagar Cheng yang bisa menandinginya.
Maka, Lintang Rahina segera ikut terjun ke dalam pertarungan dan segera menangkap salah seorang dari perompak yang naik ke kapal niaga yang dia tumpangi.
"Kisanak, tunjukkan kapal yang mana yang dikendarai oleh pemimpin tertinggi kalian !" tanya Lintang Rahina sambil tangan kanannya mengancam ke arah leher perompak yang dia tangkap.
Sebenarnya anggota perompak itu tidak takut mati dan tidak takut dengan ancaman Lintang Rahina. Namun, begitu melihat dandanan pakaian yang dikenakan Lintang Rahina mirip dengan mereka, dia menunjuk ke arah satu kapal yang posisinya jauh di depan kapal niaga yang dia tumpangi.
"Kau tidak bohong ?" tanya Lintang Rahina mendesak.
Anggota perompak yang berpakaian seperti prajurit itu segera menggeleng gelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Lintang Rahina.
Melihat cara menjawab anggota perompak itu, Lintang Rahina segera melayang melesat ke arah kapal yang ditunjuk oleh anggota perompak tadi.
Dengan hinggap dari satu kapal ke kapal yang lainnya, hanya dalam beberapa saat, Lintang Rahina telah sampai di geladak kapal yang ditunjukkan oleh anggota perompak tadi.
Lintang Rahina segera mendapatkan sambutan, suasana hening namun menyimpan getaran energi yang sangat kuat.
"Kuharap kalian bersedia menemui aku," kata Lintang Rahina pelan.
Kemudian, dari pintu bilik yang berada di tengah tengah geladak kapal, keluar tiga orang. seorang laki laki muda, seorang perempuan muda dan seorang kakek yang sudah sangat tua.
__ADS_1
Lintang Rahina terkejut melihat dua orang muda yang keluar dari pintu itu. Mereka berdua adalah Jalu Samodra dan Jenar Samodra.
"Ada maksud apa, engkau datang ke kapal kami ?" tanya Jalu Samodra dengan penuh kecurigaan, "Apakah kau hendak membalas dendam ?"
"Maaf, aku tidak tahu kalau kapal ini adalah kapalmu," jawab Lintang Rahina.
Sesaat suasana menjadi sedikit tegang. Desiran angin malam di laut lepas, menerpa tubuh mereka, menggerakkan ujung rambut dan ujung baju mereka.
"Apakah selama ini kalian hidup di kapal dan bahkan menjadi perompak ?" tanya Lintang Rahina.
Tiba tiba kakek tua di sebelah Jalu Samodra berdehem.
"Ehhheeemmmm .... anak muda, kalau boleh tahu, siapakah dirimu ini, yang berpakaian seperti orang orang dari tanah air kami ?" tanya kakek tua itu.
"Kek, dialah pemuda yang Jalu ceritakan. Pendekar dari tanah Jawadwipa yang mampu mengalahkan kami berdua !" sahut Jalu Samodra pelan.
Mendengar ucapan Jalu Samodra cucunya, kakek tua itu semakin tertarik, dan menatap Lintang Rahina dengan tajam.
Terlihat kabut tipis menyelimuti seluruh tubuhnya. Perlahan, kabut tipis di kedua telapak tangannya membentuk wujud roda bergerigi.
Setelah roda bergerigi di kedua tangannya terbentuk sempurna, tiba tiba tubuh kakek tua itu melesat menghilang.
Sementara itu, melihat kakek tua di depannya mengeluarkan energinya, Lintang Rahina segera mempersiapkan diri dengan menyebarkan energi ke seluruh tubuhnya. Dengan cepat pendaran sinar putih pekat menyelimuti seluruh tubuhnya. Kedua lengannya perlahan berubah warna menjadi ungu pekat. Pendaran sinar putih di kedua telapak tangannya membentuk pedang yang sama panjangnya. Namun kali ini, setelah wujud kedua pedang itu sempurna, warnanya berubah menjadi ungu pekat seperti kedua tangannya.
Saat kakek tua itu tubuhnya melesat menghilang, Lintang Rahina sambil agak merunduk, segera menebaskan kedua pedangnya ke depan secara menyilang, tepat saat tubuh kakek tua itu muncul di depannya sambil menghantam menggunakan kedua roda bergeriginya.
Benturan dua roda bergerigi melawan dua pedang berwarna ungu pekat yang sama sama terbentuk dari pemadatan energi itu menimbulkan ledakan yang sangat kuat.
Blaaammm blaaammm !!!
__ADS_1
Sesaat setelah terdengar dua ledakan beruntun, tampak dua tubuh sama sama terdorong lagi dan melayang ke belakang.
Begitu mendarat, Lintang Rahina segera memasang kuda kudanya lagi dan siap untuk situasi apapun.
Sementara, kakek tua yang menjadi lawannya mendarat dengan kedua kaki terbuka. Terlihat nafasnya agak memburu dan kedua lengannya bergetar.
"Anak muda yang sangat luar biasa tehnik dan energinya. Pantas kalau kedua cucuku bisa dikalahkan secara bersamaan," kata kakek tua itu dalam hati.
Sementara itu Lintang Rahina.juga bertanya tanya dalam hati, "Inikah kakek dari Jalu Samodra dan Jenar samodra yang mereka ceritakan dulu ?"
Kemudian, entah siapa yang mulai bergerak dahulu, Lintang Rahina dan kakek tua itu sudah saling menggempur lagi.
Terdengar suara benturan pukulan berkali kali. Terkadang, suara benturan itu menimbulkan kilatan cahaya yang menyambar nyambar sekitar tempat mereka bertarung.
Tempat bertarung mereka pun tidak hanya di atas geladak kapal. terkadang mereka terbang di atas kapal, di sela sela layar yang terkembang. Terkadang mereka berdua menjauh dari kapal dan saling serang di atas lautan.
Tanpa mereka sadari, pertarungan mereka menimbulkan bergolaknya air lautan dan membuat hembusan angin laut yang semakin kencang.
Pada suatu waktu, saat mereka sama sama melayang di udara, mereka secara bersamaan melesat mendekat dengan sangat cepatnya. Kembali, benturan senjata mereka tidak terhindarkan lagi dan menimbulkan ledakan di udara.
Blaaarrr blaaarrr !!!
Kembali terlihat, kedua tubuh terlempar melayang menjauh. Tubuh kakek tua itu terlempar menghantam tiang layar salah satu kapal anak buahnya hingga patah. Kemudian jatuh terduduk di geladak kapal.
Senjata roda bergerigi di kedua tangannya memudar dan kemudian menghilang. Nafasnya terasa berat, muka dan kedua matanya memerah. Kemudian, kakek tua itu memuntahkan darah segar.
Namun kakek itu tidak marah, justru terlihat senang dan puas.
"Hee ..... he he ..... he he he he .... tehnik dan energi yang sangat luar biasa. Tapi aku seperti pernah mengenal tehnik dan jurus yang digunakan bocah itu," gumam kakek tua itu sambil mengusap bibirnya yang penuh darah dengan lengan baju kirinya.
__ADS_1
__________ 0 __________