Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Jalu Samodra dan Jenar Samodra


__ADS_3

Gumpalan kabut itu dengan cepat sampai di depan Ki Ageng Arisboyo dan yang lainnya. Hanya berjarak sekitar dua puluh depa dan masih melayang setinggi pohon kelapa.


Setelah dekat, barulah terlihat, gumpalan kabut itu bagian atasnya datar dan di atas kabut itu berdiri enam orang. Empat orang berpakaian serba hitam, sedangkan yang dua orang berpakaian serba putih.


Keempat orang berpakaian serba hitam itu segera melompat turun dari gumpalan kabut dan mendarat di depan Ki Ageng Arisboyo dan yang lainnya.


Disusul kemudian dua orang berbaju serba putih dan mendarat disamping empat orang berbaju.


"Kalian lagi. Masih ada urusan apalagi kalian datang ke sini ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.


Ki Ageng Arisboyo dan yang lainnya masih belum lupa. Mereka berempat adalah orang orang yang ikut datang dan menyerbu ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo. Mereka adalah Bango Suro, Lembu Suro, Gajah Suro dan Badak Suro.


"Kami hanya mengantar cucu pemimpin kami yang ingin bertemu dengan anak muda itu," jawab Bango Suro sambil menunjuk ke arah Lintang Rahina.


"Siapa mereka ? Dan kenapa ingin bertemu denganku ?" tanya Lintang Rahina yang sudah mendekat karena namanya disebut.


"Biar aku yang berbicara dengannya paman," kata orang berbaju serba putih.


Dia adalah seorang pemuda berbadan besar dan tegap dan tingginya hampir sama dengan Lintang Rahina.


Sedangkan yang satunya lagi, seorang perempuan, berbaju serba putih juga dengan kulit yang putih agak kekuningan.


"Kisanak, namaku Jalu Samodra dan ini saudaraku Jenar Samodra. Kami hanya ingin mengenal lebih jauh, orang yang sudah mengalahkan paman paman Suro Benowo," kata Jalu Samodra.


Jalu Samodra dan Jenar Samodra adalah cucu dari salah seorang senopati besar yang memimpin pasukan maritim kerajaan Majapahit.


"Namaku Lintang Rahina. Ada urusan apakah kalian denganku ?" tanya Lintang Rahina.


"Lintang, terus terang aku penasaran dengan kekuatan yang mampu mengalahkan paman pamanku," jawab Jalu Samodra, "Dan aku menantangmu bertarung !"


"Apakah itu artinya kamu ingin balas dendam dengan kemalahan pamanmu ?" tanya Lintang Rahina lagi.


"Bisa dikatakan begitu ! Karena akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka selama di daratan !" jawab Jalu Samodra.


"Kalau begitu, lakukan apa yang ingin kalian lakukan padaku !" kata Lintang Rahina, "Aku siap menghadapinya !"

__ADS_1


Tanpa berkata kata lagi, Jalu Samodra mengeluarkan energinya. Tubuhnya terangkat melayang setinggi pinggang. Terlihat kabut tipis di bawah kedua telapak kakinya dan di telapak tangannya.


Kedua lengannya disilangkan di depan dadanya. Dengan gerakan yang sangat cepat, kedua lengannya dikibaskan ke bawah. Seketika melesat energi transparan berbentuk menyilang melesat ke arah Lintang Rahina. Sesaat kemudian, Jalu Samodra menotolkan kedua kakinya pelan. Tubuhnya pun melesat di belakang energi transparan ke arah Lintang Rahina.


Sementara itu, saat melihat tubuh Jalu Samodra melayang, Lintang Rahina segera mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar putih pekat. Kedua lengannya menyilang di depan dada dengan telapak tangan terbuka.


Begitu lawannya melesatkan energinya, Lintang Rahina segera mengibaskan kedua tangannya ke depan. Dari kedua telapak tangannya melesat cepat pendaran energi putih pekat ke arah datangnya Jalu Samodra.


Sesaat kemudian terdengar ledakan yang sangat keras yang diakibatkan oleh bertemunya dua serangan energi, disusul dengan terjadinya hempasan angin yang sangat kuat yang menerpa sekelilingya.


Blaaammm !!!


Terlihat tubuh Jalu Samodra dan Lintang Rahina sama sama tersurut satu langkah kebelakang walau tanpa berubah kuda kudanya.


"Haaa ha ha ha ... bagus. Ternyata cerita tentang kehebatanmu, bukan omong kosong !" kata Jalu Samodra sambil menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.


Seketika tubuhnya melayang ke atas lagi. Sesaat kemudian, tubuhnya melesat dengan sangat cepatnya ke arah Lintang Rahina.


"Energinya jauh di atas para anggota pasukan 'Suro Benowo'," kata Lintang Rahina dalam hati.


Lintang Rahina pun segera meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya, hingga tubuhnya kembali melayang.


Terdengar lagi suara ledakan beberapa kali saat kedua tangan mereka yang penuh dengan energi, berbenturan saling melayangkan serangan.


Blaaammm ! Blaaammm !


Daaarrr ! Duuuaaarrr !


Sesaat setelah suara ledakan yang terakhir, terlihat tubuh mereka berdua sama sama melayang ke belakang beberapa langkah dan kemudian mendarat lagi di tanah.


Lintang Rahina sejenak melihat ke sekeliling. Benturan kedua energi itu tidak hanya menimbulkan suara yang keras, namun membentuk angin yang menghempaskan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.


Jalu Samodra tidak berkata kata lagi. Raut mukanya menampilkan mimik kalau dia sedang serius.


Sambil kembali mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya sehingga tubuhnya kembali melayang, Jalu Samodra mengibaskan kedua tangannya ke samping bawah untuk mengeluarkan senjatanya.

__ADS_1


Sriiing !!!


Tiba tiba kedua telapak tangannya terlihat menggenggam senjata roda besi bergerigi dengan garis tengah sepanjang setengah lengan.


Dengan kedua ujung kakinya ditotolkan di kabut tempatnya berdiri, tubuh Jalu Samodra melesat dengan sangat cepat ke arah Lintang Rahina.


Dalam posisi melayang melesat ke arah Lintang Rahina, beberapa kali Jalu Samodra mengibaskan kedua senjatanya ke depan lalu ke samping.


Terbentuklah energi transparan membentuk silang yang sangat tajam. Energi tranaparan itu pun melesat cepat ke arah Lintang Rahina.


Ketika lawannya mulai mengeluarkan senjatanya, Lintang Rahina pun segera mencabut pedangnya.


Pedang yang bilahnya diselimuti pendaran sinar putih pekat itu ditebaskan secara vertikal dari atas ke bawah.


Dari tebasan pedangnya, tercipta pendaran energi berwarna putih pekat yang langsung melesat ke depan, membentur energi transparan yang dibuat Jalu Samodra.


Saat kedua serangan energi saling berbenturan dan menimbulkan suara suara yang keras, Jalu Samodra sudah kembali melancarkan serangan dengan senjata roda besi bergeriginya.


Lintang Rahina yang sudah bersiap dengan pedangnya, segera menyambut serangan Jalu Samodra. Benturan kedua senjata tak terelakkan lagi.


Di saat yang bersamaan, Bango Suro dan ketiga temannya, yang awalnya hanya menunggu, menjadi gatal tangannya untuk ikut bertarung.


Mereka berempat pun mendekati Ki Ageng Arisboyo dan yang lainnya.


"Daripada kita hanya menunggu dan melihat pertarungan, bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan kemaren ?" tanya Bango Suro.


"Kalau memang kalian menghendaki, akan kami ladeni ?" jawab Ki Pradah.


Akhirnya pertarungan yang lainnya tidak terelakkan. Karena dipihak Ki Pradah hanya ada tiga orang, terpaksa Sekar Ayu Ningrum ikut mengadapi mereka.


"Guru, ijinkan aku yang menghadapinya," kata Sekar Ayu Ningrum pada Ki Pradah.


Ki Pradah yang mengetahui kalau Sekar Ayu Ningrum membutuhkan lawan yang tinggi tingkat energinya untuk melatih dan mempraktikkan ilmu yang baru dipelajarinya, mengijinkan Sekar Ayu Ningrum.


"Heh he he he ..... kami serahkan dia padamu, nduk !" kata Ki Pradah sambil tertawa.

__ADS_1


"Paman, bagaimana kalau aku yang menemani paman ?" kata Sekar Ayu Ningrum sambil mendekat ke arah Bango Suro dengan menghunus pedangnya.


__________ 0 __________


__ADS_2