
"Ayo Ki Rekso, akan aku ikuti apapun maumu !" kata Ki Penahun sambil bersiap melawan Ki Rekso.
Ki Rekso yang sebenarnya punya perasaan dendam pada kelompok Ki Penahun, segera bersiap menyerang. Selama ini Ki Rekso sudah melatih terus ilmu silatnya, termasuk senjata rahasianya, jarum beracun. Ki Rekso sudah mengembangkan senjata jarum beracunnya sehingga sekarang tidak hanya bisa melukai dan meracuni lawan lawannya, tetapi jika jarum jarum yang dilemparkannya tidak mengenai sasaran, akan meledak. Saat mengenai sasaran pun, jarum jarum itu juga akan meledak. Sehingga sekarang, Ki Rekso percaya diri untuk melawan Ki Penahun.
Dengan kedua lengan yang berubah warna menjadi kehitaman, Ki Rekso melenting cepat ke arah Ki Penahun dan melayangkan dua pukulannya bergantian ke arah dada dan kepala Ki Penahun, yang sebelumnya diawali dengan melempar lima senjata rahasianya jarum beracun ke arah kedua kaki, dada dan kepala Ki Penahun.
Ki Penahun yang sudah bersiap sejak tadi, segera menggeser posisi kuda kudanya untuk menghindari serangan jarum beracun.
Kemudian keduan lengannya yang sudah berwarna merah bergerak menangkis serangan susulan dsri Ki Rekso. Sepersekian detik sebelum kedua tangan saling berbenturan terdengar lima kali ledakan di sekitar Ki Penahun. Ki Penahun yang tidak menduga jarum jarum Ki Rekso bisa meledak, sempat terkejut dan terpecah konsentrasinya sehingga agak terlambat menangkis datangnya serangan dua pukulan dari Ki Rekso.
Duar ! Duar ! Duar ! Duar ! Duar !
Blaammm !!!
Blaammm !!!
Dalam dua kali benturan energi itu, Ki Penahun terdorong ke belakang tiga langkah, sedangkan Ki Rekso tetap berdiri kokoh sambil tertawa senang.
"He he he he .... bagaimana Ki Penahun, kamu terkejut dengan seranganku ?" kata Ki Rekso sambil tertawa.
"Jangan senang dulu Ki Rekso," jawab Ki Penahun, "Ku akui aku memang terkejut. Sekarang saatnya serius Ki Rekso."
Ki Penahun kembali bersiap dan meningkatkan kewaspadaannya, bilamana Ki Rekso kembali melepaskan senjata rahasianya.
Merasa unggul, Ki Rekso mengulang kembali serangannya. Dengan didahului lemparan senjata rahasia jarum jarum beracun, Ki Rekso kembali melompat dan melesat melayangkan dua kali tendangan.
Tidak ingin mengulang kesalahan, begitu Ki Rekso menyerang dengan lemparan senjata rahasia jarum beracun, Ki Penahun menghindar dengan maju melenting ke atas sekaligus memapaki tendangan Ki Rekso dengan tendangan.
Kemudian beberapa waktu terjadi saling serang dengan tendangan ataupun pukulan energi.
Sampai sekitar tiga puluh jurus, Ki Penahun dan Ki Rekso terlihat masih berimbang.
Setelah dapat membaca pola serangan dari Ki Rekso, Ki Penahun secara bertahap mulai menaikkan tingkat energi dalam serangan serangannya. Kedua tangannya yang tadinya berwarna merah menyala, sekarang berubah menjadi ungu.
Dengan menggunakan tingkat energi sebesar delapan puluh persen, perlahan Ki Penahun dapat mendesak Ki Rekso, hingga Ki Rekso hanya bisa mengelak dan menangkis tanpa mampu membalas serangan.
Dalam keadaan terdesak, Ki Rekso berharap ada pendekar dengan tingkat energi yang tinggi di kubunya yang ikut terjun dalam pertarungan.
__ADS_1
Tetapi apa yang Ki Rekso harapkan tidak muncul muncul hingga suatu ketika, mendapat serangan beruntun dari Ki Penahun, Ki Rekso sudah tidak ada waktu untuk menghindar, sehingga memapaki datangnya serangan tapak dari Ki Penahun dengan pukulan energi tangan kanan maupun tangan kirinya.
Blaammm !!!
Blaammm !!!
Buukkk !!!
Dua serangan tapak Ki Penahun masih bisa ditangkis oleh Ki Rekso, tetapi setelah Ki Penahun menaikkan kecepatannya, pukulan tapak yang ketiga tidak bisa Ki Rekso hindari dan dengan telak mengenai dada Ki Rekso.
Ki Rekso terlempar hingga lima meter dan jatuh terduduk dengan nafas yang sesak dan memudian memuntahkan darah segar dua kali.
Kemudian ketika Ki Penahun mendekat, Ki Rekso terdiam dengan tangan kiri memegangi dada dan tangan kanan bertumpu pada tanah.
Melihat Ki Rekso terdiam seperti kesakitan di bagia dadanya yang dipegang dengan tangan kiri, Ki Penahun berkata, "Menyerahlah Ki Rekso, kalau ..."
Plaasss !!!
Plaasss !!!
Setelah Ki Penahun mendekat, dalam jarak sekitar tiga meter tangan kanan Ki Rekso tiba tiba melemparkan dua jarum beracun.
Jarum pertama berhasil dihindari oleh Ki Penahun, tetapi jarum kedua berhasil mengenai tipis kaki kiri Ki Penahun di dekat mata kaki.
Merasakan terkena senjata jarum beracun, Ki Penahun mendarat dengan posisi kaki kiri bertumpu pada lutut dan segera mengalirkan tenaga dalamnya ke kaki kirinya sehingga kaki kirinya juga berubah warna menjadi ungu dan seperti dilapisi pendaran sinar berwarna ungu. Hal itu untuk menetralkan racun yang masuk ke dalam kaki kirinya dan untuk meredam efek ledakan sehingga tidak melukai kaki kirinya sampai parah.
Tessttt !!!
Sreettt !!!
Di tempat yang terkena jarum beracun itu tiba tiba robek sepanjang lima centimeter.
Melihat lawannya terkena serangan jarum beracun miliknya, Ki Rekso memaksakan diri dengan sisa energi yang ada padanya, melompat ke arah Ki Penahun dengan melayangkan pukulan sekuat tenaga.
Sementara Ki Penahun yang terkejut dengan kecurangan Ki Rekso, dalam rasa jengkelnya memapaki pukulan Ki Rekso dengan selenuh sisa energi yang dimilikinya sehingga kedua tangannya berubah menjadi berwarna ungu.
Blaarrr !!!
__ADS_1
Sesaat setelah terjadi benturan energi serangan yang menimbulkan suara yang keras, terlihat tubuh Ki Rekso melayang ke belakang dan jatuh dengan posisi tertelungkup. Tangan kanannya patah dan terluka parah dan juga terlihat berwarna ungu kehitaman sampai dengan pangkal lengan.
Tubuh Ki Rekso terlihat diam dan tidak bergerak.
Melihat Ki Rekso sudah tidak bergerak, Ki Penahun segera duduk bersila dan mencoba semedi untuk mengeluarkan racun yang mengenai kaki kirinya.
Sementara itu, di saat yang bersamaan dengan pertarungan Ki Penahun melawan Ki Rekso, Biksu Wisnu Gatti memanggil Empu Bajang Geni.
"Empu Bajang Geni, kemarilah, sudah puluhan tahun kita tidak bertemu," kata Biksu Wisnu Gatti.
Mendengar namanya ada yang memanggil, Empu Bajang Geni mencari sumber suara yang memanggilnya dan segera menemukan Ki Wisnu Gatti yang berdiri di sebelah kanan panggung dan sedang tersenyum ke arahnya.
Merasa ditantang, Empu Bajang Geni segera melesat ke arah Biksu Wisnu Gatti.
Dahulu saat masih sama sama muda, Biksu Wisnu Gatti adalah seniornya Empu Bajang Geni di suatu kuil di India. Dalam belajar ilmu bela diri silat, Biksu Wisnu Gatti juga kakak seperguruan Empu Bajang Geni.
Tetapi, dalam ilmu beladiri silat, Empu Bajang Geni saat masih muda menunjukkan kemajuan yang bisa melampaui kakak kakak seperguruannya, karena Empu Bajang Geni sangat bersemangat dalam belajar silat.
Hingga akhirnya Empu Bajang Geni melakukan pengembaraan. Dan Biksu Wisnu Gatti diutus oleh gurunya untuk menjemput Empu Bajang Geni saat mendengar, bahwa dalam pengembaraannya, Empu Bajang Geni melakukan penyelewengan.
"Kek kek kek kek ... Kakang Wisnu Gatti, sudah sekian puluh tahun, kenapa masih saja mengganggu kehidupanku ?" tanya Empu Bajang Geni.
"Kamu masih mengakuiku sebagai kakangmu ?" Biksu Wisnu Gatti balik bertanya.
"Aku tidak akan pulang ! Karena, di sinilah kehidupanku !" jawab Empu Bajang Geni.
"Dan aku tetap akan membawamu pulang ! Dengan memaksa kalau perlu !" kata Biksu Wisnu Gatti.
"Kek kek kek kek ... terserah kalau kau mampu," jawab Empu Bajang Geni lagi.
Blaarrr !!!
Tiba tiba terdengar seperti ledakan saat tubuh Empu Bajang Geni berubah menjadi wujud api.
Tubuh api Empu Bajang Geni pun melayang setinggi dua meter dari tanah.
Melihat Empu Bajang Geni langsung mengeluarkan ilmu andalannya, Biksu Wisnu Gatti membaca mantera kemudian kedua tangannya bertepuk sekali, lalu kedua lengan bajunya dikibaskan sehingga tubuh Biksu Wisnu Gatti juga melayang atau lebih tepatnya berdiri di atas pusaran udara di bawah kedua kakinya.
__ADS_1
Begitu keduanya sama sama melayang, saling serang dan saling tukar pukulan energi pun tak terhindarkan.
___0___