Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Masuk Ke Dalam Kawah Gunung Api


__ADS_3

"Waaawww ! Waow waow ! Waow waow ! Anak muda kurang ajar !" teriak kakek kerdil itu sambil tubuhnya melayang kesana kemari menghindari potongan batang kayu yang mengarah ke tubuhnya.


Karena sibuk menghindar, membuat manusia kerdil tua itu tidak sempat melakukan serangan, sehingga potongan batang kayu yang melesat ke arah Lintang Rahina habis.


Sejenak mereka berdua saling menatap tajam seolah hendak saling mengukur kemampuan lawan. Kemudian, manusia kerdil tua itu, masih dalam posisi melayang, berdiri dari duduk bersilanya.


Dengan gerakan kedua tangan dan kakinya seperti orang menari, dikendalikanlah semua potongan batang kayu yang ada.


Namun sekarang, potongan batang kayu itu tidak hanya bergerak meluncur, namun bergerak secara bersama sama dan teratur, melesat ke arah Lintang Rahina dan menyerang membentuk jurus jurus seperti yang dimainkan oleh manusia kerdil tua itu.


Menghadapi gerakan jurus jurus serangan namun dilakukan oleh banyak potongan batang kayu, Lintang Rahina mengeluarkan jurus Tapak Wulung. Kedua tangannya yang berubah menjadi berwarna hitam keunguan dan menjadi sekeras baja, menangkis dan menghantam balik, setiap potongan batang kayu yang menyerangnya.


Setiap benturan kedua tangan Lintang Rahina dengan potongan batang kayu yang mengandung energi tinggi, menimbulkan suara ledakan yang sangat keras. Selain itu, juga membuat setiap potongan batang kayu yang terkena pukulan Lintang Rahina, kembali melesat turun dan menghujam ke tanah.


Duuuaaarrr ! Duuuaaarrr ! Duuuaaarrr !


Dbaaammm ! Dbaaammm !


Namun, potongan potongan batang kayu yang terhujam di tanah itu, terlihat bergerak gerak dan sedikit demi sedikit terangkat hingga kemudian kembali melayang mendekati manusia kerdil tua itu. Hal itu terjadi berulang ulang, membuat Lintang Rahina berpikir untuk menggabungkan dengan tehnik yang lain.


Kemudian, saat ada sedikit peluang, Lintang Rahina menambah sedikit aliran tenaga dalamnya ke tangan kirinya. Pelan pelan, warna ungu kehitaman di tangan kiri Lintang Rahina menghilang digantikan dengan pusaran angin yang muncul mengelilingi lengan kiri.


Akhirnya, setiap potongan batang kayu yang menyerang, Lintang Rahina tangkis menggunakan tangan kanan hingga meluncur ke atas, kemudian ditangkap dengan menggunakan pusaran angin yang keluar dari tangan kiri Lintang Rahina.


Hal itu terjadi berulang ulang hingga akhirnya semua potongan batang kayu berputar putar di atas Lintang Rahina, mengikuti pusaran angin yang terbentuk semakin besar.


Menyadari senjatanya habis ditangkap lawannya, manusia kerdil tua itu melesat ke arah Lintang Rahina dengan senjata kaitan besi berada di tangan kanan dan kirinya.


Namun, manusia kerdil tua itu harus mengurangi kecepatan luncuran tubuhnya, ketika dilihatnya, sekumpulan potongan batang kayu yang bergerak memutar bersamaan dengan pusaran angin itu, meluncur dengan sangat cepat menuju ke arahnya.


Terpaksa manusia kerdil tua itu membelokkan arah luncuran tubuhnya untuk menghindar.


Tetapi, ke arah manapun manusia kerdil tua itu bergerak, sekumpulan potongan batang kayu itu selalu mengejarnya bahkan semakin lama semakin mendekat.


Karena sudah tidak ada arah menghindar lagi, akhirnya manusia kerdil tua itu menghindar ke arah kawah dan kemudian tubuhnya melesat masuk ke dalam kawah. sekumpulan potongan batang kayu yang digerakkan Lintang Rahina dengan menggunakan pusaran angin yang keluar dari tangan kirinya itupun ikut melesat masuk ke dalam kawah.


Kemudian, sambil melesat ke arah kawah, Lintang Rahina berteriak pada Sekar Ayu Ningrum.


"Adik Sekar ! Kau tunggu dulu di luar, biar kakang mencoba masuk ke dalam kawah !" teriak Lintang Rahina.


Dalam posisi melayang ke arah kawah, Lintang Rahina mengeluarkan tehnik Sindhung Alit yang dikombinasikan dengan tehnik Bramaseta.

__ADS_1


Seketika seluruh tubuh Lintang Rahina mengeluarkan api putih transparan. Api putih itu terlihat bergerak gerak karena dari tubuh Lintang Rahina juga keluar hembusan pusaran angin walaupun kecil.


Kemudian dengan cepat, walaupun tidak secepat manusia kerdil tua tadi, Lintang Rahina melesat ke bawah masuk ke kawah. Tubuhnya masuk ke cairan lava pijar yang menyala kuning kemerahan dan mengeluarkan asap secara terus menerus.


Tubuh Lintang Rahina terus turun semakin ke dalam, hingga setelah beberapa waktu sampai di dasar kawah.


Sejenak Lintang Rahina merasa takjub. Di dasar kawah itu, terdapat jalur jalur jalan cukup banyak yang semuanya mengarah ke dinding kawah. Di setiap dinding kawah yang menjadi jalur jalan, terdapat pintu yang sangat besar berwarna hitam legam yang entah terbuat dari apa, Lintang Rahina belum bisa memperkirakannya.


Lintang Rahina berjalan di salah satu jalur jalan yang mengarah ke arah depan. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya Lintang Rahina tiba di pintu besar yang berwarna hitam legam.


Lintang Rahina mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh dinding pintu hitam itu. Namun Lintang Rahina tidak merasakan apapun. Tangannya yang terjulur, seperti masuk ke ruangan kosong.


Akhirnya, dengan penuh kewaspadaan, Lintang Rahina melangkah ke arah pintu hitam itu. Dengan mudahnya tubuh Lintang Rahina melewati pintu hitam itu tanpa tubuhnya menyentuh ataupun terhalang sesuatu.


Lintang Rahina hanya merasakan, dirinya masuk ke suatu jalan. Dan jalan yang berada di depannya terlihat persimpangan ke kiri dan ke kanan.


Perlahan, Lintang Rahina melangkah mengambil arah kanan dan menyusuri jalan yang ternyata masih membelok.


Setelah belokan itulah, Lintang Rahina kembali dibuat takjub. Di depannya terbentang jalan yang cukup lebar. Jalan itu sepertinya menuju ke sebuah kota atau permukiman. Terlihat di kejauhan banyak berdiri bangunan bangunan seperti sebuah kota.


Dan yang membuat Lintang Rahina kagum, suhu di tempat itu terasa seperti berada di tempat yang biasa dihuni manusia, sehingga Lintang Rahina akhirnya menghentikan penggunaan jurus Sindhung Alit dan Bramaseta.


Dengan cepat Lintang Rahina menyusuri jalan di depannya yang ternyata jalan itu semua menuju ke pusat kota.


Sebenarnya, Lintang Rahina merasa sedikit heran. Pintu gerbang jalan menuju bangunan istana itu terbuka lebar namun terlihat sepi, tidak ada seorang penjaga pun.


Lintang Rahina terus melangkah melewati pintu gerbang itu dan terus berjalan menyusuri jalan yang membelah tanah lapang yang sangat luas.


Ketika semakin dekat dengan pintu masuk ke istana, tiba tiba dari dalam istana, melesat keluar sosok manusia kerdil tua yang tadi bertarung melawannya, diikuti oleh delapan manusia kerdil lainnya. Ke delapan manusia kerdil itu juga berbadan sangat kecil dan terlihat sudah sangat tua semuanya.


Dengan sangat cepat, kesembilan manusia kerdil itu melayang dan mengepung Lintang Rahina dengan membentuk posisi setengah lingkaran.


"Anak muda dari Negeri Jawadwipa ! Selamat datang di istana kerajaan kami !" kata manusia kerdil tua yang tadi bertarung melawan Lintang Rahina.


"Terimakasih. Sungguh sangat indah dan megah, istana kerajaan kalian !" jawab Lintang Rahina.


"Apa maksud dan tujuanmu datang ke pulau ini ?" kembali manusia kerdil tua itu melontarkan pertanyaan.


"Aku ingin bertemu dengan raja kalian !" jawab Lintang Rahina.


"Heehhh he he he he ..... ! Tidak mudah untuk menemui raja kami ! Kau harus bisa melewati kami !" kata manusia kerdil tua itu sambil mengeluarkan getaran energi yang sangat besar di ikuti oleh kedelapan manusia kerdil tua lainnya.

__ADS_1


Saat sembilan manusia kerdil tua itu secara serentak mengeluarkan getaran energinya, Lintang Rahina merasakan tekanan yang sangat kuat pada seluruh tubuhnya, dari sesuatu yang tidak terlihat. Lintang Rahina merasakan tubuhnya sangat berat dan seperti hendak jatuh ke bawah.


Dengan segera, Lintang Rahina menambah aliran energinya hingga jumlah yang cukup untuk melawan tekanan itu. Akhirnya perlahan lahan, Lintang Rahina bisa melepaskan diri dari tekanan itu.


"Suatu tehnik serangan yang sangat berbahaya !" kata Lintang Rahina dalam hati.


Kemudian secara perlahan, tubuh Lintang Rahina mulai melayang. Secara bersamaan, sembilan manusia kerdil itu mulai menggerakkan kedua tangannya.


Saat Lintang Rahina hendak bergerak mendekat guna melakukan serangan, tiba tiba merasakan kedua tangan dan kedua kakinya tidak bisa digerakkan seolah diikat dengan banyak tali.


Merasakan hal itu, segera saja Lintang Rahina mengeluarkan energinya lebih besar lagi dan mengalirkannya ke kedua tangan dan kedua kakinya.


Pendaran sinar putih pekat bercampur dengan butiran kuning keemasan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, terutama ke kedua tangan dan kakinya.


Tanpa terlihat, saat ini telah terjadi pertarungan energi tingkat tinggi antara Lintang Rahina melawan sembilan orang manusia kerdil yang mengepungnya.


Ke sembilan manusia kerdil itu menggerak gerakkan jari jemari tangannya yang menjulur ke depan ke arah Lintang Rahina dan membuat pola gerakan tertentu.


Seketika, Lintang Rahina merasakan, tubuhnya seperti ditarik tarik dengan tali ke arah sembilan manusia kerdil yang mengepungnya itu.


Untuk melawan serangan energi itu, Lintang Rahina pun menggunakan tehnik Nafas Raja yang dia gabungkan dengan tehnik Puspa Nagari.


Butiran sinar kuning keemasan itu mengelilingi tubuhnya dan terkadang di bagian tubuh tertentu, butiran sinar kuning keemasan itu bergerak gerak ke arah tertentu, melakukan perlawanan pada energi yang mengarah pada tubuhnya.


Pada suatu waktu, Lintang Rahina yang masih dicecar dengan serangan energi dari berbagai arah, kembali menambah aliran energi ke kedua lengannya.


Kemudian, kedua lengannya dia gerak gerakkan seolah melakukan jurus serangan. Di setiap akhir gerakan, Lintang Rahina melepaskan hembusan nafasnya pendek namun bertenaga.


Huuuhhh !


Setiap Lintang Rahina mengayunkan lengannya dengan hembusan nafas pendek, setiap kali itu pula sembilan manusia kerdil tua itu merasa kedua tangan dan tubuhnya dihempaskan.


Akhirnya, pada suatu kesempatan, saat sembilan manusia kerdil tua itu melakukan serangan energi tingkat tinggi, Lintang Rahina melakukan gerakan menyerang dengan saluran energi ke kedua lengannya, diakhiri dengan hembusan nabi pendek.


Huuuhhh !


Sesaat setelah hembusan nafas pendek itu, kesembilan manusia kerdil tua itu merasakan desakan yang sangat dahsyat ke arah tubuh mereka. Kemudian seolah seperti diterpa angin topan, tubuh sembilan manusia kerdil tua melayang ke belakang seperti rumput dicabut dari tanah.


Wuuussshhh !


Duuummm ! Duuummm ! Duuummm !

__ADS_1


Tubuh sembilan manusia kerdil tua itu terhempas ke tanah. Mereka semua terkejut, tubuh mereka bisa dihempaskan ke belakang oleh seorang anak muda.


__________ 0 __________


__ADS_2