Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertemuan Di Mulai


__ADS_3

Sesaat setelah pria tinggi besar itu tewas menyusul teman temannya, tiba tiba telah berdiri seorang laki laki setengah baya di samping jasad pria tinggi besar itu.


Orang itu berpakaian seperti seorang petani, pakaiannya serba hitam, celana kolor dibawah lutut. Memakai caping lebar dan bersepatu rumput. Di pinggangnya terselip sebuah seruling yang berwarna putih tulang.


Orang yang baru datang itu membolak balik tubuh pria tinggi besar itu dengan kakinya.


Kemudian orang itu berkata pada tiga orang gadis desa, "kalian lekas pulang ke rumah masing masing."


Dengan tubuh gemetaran karena takut, ketiga gadis desa itu segera pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah tiga gadis desa itu hilang dari pandangan, tiba tiba terdengar suara pelan tetapi seperti berada di mana mana, "Wah wah wah ....... Ki Goprak masih saja ganas dan telengas."


Di depan orang berpakaian petani yang bernama Ki Goprak itu tiba tiba telah berdiri seorang berpakaian biksu.


"Biksu Wisnu Gatti, sebelum menilaiku, coba lihat dulu siapa mereka semua ini. Mereka murid murid Perguruan Krenda Putih. Biksu tentunya sudah tahu kelakuan mereka, kalau ingin berbuat baik, kuburkan dandoakan saja mereka semua ini," jawab Ki Goprak seenaknya.


"Tentu semuanya kudoakan. Ki Goprak pun aku doakan semoga lebih welas asih," kata Biksu Wisnu Gatti lagi.


Kemudian Ki Goprak melihat pada Biksu Wisnu Gatti dengan pandangan heran.


"Jangan bilang, Biksu Wisnu Gatti juga mendapat undangan untuk hadir ke puncak Lawu," kata Ki Goprak dengan mata menyelidiki.


"Hmmmm .... he he he .... aku hanya ingin menonton keramaian yang akan terjadi di puncak Lawu," jawab Biksu Wisnu Gatti, "kesempatan langka bisa bertemu kawan kawan lama."


"Biksu jalan duluan saja, aku masih akan jalan jalan keliling melihat pemandangan," kata Ki Goprak sambil berjalan meninggalkan Biksu Wisnu gatti.


Biksu Wisnu Gatti yang ditinggal sendirian hanya berteman lima jasad murid murid Peguruan Krenda Putih, hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya sambil bergumam, "Selalu saja seenaknya. Darmamu banyak Ki Goprak, tapi berjalanmu tidak beraturan."


Kemudian, dengan sekali mengibaskan lengan baju kanannya yang lebar, Biksu Wisnu Gatti membuat lobang di tanah yang cukup untuk jasad lima orang. Lalu dengan energi yang disalurkan pada kedua tangannya, dimasukkannya lima jasad itu ke dalam lobang dan kemudian ditutup kembali.


Semua itu Biksu Wisnu Gatti lakukan dengan cepat dan tanpa berpindah tempat.

__ADS_1


Setelah selesai mendoakan, Biksu Wisnu Gatti pergi dari tempat itu dengan cepat sehingga seolah olah menghilang.


 


Hampir satu bulan setelah Ki Dipa Menggala, Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun menyebar undangan kepada mantan prajurit elite, senopati dan tokoh tokoh dunia persilatan pada saat pemerintahan kerajaan Majapahit, beberapa hari ini di sekitar kaki gunung Lawu banyak dikunjungi orang orang asing yang bukan penduduk sekitar kaki gunung Lawu. Baik secara terang terangan ataupun secara sembunyi sembunyi.


Karena entah dalam acara atau keadaan apapun, berkumpulnya para pendekar dan ahli silat selalu menarik perhatian kaum persilatan.


Apalagi ini adalah undangan dari Ki Dipa Menggala, seorang tokoh sepuh yang sangat dihormati dan disegani oleh para pendekar dan ahli silat baik dari golongan tua ataupun dari generasi muda.


Memang kedatangan para tokoh persilatan itu tidak diketahui dan dirasakan oleh para penduduk di sekitar kaki gunung dan lereng gunung Lawu. Tetapi, bagi para ahli silat sangat terasa, dimana sejak di kaki gunung Lawu hingga ke lereng, dirasakan banyak bermunculan energi energi yang sudah masuk tingkatan tinggi.


 


Sementara di tempat Ki Dipa Menggala, tokoh tokoh mantan prajurit elite sudah tiba. Ada yang datang sendirian, ada yang bersama muridnya, juga ada yang mengajak temannya sesama tokoh persilatan.


Mereka ditempatkan di pondok pondok yang memang sudah disediakan oleh Ki Dipa Menggala serta Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun.


Saat Ki Penahun sedang sendirian dan memikirkan Lintang Rahina, Ki Sardulo berkata pada Ki Penahun, "Ki, kalau memang den Lintang harus pulang ke sini, ijinkan aku mengajaknya pulang."


"Coba Ki Sardulo aktifkan energi untuk menghubungi atau merasakan keberadaan Lintang," jawab Ki Penahun sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas sehingga Ki Sardulo keluar dari cincin penyimpanan Ki Penahun.


Ki Sardulo segera mengaktifkan energi untuk merasakan keberadaan Lintang Rahina. Tetapi Ki Sardulo tidak merasakan getaran apapun.


Kemudian Ki Sardulo melesat setinggi lima ratus meter ke angkasa. Dengan melayang ke angkasa, Ki Sardulo mengaktifkan lagi energinya untuk merasakan keberadaan Lintang Rahina.


Setelah beberapa saat, Ki Sardulo bisa merasakan keberadaan Lintang Rahina walaupun getaran energi yang dia tangkap tidak kuat karena jauh. Lintang Rahina berada di arah sebelah timur posisi Ki Sardulo sekarang


"Ada apa Ki ?" tanya Lintang Rahina melalui telepati sebelum Ki Sardulo sempat menyapa.


"Den Lintang diminta ke gunung Lawu oleh Ki Penahun," jawab Ki Sardulo.

__ADS_1


"Tolong sampaikan kepada eyang, Ki. Lintang segera ke sana," kata Lintang Rahina lagi.


"Baik den, saya sampaikan ke Ki Penahun," jawab Ki Sardulo sambil melesat ke bawah ke arah Ki Sardulo.


Kemudian Ki Sardulo menyampaikan apa yang menjadi pesan Lintang Rahina kepada Ki Penahun.


Ki Penahun pun merasa gembira, karena Lintang Rahina akan segera datang.


 


Untuk mengadakan pertemuan ini, Ki Dipa Menggala telah membuat pendapa yang sangat besar, dimana di salah satu sisinya ada sebuah panggung untuk tokoh tokoh yang hendak berbicara.


Pagi ini, di pendopo itu telah hadir semua tokoh yang di undang, bahkan hadir juga tokoh tokoh persilatan yang lain yang diundang.


Telah duduk berderet deret di depan panggung ada Ki Pradah, Ki Baskoro, Ki Pandya. Hadir juga Ki Rekso, Ki Brata, Ki Pratanda, Ki Kawungka.


Dari para pembesar, tampak hadir Senopati Rangga Kaniten disertai beberapa pengawalnya. Hadir juga Ki Ageng Arisboyo.


Di deretan belakang, terlihat ada Biksu Wisnu Gatti yang duduk bersebelahan dengan Ki Goprak.


Ki Dipa Menggala, Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun sebagai pihak yang menyelenggarakan acara pertemuan masih berdiri di samping panggung.


Setelah dilihat semua undangan telah hadir, Ki Dipa Menggala naik ke panggung.


"Hadirin, saudara sekalian para tamu undangan dan para pendekar yang hadir di sini. Terimakasih telah menghadiri undangan kami," kata Ki Dipa Menggala memberikan sambutan.


Kemudian Ki Dipa Menggala menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya pertemuan ini.


Yaitu yang terpenting untuk menyampaikan titah Prabu Brawijaya sebelum moksa, untuk tidak melawan apa yang sudah digariskan. Yaitu jangan memaksakan untuk kembali berdirinya kerajaan Majapahit.


\_\_\_0\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2