
Dari cerita cerita para tamu di warung makan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mendapatkan informasi bahwasanya tidak semua pendekar yang datang dari negeri seberang, memang benar benar menginginkan energi yang sangat besar yang berasal dari energi kegelapan, yang dikabarkan turun dan diwariskan ke seorang anak di tanah Jawa Dwipa. Ataupun ingin mendapatkan batu langit yang dikabarkan akan turun di tanah Jawa dwipa.
Maka, dari semua kabar yang mereka berdua dengar, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, mencoba untuk beberapa hari ini tetap berada di kaki gunung Lawu. Mereka berdua ingin mengetahui, siapa saja yang sudah tiba di sekitar gunung Lawu.
----- o -----
Pada pagi hari berikutnya, di kaki gunung Lawu. Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah berjalan di sepanjang jalan yang melintas di kaki gunung Lawu.
Dengan tingkat energi yang mereka miliki sekarang, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum dengan mudah bisa menyembunyikan getaran energinya sehingga tidak bisa dirasakan oleh orang lain.
Dengan berjalan kaki biasa, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menikmati kesejukan udara pagi hari itu. Apalagi ditambah dengan hembusan angin gunung yang cukup pelan, namun tetap kuasa untuk menggerakkan dedaunan yang membuat pemandangan yang sangat indah dari kerlipan embun embun yang mulai mengalir turun.
Namun, kesejukan udara pagi yang berhembus dari gunung itu sudah harus bercampur dengan hembusan nafas sekelompok orang yang datang dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Sekelompok orang itu adalah para pendekar yang berpakaian serba hitam dan ada yang serba putih. Sebagian besar dari mereka membawa senjata pedang panjang. Beberapa dari mereka ada yang membawa senjata tongkat, ada juga yang membawa senjata rantai yang ujungnya ada kaitannya. Dan uniknya, mereka semua masih membawa satu senjata lagi, yaitu pedang pendek yang terselip di pinggang mereka.
Sekelompok pendekar itu dipimpin oleh seorang laki laki paruh baya berbadan pendek dan bulat.Wajahnya selalu tersenyum dengan rambut yang dikuncir rapi ke belakang. Dialah Rekta Aruna yang memimpin Pasukan Bagaspati, yang berasal dari negeri Jepun.
Rekta Aruna, walaupun wajahnya terlihat ramah karena selalu tersenyum, tetapi sebenarnya orang yang tidak pernah berbelas kasihan walaupun kepada kawan, apalagi pada lawannya.
Ketika melewati jalan yang sedikit menanjak, yang kemudian ada dataran kecil yang cukup asri dan sejuk karena banyak tumbuh pepohonan di sekelilingnya, Rekta Aruna tiba tiba menyuruh Pasukan Bagaspati berhenti.
Kemudian Rekta Aruna berjalan ke tengah tengah dataran kecil itu sambil tatapan matanya terus mengarah ke pepohonan yang tumbuh di pinggir dataran kecil itu.
"Apakah kalian sengaja menghadang kami ?" tanya Rekta Aruna.
Tiba tiba dari bawah sebuah pohon yang cukup besar, berdiri seorang laki laki yang sudah cukup tua dengan jubah berwarna putih. Di belakang laki laki tua itu, terlihat sejumlah orang duduk bersandar di beberapa batang pohon.
"Ahhh ... saudaraku, aku Sindu Amarajati dan mereka semua adalah saudara saudaraku. Kami semua dari negeri Campa, datang ke sini untuk menengok saudara tua," kata laki laki tua itu, "Kami hanya kebetulan beristirahat. Silahkan teruskan perjalanan kalian !"
Sindu Amarajati dan rombongannya memang sudah berada di tempat itu karena mereka memang bermalam di situ.
__ADS_1
"Tetapi sayangnya, kami tidak suka didahului. Apalagi oleh orang asing seperti kalian !" sahut Rekta Aruna sambil tangannya memberi tanda pada anak buahnya.
Seketika serentak Pasukan Bagaspati melolos senjata mereka masing masing.
"Silahkan kalian mendahului. Kami tidak ingin berurusan dengan siapapun. Kami datang ke sini hanya sekedar melancong melihat keramaian," kata Sindu Amarajati cepat cepat, melihat serombongan orang di depannya mengeluarkan senjata.
Melihat hal itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berhenti berjalan dan mencoba melihat dari kejauhan.
Namun, sepertinya para pendekar dari negeri Jepun itu tidak mau tahu. Mereka tetap bergerak melesat ke arah Sindu Amarajati dan teman temannya.
Melihat serangan itu, Sindu Amarajati dan yang lainnya kelabakan menghindar karena mereka tidak siap dengan pertarungan.
Sreeettt ! Sreeettt ! Sreeettt !
"Hei hei hei !!! Hentikan ! Kami tidak ingin bertarung !" teriak Sindu Amarajati.
Karena tidak siap bertarung dan karena memang tidak ingin bertarung, sebentar saja, teman teman Sindu Amarajati mendapatkan luka luka. Sedangkan Sindu Amarajati harus melemparkan tubuh ke belakang hingga bergulingan untuk menghindari serangan Rekta Aruna.
"Hssshhh !!! Aku tidak peduli ! Siapapun yang menghalangi langkah kami, harus kami lenyapkan !" sahut Rekta Aruna yang kembali berlari cepat ke arah Sindu Amarajati untuk melakukan serangan.
Melihat kejanggalan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera mendekat ke arah pertempuran. Kemudian dengan cepat, Sekar Ayu Ningrum bergerak maju menangkis serangan Rekta Aruna.
Trang ! Trang ! Trang !
Pedang Sekar Ayu Ningrum bergerak cepat membentur serangan pedang panjang Rekta Aruna.
Rekta Aruna dalam hati sangat terkejut saat dia merasakan kedua tangannya bergetar hebat.
Sambil kembali memasang kuda kudanya, Rekta Aruna menatap tajam Sekar Ayu Ningrum.
"Telapak tanganku sampai bergetar, saat perempuan ini menangkis seranganku. Tetapi aku tidak bisa mengukur tingkat energinya," kata Rekta Aruna dalam hati.
__ADS_1
"Bukan sifat ksatria, tetap melukai orang yang tidak mau melawan !" kata Sekar Ayu Ningrum.
"Jangan ikut campur ! Itu bukan urusanmu anak muda !" bentak Rekta Aruna.
"Aku tidak akan turut campur ! Tetapi kalau ada tindakan semena mena, itu menjadi urusanku !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Jangan salahkan aku, jika hari ini kau pulang tinggal nama !" teriak Rekta Aruna. Kemudian, tanpa berbicara lagi, Rekta Aruna menyabetkan pedangnya yang dia pegang dengan kedua tangan beberapa kali.
Dari setiap sabetan pedangnya, tercipta kilatan cahaya yang langsung melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
"Heeemmm ..... serangan energi berbentuk cahaya ya !" kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.
Segera diputar senjata pedangnya untuk menangkis kilatan cahaya yang melesat membentuk tebasan ke arah beberapa bagian tubuhnya.
Tak ! Tak ! Tak ! Tak !
Melihat serangan energinya rontok saat berbenturan dengan pedang lawannya, Rekta Aruna segera menggerakkan pedang panjangnya beberapa kali dengan lebih cepat lagi.
Kembali terlihat beberapa kilatan cahaya yang melesat lebih cepat dari serangan yang pertama tadi. Tidak hanya itu, tubuh Rekta Aruna pun segera melesat melayang ke arah Sekar Ayu Ningrum dengan kedua tangan menggenggam gagang pedang panjang yang siap diayunkan.
Sambil bergerak maju ke depan, tubuh Sekar Ayu Ningrum meliuk liuk menghindari tiga kilatan cahaya yang mengarah ke tubuhnya. Kemudian dengan sangat cepat, ditotolkan kakinya ke tanah. Tubuhnya sedikit melenting ke atas sambil pedangnya bergerak menangkis satu kilatan cahaya yang tersisa.
Taaannnggg !!!
Sambil menangkis, tubuh Sekar Ayu Ningrum tetap melesat ke depan, memapaki datangnya serangan pedang Rekta Aruna.
Dalam sekejap waktu, terjadi berkali kali benturan kedua pedang di udara hingga menimbulkan suara dentingan keras.
Trang trang trang !!!
Trang trang trang !!!
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_