
Ki Ageng Arisboyo hanya bisa menghela nafas panjang. Sedangkan Sekar Ayu Ningrum hanya terdiam sambil matanya berkaca kaca. Dadanya turun naik menahan tangis. Bukan tangis ketakutan. Namun karena menahan kemarahan yang sepertinya siap meledak kapanpun.
Hal itu terjadi, saat mereka tiba di Padangtritis dan menjumpai tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo porak poranda. Bukan karena bencana alam ataupu ulah hewan buas, namun, oleh tangan orang orang yang tidak bertanggung jawab yang tidak menyukai mereka berdua.
Itu Ki Ageng Arisboyo simpulkan dari kerusakannya dan benda benda yang rusak dan hilang.
"Sudahlah nduk, kita juga tidak tahu siapa perusaknya dan apa tujuannya. Kalau memang mereka ada urusan dengan kita, mereka akan datang lagi," kata Ki Ageng Arisboyo.
"Tetapi sekar tetap akan menyelidiki dengan bertanya pada beberapa penduduk kampung, kek," jawab Sekar.
Setelah membereskan semua kerusakan dan menata kembali tempat tinggal kakeknya, Sekar Ayu Ningrum segera menghilang dari rumah untuk pergi ke tempat beberapa penduduk yang dia kenal. Mereka adalah warga kampung yang sudah kenal baik dengan Sekar Ayu Ningrum apalagi dengan kakeknya, Ki Ageng Arisboyo.
Mereka yang ditanya oleh Sekar Ayu Ningrum semua menjawab, kalau mereka tidak melihat atau tidak mengetahui kejadiannya.
Namun mereka sempat melihat ada orang asing datang dan bertanya pada warga kampung, di mana rumah Ki Ageng Arisboyo.
Orang asing yang datang itu berjumlah lima orang, semuanya menunggang kuda. Satu orang berpakaian seperti seorang pejabat. Sedangkan yang empat orang berpakaian serba hitam.
Sekar Ayu Ningrum segera menceritakan informasi ini pada Ki Ageng Arisboyo.
Mendengar hal itu, Ki ageng Arisboyo pikirannya menerawang, teringat kejadian saat dirinya sendirian di rumah sementara Sekar Ayu Ningrum saat itu sedang melakukan perjalanan bersama Lintang Rahina.
Pada hari itu, Ki Ageng Arisboyo kedatangan tamu, seorang laki laki muda dan dua orang yang sudah berusia tujuh puluhan tahun.
Laki laki muda itu bernama Menak Manila, keturunan trah Majapahit yang menguasai daerah ujung timur Pulau Jawa Dwipa.
Mereka datang ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo, bertujuan meminta Ki Ageng Arisboyo bersedia membantunya menyatukan sisa sisa prajurit Majapahit terutama para senopatinya, yang sudah tercerai berai karena hancurnya kerajaan Majapahit. Saat itu sebagian dari sisa sisa kerajaan Majapahit lari ke ujung timur Pulau Jawa Dwipa.
__ADS_1
Menak Manila tahu, Ki Ageng Arisboyo adalah salah satu prajurit Majapahit yang terkenal kehebatannya sehingga bisa salah satu senopati Majapahit yang disegani.
Selain itu, Menak Manila juga berniat mengikat Ki Ageng Arisboyo dengan tali keluarga, yaitu menjadikan cucunya Ki Ageng Arisboyo menjadi istrinya.
Saat itu Ki Ageng Arisboyo secara halus dan tersirat, menolak ajakan untuk membantu mereka dengan alasan sudah tidak mau lagi berurusan dengan kerajaan. Dan untuk urusan perjodohan, Ki Ageng Arisboyo berkata belum bisa menjawab karena semua terserah pada cucunya yang akan menjalaninya.
Menak Manila saat itu menjawab bahwa dia akan menunggu jawaban cucu Ki Ageng Arisboyo dan akan datang lagi beberapa pekan kemudian.
Setelah beberapa pekan, mereka kembali lagi datang, saat itu datang lima orang, yaitu Menak Manila dikawal empat orang berpakaian hitam hitam.
Saat mereka berlima kembali datang mereka tidam menemui siapapun, tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo kosong.
Karena menganggap Ki Ageng ArIsboyo menolak ajakannya dan tidak mau menemuinya, Menak Manila murka dan mengamuk menghancurkan semua isi rumah Ki Ageng Arisboyo.
Ki Ageng Arisboyo menyadari, mereka tidak akan menyerah begitu saja. Pasti suatu saat mereka akan datang kembali.
Setelah menceritakan semuanya, Ki Ageng Arisboyo menyuruh Sekar Ayu Ningrum untuk menyusul Lintang Rahina dan mengajaknya ke Parangtritis.
"Kakek bukannya takut. Tetapi jika mereka datang dengan membawa kekuatannya, selama kita belum bisa mendapatkan bantuan, paling tidak kamu selamat," lanjut Ki Ageng Arisboyo.
"Baiklah kakek, Sekar akan segera menyusul kakang Lintang dan memintanya untuk datangke sini," jawab Sekar Ayu Ningrum.
----- o -----
Sementara itu, Lintang Rahina dan Ki Penahun, setelah berpisah dengan Sekar Ayu Ningrum dan Ki Ageng Arisboyo, melakukan perjalanan dengan sedikit lambat. Karena mereka sambil memantau keadaan sekitar wilayah menuju Merbabu.
Ketika mereka berdua sampai di tepi hutan di bagian tenggara lereng Merbabu, Mereka dikejutkan dengan kedatangan Sekar Ayu Ningrum yang menyusul mereka.
__ADS_1
Maka mereka pun berhenti di Desa Paminggir, desa terakhir sebelum memasuki hutan Penahun, untuk beristirahat sebelum mereka memasuki hutan menuju tempat tinggal Ki Penahun.
Pada kesempatan itu, Sekar Ayu Ningrum menyampaikan dan menceritakan apa yang menjadi pesan kakeknya.
Mendengar cerita itu, Ki Penahun sedikit terkejut. Yang menjadi perhatian dari Ki Penahun bukan Menak Manila, tetapi keempat orang berpakaian hitam hitam yang menyertainya.
"Kalau memang yang membantu Menak Manila tokoh tokoh itu, cukup berat permasalahan yang dihadapi oleh Ki Ageng Arisboyo dan Sekar," kata Ki Penahun dalam hati.
Untuk itu Ki Penahun segera mengajak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memasuki hutan agar segera sampai di tempat tinggalnya dan bisa segera bersiap menuju Parangtritis.
Pada pagi harinya, setelah mereka bertiga tiba di kediaman Ki Penahun kemaren hari, mereka bersiap untuk berangkat ke Parangtritis.
Tetapi, tiba tiba mereka bertiga merasakan adanya getaran energi yang sangat besar yang sedang mengarah ke tempat mereka.
Beberapa saat kemudian, dari langit arah timur, melesat cepat sesosok tubuh. Ki Penahun dan Lintang Ragina pun terkejut ketika merasakan dan mengenali energi ini.
Sesaat kemudian, di depan mereka mendarat sesosok kakek tua yang sambil tertawa berkata, "He he he he ... tulang tua ini ternyata masih sanggup menopang tubuh ini."
"Guru, mengapa guru ke tempat eyang san tidak istirahat dulu ?" tanya Lintang Rahina yang mengkhawatirkan keadaan Ki Pradah gurunya yang menyusul ke Merbabu.
"He he he he .... ngger Lintang, apa masih memerlukan istirahat berlama lama setelah kau sembuhkan dan mendapat energi darimu ?" jawab Ki Pradah, " Coba kamu tanya eyangmu !"
Ki Penahun hanya tersenyum dan mengajak Ki Pradah untuk duduk di ruang tengah.
Memang sesuai dengan sifat energi dari tehnik 'Nafas Raja' yang salah satunya menyembuhkan, kalau energi Lintang Rahina ditransferkan ke orang lain, orang yang menerimanya bisa mengalami peningkatan tingkat energi. Hal ini karena energi yang diperoleh dari tehnik 'Nafas Raja' sangat murni dan sangat tinggi tingkatnya.
Begitu Ki Pradah duduk di depan Ki Penahun, Ki Pradah langsung bersikap serius.
__ADS_1
"Ki Penahun, selagi kita berada di sini, kita sekalian ke Merapi. Kita kubur benang jiwa iblis itu ke kawah Merapi !" kata Ki Pradah yang berhasil membuat Ki Penahun terkejut.
__________ 0 __________