
Arga Manika seperti tidak percaya dirinya masih selamat. Sesaat dia terdiam. Matanya melihat ke bawah saat ada sesuatu yang terjatuh dan menggeliding. Begitu tahu benda itu adalah potongan tangan, reflek Arga Manika melihat ke arah lengan kanannya. Melihat lengan kanannya putus pada langkal lengan, Arga Manika berteriak melengking.
"Haaaaa !!! Tunggu pembalasanku !!!" teriak Arga Manika sambil melesat pergi dengan membawa potongan tangannya.
Lintang Rahina tidak mengejarnya. Dia memang membiarkan Arga Manika pergi. Lintang Rahina berharap, Arga Manika bisa memperbaiki diri dalam usianya yang masih muda.
Lintang Rahina segera mendekat ke tempat pertemuan. Tampak di seluruh sudut tempat itu rusak berantakan. Banyak sekali orang orang yang terluka, yang kebanyakan para tamu undangan.
Pertarungan baru saja selesai. Hanya menyisakan puing puing dan luka serta penderitaan.
Prabu Wisa baru saja pergi melarikan diri.
Pertarungannya dengan Nyai Cumbu Manik membuat keduanya sama sama mengalami luka dalam.
Terlihat Nyai Cumbu Manik sedang duduk ditopang oleh kedua muridnya, Gendis dan Mayang, sedang berusaha menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengusir racun dari serangan Prabu Wisa tadi. Sementara Prabu Wisa pergi dengan membawa banyak luka luka di tubuhnya hasil dari pertarungannya dengan Nyai Cumbu Manik.
Nyai Cumbu Manik dikabarkan dulunya adalah seorang penari keraton. Dia adalah penari kesayangan keluarga keraton dan menjadi primadona di antara para penari lainnya.
Menjadi isu di kalangan keraton, kalau sebenarnya Nyai Cumbu Manik bukan sekedar penari keraton. Dikabarkkan, Nyai Cumbu Manik dan beberapa penari lainnya adalah prajurit prajurit sandi yang mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Di kalangan istana tidak ada yang tahu siapa guru ilmu kanuragan Nyai Cumbu Manik dan beberapa temannya, hanya raja dan keluarga raja yang mengetahuinya.
Tetapi lagi lagi isunya, yang menjadi guru dari Nyai Cumbu Manik dan beberapa temannya adalah juga wanita mantan seorang penari yang sangat sakti yang berasal dari kerajaan Tiongkok yang ahli dalam ilmu silat dengan senjata selendang. Semakin banyak selendang yang digunakan menandakan semakin tinggi tingkat ilmu dan energinya. Guru dari Nyai Cumbu Manik dikabarkan memakai selendang warna warni berjumlah delapan. Sedangkan Nyai Cumbu Manik saat ini menggunakan tujuh selendang warna warni. Murid Nyai Cumbu Manik, yaitu Gendis dan Mayang baru menggunakan lima selendang sebagai senjatanya.
Senjata selendang yang dikendalikan dengan energi itu bisa mengeras dan setajam pedang. Bisa juga menjadi lentur dan kuat seperti cemeti.
Maka dari itu, saat pertarungan tadi, walaupun Nyai Cumbu Manik terluka terkena pukulan beracun dari Prabu Wisa, tetapi Prabu Wisa juga mendapatkan luka luka yang tidak ringan, yang membuat Prabu Wisa harus meninggalkan pertarungan, saat Biksu Wisnu Gatti datang hendak membantu Nyai Cumbu Manik yang terlihat mulai terdesak karena mulai terkena efek racun saat hendak melindungi tamu tamu undangan di sekitarnya yang terancam oleh racun Prabu Wisa.
__ADS_1
Di pihak yang duduk di deretan tamu yang duduk di sebelah kiri, yang ikut bertarung, tinggal Dayu Diyu yang berada di tempat itu. Dayu Diyu dalam pertarungan itu berhasil dikalahkan oleh Nyi Rikmo Ore dan Ki Jangkung. Dayu Diyu yang terluka parah sekarang sedang duduk bersila di tanah dengan mengalirkan tenaga dalamnya untuk mengobati luka lukanya.
Lintang Rahina mendekati Nyai Cumbu Manik untuk membantu mengobati luka dalamnya. Dengan menyalurkan energinya melalui telapak tangan yang ditempelkan si punggung Nyai Cumbu Manik, perlahan lahan Lintang Rahina menngeluarkan racun pada luka Nyai Cumbu Manik.
Tampak asap yang keluar dari luka bekas pukulan Prabu Wisa yang menghitam. Setelah asap yang keluar itu habis dan berganti menjadi pendaran sinar tipis berwarna kuning keemasan dan luka bekas terkena pukulan berubah menjadi merah tipis, Lintang menghentikan penyaluran energinya.
Kemudian Lintang Rahina berganti membantu Dayu Diyu, Biksu Wisnu Gatti, Ki Penahun.
Yang terakhir, dengan tubuh melayang dengan jarak sekitar satu meter dari tanah, Lintang Rahina kembali mengeluarkan energinya. Yang awalnya hanya menyelimuti tubuhnya, pendaran sinar kuning keemasan dari tubuh Lintang Rahina, kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh tempat pertemuan dan sekitarnya, untuk menghilangkan hawa beracun yang masih tersisa yang mungkin saja bisa membahayakan para tamu undangan.
Selain itu, pendaran sinar kuning keemasan yang juga keluar dari kedua telapak tangan Lintang Rahina, mampu menyembuhkan para tamu undangan yang terkena akibat dari racun Prabu Wisa yang tadinya memenuhi tempat pertemuan dan sekitarnya.
Setelah semuanya memungkinkan, Ki Dipa Menggala mengatakan kepada para tamu undangan bahwa, pertemuan itu memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana untuk membangkitkan kembali kerajaan Majapahit.
Akhirnya para tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat itu. Bagi mereka para pendekar, keputusan yang diambil dari hasil mengadu kekuatan, lebih mereka hormati dan mereka akui hasil keputusannya.
Setelah semua tamu undangan meninggalkan tempat pertemuan, kecuali beberapa yang masih terluka, Lintang Rahina berencana menemui Sekar Ayu Ningrum yang saat itu sedang berbincang bincang dengan kedua gurunya, Nyi Rikmo Ore dan Ki Jangkung dan kakeknya Ki Ageng Arisboyo.
Saat itu Ki Ageng Arisboyo sedang menjelaskan tentang kenapa selama pertemuan dia tidak bersikap dan mengambil tindakan apa apa. Karena saat itu Ki Ageng Arisboyo datang mewakili Panembahan Senopati sehingga mengharuskan bersikap netral.
Pada kesempatan itu Lintang Rahina menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menjaga Sekar Ayu Ningrum.
Tiba tiba terdengar suara menanggil manggil nama Lintang Rahina.
"Kakang Lintang, kakang Lintang, tolong periksa keadaan Nyai guru," kata Gendis dan Mayang yang mencari Lintang Rahina.
Lintang Rahina baru hendak keluar dari ruangan Ki Ageng Arisboyo ketika tiba tiba Gendis dan Mayang menghampiri Lintang Rahina dan menarik kedua tangan Lintang Rahina.
__ADS_1
"Ayo kakang Lintang, tolong Nyai guru. Nyai guru muntah muntah," kata Gendis sambil menarik tangan Lintang Rahina.
"Heiii siapa kalian ! Orang tidak punya sopan santun !" bentak Sekar Ayu Ningrum melihat ada dua orang gadis menarik narik kedua tangan Lintang Rahina.
"Maaf, kami hendak minta tolong kakang Lintang," jawab Mayang.
"Ki Ageng, adik Sekar, maaf ada yang harus saya kerjakan, saya permisi dulu," kata Lintang Rahina yang kedua tangannya masih dipegangi oleh Gendis dan Mayang.
Lintang Rahina segera menuju tempat Nyai Cumbu Manik berada.
Ki Ageng Arisboyo sambil tersenyum menyilahkan Lintang Rahina sementara di sampingnya, Sekar Ayu Ningrum menahan marah sampai kedua pipinya memerah.
Sementara Lintang Rahina langsung menyalurkan kembali energinya setelah melihat Nyai Cumbu Manik memuntahkan segumpal darah yang menghitam.
Terlihat uap tipis mengepul dari seluruh permukaan kulit Nyai Cumbu Manik. Wajah Nyai Cumbu Manik yang awalnya putih pucat perlahan berubah menjadi merah. Kemudian Nyai Cumbu Manik memuntahkan lagi beberapa kali hingga akhirnya Nyai Cumbu Manik memuntahkan darah segar. Barulah Lintang Rahina menghentikan penyaluran energinya.
___0___
Kepada para pembaca yang selalu setia menunggu, author mohon maaf yang sebesar besarnya jika dalam beberapa periode ini author tidak membalas koment dari para reader. Tetapi author tetap menyempatkan diri untuk membaca setiap koment dari panjenengan semua.
Apapun bentuk koment itu, baik yang lucu, yang memberi semangat pada author, yang mengkritik isi dan jalan cerita dan yang memberi saran pada author, jujur, author sangat bahagia dengan segala koment itu. Karena menjadi penyemangat bagi author.
Author ucapkan terima kasih atas segala bentuk dukungan dari reader semua, baik yang berupa like, koment dan pointnya.
Semoga para reader tidak bosan dalam memberi semangat pada author seperti halnya author yang tidak pernah bosan membaca setiap koment para reader semua.
Semoga semuanya tetap semangat, tetap berbahagia dan selalu sehat.
__ADS_1
---