Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menghadapi Sunu Magani


__ADS_3

Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita menggerakkan pedang mereka untuk menghadang dan membabat kelelawar kelelawar yang datang menyerang mereka.


Ciettt ! Ciettt ! Ciettt !


Crasss ! Crasss ! Crasss ! Crasss !


Kembali kedua gadis cantik itu menghabisi kelelawar kelelawar yang mendekat dengan sekali sabetan pedang. Sehingga sebentar saja sudah banyak kelelawar yang berhasil mereka bunuh.


Diam diam mereka berdua meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuh mereka. Karena mereka merasakan, kelelawar kelelawar yang mereka berdua hadapi kali ini, mempunyai kekuatan dan kecepatan yang lebih, dibanding kelompok kelelawar yang menyerang mereka sebelumnya.


Tiba tiba mereka berdua merasakan datangnya gelombang angin yang besar.


Wusss !!!


Dengan cepat kedua gadis cantik itu menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya dan membuat gerakan pedang menyilang disambung dorongan telapak tangan kiri ke depan.


Srattt ! Srattt !


Serangan energi angin yang besar itu terpecah dan menyebar ke kiri kanan dan atas.


Melihat serangan jarak jauhnya belum berhasil, Sunu Magani segera melenting ke atas dengan cepat dan dalam satu gebrakan saja sudah menghujani Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita dengan tendangan beruntun.


Mereka berdua memiringkan tubuh dan kepala mereka sedikit untuk menghindari beberapa tendangan dan begitu melihat ada peluang, menyusulinya dengan serangan pukulan tapak mereka.


Plakkk ! Plakkk !


Terdengar suara nyaring saat terjadi dua kali benturan energi.


Sunu Magani yang dalam posisi melayang, dalam dua benturan yang hampir bersamaa itu, terdorong mundur beberapa langkah.


Sedangkan Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita terdorong mundur masing masing selangkah ke belakang.


Tidak menunggu lama, Sunu Magani melesat lagi ke arah kedua gadis cantik itu. Kemudian terjadi saling serang dan saling beradu pukulan energi.


Sunu Magani sebenarnya tidak menyangka, kedua gadis lawannya itu mampu mengimbangi serangannya, terutama Sekar Ayu Ningrum yang dulu pernah mengalahkannya dan dia tahu, dulu tingkat energi Sekar Ayu Ningrum belum setinggi sekarang ini.

__ADS_1


Demikian juga Sekar Ayu Ningrum, dia diam diam terkejut melihat kemampuan lawannya sekarang ini. Dulu saat dia kalahkan, Sunu Magani belum setinggi ini tingkat energinya.


Sampai suatu saat pedang kedua gadis itu secara bersamaan ditangkis dengan kedua lengan Sunu Magani, karena sudah tidak ada waktu untuk menghindar.


Srattt ! Srattt !


Dukkk !!!


Pedang kedua gadis itu hanya berhasil menggores lengan Sunu Magani antara pergelangan sampai siku. Disusul pukulan kiri kedua gadis itu berbenturan dengan kedua kepalan tangan Sunu Magani.


Sreeeettt !!!


Dalam dua benturan kepalan tangan yang bersamaan itu, Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita terhuyung ke belakang dua langkah. Sedangkan Sunu Magani terdorong ke belakang hingga lima meter. Darah terlihat merembes keluar dari kedua lengannya.


Sambil sedikit tertawa, Sunu Magani melihat ke kedua lengannya yang terluka.


"Ha ha ha ha .... lumayan juga," kata Sunu sambil menjilat darah yang mengalir dari kedua lengannya itu.


Kemudian Sunu Magani membentangkan kedua lengannya. Seketika segerombolan kelelawar melesat turun dan hinggap pada kedua lengannya yang terluka hingga hingga ke badannya.


"Ha ha ha ha ......."


"Ha ha ha ha ha ....... "


Sunu Magani tertawa keras sambil mengangkat kedua tangannya. Sesaat kemudian segerombolan kelelawar menyusul turun dan hinggap pada kedua lengannya bahkan sampai pada seluruh tubuh dan kepalanya hanya menyisakan muka.


Tiba tiba tubuh Sunu Magani melesat cepat ke arah Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita, sambi lmelancarkan serangan pukulan dan tendangan.


Setiap pukulan dan tendangan Sunu Magani menjadi bertambah panjang daya jangkaunya karena di setiap lontaran pukulan dan tendangannya melesat juga sekelompok kelelawar yang bergulung, yang bila telah sampai ke sasaran, kena ataupun tidak, kelelawar yang bergulung itu dengan cepat kembali ke lengan Sunu Magani seperti ada yang menariknya.


Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita menghindari datangnya pukulan ataupun tendangan Sunu Magani dengan melompat ke kiri ataupun ke kanan. Sehingga pukulan ataupun tendangan Sunu Magani yang seperti melontarkan kelelawar yang menggulung, mengenai tanah di sekitar pertempuran hingga menimbulkan kepulan debu.


Bummm ! Bummm !


Bummm ! Bummm !

__ADS_1


Setelah menghindari serangan Sunu Magani beberapa kali, Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita mencoba menghadapi serangan pukulan Sunu Magani dengan pukulan energi juga.


Blarrr ! Blarrr !


Kelelawar kelelawar yang menggulung itu hancur lebur berbenturan dengan pukulan energi dari Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita.


Dalam benturan pukulan energi itu, kembali Sunu Magani terdorong mundur dua langkah, sedangkan Sekar Ayu Ningrum terdorong ke belakang lima langkah.


Tiba tiba terdengar ledakan yang cukup keras.


Blarrr !!!


Ledakan itu berasal dari tubuh Sekar Ayu Ningrum. Terlihat Sekar Ayu Ningrum menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya. Pendaran sinar putih transparan tampak menyelimuti seluruh tubuhnya. Pendaran sinar putih itu semakin membesar hingga kemudian membentuk wujud harimau berwarna putih transparan setinggi lima meter.


Sementara Galuh Pramusita sudah menancapkan pedangnya ke tanah hingga hanya menyisakan gagangnya. Tangan kanannya yang memegang gagang pedang itu terlihat bergetar. Muncul kesiuran angin yang menimbulkan hawa panas dan berwarna kemerahan di sekitar tubuh Galuh Pramusita.


Bersamaan dengan itu, Sunu Magani kembali merentangkan kedua tangannya ke arah samping sambil mendongakkan kepalanya. Mulutnya mengeluarkan cuitan pelan tetapi menyakitkan telinga.


Tiba tiba ribuan kelelawar yang sedang terbang berputaran di angkasa, terbang menukik ke arah Sunu Magani dan kemudian terbang berputar kencang mengitari Sunu Magani. Terlihat dari punggung Sunu Magani keluar dua buah sayap yang semakin membesar hingga panjang sayap itu mencapai tiga meter. Sehingga bentangan sayap di punggung Sunu Magani mencapai enam meter.


Kemudian sepasang sayap itu mengepak dua kali.


Perlahan tubuh Sunu Magani terangkat ke atas.


Hingga terlihat tubuh Sunu Magani melayang setinggi tiga meter dan dikitari oleh ribuan kelelawar.


Lagi, dari mulut Sunu Magani mengeluarkan bunyi lengkingan yang menyakitkan telinga.


Sesaat kemudian, dari gerombolan kelelawar yang terbang mengitari tubuh Sunu Magani, dari berbagai arah, kelelawar kelelawar itu melesat secara berkelompok menuju ke arah Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita.


Sebentar kemudian Galuh Pramusita yang bilah pedangnya sudah berubah warna menjadi merah menyala dan dari seluruh tubuhnya keluar percikan seperti api berwarna merah juga, sudah bergerak dengan cepat menghindari sambil memutar pedangnya membabat setiap kelelawar yang mengarah ke tubuhnya.


Sedangkan Sekar Ayu Ningrum yng tubuhnya berada di tengah tengah siluet berbentuk harimau dengan pedang di tangan kanan dan tangan kiri melontarkan pukulan energi, berusaha menghalau setiap kelelawar yang akan mendekati tubuhnya.


Selain itu, kepakan sayap Sunu Magani juga menimbulkan angin pukulan keras yang membuat Sekar Ayu Ningrum harus selalu waspada agar kuda kudanya tidak goyah.

__ADS_1


___◇___


__ADS_2