Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Sindunata dan Puruhita


__ADS_3

"Tunggu pembalasan kami !" jawab salah seorang pendekar itu.


Keempat pendekar itu segera pergi ke arah dari mana mereka datang, meninggalkan mantri pasar yang hanya bisa terdiam melihat mereka pergi.


"Ma ... maafkan saya .... " kata mantri pasar dengan gemetar.


Biasanya mantri pasar itu tidak pernah setakut saat ini. Karena sebenarnya dia juga bisa ilmu silat. Karena kemampuannya inilah dia diangkat menjadi mantri pasar.


Beberapa waktu yang lalu, saat dia ditemui oleh empat orang pendekar dari Padepokan Macan Putih tadi, dia sempat menolak permintaan mereka berempat. Karena menolak itulah, dia dihajar oleh keempat pendekar dari Padepokan Macan Putih itu.


Kemudian, pada hari berikutnya, mantri pasar itu melakukan perintah para pendekar dari Padepokan Macan Putih untuk menarik upeti pada para pendagang di pasar itu.


Banyak pedagang yang terpaksa membayar upeti karena takut pada mantri pasar itu. Tetapi ada beberapa pedagang yang menolak untuk membayar upeti dan berani melawan mantri pasar, termasuk pemilik warung daging.


Mantri pasar itu membiarkan beberapa pedagang yang tidak mau membayar upeti. Karena sebenarnya dia juga terpaksa melakukan penarikan upeti. Hingga akhirnya mantri pasar itu terpaksa menunjukkan siapa saja para pedagang yang tidak mau membayar upeti. Karena dia juga dipertanyakan oleh para pendekar dari Padepokan Macan Putih dan diancam akan dibunuh, karena hasil tarikan upeti yang hanya sedikit dan tidak sesuai dengan jumlah pedagang pasar. Hingga akhirnya terjadi peristiwa seperti tadi.


"Tidak apa apa paman. Saya memahami situasi yang kau alami. Ini sudah menjadi tanggung jawab kami," jawab laki laki pemilik warung daging.


Mantri pasar itu terlihat lega karena pemilik warung daging itu tidak menyalahkannya. Dia sebenarnya sudah ketakutan, khawatir kalau pemilik warung daging tidak terima dengan apa yang dilakukannya.


Karena dia yakin dia tidak akan mampu melawan orang yang bisa mengalahkan keempat pendekar dari Padepokan Macan Putih hanya dalam beberapa gebrakan. Karena dia melawan satu pendekar dari Padepokan Macan Putih saja sudah kalah.


Mantri pasar baru saja hendak meninggalkan tempat itu ketika terdengar teriakan.


"Itu, orangnya masih di situ kakang Simo Ranu !" teriak salah seorang pendekar yang tadi dikalahkan oleh pemilik warung daging.


Terlihat ada delapan orang yang datang, termasuk empat pendekar yang tadi dikalahkan oleh pemilik warung daging.


Keempat pendekar yang baru datang itu di pinggangnya juga terselip golok.


"Kisanak, apakah kamu yang tadi sudah berani menghina Padepokan Macan Putih ?" tanya seorang pendekar yang dipanggil kakang Simo Ranu itu.


"Tidak ada yang menghina Padepokan manapun. Aku hanya tidak ingin ada kesewenang wenangan di sini," jawab pemilik warung daging.


"Berani melawan anak muridnya berarti menghina Padepokan Macan Putih !" kata Simo Ranu.


"Terserah apapun yang kau katakan. Aku bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan," kata pemilik warung daging.


"Kamu menyerah atau harus kami tangkap !" kata Simo Ranu sambil menghunus goloknya diikuti ketiga rekannya yang baru datang.

__ADS_1


Sring ! Sring ! Sring ! Sring !


Terdengar suara empat buah golok dicabut dari sarungnya.


Terlihat golok keempat pendekar yang baru datang itu, pada punggung bilahnya mendekati ujung, terdapat lima cincin yang berjajar. Sehingga bila golok itu digerakkan menimbulkan suara gemerincing.


Cincin itu menunjukkan posisi atau tingkatan mereka sebagai murid.


Dengan adanya lima cincin pada golok mereka, menandakan kalau mereka berempat adalah murid utama atau murid tingkat teratas.


Sesaat sebelum mereka berempat menyerang pemilik warung, tiba tiba terdengar suara wanita.


"Kakang Sindunata, siapa mereka itu ?" tanya seorang wanita muda yang keluar dari dalam warung daging.


"Yayi Puruhita, sudah selesai pekerjaanmu ?" pemilik warung daging yang bernama Sindunata ganti bertanya.


"Sudah kakang. Biar 'lalat lalat' ini aku bereskan sekalian," jawab Puruhita.


"Kalian sudah datang ke sini mengganggu ketenteraman kami. Kalau tadi suamiku masih bisa bersabar. Tetapi aku tidak. Kalian sudah berhadapan denganku. Jangan harap kalian bisa keluar dari sini dengan keadaan baik baik !" bentak Puruhita sambil tangan kanannya menuding para pendekar Padepokan Macan Putih di depannya.


"Kami tidak peduli ! Siapapun yang berani dengan anak murid Padepokan Macan Putih, harus menerima hukumannya !" jawab Simo Ranu.


"Semuanya, bunuh mereka berdua !" teriak Simo Ranu memberi aba aba.


Srettt ! Srettt !


Saat para anak murid Padepokan Macan Putih bergerak serentak menyerbu, Puruhita membenturkan kedua punggung pisaunya.


Tinggg !!!


Srettt ! Srettt ! Srettt ! Srettt !


Brukkk !!!


Entah kapan bergeraknya, tiba tiba keempat anak murid Padepokan Macan Putih yang goloknya belum bercincin, semua jatuh terduduk dengan luka luka sayatan di paha, perut dan lengan kanannya.


Darah terlihat mengalir dari luka luka mereka.


Melihat keempat adik seperguruannya terluka semua hanya dalam satu gebrakan, Simo Ranu segera bertindak.

__ADS_1


"Kalian berempat cepat kembali ke padepokan !" perintah Simo Ranu, "biar kami berempat yang mengurus mereka !"


"Baik kakang Simo Ranu," jawab mereka berempat yang segera berlari dengan terpincang dan meringis menahan sakit pada luka lukanya.


Kemudian Simo Ranu memberi aba aba untuk menyerang.


"Bunuh perempuan itu !" teriak Simo Ranu.


Cringgg ! Cringgg ! Cringgg ! Cringgg !


Terdengar suara bergemerincing saat mereka berempat menggerakkan golok mereka.


Sesaat kemudian mereka berempat bergerak menyerang ke arah Puruhita.


Terdengar suara dentingan berkali kali saat golok mereka berbenturan dengan pisau Puruhita.


Sebenarnya mereka berempat berusaha untuk selalu mendahului menyerang. Tetapi, setiap mereka menggerakkan golok mereka untuk menyerang, golok mereka seperti membentur sesuatu yang sangat kuat. Tangan mereka pun selalu tergetar hebat setiap golok mereka berbenturan dengan pisau di kedua tangan Puruhita.


Tiba tiba mereka berempat menggerak gerakkan golok mereka sehingga muncul suara gemerincing dari cincin yang berada di punggung golok mereka. Suara gemerincing yang menyakitkan telinga.


Sindunata dan Puruhita mengalirkan energinya untuk melindungi telinga mereka.


"Yayi, jangan berlaku kejam pada mereka !" kata Sindunata sambil mendekat ke pertarungan sambil memperingatkan Puruhita.


Setelah terjadi berkali kali benturan senjata, Puruhita dan Sindunata menambah kecepatannya.


"Kembalilah ke padepokan kalian ! Dan jangan berani berani kembali ke sini lagi !" bentak Puruhita.


Trang ! Trang ! Trakkk ! Trakkk !


Srettt ! Srettt ! Srettt ! Srettt !


Golok dua murid Padepokan Macan putih yang membentur pisau Puruhita, terlempar dan jatuh agak jauh dari tempat mereka. Sedangkan dua golok yang membentur golok besar Sindunata, patah menjadi dua.


Dan tiba tiba darah mengalir dari lengan kanan mereka.


Sebelum mereka berempat menyadari apa yang menimpa mereka, Puruhita dan Sindunata sudah menyimpan kembali kedua senjatanya.


"Sekarang kalian pergi dari sini ! Jangan pernah mengganggu para pedagang di pasar ini lagi !" bentak Puruhita.

__ADS_1


Tiba tiba terdengar suara bergemerincing yang menyakitkan telinga. Sindunata dan Puruhita segera menyalurkan energinya ke seluruh tubuhnya, terutama ke telinganya untuk menetralisir dampak dari suara gemerincing yang ternyata serangan energi lewat getaran suara gemerincing.


___◇___


__ADS_2