
Pagi hari berikutnya, Lintang Rahina sudah selesai bersiap siap. Dia tinggal menunggu Sekar Ayu Ningrum yang katanya mau ikut melakukan perjalanan menemani Lintang Rahina. Sudah hampir dua jam menunggu, Sekar Ayu Ningrum belum keluar dari kamarnya.
Ki Ageng Arisboyo yang ikut menunggu di teras, mulai merasakan keanehan. Tidak seperti biasanya. Sekar Ayu Ningrum tidak pernah makan waktu selama ini saat melakukan persiapan untuk pergi.
Karena curiga, akhirnya Ki Ageng Arisboyo mencoba mengetuk pintu kamar Sekar Ayu Ningrum.
Tok tok tok tok !
"Nduk Sekar, kamu belum selesai bersiap ?" tanya Ki Ageng Arisboyo dari depan pintu kamar.
Sampai tiga kali Ki Ageng Arisboyo mengetuk pintu kamar. Kemudian Ki Ageng Arisboyo mencoba mendorong sedikit pintu itu.
Krieeettt !
Ternyata bisa terbuka. Ki Ageng segera menengok ke dalam. Tidak didapatinya Sekar Ayu Ningrum di dalam kamar.
Ki Ageng Arisboyo kembali menemui Lintang Rahina yang menunggunya di luar pintu.
Kemudian mereka berdua mencoba mencari di luar rumah bahkan sampai agak jauh dari rumah. Tetapi Sekar Ayu Ningrum seperti menghilang. Bahkan saat Lintang Rahina mencoba untuk merasakan getaran energinya pun tidak bisa dirasakan. Apalagi dengan tingkat energi yang dimiliki Lintang Rahina sekarang ini. Tidak bisa dipakai untuk merasakan energi dengan jarak yang cukup jauh.
Ki Ageng Arisboyo yang paham akan watak Sekar Ayu Ningrum cucunya, memperkirakan cucunya itu marah.
Tetapi hal apa yang membuatnya marah, Ki Ageng Arisboyo kesulitan untuk memperkirakannya.
"Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Lintang tentang perjodohan ya ?" kata Ki Ageng Arisboyo dalam hati, "apa dia tidak mau dijodohkan dengan Lintang, kemudian marah dan pergi ?"
"Hehhh .... " Ki Ageng Arisboyo menghela nafas panjang.
Setelah mereka berdua mencari cari Sekar Ayu Ningrum tidak ketemu, akhirnya mereka kembali ke rumah.
__ADS_1
Lintang Rahina pun segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
"Ngger Lintang, kudoakan tujuanmu bisa segera tercapai. Kalau dalam perjalananmu kamu bisa bertemu dengan Sekar, tolong kamu sampaikan permintaan maafku pada Sekar, dan tolong sampaikan, eyang tidak akan memaksa," pesan Ki Ageng Arisboyo pada Lintang Rahina.
Akhirnya Lintang Rahina melanjutkan perjalanan. Dia berencana akan secepatnya pergi ke arah timur. Karena berdasarkan pesan yang dia terima, dia harus pergi ke arah matahari terbit.
Tetapi sebelumnya, Lintang Rahina menyempatkan diri pergi ke pesisir pantai. Siapa tahu Sekar Ayu Ningrum pergi ke sana. Karena tadi dia belum sempat mencari ke sekitar pantai Parangtritis.
Setibanya di tebing yang menghadap ke arah pantai, Lintang Rahina mengedarkan pandangannya ke seluruh kawasan pantai. Kemudian Lintang Rahina mencoba melesat turun ke bibir pantai. Tetapi tidak dia jumpai Sekar Ayu Ningrum di sana. Bahkan Lintang Rahina tidak bisa merasakan keberadaan energinya.
Untuk beberapa saat Lintang Rahina berdiri tepat di bibir pantai. Sesekali kakinya terjilat ombak yang berbuih.
Beberapa kali dia menghirup nafas panjang panjang, seolah ingin menikmati kesegaran udara pantai di pagi menjelang siang ini.
Kemudian pandangannya terhenti di cerukan yang dikelilingi tebing, tempat dia bertemu pertama kali dengan Sekar Ayu Ningrum. Bibirnya bergerak gerak entah mengatakan apa.
Pikiran Lintang Rahina seperti diingatkan saat membetulkan buntalan bekalnya, tangannya menyentuh senjata trisula yang dia bungkus dengan kain dan dia masukkan ke dalam buntalan.
Lintang Rahina menarik nafas panjang sekali. Kemudian dia melesat ke arah timur. Sebentar saja tubuhnya semakin terlihat kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan.
"Pemuda bodoh !" terdengar suara seorang gadis yang kata katanya memaki tetapi nada suaranya nada orang menahan tangis.
Terlihat Sekar Ayu Ningrum keluar dari cerukan yang dikelilingi tebing tempat biasanya dia berlatih.
Sekar Ayu Ningrum berlari kecil ke arah pantai. Pandangan matanya ke arah timur tempat Lintang Rahina menghilang.
"Bodoh ! Bodoh ! Bodoh !" teriak Sekar Ayu Ningrum sambil kaki kanannya menendang nendang pasir pantai.
Tiba tiba Sekar Ayu Ningrum menghentikan gerakannya.
__ADS_1
Dia teringat cerita Lintang Rahina yang akan pergi ke arah matahari terbit, mencari tempat tertinggi di pulau ini.
Segera saja Sekar Ayu Ningrum melesat ke arah Lintang Rahina tadi pergi. Dalam hatinya, dia mencemaskan keselamatan Lintang Rahina. Maka Sekar Ayu Ningrum berniat diam diam mengikuti kemanapun Lintang Rahina pergi.
Sama halnya dengan tlatah Jawa Dwipa bagian tengah, tlatah wetan pulau Jawa Dwipa juga masih banyak tempat yang dihuni oleh siluman. Di tlatah wetan juga banyak pendekar pendekar dengan tingkat ilmu silat dan energi yang tinggi. Bahkan diam diam banyak tokoh tokoh dunia persilatan mendiami tempat tempat tertentu yang sepi seperti halnya di puncak gunung, di tengah hutan belantara ataupun di tempat tempat lain untuk bertapa ataupun untuk 'mesu raga' mengasingkan diri menjauhi keramaian dunia untuk lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Ada juga yang mempunyai tujuan untuk berlatih dan meningkatkan ilmu mereka. Karena di tempat tempat yang terpencil dan belum tersentuh oleh manusia masih tersedia banyak sekali sumber daya yang bisa digunakan untuk membantu meningkatkan energi dan tehnik ilmu beladiri.
Akhir akhir ini banyak terjadi fenomena yang lain dari biasanya. Di daerah daerah tertentu, banyak terdengar kabar ada orang dengan kesaktian yang tinggi yang tiba tiba muncul di dunia persilatan. Entah itu tokoh dunia persilatan lama ataupun orang yang benar benar baru. Baik itu dari golongan putih ataupun dari golongan hitam. Tetapi celakanya, dari berita berita yang tersebar, lebih banyak yang berasal dari golongan hitam. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya berita tentang tindak kejahatan.
Hal ini terjadi bukan karena suatu kebetulan. Tetapi ada benang merahnya dengan keadaan pemerintahan atau situasi kerajaan.
Sepeninggal Sultan Hadiwijoyo sekitar tahun 1582, terjadi perbutan kekuasaan di Pajang antara Pangeran Benawa anak dan pewaris tahta Sultan Hadiwijaya dengan Arya Pangiri menantu Sultan Hadiwijaya. Akibat perang saudara berebut tahta itu, rakyat kurang mendapatkan perhatian.
Kurangnya perhatian dari pemerintah kerajaan pada rakyatnya, dimanfaatkan oleh para penjahat ataupun pendekar pendekar gokongan hitam untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan mereka.
Dan lagi lagi, kalau berhubungan dengan kondisi keamanan dan urusan harta, yang paling dirugikan adalah rakyat.
Pada tahun 1583, menantu Sultan Hadiwijaya yang saat itu sebagai Adipati di Kadipaten Demak berhasil menggulingkan dan merebut kekuasaan dari Pangeran Benawa.
Saat itu Mataram yang menjadi kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, sudah beniat hendak memisahkan diri dari pengaruh Kesultanan Pajang.
Apalagi di tahun 1584 saat Panembahan Senopati menjadi Adipati Mataram menggantikan ayahnya yang telah wafat, keinginan Mataram untuk berdiri menjadi negara sendiri lepas dari Kesultanan Pajang semakin kuat.
___◇___
Penulis mengucapkan terimakasih pada kak 'Kahiyang Parameswari' atas saran dan usulannya.
Pada chapter ini penulis merubah sedikit alur cerita untuk memasukkan lebih jelas lagi latar cerita. Tetapi bagaimanapun ini cerita fiksi.
__ADS_1
Adalah kesalahan mohon penulis dimaafkan. Ada kekeliruan menukil sejarah, mohon diluruskan.
Semoga para pembaca tercinta bisa menikmati cerita ini.