
Pagi hari berikutnya, mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Medan perjalanan yang mulai menanjak membuat mereka lebih sering menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Tidak sambil seperempat hari, mereka telah sampai di punggung gunung. Kira kira sudah hampir setengah perjalanan.
Ketika sampai di jalan setapak yang lurus dan cukup menanjak, di depan mereka terlihat seorang nenek nenek yang berjalan ke arah atas dengan tertatih tatih.
Seketika Sindunata mengajak berbelok dan kemudian mengambil jalur lain.
Lintang Rahina yang heran dengan sikap mereka, ingin bertanya, tetapi Sindunata dan Puruhita diam saja, sehingga tidak enak memaksakan bertanya.
Beberapa saat kemudian, di jalur yang mereka lewati, di depan mereka agak jauh, terlihat lagi seorang nenek yang juga berjalan naik ke atas dengan tertatih tatih.
Kemudian Sindunata kembali mengajak Lintang Rahina mengambil jalur lain.
Kali ini Lintang Rahina bertanya, "kenapa kita pindah pindah jalur jalan, kakang ? Bukankah kita bisa menempuh jalur biasa tadi, sekalian menolong nenek itu ?" tanya Lintang Rahina.
"Adi Lintang, apa kamu tidak melihat ada yang aneh ? Mungkinkah ada nenek yang sudah renta berjalan sendiri ke arah puncak gunung ?" kata Puruhita.
"Lantas, nenek itu siapa mbakyu ?" tanya Lintang Rahina penasaran.
"Kemungkinan dia salah seorang dari sekelompok tokoh tua yang tertarik dengan akan turunnya pusaka di Puncak Mahameru ini," kata Puruhita lagi.
Ketika mereka bertiga sampai di punggung bukit yang cukup datar dan gundul tidak ada pepohonan besar yang tumbuh, di depan mereka agak jauh ada dua orang kakek tua yang duduk di tengah jalan. Kedua kakek itu duduk bersila berhadapan, raut mukanya serius karena nampaknya mereka sedang bertanding catur.
Sindunata mengajak berhenti dulu agak jauh dari kedua kakek itu.
Mereka bertiga belum sempat memutuskan hendak bagaimana, ketika terdengar suara orang tua.
"Kalau hendak lewat, lewat saja anak muda. Biar tidak banyak beban, tinggalkan di sini saja buntalan di punggungmu itu," kata salah seorang kakek tua yang tangan kirinya memegang kipas yang setengah terbuka.
"Kita membali turun sedikit dan naik dari sisi yang lain," bisik Sindunata pada Lintang Rahina.
Baru saja mereka bertiga membalikkan tubuh, terdengar lagi suara kakek tua.
"Bukankah kalian ingin naik ke puncak ?" tanya kakek tua itu lagi.
__ADS_1
"Maaf kalau kami mengganggu kenyamanan kakek berdua. Kami lewat jalur lain saja," jawab Sindunata.
"Mari aku antar naik ke puncak, anak muda," kata kakek yang memegang papan catur.
Tiba tiba salah seorang dari kakek tua itu sudah berdiri di samping Lintang Rahina.
"Sini aku bawakan buntalan bekalmu anak muda !" sahut kakek yang memegang kipas.
Untung saja Lintang Rahina segera menghindar dengan melompat ke belakang.
"Heh he he he ..... anak anak muda jaman sekarang memang tidak bisa disepelekan," kata kakek yang memegang kipas.
"Heiii .... pada anak muda jangan kasar kasar begitu ! Sini anak muda, kakek bawakan bekalmu !" kata kakek yang membawa papan catur sambil tangannya meraih buntalan yang dibawa Lintang Rahina.
Kembali Lintang Rahina melompat menghindari tangan kakek itu.
Tiba tiba terdengar suara wanita tua yang entah kapan datangnya tiba tiba sudah berjalan ke arah mereka.
"Hih hi hi hi .... kebiasaan kakek kakek tidak punya adat. Resi Aksa Bagawanta dan Resi Jalada Mawa, sejaj duku kalian selalu mengganggu orang lewat," kata nenek tua yang baru datang itu.
"Heiii ... kita orang orang tua jangan selalu berebut. Mari kita berlomba saja, siapa yang bisa melayani anak muda itu dengan mengantarkannya ke atas," kata Resi Jalada Mawa.
Tiba tiba Resi Jalada Mawa sudah berdiri di depan Lintang Rahina. Dengan papan catur yang sudah terselempang di punggungnya, kedua tangannya dengan cepat melakukan gerakan untuk meraih buntalan yang Lintang Rahina bawa.
Lintang Rahina menghindar dengan melompat agak jauh.
Resi Jalada Mawa yang meneruskan gerakannya dengan kaki kirinya yang mengait, tiba tiba sudah dihadang oleh Puruhita yang menyerang paha kiri Resi Jalada Mawa dengan tusukan dua jari.
Bersamaan dengan itu, Resi Aksa Bagawanta kembali melesat ke arah Lintang Rahina. Tangan kanannya kembali berusaha meraih buntalan yang dibawa Lintang Rahina.
Tetapi dengan cepat Sindunata menghadang gerakan Resi Aksa Bagawanta dengan menangkis gerakan tangannya.
Seperti tidak mau kalah, Nyi Mahiya Keswari ikut ambil bagian. Dengan melompat, tubuhnya melayang ke arah Lintang Rahina. Tongkatnya bergerak hendak mencukil buntalan di punggung Lintang Rahina.
Dengan cepat Lintang Rahina memindahkan buntalannya ke punggung kiri, kemudian tangan kanannya memapaki datangnya serangan tongkat dengan pukulan energi dari arah samping.
__ADS_1
Dalam waktu yang singkat, terjadilah tiga pertarungan di tanah datar di punggung gunung itu.
Setelah terjadi pertukaran jurus beberapa kali, Sindunata berpikir, kalau pertarungan ini diteruskan, pihaknya yang akan sangat dirugikan. Karena tiga orang tua itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.
Untuk mengimbangi tiga kakek nenek itu saja akan menguras banyak energi. Sangat berat bila ingin terlepas dari mereka.
Dengan pertimbangan itu, Sindunata berkata pada Lintang Rahina.
"Adi Lintang, cepat kamu lanjutkan perjalanan. Biar kami yang menahan mereka. Kamu harus berhasil sampai puncak !" teriak Sindunata.
"Tidak kakang ! Aku tidak mungkin meninggalkan kakang dan mbakyu celaka !" jawab Lintang Rahina sambil terus melompat menghindari serangan Nyi Mahiya Keswari.
"Jangan bertindak bodoh adi Lintang ! Cepat kamu pergi ! Kamu harus selamat untuk.menyelesaikan tugasmu !" teriak Sindunata lagi.
Dalam keadaan ragu ragu, Lintang Rahina hampir saja terkena sodokan tongkat Nyi Mahiya Keswari. Untung saja Sindunata segera melesat sambil mencabut kedua goloknya untuk menangkis datangnya serangan tongkat Nyi Mahiya Keswari.
Takkk !!!
"Cepat pergi adi Lintang ! Jangan sia siakan kesempatan ini !" kata Sindunata sambil mendorong tubuh Lintang Rahina menjauh dari pertarungan.
"Kami akan menahan mereka semampu kami. Kalau kamu sudah lolos, kami juga akan segera melarikan diri !" kata Sindunata.
Mendengar kata kata Sindunata, Akhirnya Lintang Rahina dengan berat hati bersedia meninggalkan pertempuran.
Sambil melesat pergi, Lintang Rahina sempat melihat ke arah pertarunan. Sindunata menghadapi Nyi Mahiya Keswari. Sedangkan Puruhita yang juga sudah mengeluarkan kedua pisaunya berusaha menghadang pergerakan Resi Aksa Bagawanta dan Resi Jalada Mawa.
Melihat Lintang Rahina mekesat naik ke arah puncak, Resi Aksa Bagawanta baru saja akan mengejar Lintang Rahina. Baru saja dia memisahkan diri, tiba tiba datang serangan energi berbentuk ujung pedang berwarna putih pekat.
Terpaksa Resi Aksa Bagawanta menghentikan gerakannya dan menangkis datangnya serangan energi itu.
Tak ! Tak ! Tak !
Terlihat seorang gadis muda berpakaian serba hitam dengan menutupi mukanya memakai sapu tangan, sehingga hanya terlihat mata dan dahinya.
Tangan kanannya memegang pedang yang bilahnya terlihat berpendar putih pekat seperti berkabut.
__ADS_1
___◇___