Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Hilangnya Indrabayu


__ADS_3

Pedang Kemala Hijau di tangan Tuan Muda Kim berbenturan dengan pedang yang terbentuk dari pendaran sinar berwarna putih keperakan di tangan kanan Sekar Ayu Ningrum. Benturan itu menimbulkan ledakan yang sangat keras. Suatu hal yang tidak pernah terjadi ketika Pedang Kemala Hijau berbenturan dengan pedang Lintang Rahina yang terbuat dari pendaran sinar kuning keemasan.


Hal itu bisa terjadi ledakan, karena Pedang Kemala Hijau mengeluarkan hawa dingin dan energi yang dimiliki Sekar Ayu Ningrum berunsur dingin.


Karena sama sama membawa sifat dingin, maka ketika terjadi benturan, kedua energi itu saling dorong dan saling menolak.


Dalam ledakan yang keras itu, pedang di tangan kanan Sekar Ayu Ningrum langsung hancur. Sedangkan Pedang Kemala Hijau di tangan Tuan Muda Kim terlepas dari genggaman dan terpental ke belakang.


Sesaat kemudian, dengan tubuh yang masih bergerak ke arah Tuan Muda Kim, pedang di tangan kiri Sekar Ayu Ningrum menghujam tepat ke dada Tuan Muda Kim.


Aaccchhh !!!


"Ke ... napa, bi ... sa, terjadi ?" tanya Tuan Muda Kim yang tubuhnya merosot ke bawah dan jatuh berlutut, dengan penuh rasa tidak percaya.


"Mungkin kamu lupa, kalau energi kita sama sama membawa sifat dingin. Sejak awal seharusnya kamu sudah tahu, karena, akulah titisan dan pewaris energi Dewi Tara !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil kemudian mencabut pedang di tangan kirinya dari dada Tuan Muda Kim.


Deeeggg !!!


Tuan Muda Kim langsung terpaku, mendengar jawaban Sekar Ayu Ningrum. Selain merasa kaget, muncul kesadarannya tentang yang telah terjadi.


"Rasa ingin balas dendamku, telah menutupi kesadaran dan akal sehatku," kata Tuan Muda Kim.


Namun, kesadaran Tuan Muda Kim terlambat. Pandang matanya semakin buram, memudar dan kemudian gelap sama sekali. Tuan Muda Kim tewas dalam posisi terduduk berlutut.


Sekar Ayu Ningrum masih berdiri terdiam menatap tubuh Tuan Muda Kim, saat Lintang Rahina mendekatinya dengan tangan kanan memegang Pedang Kemala Hijau.


Setelah menggeledah tubuh Tuan Muda Kim dan menemukan obat penawar bagi guru gurunya, Lintang Rahina pun segera menggandeng tangan Sekar Ayu Ningrum, dan segera melesat ke arah goa tempat Lintang Rahina membaringkan tubuh guru gurunya dan Sindunata serta Puruhita.


Sesampainya di sana, Lintang Rahina segera memindahkan guru gurunya dan juga Sindunata serta Puruhita ke tempat tinggal mereka yang tadinya ditempati oleh Tuan Muda Kim. Kemudian segera memberikan obat penawarnya dan juga dengan memberikan penyaluran energi pada mereka semua satu persatu secara bergantian.


Tanpa terasa, waktu telah berjalan sehari semalam. Semua guru Lintang Rahina telah selesai disembuhkan dan sekarang baru menjalani proses pemulihan dengan bersemedi. Berkat saran dari Sekar Ayu Ningrum yang berdasar pengalamannya mengobati sendiri, menjadikan proses pengobatan menjadi berjalan lebih cepat.


Tinggal sepasang suami istri, Sindunata dan Puruhita yang sekarang sedang diobati oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


Setelah hampir setengah hari, akhirnya proses pengobatan Sindunata dan Puruhita selesai. Mereka berdua juga segera diminta bersemedi untuk memulihkan kekuatan mereka secepatnya.


Bersamaan dengan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum juga beristirahat dengan bersemedi, namun sebelumnya, mereka menitipkan Seruni anak mereka pada para gurunya.


Hingga sore menjelang malam, Sindunata dan Puruhita menyudahi semedi mereka, walaupun energi mereka belum pulih sepenuhnya.


Begitu mereka membuka mata, mereka melihat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum masih bersemedi di depan mereka. Maka, mereka berdua beranjak dengan perlahan hingga melewati pintu keluar. Sesampainya di luar rumah, Sindunata dan Puruhita saling memandang dan kemudian tubuh mereka berkelebat melesat ke arah pantai.


Seolah seperti sudah membagi tugas, Sindunata melesat ke arah timur dan Puruhita ke arah barat.


Mereka berdua bolak balik dari arah timur ke barat hingga dua kali. Bahkan mereka berdua kemudian naik ke tebing yang menjulang tinggi di depan pantai. Di atas tebing pun, mereka juga masih bolak balik berjalan dari ujung tebing yang satu hingga ke ujung yang lain.


Setelah apa yang mereka cari tidak ketemu, mereka pun berhenti di atas tebing yang agak menjorok ke laut, sehingga mereka bisa melihat pantai Parangtritis secara keseluruhan.


Sindunata menatap Puruhita istrinya yang terlihat menahan tangis dengan menggigit bibirnya. Direngkuhnya kepala Puruhita ke dalam dadanya, hingga akhirnya pecah juga tangisan Puruhita walaupun masih berusaha untuk menahannya.


"Anak kita, kakang," ucap Puruhita lirih di sela sela tangisnya.


"Ayo kita menemui Adi Lintang dan nimas Sekar. Semoga mereka bisa membantu menemukan anak kita," jawab Sindunata.


Sesampai di halaman rumah itu, mereka melihat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum telah menunggu mereka dengan penuh senyuman. Suatu hal yang sangat manusiawi, karena mereka telah beberapa tahun tidak pernah bertemu.


Mereka pun saling berpelukan. Saat memeluk Sekar Ayu Ningrum itulah, tangisan Puruhita kembali pecah.


Sambil menuntunnya mengajak ke ruang tengah, Sekar Ayu Ningrum menanyakan, hal apakah yang terjadi hingga bisa membuat Puruhita bersedih.


Puruhita pun menceritakan perihal anaknya yang hilang.


Mendengar cerita Puruhita, tanpa berkata kata, Lintang Rahina melesat keluar rumah, kemudian melayang ke arah tebing tempat dulu dia biasa duduk bersila menghadap ke arah pantai.


Di atas tebing itu, Lintang Rahina mengeluarkan energinya dalam jumlah yang cukup besar. Seluruh tubuhnya terselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan, bahkan di bawah kaki Lintang Rahina yang tubuhnya sedikit melayang, terbentuk wujud bunga teratai dari butiran sinar kuning keemasan.


Kemudian, Lintang Rahina menebarkan butiran sinar kuning keemasan itu ke seluruh tempat di sekeliling tempatnya berdiri. Bahkan sebagian ada yang masuk ke dalam lautan.

__ADS_1


Setelah mencoba menangkap dan merasakan getaran sekecil apapun yang bisa dia rasakan, akhirnya Lintang Rahina bisa merasakan adanya getaran jiwa anak manusia. Namun anehnya, getaran yang dia rasakan itu, arahnya dari atas lautan yang cukup jauh.


Setelah diulang lagi dan getaran jiwa manusia yang dia tangkap masih tetap sama dan dari arah yang sama, kemudian Lintang Rahina pun kembali turun dan menarik semua energinya.


Lintang Rahina segera kembali pulang dan menceritakan apa yang dia rasakan. Selain itu, kalau getaran jiwa anak manusia yang dia rasakan itu memang anak Sindunata dan Puruhita, maka mereka harus hati hati dalam memintanya kembali.


Karena mereka semua baru saja beristirahat, maka Lintang Rahina mengatakan bahwa dia akan mencoba mencarinya besok. Lintang Rahina juga mengatakan, agar Sindunata dan Puruhita tidak usah mengkhawatirkan anaknya. Karena kalau memang benar getaran jiwa anak manusia yang mereka rasakan itu adalah getaran jiwa anak Sindunata dan Puruhita, anak mereka justru aman. Karena pihak yang membawa anak mereka hingga ke tempat yang sekarang Lintang Rahina rasakan, tidak akan berani mengambil jiwa anak mereka secara sembarangan dan tanpa alasan yang kuat.


Akhirnya keesokan harinya, pagi pagi sekali, bahkan matahari pun belum menunjukkan wajahnya, Lintang Rahina yang ditemani Sekar Ayu Ningrum dan Sindunata serta Puruhita, telah berdiri di atas tebing sambil, menghadap ke lautan lepas.


"Nanti bila ada kejadian apapun yang menimpa tubuhku, kalian tetap diam saja," pesan Lintang Rahina.


Kemudian, Lintang Rahina menaikkan jumlah tenaga dalam dia keluarkan. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan.


Sesaat kemudian, tubuh Lintang Rahina yang sedikit melayang, melesat dengan sangat cepatnya ke arah atas lautan luas.


----- \* -----


Beberapa hari yang lalu, saat terjadi dua pertarungan yang sama sama berjalan dengat sengitnya, yaitu pertarungan Lintang Rahina melawan semua gurunya serta Sekar Ayu Ningrum melawan Tuan Muda Kim. Sindunata dan Puruhita yang juga ikut bertarung mengeroyok Lintang Rahina, karena saat itu mereka sedang serius menghadapi pertarungan bahkan sampai lupa dengan anak mereka yang mereka tinggalkan di tepi pantai saat mereka bertiga berjalan jalan.


Saat itu, Indrabayu anak pasangan Sindunata dan Puruhita berjalan pelan di tepi pantai. Tiba tiba di dekat Indrabayu, berhenti sebuah kereta kecil dengan satu ekor kuda penariknya. Di dalam kereta kuda itu hanya ada seorang wanita cantik yang berpakaian seperti seorang prajurit.


Bersamaan dengan saat wanita cantik berpakaian prajurit itu tiba di depan Indrabayu. Lautan luas itu tiba tiba menjadi tenang. Tidak ada ombak yang biasanya selalu hadir di pantai Parangtritis. Tidak ada angin yang berhembus cukup kuat yang biasanya menemani datangnya ombak.


"Anak kecil, keadaan di sini sangat berbahaya bagimu," kata wanita berpakaian prajurit itu, "Ayo, kau ikut saja bibi."


Setelah berkata begitu, wanita berpakaian prajurit itu turun dari atas kereta dan kemudian menyambar tubuh Indrabayu dan membawanya ke atas lautan lepas, kemudian memasuki pintu gerbang besar dan langsung membawanya masuk.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Sebelumnya penulis mohon maaf yang sebesar besarnya, apabila dalam beberapa hari ini, tidak update chapter, karena tiga hari terakhir ini penulis sedang tepar karena influensa berat hingga menyentuh handphone pun tidak mampu.


Biasanya, walaupun sakit, selama masih bisa untuk mengerjakan, apapun akan penulis kerjakan.

__ADS_1


Namun, karena mungkin memang disuruh beristirahat total, akhirnya penulis dibuat tepar dan benar benar tak berdaya hanya bisa berbaring di tempat tidur.


Atas kesabaran dan pengertian dari para pembaca semuanya, penulis mengucapkan banyak terimakasih.


__ADS_2