
Setelah sekian lama bersembunyi dan menggembleng diri di hutan, Galuh Liliputan mengakhiri latihannya.
Segera saja dia pergi menemui saudara saudaranya yang dulu menyia nyiakan dirinya. Setiap saudara yang berhasil ditemui, ditantang bertarung.
Semua saudaranya yang memegang kekuasaan di berbagai daerah, berhasil dia kalahkan, hingga tidak ada yang mampu menghadapinya.
Semua itu karena ilmu silat Galuh Liliputan yang meningkat pesat hingga masuk golongan sangat tinggi. Selain itu, juga dikarenakan dua senjata pusakanya yang sangat sakti yaitu cambuk hitam yang ujungnya merah membara serta cambuk bertangkai lima yang bisa digunakan untuk menyerap energi lawannya.
Dari sekedar membalas dendam untuk mengobati sakit hatinya, mulai muncul rasa tamak pada diri Galuh Liliputan.
Galuh Liliputan mulai merebut dengan paksa semua kekuasaan yang dipegang oleh saudara saudaranya.
Kalau hanya kekuasaan, sebenarnya semua saudaranya bisa menerima, yang penting kekuasaan tetap dipegang oleh trah Galuh.
Namun, dalam perjalanan waktu, Galuh Liliputan mulai kejam dan berlaku semena mena pada rakyatnya. Pembangunan tidak diurus serta kesejahteraan rakyatnya tidak diperhatikan.
Hal itu membuat saudara saudaranya sepakat bekerjasama untuk merebut kembali kekuasaan dan senjata pusaka Negeri Jawadwipa yang dicuri oleh Galuh Liliputan.
Dalam mereka berembug, mereka teringat, di ruang pusaka ada satu senjata yang sangat hebat, namun membutuhkan energi yang sangat tinggi untuk menggunakannya. Senjata itu berwujud sebuah trisula dengan gagang yang pendek.
Akhirnya, diputuskan, saudara mereka yang tertua yang membawa senjata trisula. Sedangkan saudara saudaranya yang lain, akan membantu dengan cara mentransfer energi mereka ke tubuh saudara mereka yang memegang senjata pusaka trisula.
Kemudian, dalam waktu yang sudah direncanakan, mereka menantang Galuh Liliputan untuk bertarung. Dengan sangat percaya diri, Galuh Liliputan menerima tantangan mereka.
Akhirnya Galuh Liliputan dikeroyok oleh saudara saudaranya. Namun, dengan tingkat energi dan ilmu silatnya yang sangat tinggi ditopang dengan senjata pusaka yang sabgat sakti, membuat Galuh Liliputan mampu mengimbangi mereka.
Pertatungan mereka sudah berjalan selama setengah hari. Setelah pertarungan memasuki jurus ke dua ratus, saudara tertua para penguasa dari trah Galuh mulai mengeluarkan senjata pusaka, trisula bergagang pendek.
Di luar perkiraan Galuh Liliputan, senjata trisula bergagang pendek itu mampu mengimbangi kesaktian senjata cambuk. Sehingga kemudian perlahan lahan, Galuh Liliputan terdesak.
Setelah terdesak hebat dan mendapatkan banyak luka serta bertarung dengan terus mundur hingga diterpojok di pesisir pantai selatan, akhirnya Galuh Liliputan melarikan diri dengan menyeberangi samudra.
Dengan menunggangi balok batang pohon yang kebetulan ada di tepi pantai yang dia kendalikan dengan senjata cambuknya, Galuh Liliputan menyeberangi samudra hingga sangat jauh sekali dari garis pantai, karena masih terus dikejar oleh saudara saudaranya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, karena energinya terkuras dan merasa sangat lelah, Galuh Liliputan mendarat di suatu pulau. Di pulau yang kelak disebut sebagai Pulau Liliputan itulah, Galuh Liliputan mendirikan kerajaan yang terkenal dengan sebutan Kerajaan Liliputan.
Galuh Liputan memperistri salah seorang perempuan penduduk pulau, beranak pianak hingga berjumlah banyak. Namun, semua anak keturunan Galuh Liliputan bertubuh kerdil, hingga Kerajaan Liliputan lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Manusia Kerdil.
----- * -----
Dengan tingkat energinya yang sangat tinggi dan mengeluarkan pendaran sinar merah, adik raja Kerajaan Liliputan itu akhirnya bisa menangkap kelima ujung cambuk yang digunakan oleh sang raja Kerajaan Liliputan. Karena, senjata cambuk bertangkai lima yang haus darah itu sangat cocok dengan sifat energinya yang memendarkan sinar merah.
Kelima ujung cambuk itu sudah seluruhnya digenggam oleh adik raja, dan hampir bisa direbutnya.
Saat itulah, terjadi lonjakan energi yang sangat besar dari dalam tubuh Lintang Rahina. Terlihat, pendaran sinar putih pekat kembali keluar dari dada Lintang Rahina dan melayang di depan Lintang Rahina.
Kemudian perlahan lahan, pendaran sinar putih pekat itu semakin memudar dan akhirnya menampakkan wujud senjata trisula bergagang pendek yang dengan cepat diraih tangan kanan Lintang Rahina.
Kejadian yang berlangsung cepat itu dan dengan gerakan Lintang Rahina yang sangat cepat membuat adik raja Kerajaan Liliputan belum merebut senjata cambuk, senjata cambuk itu lebih dahulu diterjang oleh senjata trisula hingga melayang tinggi ke atas.
Benturan senjata trisula itu menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Sesaat setelah suara ledakan itu, kedua tubuh kakak beradik manusia kerdil itu terlempar ke belakang.
Raja Kerajaan Liliputan yang memegang gagang cambuk, terlempar hingga lima meter dan tubuhnya jatuh berdebam ke tanah. Semua bagian tubuhnya terasa sakit, namun dipaksakan untuk bangun hingga terduduk.
Sedangkan adik raja Kerajaan Liliputan, karena memegang ujung cambuk yang berjumlah lima buah, membuat tubuhnya terlempar lebih jauh lagi hingga lebih dari dua puluh meter. Tubuhnya terhempas di tanah, seluruh tubuhnya rasanya lemas dan tidak bisa digerakkan.
Sementara itu, saat cambuk bertangkai lima itu terlempar ke atas, langsung ditangkap oleh Sekar Ayu Ningrum yang tubuhnya masih melayang.
Saat melihat pertarungan itu usai, Sekar Ayu Ningrum pun melayang turun di samping Lintang Rahina yang masih memegang senjata trisula.
"Gadis muda, tolong kau simpan dulu senjata cambuk itu. Dan kau anak muda, tolong kau bawa adikku ke dalam penjara bawah tanah," kata raja Kerajaan Liliputan dengan pelan.
Kemudian, raja Kerajaan Liliputan memanggil salah satu pengikutnya, untuk meniup sebuah terompet yang terbuat dari cangkang kerang raksasa yang tergantung di dinding istana, sebelah kanan kursi singgasana.
Sesaat setelah terdengar suara terompet ditiup, berdatangan orang orang kerdil dari berbagai arah, yang semuanya terlihat sangat lemah.
__ADS_1
Setelah semua orang kerdil itu berkumpul di halaman depan istana, raja Kerajaan Liliputan itupun keluar dari gedung istana, setelah sebelumnya meminta kembali senjata cambuk bertangkai lima.
Kemudian, dengan diawali menghirup nafas yang panjang, raja Kerajaan Liliputan itu melecutkan cambuk yang dipegangnya dua kali ke atas.
Ctaaarrr ! Ctaaarrr !
Kemudian, dengan kekuatan penuh, raja Kerajaan Liliputan itu melecutkan cambuknya ke tanah hingga kelima ujung cambuk itu kembali menancap dan amblas ke tanah.
Claaappp !
Beberapa saat kemudian, kelima tangkai cambuk itu bergetar hebat disusul dengan seluruh tubuh raja Kerajaan Liliputan yang memegang gagang cambuk, ikut bergetar hebat.
Kemudian, dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat, raja Kerajaan Liliputan itu mengangkat telapak tangan kirinya ke arah rakyatnya yang duduk bersila di halaman depan istana yang sangat luas.
Dari telapak tangannya itu terpancar energi yang sangat besar, melesat ke arah rakyatnya. Dengan memutar tubuhnya, raja Kerajaan Liliputan itu menyebarkan energi yang terserap dari tanah, ke arah semua rakyatnya.
Hal itu berlangsung cukup lama. Hingga setelah raja Kerajaan Liliputan itu melihat, seluruh rakyatnya telah pulih kembali energinya, raja itu menghentikan proses penyerapan energi bumi.
Senjata cambuknya ditarik kembali, dan secara otomatis, semua tangkai cambuk itu tercabut dari tanah dan bergulung ke arah tangan kanannya.
Kemudian setelah itu, raja Kerajaan Liliputan itu memerintahkan semuanya untuk bekerja sama membersihkan puing puing bekas pertarungan, terutama yang ada di dalam istana.
Setelah istana itu bersih, raja Kerajaan Liliputan itu mengajak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum serta beberapa orang keoercayaannya, masuk kembali ke dalam istana untuk berbincang.
"Gadis muda, nampaknya yang bisa menggunakan senjata cambuk bertangkai lima tanpa terpengaruh energi haus darah yang ada pada senjata cambuk itu, adalah dirimu. Kalau kau bersedia, bawalah cambuk bertangkai lima itu, serta nanti akan aku pinjamkan kitab ilmu silat pengendalian cambuk !" kata Raja Kerajaan Liliputan.
"Kenapa raja melakukan itu ? Bukankah itu senjata pusaka Kerajaan Liliputan ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Melihat dampaknya yang sangat membahayakan, Kerajaan kami akan menyimpan senjata pusaka cambuk berujung merah membara saja !" jawab raja Kerajaan Liliputan.
Sesaat Sekar Ayu Ningrum tidak berkata kata. Dia menatap Lintang Rahina seolah meminta persetujuan. Lintang Rahina pun tersenyum sambil mengangguk tanda setuju dengan apa yang ditawarkan oleh raja Kerajaan Liliputan.
__________ 0 __________
__ADS_1