
Nyi Lanjar Wangi berusaha bangkit lagi. Di kedua sudut bibirnya tampak mengalir darah. Dadanya pun terasa sesak dan panas. Pandang matanya dalam beberapa saat terasa nanar.
Baru saja Nyi Lanjar Wangi duduk bertumpu pada lututnya dan elum pulih benar pandangannya, tiba tiba terdengar sesuatu yang jatuh terbanting. Walau agak samar, dilihatnya tubuh Ki Aswa Komara terlempar dan terjatuh seperti dirinya. Terlihat ada darah yang merembes keluar dari luka yang melintang di dadanya.
Ternyata, setelah berhasil memukul Nyi Lanjar Wangi dan membuatnya terlempar dan jatuh ke belakang, Lintang Rahina langsung memapaki serangan Ki Aswa Komara.
Ki Aswa Komara melompat ke arahnya dengan pukulan kanan yang siap dilontarkannya. Begitu mereka saling mendekat, Ki Aswa Komara melepaskan pukulan tangan kanannya dengan sangat cepatnya.
Sementara itu, melihat pukulan Ki Aswa Komara mengarah ke kepalanya, Lintang Rahina memapakinya dengan pukulan 'Tapak Wulung' dari tangan kirinya yang sudah berubah warna menjadi ungu seutuhnya.
Dbaaammm !!!
Terjadi ledakan yang cukup keras dari benturan kedua pukulan berenergi itu.
Hanya berjarak sesaat dari waktu ledakan, Lintang Rahina mengayunkan pedangnya dan berhasil mengenai dada Ki Aswa Komara.
Sraaattt !!!
Tubuh Ki Aswa Komara terlempar ke belakang dan jatuh seperti Nyi Lanjar Wangi. Dadanya terkena sabetan ujung pedang Lintang Rahina. Matanya memerah dan nafasnya memburu.
Saat mencoba bangun sambil menotok di daerah sekitar luka di dadanya, tiba tiba Ki Aswa Komara memuntahkan darah segar.
Sementara itu, Lintang Rahina berdiri sambil melihat ke arah mereka berdua. Apabila lawannya sudah terluka parah dan tidak melanjutkan menyerang, Lintang Rahina juga akan membiarkannya.
Sejenak Lintang Rahina melihat ke arah pertarungan Sekar Ayu Ningrum. yang baru saja berakhir. Dilihatnya Ki Rowangbala tergeletak dengan darah mengalir dari sekitar kepalanya.
Tiba tiba Ki Aswa Komara melompat kembali melakukan serangan diikuti oleh Nyi Lanjar Wangi. Tampaknya mereka sudah nekad dan ingin mengadu nyawa.
Tubuh Ki Aswa Komara melesat sangat cepat ke arah Lintang Rahina dengan kedua kepalan tangan yang sudah menghitam penuh dengan racun.
Sedangkan Nyi Lanjar Wangi juga melompat ke arah Lintang Rahina dengan bilah keris yang sedikit bergetar dan berdengung karena dipenuhi oleh aliran energi.
Melihat kenekatan kedua lawannya, tidak ada pilihan lain, Lintang Rahina kembali menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya. Tidak berapa lama, pendaran sinar putih pekat dibalut butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuhnya semakin bertambah tebal. Bilah pedang Lintang Rahina sudah sepenuhnya berwujud pendaran sinar putih pekat. Sedangkan tangan kirinya semakin berwarna ungu kehitaman dengan sedikit berpendar keunguan.
Terdengar suara benturan senjata keris Nyi Lanjar Wangi dengan pedang Lintang Rahina.
__ADS_1
Traaannnggg ! Traaannnggg ! Trang !!!
Sesaat setelah suara benturan kedua senjata, terlihat senjata keris Nyi Lanjar Wangi terlempar ke atas sedangkan tubuhnya terangkat ke atas kemudian terlempar jauh ke belakang saat pukulan cakaran Lintang Rahina menghantam lehernya.
Buuuggghhh !!!
Tubuh Nyi Lanjar Wangi terjatuh dengan leher berwarna ungu kehitaman. Selama beberapa saat nafasnya tersangkut di tenggorokan, namun kemudian terdiam dengan sorot mata yang semakin memudar.
Tanpa ada jeda, sambil menyimpan kembali pedangnya, tubuh Lintang Rahina kembali berkelebat untuk menghadang gerakan Ki Aswa Komara. Sehingga saat Ki Aswa Komara melayangkan pukulan kanannya, kembali berbenturan dengan telapak tangan kanan Lintang Rahina yang juga sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman.
Blaaarrr !!!
Ki Aswa Komara terhuyung huyung kebelakang hingga lima langkah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dengan mata yang sedikit melotot dan kedua sudut bibirnya yang penuh darah.
Sementara Lintang Rahina yang tidak bergeser sedikitpun posisinya, segera kembali melompat dan melesat dengan sangat cepat ke arah Ki Aswa Komara.
Telapak tangan kanannya tepat menghantam ubun ubun Ki Aswa Komara.
Praaakkk !!!
Seketika Ki Aswa Komara tewas dengan kepala pecah.
Setelah kedua lawannya tewas, selama beberapa saat, Lintang Rahina memandang jauh ke sekelilingnya.
Lintang Rahina mencoba merasakan getaran energi di sekitarnya.
Begitu dirasakan tidak ada hal hal yang mencurigakan, Lintang Rahina segera mengangsurkan kedua lengannya ke depan. Seketika dari kedua telapak tangannya keluar pendaran sinar putih pekat yang diselimuti butiran sinar kuning keemasan.
Lintang Rahina mengarahkan sinar itu ke tubuh ke ketiga lawannya yang telah tewas semua.
Ketiga tubuh lawannya itu terangkat dan kemudian berjajar berdekatan.
Tiba tiba dari kedua telapak tangan Lintang Rahina keluar api merah membara yang langsung menyambar ketiga tubuh lawannya.
Setelah menunggu beberapa saat, ketiga tubuh lawannya itu terbakar hingga menjadi abu.
__ADS_1
Kemudian, abu ketiga tubuh lawannya dikubur di bawah pohon secara sederhana.
Setelah semuanya selesai, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melangkah pergi dari tempat itu.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terus melangkah menjauh dari hutan Panjalu. Diam diam Lintang Rahina sambil mencoba mendeteksi dengan energinya. Namun sejauh ini Lintang Rahina belum menjumpai adanya getaran energi.
Saat mereka berdua sudah sangat jauh dari hutan Panjalu, tiba tiba terasa tiga energi yang sangat besar dari depan mereka.
Sesaat kemudian, di depan mereka, berdiri tiga orang yang sudah mereka kenal.
Di tengah berdiri seorang perempuan berwajah cantik dengan dandanan seorang putri raja. Di kanannya berdiri seorang kakek tua bertubuh tinggi kurus dengan rambut dan jenggot yang sudah memutih semua. Sedangkan di sebelah kirinya berdiri seorang bertubuh seperti anak kecil tetapi usia sebenarnya hampir sama dengan kakek tua yang di sebelah kanan.
Mereka adalah Putri Dyah Pawatu yang ditemani oleh Ki Buyut Jalu Wisesa yang bertubuh kurus, serta Ki Ujang Galih yang bertubuh seperti anak kecil.
"Anak muda ! Kalian sudah sampai di sini. Berarti ada apa apa dengan ketiga orangku !" kata Putri Dyah Pawatu dengan dingin.
"Oooo ... jadi mereka orang orang suruhanmu !" kata Sekar Ayu Ningrum, "Mereka semua sudah menjadi abu."
"Kurang ajar kalian ! Kalian harus menerima balasannya !" teriak Putri Dyah Pawatu.
"Perempuan keji ! Akulah yang menjadi lawanmu !" sahut Sekar Ayu Ningrum sambil maju ke arah Putri Dyah Pawatu.
Lintang Rahina segera memegang lengan Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang Lintang, percayalah pada Sekar. Sekar akan mampu mengalahkannya," kata Sekar Ayu Ningrum pelan.
"Hati hati adik Sekar. Sepertinya dia banyak tipu muslihatnya," kata Lintang Rahina lagi.
Kalau dalam ilmu beladiri, Lintang Rahina percaya, Sekar Ayu Ningrum mampu menghadapi Putri Dyah Pawatu. Yang Lintang Rahina khawatirkan adalah tentang tipu muslihat Putri Dyah Pawatu.
"Percayalah kakang, Sekar akan mengalahkannya," uap Sekar Ayu Ningrum.
"Ha ha ha ha ..... kau perempuan ! Ayo kita buktikan, siapa yang lebih unggul, kamu ataukah aku !" kata Putri Dyah Pawatu.
"Akan kuladeni kau,apapun yang kau inginkan !" kata Sekar Ayu Ningrum yang tubuhnya sudah melesat dengan sangat cepat ke arah Putri Dyah Pawatu. Seketika tubuhnya sudah berada di depan Putri Dyah Pawatu.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_