
Begitu Ki Jangkung merubah gerakannya untuk menangkap tubuh Sekar Ayu Ningrum yang meluncur ke arahnya, Empu Bajang Geni segera masuk ke pintu dimensi yang telah dibuat oleh Arga Manika.
Keduanya segera menghilang dari pandangan Ki Jangkung.
"Pengecut ! Keji !," teriak Ki Jangkung jengkel.
Kemudian Ki Jangkung turun ke arah Nyi Rikma Ore untuk melihat apa yang telah dia tangkap menggunakan jaringnya.
Sejenak Nyi Rikma Ore terkejut melihat yang berada di dalam jaring Ki Jangkung suaminya adalah seorang gadis cantik. Gadis itu seperti orang tidur.
Setelah dibangunkan beberapa kali gadis itu tidak mau bangun, akhirnya Nyi Rikma Ore menasaran dengan keadaan gadis itu. Betapa terkejut Nyi Rikma Ore dan Ki Jangkung, ketika mengetahui gadis itu ditotok dan dalam pengaruh ilmu yang membuatnya seperti orang tidur.
Setelah membaringkan tubuh Sekar Ayu Ningrum di tempat yang aman, Nyi Rikma Ore melakukan beberapa totokan dan pijatan pada beberapa tempat di tubuh Sekar Ayu Ningrum. Setelah itu Nyi Rikma Ore menyalurkan energinya pada Sekar Ayu Ningrum. Lambat laun Sekar Ayu Ningrum mulai siuman karena peredaran darahnya yang mulai normal.
"Siapa namamu dan dari mana kamu berasal nduk ?" tanya Nyi Rikma Ore setelah melihat kesadaran Sekar Ayu Ningrum pulih.
Sekar Ayu Ningrum terkejut melihat di depannya ada dua orang tua aneh, yang satu pendek dan yang satunya lagi sangat tinggi.
Sejenak Sekar Ayu Ningrum terdiam bingung, tetapi pelan pelan menata perasaannya dan pikirannya mengingat dan menjalin peristiwa peristiwa yang sudah dialaminya.
"Nama saya Sekar, nek," jawab Sekar Ayu Ningrum dengan tubuh yang masih lemas, "nenek siapa ? Kenapa saya ada di sini ?"
"Heh he he he ...bagaimana kamu bisa ditangkap oleh Bajang Geni ?" tanya Nyi Rikma Ore lagi, "tapi kamu sudah aman bersama kami."
Kemudian Sekar Ayu Ningrum menceritakan semua yang dialaminya, setelah sebelumnya Nyi Rikma Ore menceritakan siapa dirinya dan apa hubungannya dengan Empu Bajang Geni yang membuat Sekar Ayu Ningrum percaya untuk bercerita.
Suatu pagi di kaki gunung Lawu bagian timur. Di suatu desa yang tidak terlalu besar.
Pagi itu tersaji pemandangan yang sangat indah. Matahari yang baru saja memunculkan diri, memberikan nuansa yang ceriadan penuh harapan. Sinarnya yang masih terasa hangat, menyentuh puncak dan lereng gunung Lawu bagian timur. Gunung biru kehijauan yang berselimut sinar mentari itu serasa membawa pesan kedamaian dan ketenteraman.
Semua itu diramaikan juga dengan suara gemericik air sungai kecil, dan sesekali di iringi suara daun daun yang tertiup angin. Semakin serasi dan selaras saat diselingi oleh suara suara hewan hewan yang terbangun menyambut pagi.
Sungguh suasana pedesaan yang masih alami. Yang bisa membuat pikiran kita jernih kembali.
Tetapi, indahnya suasana pagi itu tercemar dengan suara teriakan perempuan dan suara tertawa para pria.
"Toloooong ..... tolooooong," terdengar suara perempuan minta tolong dari arah sungai.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha ...ayo manis, kalian ikut kami bersenang senang !" kata seorang pria di sambut tertawa teman temannya.
Di tepi sungai kecil di pinggir desa itu, tiga orang gadis desa setempat pagi itu sedang mencuci dan membersihkan badan.
Tiba tiba datang lima orang pria ke tempat tiga orang gadis sedang mandi.
Kelima orang pria itu tampaknya seperguruan yang datang dari suatu perguruan silat.
Melihat tiga orang gadis desa yang sedang mandi, kelima pria tersebut muncul niat jahatnya. Mereka hendak menjadikan ketiga gadis desa itu sebagai pemuas nafsu mereka.
"Ha ha ha ha ha .... bawa gadis gadis itu," kata seorang yang tinggi besar yang sepertinya yang menjadi pimpinannya.
Mereka hendak membawa tiga orang gadis itu ke tempat yang sepi.
Ketika tiba tiba terdengar alunan suara seruling mengalun sejenak yang kemudian disusul suara seorang laki laki, "Orang yang suka berbuat jahat tidak layak hidup di dunia ini."
Kemudian terdengar lagi alunan seruling, pelan dan nadanya mendayu dayu.
Tsss ttsss ttsss !!!
Cresss cresss cresss !!!
Bersamaan dengan alunan suara seruling, tiba tiba terdengar seperti suara ranting dan daun daun yang terkena sanjata tajam, dan sesaat kemudian tiga orang pria yang sedang memanggul gadis desa itu tiba tiba jatuh terduduk bertumpu lutut, merasakan ada sesuatu yang menyayat pahanya.
Ketiga pria itu, dalam posisi masih bertumpu lutut, melihat dan meraba pahanya. Mereka terkejut ketika mendapati tiba tiba paha mereka terasa perih dan darah mengalir dari kedua paha mereka.
Mereka bertiga baru hendak berteriak ketika suara seruling yang mereka dengar tadi agak sedikit bertambah cepat.
Creesss !!!
Creesss !!!
Creesss !!!
Bukan teriakan yang keluar dari mulut mereka. Tetapi suara seperti orang mendengkur tidak jelas, ketika tiba tiba leher mereka berdarah dengan luka yang menganga.
Mereka bertiga jatuh tersungkur dengan memegangi lehernya. Sesaat kemudian, mereka bertiga diam tak bergerak dengan kedua tangan masih memegangi leher. Mereka bertiga tewas tanpa mengerti apa yang membuat mereka begitu.
Melihat keadaan temannya, dua orang yang tadinya berdiri di depan mereka bertiga yang sudah tewas, panik dan berteriak sambil menghunus pedang mereka.
__ADS_1
"Siapa kau, keluar !!!"
Sreettt !!! sreettt !!!
Suara alunan seruling sudah berubah nada lagunya. Terdengar lagi suara seperti daun daun dan ranting pohon terpangkas. Sesaat kemudian terdengar suara logam terjatuh.
Traanggg !!!
Taakkk !!!
Pedang di tangan pria yang satunya terlepas. Dia kebingungan sambil memutar mutar tubuhnya melihat ke sekeliling mereka.
"Keluar kau ! Augghhh !!!"
Pria yang kehilangan pedangnya tiba tiba berteriak kesakitan ketika tiba tiba dadanya terdapat luka menganga seperti terkena bacokan golok.
Darah mengucur deras dari lukanya. Tanpa sempat berkata kata lagi, pria yang terluka dadanya itu jatuh terduduk dengan kedua tangan memegang dada dan sesaat kemudian tersungkur dengan mata melotot seperti orang penasaran.
"Pengecut !!! Keluar kau !!!" teiak pria tinggi besar yang menjadi pimpinannya.
Tidak ada jawaban. Hanya suara alunan seruling yang terdengar.
Sringgg sringgg sringgg !!!
Traang traang traang !!!
Melihat ada serangan energi, pria tinggi besar itu menangkis. Tiga kali pedangnya menangkis datangnya energi berbentuk pedang transparan yang mengarah ke tubuhnya.
Tangannya bergetar hebat setiap menangkis datangnya serangan energi pedang transparan.
Tiba tiba alunan suara seruling terdengar lebih cepat nadanya dan lebih keras suaranya.
Bersamaan dengan itu, datang serangan energi pedang transparan yang bertubi tubi menyerang pria tinggi besar. Tangannya semakin bergetar hebat sampai pergelangan tangannya terasa perih.
Hingga dalam tangkisan yang berikutnya, pedangnya terlepas dan terlempar jauh. Disambung kemudian kedua lengannya mendapatkan luka sayatan. Kemudian betisnya mendapatkan luka sayatan. Disambung pahanya, dadanya, perutnya kemudian kedua pipinya mendapatkan sayatan.
Karena panik, takut dan kesakitan, pria tinggi besar itu berteriak teriak tidak jelas. Sesaat kemudian hanya suara krok krok yang keluar dari mulutnya. Yang kemudian suaranya terhenti karena pria tinggi besar itu tewas menyusul teman temannya.
___0___
__ADS_1