
Perlahan lahan Lintang Rahina mengalirkan energinya melalui kedua telapak tangannya yang menempel di punggung Sekar Ayu Ningrum. Energi yang keluar dari kedua telapak tangan Lintang Rahina perlahan lahan menyebar ke seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum. Memenuhi seluruh aliran darahnya, menerobos dan memulihkan simpul simpul syaraf dan pembuluh darah yang beku.
Badan Sekar Ayu Ningrum berangsur menghangat. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. Tetapi detak jantungnya masih sangat lemah dan nafasnya masih sangat lambat.
Kemudian Lintang Rahina mengarahkan energinya ke luka dalam di dada kiri Sekar Ayu Ningrum.
Ketika pernafasan Sekar Ayu Ningrum sudah terlihat teratur walaupun belum siuman, Lintang Rahina menghentikan penyaluran energinya. Terlihat beberapa titik keringat di dahi Lintang Rahina.
Sambil menunggu perkembangan kondisi Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina beristirahat sambil memanfaatkan waktunya untuk memulihkan energinya.
"Kakang Sindunata, kelihatannya mereka berdua sudah lama kenal," kata Puruhita pada suaminya saat mereka berada agak jauh dari Lintang Rahina.
"Sepertinya begitu, yayi," jawab Sindunata.
"Dan sepertinya mereka saling jatuh cinta, tetapi entah ada apa, mereka juga saling tidak mengetahuinya," kata Puruhita lagi.
"Yayi Puruhita tahu dari mana ?" tanya Sindunata.
"Aku sempat bertemu dengan gadis itu saat giliran jaga. Dan gadis itu mengatakan sesuatu yang saat itu membingungkanku," jawab Puruhita.
"Gadis itu berkata apa ?" tanya Sindunata lagi.
"Dia berkata, terimakasih telah menemani dan menjaga kakang Lintang," jawab Puruhita.
"Terus, dari mana yayi Puruhita bisa tahu kalau mereka saling jatuh cinta ?" Sindunata mengulang pertanyaannya.
"Kami sama sama wanita, kakang. Saya bisa ikut merasakan perasaan sesama wanita dari nada bicara dan bahasa yang digunakannya saat berbicara tentang pria," jawab Puruhita, "dan aku bisa membaca dari cara pria memperlakukan seorang wanita, dia punya perasaan cinta atau tidak, pasti beda."
"Apa perlu kita membantu menyampaikannya padanya ?" tanya Sindunata sambil dagunya nergerak ke arah Lintang Rahina.
"Mungkin begitu akan lebih baik, kakang," jawab Puruhita.
Kemudian Sindunata berdiri dari duduknya dan berjalan ke tempat Lintang Rahina beristirahat sambil semedi.
Setelah Sindunata duduk di samping Lintang Rahina, beberapa saat kemudian Lintang Rahina bangun dari semedinya.
__ADS_1
Begitu melihat Sindunata duduk di sampingnya agak jauh, Lintang Rahina buru buru menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Terimakasih kakang Sindunata dan juga pada mbakyu Puruhita, telah menolong adik Sekar," kata Lintang Rahina.
"Sebenarnya, bukanlah kami yang menolong dia. Tetapi dialah yang telah menolong kami dan juga kamu, adi Lintang," jawab Sindunata.
"Kenapa bisa dikatakan begitu kakang ?" tanya Lintang Rahina lagi.
"Lha iya. Setelah kamu pergi ke arah puncak, Mbakyumu akan dikeroyok dua orang. Tiba tiba dia datang dan melawan salah satu dari mereka. Dengan begitu, kami berdua terselamatkan dari bahaya kematian karena digempur oleh mereka bertiga," Sindunata menjelaskan.
"Kamu harus berterimakasih padanya, adi Lintang," sambung Sindunata, "owh iya, kelihatannya kamu sudah kenal dia sebelumnya."
"Dia Sekar Ayu Ningrum, cucu dari salah satu guru saya, kakang," jawab Lintang Rahina.
"Apakah kalian saling suka ? Kalau adi Lintang memang suka dengan Sekar, katakan langsung saja. Agar tidak menimbulkan banyak prasangka," kata Sindunata sambil berdiri.
"Sebaiknya, setelah dia terbangun, segera sampaikan perasaanmu padanya. Karena dia sudah menunggu kata itu keluar dari mulutmu !" sambung Sindunata yang kemudian melangkah ke arah Puruhita duduk.
Lintang Rahina masih hendak menjawab, tetapi mulutnya hanya bergerak gerak tanpa suara, karena bingung hendak berkata apa.
Sekar Ayu Ningrum mencoba untuk bangun, tetapi dicegah oleh Lintang Rahina. Karena energi Sekar Ayu Ningrum hanya sedikit, bahkan bisa dikatakan hampir habis. Sehingga apabila terlalu banyak digunakan untuk bergerak, akan membahayakan tubuh dan jiwa Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian Lintang Rahina meminta Sekar Ayu Ningrum memiringkan tubuh ke arah kanan, karena Lintang Rahina akan kembali menyalurkan energinya dengan menempelkan telapak tangannya di punggung kiri.
"Nanti kalau adik Sekar merasa hendak muntah, muntahkan saja, Tidak usah ditahan," kata Lintang Rahina.
Kemudian dari telapak tangannya, keluar energi yang berwujud pendaran sinar kuning keemasan. Sinar itu meresap ke punggung Sekar Ayu Ningrum dan kemudian berputar putar di area luka di dada kiri Sekar Ayu Ningrum.
Awalnya Sekar Ayu Ningrum merasakan nyeri pada lukanya. Kemudian rasa nyeri itu berubah menjadi hangat dan kemudian panas.
Sekar Ayu Ningrum merasakan, dada kirinya seperti terbakar. Kemudian diikuti dwngan rasa mual tak tertahankan.
Akhirnya Sekar Ayu Ni grum memuntahkan darah kental berwarna merah kebiruan beberapa kali.
Setelah Sekar Ayu Ningrum sudah tidak merasakan ingin muntah, rasa panas di dada kirinya tepatnya di luka yang terkena totokan gagang kipas berangsur angsur menjadi hangat.
__ADS_1
Kemudian rasa hangat itu menjadi rasa hangat yang menenangkan dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Sekar Ayu Ningrum merasakan tubuhnya seperti pulih seperti sedia kala bahkan dia merasakan energinya seperti meluap luap lebih banyak daripada saat sebelum bertarung.
Lintang Rahina menarik kembali sedikit demi sedikit energinya hingga habis dan kemudian melepaskan telapak tangannya dari punggung kiri Sekar Ayu Ningrum.
Merasa sudah lebih baik, Sekar Ayu Ningrum bangun dan terduduk di depan Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina meminta Sekar Ayu Ningrum untuk mencoba menghirup nafas sebanyak banyaknya dan mencoba menahannya dalam beberapa saat.
Terlihat Sekar Ayu Ningrum sudah tidak merasakan nyeri pada luka di dada kirinya.
"Terimakasih kakang Lintang, telah menolong Sekar," kata Sekar Ayu Ningrum pelan.
"Justru kakang Lintang yang berterimakasih pada adik Sekar. Karena adik Sekar telah mengorbankan diri untuk keselamatan kakang Lintang," jawab Lintang Rahina.
"Sekarang adik Sekar istirahat dulu, karena besok ada yang akan kakang Lintang sampaikan pada adik Sekar," kata Lintang Rahina lagi.
Akhirnya mereka berempat bisa beristirahat. Lintang Rahina duduk bersila bersemedi di samping Sekar Ayu Ningrum yang setengah terbaring.
---
Pagi menjelang. Udara pegunungan yang sangat sejuk laksana memanjakan paru paru yang tidak pernah berhenti berdenyut, dengan udaranya yang menyegarkan. Ditambah dengan bau rerumputan pegunungan yang khas membuat udaranya sangat menenteramkan.
Di tanah datar di punggung Gunung Mahameru, empat orang terlihat berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
"Adi Lintang, sekarang apa rencanamu selanjutnya ?" tanya Sindunata.
"Saya akan ke pulau sebrang arah matahari terbit, kakang. Mencari tempat tertinggi di sana. Semoga urusan senjata trisula bisa lekas selesai," jawab Lintang Rahina.
"Kalau begitu, kami berdua menemani sampai pesisir wetan," kata Sindunata lagi.
"Terimakasih kakang dan mbakyu, telah menemani dan menjaga kami selama ini," jawab Lintang lagi.
Kemudian Lintang Rahina menghampiri Sekar Ayu Ningrum.
"Adik Sekar, maukah adik Sekar menemani kakang ke pulau sebrang ?" tanya Lintang Rahina, "setelah itu, kakang Lintang akan antar adik Sekar pulang, karena ada pertanyaan dari Ki Ageng yang belum kakang jawab."
__ADS_1
Sekar Ayu Ningrum hanya mengangguk dengan perasaan yang sulit digambarkan.
\_\_\_◇\_\_\_