
Di tempat bekas meledaknya tubuh Mahagni, tertinggal kepulan asap hitam. Segera saja Lintang Rahina menggerakkan kedua tangannya membentuk pola gerakan tertentu. Kemudian dari kedua telapak tangan Lintang Rahina keluar lagi butiran butiran kecil yang berpendar dan berwarna kuning keemasan.
Pendaran butiran kecil kuning keemasan itu dengan cepat menarik dan menyerap kepulan asap hitam ke arah kedua telapak tangan Lintang Rahina.
Saat hanya tinggal berjarak satu lengan, kedua tangan Lintang Rahina kembali membuat pola gerakan tertentu yang membuat kepulan asap hitam saling mendekat dan menyatu.
Kemudian, perlahan lahan kepulan asap hitam itu semakin mengecil dan semakin menipis, hingga hanya menyisakan butiran sebesar ibu jari berwarna hitam berkilau sebesar ibu jari .
Dengan menangkupkan kedua telapak tangannya, Lintang Rahina menangkap butiran hitam berkilau itu dan menyerap memasukkannya kedalam tubuhnya melalui kedua tangannya.
Setelah butiran hitam berkilau itu terserap seluruhnya, Lintang Rahina kembali membuka tangkupan kedua telapak tangannya.
Blaaappp !!!
Tiba tiba terjadi letupan sinar putih pekat yang menyilaukan mata. Begitu sinar putih pekat itu hilang, terlihat di antara kedua telapak tangan Lintang Rahina ada butiran sebesar ibu jari yang mengeluarkan sinar putih pekat.
Perlahan lahan butiran sebesar ibu jari yang bersinar putih pekat itu bertambah besar, hingga akhirnya memunculkan wujud senjata trisula yang mengeluarkan pendaran sinar putih pekat.
Tiba tiba senjata trisula itu bergetar pelan. Kemudian getaran senjata trisula itu semakin kuat disertai munculnya suara mendengung.
Sesaat kemudian, senjata trisula itu melesat ke atas bersamaan dengan hilangnya kurungan benang jiwa.
Bersamaan dengan itu, saat tubuh Mahagni meledak, kurungan benang jiwa ikut terguncang hebat. Akibatnya, Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya langsung terjatuh dan pingsan.
Karena tidak terhubung lagi dengan energi mereka bertiga, kurungan benang jiwa itu perlahan lahan melemah dan kemudian lenyap.
Untuk beberapa saat, Lintang Rahina melihat ke atas ke arah melesatnya senjata trisula kemudian memperhatikan sekelilingnya.
Lintang Rahina melihat, pertarungan antara Pedang Pembelah Rembulan dan dua rekannya melawan Dewi Kematian dan dua saudaranya baru saja berhenti, karena Pedang Pembelah Rembulan dan kedua rekannya memilih pergi setelah melihat ada sesuatu yang melesat ke atas. Padahal pertarungan mereka melawan Dewi Kematian dan kedua saudaranya sedang pada puncak kemampuan mereka walaupun belum ada yang lebih unggul.
Kemudian di tempat yang lain, Lintang Rahina melihat pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Prabu Wisa juga sudah sampai puncaknya.
__ADS_1
Dengan kemampuan dan tingkat energinya yang sekarang, Sekar Ayu Ningrum mampu mengimbangi Prabu Wisa, dan bisa mengantisipasi dampak racun yang dikeluarkan oleh Prabu Wisa.
Melihat hal itu, akhirnya Lintang Rahina menolong dulu eyang dan kedua gurunya. Setelah membaringkan mereka bertiga di tempat yang aman, Lintang Rahina kembali melihat ke arah pertarungan. Ternyata Prabu Wisa baru saja meninggalkan pertarungan yang kemudian dikejar oleh Dewi Kematian dan dua saudaranya.
Setelah kehilangan lawan, Sekar Ayu Ningrum segera mendekat ke arah Lintang Rahina.
"Maaf telah membuat adik Sekar masuk dalam urusan yang membahayakan," ucap Lintang Rahina saat menyambut Sekar Ayu Ningrum.
"Tidak apa apa kakang, bagaimana keadaan eyang dan guru kakang ?" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil bertanya balik.
"Nampaknya karena energi yang membalik. Semoga tidak merusak organ dalam," jawab Lintang Rahina.
Dengan ditunggu dan dijaga oleh Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina menetralkan kembali aliran energi eyang dan kedua gurunya. Dengan memakai tehnik 'Nafas Raja', dengan cepat Lintang Rahina bisa memulihkan bahkan memurnikan kembali energi eyang dan kedua gurunya.
Ketika mereka bertiga sudah sadar, hal pertama yang ditanyakan oleh Ki Penahun adalah Mahagni. Yang kemudian dijawab oleh Lintang Rahina sekalian menceritakan tentang musnahnya Mahagni sekaligus tentang melesatnya senjata trisula ke atas yang sepertinya ke arah puncak.
Mendengar hal itu, Ki Penahun segera menyuruh Lintang Rahina untuk mengejar dan menyelesaikan tugasnya yang berhubungan dengan senjata trisula itu. Dan menyuruh Lintang Rahina meninggalkan mereka bertiga serta mengutamakan menyelesaikan urusannya itu.
Awalnya Lintang Rahina hendak pergi ke puncak sendiri dan meminta Sekar Ayu Ningrum untuk menjaga mereka bertiga.
Akhirnya Lintang Rahina segera ke arah puncak dengan melesat terbang ditemani Sekar Ayu Ningrum.
Dengan melayang terbang, mereka berdua bisa segera menyusul Pedang Pembelah Rembulan yang ternyata sedang saling berhadapan dengan Prabu Wisa dan Dewi Kematian serta dua saudaranya.
Begitu tiba di puncak Rinjani, Lintang Rahina segera turun di dekat senjata trisula yang masih melayang setinggi sekitar tiga depa.
"Senjata ini milik negeri kami dan akan aku kembalikan ke pelukan tanah negeri kami ! Siapapun yang menghalangiku, aku tidak akan segan untuk memusnahkannya !" ucap Lintang Rahina dengan cukup keras.
"Lakukan tugasmu anak muda ! Biar kami yang menghadapi mereka !" jawab Dewi Kematian yang mengagetkan semua orang yang berada di situ termasuk Lintang Rahina.
Lintang Rahina menatap tajam Dewi kematian, seolah sedang berusaha meyakinkan hatinya untuk mempercayai perkataan Dewi Kematian.
__ADS_1
"Kali ini percayalah pada kami, demi nyawa kedua saudara kami yang telah mati !" kata Dewi Kematian lagi.
Akhirnya Lintang Rahina berusaha memantapkan hatinya untuk percaya pada Dewi Kematian dan dua saudaranya.
"Kakang, lakukan tugasmu, biar Sekar yang mengawasi mereka !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina sejenak memandang Sekar Ayu Ningrum kemudian mengangguk.
Lalu Lintang Rahina melihat ke arah Dewi Kematian dan dua saudaranya.
"Kami aka sangat berhutang budi pada kalian," kata Lintang Rahina.
Kemudian, tanpa menunggu lagi, Lintang Rahina mengeluarkan energinya dalam jumlah yang cukup besar dan mengalirkan ke seluruh tubuhnya, sambil kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada.
Perlahanlahan tubuh Lintang Rahina diselimuti pendaran sinar berwarna kuning keemasan.
Beberapa saat kemudian tubuhnya melayang mendekat ke arah senjata trisula.
Setelah hanya berjarak dua depa dari senjata trisula, tubuh Lintang Rahina berhenti.
Kemudian dari telapak tangan Lintang Rahina keluar butiran butiran sebesar pasir yang berkilau berwarna kuning keemasan. Butiran kuning keemasan itu semakin banyak dan semakin meluas yang kemudian sebagian turun ke bawah kakinya dan membentuk bunga teratai. Sehingga seolah olah Lintang Rahina berdiri di atas bunga teratai.
Tidak berapa lama kemudian, Lintang Rahina membuka kedua telapak tangannya dan menghadapkannya me arah senjata trisula yang melayang di depannya sejauh dua depa. Seketika sisa butiran kuning keemasan yang masih ada melesat ke arah senjata trisula hingga menimbulkan letupan sinar berwarna putih pekat.
Blaaappp !!!
Setelah letupan sinar putih itu, Lintang Rahina menambah aliran energi ke kedua tangannya, sehingga aliran butiran kuning keemasan yang keluar dari tangannya semakin membesar.
Selama beberapa saat, senjata trisula itu masih memendarkan sinar putih pekat. Perlahan lahan, butiran kuning keemasan bergerak mengelilinginya mulai dari bawah berputar naik ke atas kemudian turun lagi. Hal itu terjadi berulang ulang sehingga akhirnya senjata trisula itu diselimuti butiran kuning keemasan seluruhnya.
Setelah tidak ada lagi butiran kuning keemasan yang bergerak naik turun mengelilingi senjata trisula itu, terjadi lagi letupan sinar yang lebih besar dari yang pertama dan letupan sinar kali ini berwarna kuning keemasan.
__ADS_1
Plaaasss !!!
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_