Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Sindunata Dan Puruhita Di Parangtritis


__ADS_3

Sindunata dan Puruhita, semenjak berpisah dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memang kembali ke Brantas dan menetap di sana. Mereka berdua menetap untuk beberapa tahun hingga mereka mempunyai seorang anak laki laki yang mereka beri nama Indrabayu yang sekarang sudah berusia lima tahun.


Hingga pada suatu saat, mereka berdua berniat melakukan pengembaraan dengan mengajak anak mereka. Tujuan mereka mengembara ke arah barat, sekalian untuk bertemu dengan Lintang Rahina.


Setelah berbulan bulan mereka melakukan perjalanan, mereka mendapatkan informasi, jika Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tinggal di Parangtritis.


Mereka berdua segera menuju pesisir Parangtritis. Namun, saat mereka berdua bertanya pada penduduk setempat, mereka mendapatkan kabar, jika Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tidak ada di tempat tinggalnya di Parangtritis, karena sedang melakukan perjalanan untuk mencari anaknya yang diculik oleh sekelompok orang yang berpakaian seperti para pendekar dari negeri daratan besar.


Maka mereka pun untuk beberapa waktu, tinggal di rumah Sekar Ayu Ningrum.


Di tempat itu, mereka berdua pergunakan untuk berlatih, memperdalam ilmu silat mereka. Terkadang mereka menyibukkan diri dengan membantu para penduduk sekitar Parangtritis yang membutuhkan bantuan. Kadang juga mereka manfaatkan untuk jalan jalan di sekitar pesisir pantai Parangtritis.


Hingga pada suatu hari, saat mereka sedang di pantai, Sindunata dan Puruhita sangat terkejut, saat mereka mendapati, anak mereka bermain pasir pantai ditemani seorang laki laki paruh baya, berpakaian serba putih dengan dandanan rambut dan pakaian seperti pendekar pendekar dari negeri daratan besar.


Yang membuat Sindunata dan Puruhita terkejut adalah, mereka sama sekali tidak bisa merasakan getaran energi kedatangan mereka. Tahu tahu orang itu sudah berdiri di dekat anak mereka yang sedang bermain pasir pantai.


Mengetahui ada orang yang datang mendekatinya, laki laki paruh baya itu segera menatap Sindunata dan Puruhita dengan tersenyum.


"Apakah kalian yang bernama Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum ?" tanya laki laki paruh baya itu, setelah Sindunata dan Puruhita tiba di dekatnya.


"Ada masalah apa dengan nama itu ?" tanya balik Sindunata.


"Apakah ini anak kalian ?" laki laki paruh bata itu bertanya lagi.


"Iya, dia anak kami !" jawab Sindunata.


Mendengar jawaban Sindunata, tiba tiba terjadi lonjakan energi yang sangat hebat di tubuh laki laki paruh baya itu.


"Kalian akan membayar semua yang telah kalian lakukan pada adik dan kedua orangtuaku !" kata laki laki paruh baya itu dengan suara pelan tapi berat.


Laki laki itu adalah Tuan Muda Kim. Setelah memeriksa jasad kedua orangtua dan adiknya serta mengamati luka luka yang ada pada tubuhnya, Tuan Muda Kim mengorek informasi tentang siapa yang melakukan semua ini pada ketua biksuni. Kemudian, dengan bekal semua informasi dari ketua biksuni, Tuan Muda Kim mengejar dengan melayang terbang, hingga akhirnya sampai di negeri Jawadwipa dan menuju Parangtritis.


Sebenarnya Tuan Muda Kim sudah beberapa hari berada di pesisir Parangtritis. Namun, untuk meyakinkan kebenaran orang yang dia cari, dia menyempatkan bertanya pada penduduk sekitar pesisir Patangtritis.


Tetapi, informasi yang Tuan Muda Kim dapatkan hanyalah sekitar pasangan muda bernama Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum dan mempunyai satu anak yang masih kecil.

__ADS_1


Sehingga ketika sampai di pesisir Parangtritis, Tuan Muda Kim yang melihat pasangan Sindunata dan Puruhita dengan seorang anaknya, memperkirakan, merekalah yang telah membantai semua anggota Klan Kemala Hijau yang saat itu berada di kuil para biksuni.


Walaupun sebenarnya, dengan merasakan getaran energi Sindunata dan Puruhita, Tuan Muda Kim meragukan, jika dengan tingkat energi mereka berdua, mereka mampu mengalahkan semua anggota Klan Kemala Hijau, terlebih kedua orangtuanya dan adiknya. Karena energi yang dimiliki oleh Sindunata dan Puruhita dalam tingkat yang sama dengan yang dimiliki oleh Tuan Besar Kim, Nyonya Besar Kim dan Nona Muda Kim.


Namun, untuk mengukur tingkat kemampuan sepasang suami istri di depannya itu, Tuan Muda Kim sengaja mengeluarkan energi yang sangat besar.


"Energinya sangat besar. Apakah dia musuh dari adi Lintang Rahina ? Kalau dia musuhnya, aku harus melindungi adi Lintang Rahina !" kata Sindunata dalam hati.


"Akulah Lintang Rahina yang kau cari !" ucap Sindunata dengan tegas.


Mendengar ucapan Sindunata, laki laki paruh baya itu menatap Sindunata dan bersiap menyerang.


Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, laki laki paruh baya itu menyerang Sindunata.


Sindunata yang telah bersiap, tetap terkejut menghadapi kecepatan laki laki paruh baya itu.


Dalam suatu rangkaian serangan, Sindunata berhasil menghindari dan menghindari beberapa serangan. Namun, dalam gerakan yang terakhir dalam rangkaian serangan itu, Sindunata tidak bisa menangkis dan menghindarinya, sehingga harus rela dadanya terkena pukulan.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Plak plak !


Tubuh Sindunata terbungkuk dan terdorong ke belakang hingga tiga langkah setelah terkena pukulan lawan.


Melihat suaminya terkena pukulan, Puruhita segera menutup dan menghadangruang serang laki laki paruh baya itu dengan melompat di depan Sindunata suaminya.


"Kakang tidak apa apa ?" tanya Puruhita sedikit cemas dengan keadaan Sindunata.


"Tidak apa apa adik. Ayo kita hadapi orang asing ini," jawab Sindunata sambil beberapa kali meraba dan mengurut dadanya dengan mengalirkan energinya untuk menetralkan akibat dari pukulan.


Sementara itu, laki laki paruh baya atau yang dulu dipanggil dengan sebutan Tuan Muda Kim, kagum dengan daya tahan Sindunata.


"Hebat juga pria yang mengaku bernama Lintang Rahina ini. Pukulanku seolah tidak ada apa apanya pada tubuhnya," kata laki laki paruh baya dalam hati.


Kemudian laki laki paruh baya itu kembali menyerang. Kali ini ke arah Puruhita. Namun, karena sudah merasakan kesaktian lawan, Sindunata segera membantu Puruhita istrinya.

__ADS_1


Kerjasama yang apik antara sepasang suami istri Sindunata dan Puruhita dengan pertahanan mereka yang rapat serta serangan mereka yang juga cepat, membuat laki laki paruh baya itu tidak bisa menekan mereka berdua.


Pertarungan mereka, tanpa terasa sudah berlangsung hingga tiga puluh jurus. Sindunata dan Puruhita sudah beberapa kali terkena serangan. Namun, mereka berdua pun berhasil juga menyarangkan serangan.


Sehingga masih sulit untuk dikatakan siapa yang lebih unggul.


Pertarungan semakin lama semakin seru. Bukannya semakin berkurang energinya, namun justru, mereka semua bertambah energinya.


Karena belum juga bisa menekan dan mendesak kedua lawannya, membuat Laki laki paruh baya itu mengeluarkan senjatanya yang sangat unik.


Tangan kanan laki laki paruh baya itu membawa sebuah kuas besar sedangkan sedangkan tangan kirinya memegang sebuah kipas.


Melihat lawannya mengeluarkan senjatanya, Sindunata dan Puruhita pun mengeluarkan senjata golok mereka.


Hingga kemudian tanpa bisa dihindari lagi, terjadi benturan senjata berkali kali.


Tak ! Tak ! Tak !


Tak tak ! Tak tak !


Namun, sama dengan saat mereka menggunakan tangan kosong, pertarungan mereka dengan menggunakan senjata berjalan seimbang.


Sebenarnya, laki laki paruh baya itu unggul dalam kecepatan dan tenaga dalam. Namun karena kerjasama antara Sindunata dan Puruhita yang apik, membuat pertarungan berjalan seimbang.


Hingga kemudian, laki laki paruh baya itu, menggunakan senjata sejenis serbuk yang bisa mengeluarkan ledakan bila terkena kulit, pakaian ataupun permukaan tanah.


Serbuk itu bisa keluar dari gagang kipas, ataupun diambil dari kantong yang tergantung di pinggang laki laki paruh baya itu.


Karena belum mengetahui itu senjata apa, serbuk itu sempat mengenai ujung baju Sindunata dan Puruhita yang membuatnya terbakar dengan mengeluarkan ledakan.


Treettt ! Treettt ! Treeettt !


Untung saja, Sindunata dan Puruhita segera bergulingan di tanah sehingga api yang membakar ujung baju mereka segera padam.


Dengan senjata serbuk itu, laki laki paruh baya itu berhasil menahan Sindunata dan Puruhita, hingga membuat mereka berdua tidak leluasa mendekat.

__ADS_1


Sebenarnya, itu adalah serbuk mesiu yang digabungkan dengan tehnik senjata kipas. Sehingga bisa diarahkan kemanapun serangan dilakukan.


__________ 0 __________


__ADS_2