Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Jati Diri Lintang Rahina


__ADS_3

Karena perasaan ingin segera bertemu dengan eyangnya, Ki Penahun, Lintang Rahina dalam perjalanannya menuju Gunung Merbabu menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dengan tingkat energinya yang sudah sangat tinggi, Lintang Rahina melesat cepat, tubuhnya melayang hingga seperti terbang.


Banyak sekali hal hal yang ingin dia tanyakan kepada eyangnya. Seolah ada dorongan atau bisikan agar dia segera menemui eyangnya.


Hanya dalam waktu sekitar tiga jam, sampailah Lintang Rahina di hutan Alas Penahun. Segera saja dia masuk ke bagian hutan yang paling dalam dan menujunke goa tempat Ki Penahun tinggal.


Saat sampai di mulut goa, Lintang Rahina melihat eyangnya sedang duduk di atas batu di samping mulut goa sambil memejamkan matanya, seolah sedang menunggu sesuatu.


Belum juga Lintang Rahina berkata, Ki Penahun sudah membuka matanya dan tersenyum.


"Kamu sudah kembali ngger," kata Ki Penahun, "kamu sudah dewasa sekarang."


"Eyang," kata Lintang Rahina sambil bersujud di depan Ki Penahun.


"Bangunlah ngger," kata Ki Penahun lagi sambil menggeser duduknya, "sini duduk di samping eyang. Eyang sudah menunggumu beberapa hari ini, karena hati eyang membisikkan, kamu akan pulang."


Ki Penahun kemudian.menyodorkan kendi berisi air minum kepada Lintang. Dengan perasaan yang sangat senang, Lintang Rahina menerima kendi itu dan langsung meminum air di dalam kendi itu.


"Sekarang ceritakan kepada eyang apa saja yang kau alami dalam pengembaraanmu," tanya Ki Penahun.


Kemudian Lintang menceritakan semua yang dialaminya selama dia melakukan pengembaraan. Ki Penahun menanggapinya dengan mengangguk angguk dan terkadang mengucapkan oh.


Hingga ketika Lintang Rahina menceritakan di saat dia seperti ditarik masuk ke alam lain dan pertemuannya dengan Prabu Brawijaya, barulah Ki Penahun bersuara.

__ADS_1


"Jagad Dewa Bhatara," kata Ki Penahun pelan, "memang semuanya telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa."


Ki Penahun menceritakan kepada Lintang Rahina, bahwa semua yang telah Lintang Rahina temui dan alami, telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Dan Ki Penahun, Ki Ageng Arisboyo dan Ki Pradah telah mendapatkan petunjuk tentang itu melalui wangsit yang mereka terima.


Ki Penahun juga menceritakan bahwa Prabu Brawijaya adalah eyangnya melalui garis Ibunda Ratu Dara Jingga.


Dari beberapa anak keturunan Prabu Brawijaya yang masih hidup, yang paling berhak mewarisi trah keprabon adalah Lintang Rahina. Karena anak keturunannya yang dari Ibu Ratu Permasuri Dara Petak, Putra Mahkota Raden Patah telah membuat dinasti sendiri, Kerajaan Demak.


"Jadi sebenarnya kamu bukanlah cucu kandung eyang. Maafkan eyangmu ini ngger, yang baru hari ini mengatakan tentang jati dirimu," kata Ki Penahun lirih sambil matanya menerawang jauh entah melihat apa. Terlihat setitik air mata di sudut kedua matanya.


Kemudian Ki Penahun bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya beberapa langkah, hingga berdirinya membelakangi Lintang Rahina.


"Eyang dan teman teman seangkatan eyang di pasukan prajurit elite 'Adhyasta Bhumi' adalah abdi Prabu Brawijaya," kata Ki Penahun lagi, " adalah abdi eyangmu, adalah abdi orangtuamu, adalah abdimu juga. Karena kami sudah bersumpah setia pada trah Prabu Brawijaya. Kalau eyang dalam menyampaikan tentang jati dirimu baru kali ini, membuatmu marah dan tidak terima, katakanlah, apa hukuman yang harus eyang jalani, eyang akan legowo menerimanya."


Dengan suara bergetar Lintang Rahina berkata, "eyang, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi, Lintang tetap cucu eyang. Terimakasih eyang telah merawat Lintang sampai dengan sekarang ini. Terimalah sembah sujud cucumu ini eyang."


Dalam bersujud, terlihat bahu dan kepala Lintang Rahina berguncang guncang. Walaupun ingin rasanya menangis, tetapi Lintang Rahina tetap menahan sedemikian rupa, sehingga tidak muncul suara tangisnya. Hanya matanya memerah dan basahbdi sudut sudut matanya.


Ki Penahun tersenyum, kemudian membalikkan badan dan berjongkok. Tangan kanannya mengelus elus kepala Lintang Rahina sambil berkata, "kamu tetaplah cucu eyang satu satunya. Bangunlah ngger. Ayo kita masuk ke dalam. Ada yang mesti eyang berikan dan ceritakan lagi padamu."


"Terimakasih eyang," jawab Lintang Rahina sambil berdiri di samping Ki Penahun. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam goa, kemudian Ki Penahun menyalakan obor untuk penerangan, karena hari sudah mulai gelap.


Setelah mereka berdua duduk di dalam, Ki Penahun kemudian menyampaikan pesan dari Prabu Brawijaya, bahwa beliau suatu saat dalam semedinya telah mendapat wangsit bahwa kejayaan kerajaan Majapahit telah berakhir dan akan digantikan kerajaan baru yang akan muncul dengan tatanan baru. Oleh sebab itu, beliau berpesan jangan ada anak keturunannya yang menolak berdirinya negara dengan tatanan baru itu apalagi memaksakan untuk meneruskan berdirinya kerajaan Majapahit.

__ADS_1


Kemudian Ki Penahun juga menceritakan kepada Lintang Rahina, bahwa ada beberapa teman teman seangkatan Ki Penahun yang berencana akan mengangkat salah satu anak keturunan Prabu Brawijaya menjadi raja Majapahit yang baru.


"Tugas kita adalah mencegah terlaksananya rencana mereka, karena akan menimbulkan kekacauan dalam tatanan bernegara," kata Ki Penahun, "karena itu artinya mereka melawan takdir dan tidak mengindahkan titah Prabu Brawijaya dan mengingkari sumpah mereka saat menjadi pasukan elite penjaga raja dan keluarganya, untuk setia kepada Prabu Brawijaya."


"Bagaimana pendapatmu ngger," tanya Ki Penahun pada Lintang Rahina.


"Tentang hak mewarisi tahta dari eyang Prabu Brawijaya, Lintang tidak pernah berpikir sedikitpun tentang itu, eyang," jawab Lintang Rahina, "tentang tugas mencegah terlaksananya rencana orang orang yang akan meneruskan lagi berdirinya kerajaan Majapahit, Lintang siap melaksanakannya apapun resikonya."


"Bagus," sahut Ki Penahun, sekarang adakah yang hendak kau tanyakan pada eyang, ngger?"


"Eyang, apakah hal sekarang ini yang dimaksud dengan pesan eyang Prabu Brawijaya untuk menanyakan semuanya pada eyang ?" tanya Lintang Rahina.


"Hal itu memang sudah digariskan oleh Yang Kuasa lewat wangsit yang kami bertiga terima dan beliau Prabu Brawijaya tentunya juga mendapat petunjuk melalui wangsit yang beliau terima, ngger. Karena sebelum bertapa di Gunung Lawu dan kemudian moksa, beliau Prabu Brawijaya sudah berpesan kepada kami semua," Ki Penahun menjelaskan.


"Terus eyang," tanya Lintang Rahina lagi, "kenapa semenjak Lintang mendapatkan transferan energi dari eyang Prabu Brawijaya, Lintang tidak bisa merasakan sinyal keberadaan Ki Sardulo dan tidak bisa menghubunginya ?"


"He he he... tentu saja ngger," jawab Ki Penahun, "karena setelah kamu mendapatkan transfer energi dari Prabu Brawijaya, energi yang ditransfer itu lebih besar dari energimu, jadi lebih mendominasi. Dan salah satu tujuan kenapa kamu disuruh bertanya ke eyang adalah karena kitab ini."


Ki Penahun mengeluarkan kitab tipis sebesar telapak tangan yang hanya terdiri dari beberapa lembar.


"Kitab ini oleh Prabu Brawijaya dititipkan pada eyang, untuk diserahkan kepada anak keturunannya yang 'terpilih' yaitu yang mendapatkan transferan energi dari Prabu Brawijaya. Dan ternyata yang terpilih adalah kamu," kata Ki Penahun sambil menyerahkan kitab itu kepada Lintang Rahina.


___ 0 ___

__ADS_1


__ADS_2