
Tiba tiba terdengar ledakan dari tubuh Sunu Magani.
Dammm !!!
Wajah Sunu Magani berubah menyerupai kelelawar. Mulutnya lebar dan telinganya lancip.
Kedua lengannya sudah menyatu dengan sayapnya.
Kemudian, dengan kecepatan yang semakin bertambah, Sunu Magani melesat ke arah Lintang Rahina dengan gerakan menyambar.
Beberapa kali Lintang Rahina menghindar dari sambaran sayap Sunu Magani dengan melompat ke atas ataupun ke samping.
Pada suatu kesempatan, Sunu Magani menggerakkan sayapnya yang penuh dengan energi dengan gerakan menggunting.
Lintang Rahina yang merasakan datangnya serangan energi dari sisi kanan dan kirinya segera melompat menghindar.
Tiba tiba muncul hawa yang sangat panas saat dari mulut Sunu Magani keluar bola api dan meluncur ke arah Lintang Rahina yang sedang melayang ke atas.
Dalam keadaan yang tidak bisa menghindar lagi, dengan cepat siluet berwujud harimau membuka mulutnya. Seketika dari mulutnya keluar bola api kuning keemasan.
Dengan masih melayang mundur, Lintang Rahina melepaskan bola api kuning keemasan dari mulut siluet harimau ke arah bola api berwarna merah yang melesat ke arahnya.
Benturan dua energi yang sangat besar tidak dapat dihindari lagi, sehingga menimbulkan suara yang sangat keras.
Blammm !!!
Terlihat kilatan cahaya merah bercampur kuning keemasan. Langit malam sesaat seperti menjadi siang hari karena begitu terangnya kilatan itu. Udara di sekitar pertarungan bergetar hebat. Pepohonan hutan di bawah mereka berdua bertarung seperti terserang badai. Daun daunnya layu terkena hawa panas.
Sesaat setelah suara ledakan itu, Sunu Magani yang kedua sayap dan tubuhnya menyala merah terhempas ke punggung bukit di atas hutan.
Bummm !!!
__ADS_1
Debu bercampur udara panas terlihat mengepul di tempat Sunu Magani terjatuh.
Walaupun sudah melapisi tubuhnya dengan energi pelindung yang menyelimuti seluruh tubuhnya, Sunu Magani tetap merasakan tulang tulangnya seperti terlepas semua. Terlihat darah mengalir dari kedua ujung bibirnya.
Dengan susah payah, Sunu Magani berusaha bangkit lagi.
Sementara itu, setelah terjadi ledakan, tubuh Lintang Rahina terdorong semakin ke atas sekitar dua puluh meter.
Lintang Rahina sengaja membiarkan tubuhnya terdorong ke belakang. Sambil melayang ke belakang, Lintang Rahina memperhatikan tempat jatuhnya Sunu Magani dan posisi Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti berdiri.
Lintang Rahina baru saja hendak turun ketika dilihatnya Sunu Magani sudah melesat lagi ke atas.
Sunu Magani tidak lagi mengepakkan sayap kelelawarnya, tetapi sayap itu menelangkup tubuhnya. Dengan badan berputar cepat seperti gasing, Sunu Magani melesat ke arah Lintang Rahina.
Tiba tiba saja Sunu Magani sudah tiba di depan Lintang Rahina. Begitu sudah dekat dengan Lintang Rahina, Sunu Magani membuka kembali sayap kelelawarnya. Tubuhnya berputar dengan sayap yang terbentang seperti gasing raksasa. Terdengar kesiutan angin saat dari kedua sayap Sunu Magani keluar energi angin yang tipis tapi lebar dan tajam seperti pedang.
Karena serangan Sunu Magani sudah sangat dekat, Lintang Rahina membuang tubuh sejauh yang dia bisa sambil kedua tangannya melepaskan serangan energi yang membentuk dua kepalan tangan sebesar satu meter untuk menahan dampak putaran dan sayatan energi angin dari kedua sayap kelelawar Sunu Magani.
Benturan energi yang menimbulkan ledakan pun tak terhindarkan lagi.
Blarrr !!!
Sedangkan Sunu Magani kembali meluncur ke bawah. Dengan membuka kedua sayapnya, Sunu Magani menghentikan daya luncur tubuhnya.
Sunu Magani melupakan rasa bergetar pada kedua sayapnya akibat benturan energi tadi, ketika melihat Lintang Rahina terdorong mundur cukup jauh. Hingga dia berambisi untuk menyerang lagi.
Sunu Magani segera memutar tubuhnya seperti gasing sambil melipat kedua sayapnya hingga menelangkupi seluruh tubuhnya.
Dalam posisi berputar, tubuh Sunu Magani kembali melesat ke atas ke arah Lintang Rahina.
Sementara itu, dalam benturan energi tadi, Lintang Rahina sengaja menggunakan pukulan jarak jauh dengan tehnik pemadatan energi sehingga energinya membentuk kepalan tangan. Hal itu bertujuan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari benturan energi pada hutan di bawah mereka bertarung.
__ADS_1
Melihat Sunu Magani sudah melesat kembali mengejarnya, Lintang Rahina mengayunkan lengan kanannya ke depan agak ke atas. Tiba tiba lengan kanannya mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan. Dari pendaran sinar kuning keemasan yang semakin pekat itu perlahan muncul senjata trisula dengan gagang pendeknya.
Begitu senjata trisula berada dalam genggaman tangan kanannya, dengan cepat pendaran sinar kuning keemasan itu menyebar menyelimuti seluruh tubuhnya dan kemudian melebar hingga membentuk siluet harimau setinggi lebih dari lima meter.
Setelah melihat Sunu Magani melesat naik sampai jarak yang diperhitungkannya aman, Lintang Rahina dengan cepat melesat turun memapaki serangan Sunu Magani. Tubuh Lintang Rahina meluncur dengan tangan kanan memegang senjata trisula berada di samping tubuh.
Ketika jarak mereka semakin dekat, Lintang Rahina menekuk sedikit lengan kanannya dan siap melepaskan serangan energi melalui senjata trisulanya.
Sesaat sebelum terjadi benturan energi di angkasa, Sunu Magani membuka lebar sayap kelelawarnya, hingga menimbulkan pusaran angin yang sangat besar. Sejenak Sunu Magani terkesiap melihat senjata trisula di tangan kanan Lintang Rahina. Tetapi sudah terlambat untuk menghindar atau untuk memikirkan hal lain.
Terlihat sinar merah menyala berbenturan dengan sinar kuning keemasan di angkasa. Sekejap terjadi kilatan berwarna merah bercampur kuning keemasan.
Blarrr !!!
Pendaran warna kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina tetap melesat mendorong pendaran sinar merah yang keluar dari sayap dan tubuh Sunu Magani.
Sinar kuning keemasan terus mendorong sinar merah menyala hingga sesaat kemudian jatuh menghujam ke punggung bukit.
Bummm !!!
Terlihat debu mengepul di tempat mereka berdua meluncur jatuh hingga beberapa saat menghalangi pandangan.
Perlahan debu semakin tipis meninggalkan pemandangan yang mengerikan.
Terlihat terbentuk lubang yang sangat besar berbentuk seperti kawah akibat jatuhnya dua energi yang berbenturan.
Di tengah tengah lubang besar itu, terlihat Lintang Rahina yang berdiri dengan memegang gagang senjata trisulanya. Senjata trisula itu menghujam tepat di dada Sunu Magani hingga hanya terlihat gagangnya.
Tubuh Sunu Magani yang terkapar dengan senjata trisula mengenai dadanya itu sudah pulih menjadi tubuh manusia biasa.
Yang terjadi dalam benturan energi tadi, begitu Sunu Magani bergerak menyerang, serangan Sunu Magani di sambut dengan tangkisan tangan kiri Lintang Rahina serta ayunan dua kaki depan siluet harimau. Bersamaan dengan itu, senjata trisula di tangan kanan Lintang Rahina menerobos dan menembus lapisan energi yang melindungi tubuh Sunu Magani tanpa bisa ditangkis lagi. Senjata trisula itu tepat mengenai dada Sunu Magani. Senjata Trisula itu juga menghisap energi dan jiwa makluk kelelawar, yang energinya digunakan oleh Sunu Magani.
__ADS_1
Sunu Magani tewas dengan sinar mata menggambarkan rasa tidak percaya, ada senjata yang masih bisa menembus energi pelindungnya.
\_\_\_◇\_\_\_