
Serangan Nyi Bandring Ratri memang unik. Dengan ilmu Selendang Kedut nya, Nyi Ratri menyerang dengan tenaga keras dan tenaga lembut bergantian. Hal itu membuat Nyi Bandring Ratri bisa membuat selendangnya kaku sekuat baja dan bisa cepat dirubah menjadi lembut seperti sutra.
Selendang yang digunakan Nyi Bandring Ratri, terbuat dari benang sutra berwarna hitam yang ditenun dari ulat sutra hutan yang hanya bisa hidup di pedalaman hutan yang tidak pernah terjamah sinar matahari.
Sejak dari pengambilan kepompong sampai dengan penenunan menjadi senjata selendang, juga dengan ritual yang mengorbankan tujuh perawan dan tujuh perjaka.
Maka dari itu, selain kuat, selendang Nyi Bandring Saloka juga membawa kekuatan mistis.
Lintang bisa melihat keunikan serangan Nyi Bandring Saloka, dari beberapa saat mempelajari tehnik dan arah serangan Nyi Bandring Ratri.
Lintang juga bisa merasakan kalau selendang Nyi Bandring Saloka juga berhawa mistis, berhawa siluman.
Dengan menggunakan potongan ranting yang agak panjang, Lintang menangkis setiap serangan Nyi Bandring Ratri. Sebelumnya, Lintang Rahina juga mengaktifkan kekebalan baik tubuh maupun jiwanya, agar tidak terpengaruh kekuatan mistis dalam selendang itu.
Walaupun Lintang Rahina bisa menggunakan kekuatan Ki Sardulo, tetapi Lintang belum mau mengeluarkannya.
Setiap benturan selendang Nyi Bandring Ratri dengan ranting yang digunakan Lintang sebagai senjata, terkadang menimbulkan suara seperti ledakan.
Ctarrr !!!
Duarr !
Duarrr !!!
Setelah belasan jurus serangannya bisa dihindari atau ditangkis oleh Lintang Rahina, tiba tiba Nyi Bandring Ratri menghentikan serangannya dan menarik selendangnya yang kemudian digulung di telapak kanannya.
"Hi hi hi....hebat juga kau bocah. Sekarang coba kau hadapi jurusku ini," kata Nyi Bandring Ratri.
"Sapuan Selendang Dewi Kematian!!!" Sambil berteriak, Nyi Bandring Ratri bergerak ke arah kiri Lintang Rahina. Selendang Nyi Bandring Ratri yang tadinya bergulung di telapak kanannya, meluncur cepat mengarah ke kepala Lintang Rahina.
Tiba tiba dari ujung selendangnya keluar asap hitam yng berbau wangi.
Disusul dengan dorongan telapak kirinya yang mengeluarkan hembusan angin. Membuat asap hitam itu mengarah ke wajah Lintang Rahina.
Wushhhh !!!
Ujung selendang Nyi Bandring Ratri yang sudah meruncing, tiba tiba sudah muncul di belakang kepala Lintang Rahina, mengarah ke ubun ubun Lintang Rahina.
__ADS_1
Sungguh serangan yang sangat keji.
Lintang menghadapi rentetan serangan itu dengan tenang.
Telapak kirinya diangkat sampai sejajar dengan dagu, dan bergerak memutar seperti menggambar lingkaran, dengan gerakan memutar yang sangat cepat, sehingga asap hitam yang keluar dari ujung selendang Nyi Bandring Ratri, seperti terhisap dan terkumpul pada telapak kiri Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina mengayunkan telapak kirinya seperti orang melempar.
Asap hitam itu meluncur kembali menuju Nyi Bandring Ratri dengan dengan luncuran yang lebih cepat lagi. Asap hitam itu tepat mengenai wajah Nyi Bandring Ratri.
Disambung dengan gerakan tangan kanan di posisi belakang kepala.
Sambil tetap melihat ke depan, Lintang Rahina dengan cepat menangkap ujung selendang.
Tappp !!!
Dengan sekali hentakan, tubuh Nyi Bandring Ratri meluncur ke arah Lintang Rahina.
Tangan kanan Lintang Rahina yang masih menggenggam ujung selendang yang masih mengeras, mengarah dan menghujam ke dada Nyi Bandring Ratri.
Ujung selendang menghujam deras ke dada Nyi Bandring Ratri. Sebelum itu, wajahnya sudah lebih dulu terkena asap hitam miliknya sendiri.
Brukkk !
Tanpa sempat berteriak, tubuh Nyi Bandring Ratri jatuh ke tanah dengan mata melotot seolah tidak percaya, dia mati terkena senjatanya sendiri.
"Bocahhh....kau sudah berani membunuh adik seperguruanku. Sebagai hukumannya, kau harus mati ditanganku !" teriak Ki Bandring Ayun menggelegar.
Tanpa basa basi, Ki Bandring Ayun dan Ki Bandring Udek langsung menyerang Lintang Rahina.
Mereka berdua begitu marahnya, sampai sampai mereka berdua sudah tidak memikirkan, betapa mereka, dua orang tua tua, mengeroyok seorang yang jauh lebih muda.
Ki Bandring Ayun yang tubuhnya tinggi kurus, bersenjatakan golok besar dan panjangnya hampir satu meter.
Serangan goloknya menimbulkan suara menderu dan hanya kilatan kilatan bayangan goloknya yang terlihat. Pada kilatan itulah terlihat betapa cepatnya gerakan Ki Bandring Ayun saat menusuk, mencongkel dan membabat ke arah Lintang Rahina. Dan itu masih diselingi dengan serangan tendangan kaki, atau sikutan dan juga jarum jarum beracun yang di lemparkan dengan tangan kirinya.
Sementara itu, Ki Bandring Udek yang tubuhnya gemuk dan pendek, ikut menyerang dengan sepasang kipas bajanya.
__ADS_1
Kipasnya yang terbuat dari besi baja, meruncing disetiap bilah kipasnya dan tajam di sisi luar bilah paling pinggir. Kedua kipas itu kalau direntangkan, masing masing setinggi tubuh Ki Bandring Udek yang tinggi tubuhnya hanya sekitar seratus empat puluh centimeter.
Walau tubuhnya gemuk dan pendek, tetapi gerakan Ki Bandring Udek tidak kalah cepat dengan Ki Bandring Ayun.
Ki Bandring Ayun mengibaskan kipasnya secara menyilang. Dari kibasan itu muncul energi gelombang udara yang bahkan bisa merobohkan pohon besar.
Menghadapi kedua serangan itu, Lintang Rahina mengeluarkan kerisnya. Keris itu begitu keluar dari rangkanya, mengeluarkan sinar putih pekat dan berpendar. Pendaran sinar dari keris itu dikarenakan Lintang Rahina menyalurkan tenaga dalamnya ke kerisnya. Pendaran sinar itu perlahan juga meliputi seluruh tubuhnya, walaupun samar samar.
Baru kali ini Lintang Rahina mengeluarkan kerisnya dan juga memainkan jurus keris 'Surya Anala'.
Jurus yang diajarkan oleh Ki Penahun itu bisa dibuat perubahan energi, tergantung akan digabungkan dengan energi alam apa.
Seperti yang sekarang akan mainkan Lintang, jurus 'Surya Anala Tirta'. Jurus yang bisa membuat keris itu memancarkan air panas.
Sementara tangan kirinya berwarna ungu sampai pangkal lengan.
Lintang menggunakan dua jurus yang berlainan secara bersamaan, karena Lintang bisa merasakan lawannya kali ini mempunyai kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Tangan kiri Lintang bergerak memutar di depan dada untuk meruntuhkan serangan jarum jarum Ki Bandring Ayun yang mengarah pada leher dan dadanya. Kemudian kerisnya dengan cepat menangkis datangnya golok Ki Bandring Ayun yang menyerang dari atas seperti hendak membelah tubuhnya. Gerakan keris menangkis golok disambung dengan gerakan seperti menusuk dan berputar cepat. Sehingga menimbulkan gelombang air panas yang menghadang datangnya gelombang energi yang ditimbulkan dari kipas baja Ki Bandring Udek.
Tanpa terasa, sudah terjadi beberapa kali pertukaran serangan. Dan sedikit demi sedikit Lintang Rahina mulai bisa menekan kedua lawannya.
Ki Bandring Ayun dan Ki Bandring Udek diam diam terkejut bukan main. Ternyata lawannya, walaupun usianya masih sangat muda, tetapi mempunyai kecepatan gerak di atas kecepatan mereka berdua. Mereka berdua pun semakin jengkel, karena hingga belasan jurus, serangan mereka berdua belum bisa mengenai sasaran.
Hingga beberapa saat kemudian, Lintang Rahina mendapatkan peluang. Saat kerisnya menangkis golok Ki Bandring Ayun, tangan kirinya berhasil mengenai dada Ki Bandring Ayun.
DESSS !!!
Ki Bandring Ayun terdorong tiga langkah kebelakang.
Disusul dengan keris dan tangan kiri Lintang Rahina yang menangkis datangnya sepasang kipas Ki Bandring Udek.
Trangggg....brakkkk !!!
Ki Bandring Udek terlempar hingga sepuluh meteran. Kedua tangannya bergetar hebat. Wajahnya pucat. Hampir saja dia terkena serangan. Tetapi kipas sebelah kiri tergores panjang terkena keris Lintang.
___ 0 ___
__ADS_1