
"Energi Lintang memang sudah sangat tinggi, tetapi setinggi apapun energinya, kalau di dalam tubuhnya ada benang jiwa dengan energi hitam, tetap akan mempengaruhi pemiliknya. Apalagi yang sekelas dengan benang jiwa iblis," kata Ki Pradah lagi, "Lebih baik benang jiwa iblis itu secepatnya kita bakar, kemudian abu dan asapnya kita tenggelamkan ke dalam kawah Merapi."
Ki Penahun yang sebenarnya juga mengetahui hal itu, mengangguk angguk.
"Hal itu kita lakukan setelah kita selesai membantu permasalahan Ki Ageng Arisboyo," kata Ki Penahun.
Kemudian Ki Penahun menceritakan semua yang dia dengar dari Sekar Ayu Ningrum pada Ki Pradah.
Mendengar hal itu, gantian Ki Pradah yang terkejut.
"Tidak mungkin ! Tidak mungkin mereka, " bisik Ki Pradah sambil seolah matanya melihat ke masa lalu.
Ki Penahun menyorongkan kepalanya ke arah Ki Pradah.
"Apakah Ki Pradah juga mempunyai perkiraan yang sama denganku ?" tanya Ki Penahun pelan.
Ki Pradah menarik nafas panjang sekali dan mengeluarkannya dengan pelan.
"Semoga dugaan kita keliru Ki Penahun," jawab Ki Pradah.
Setelah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum selesai berkemas, mereka segera berangkat menuju Parangtritis. Ki Pradah pun akhirnya juga ikut ke Parangtritis.
Siang hari mereka berempat sampai di Parangtritis. Ki Ageng Arisboyo merasa tenang dengan kedatangan kedua sahabatnya dan juga Lintang Rahina.
Pada suatu kesempatan, Ki Ageng Arisboyo menceritakan tentang orang yang dulu pernah mendatanginya.
"Kalau Menak Manila, kita bertiga sudah tahu latar belakang dan kemampuannya serta kekuatan di belakangnya. Walaupun kita juga tidak bisa meremehkannya," kata Ki Pradah menanggapi cerita Ki Ageng Arisboyo, "Tetapi yang lebih menarik untuk diperhatikan adalah mereka yang mengikutinya. Kalau melihat ciri cirinya, dugaanku dan Ki Penahun, apakah itu mereka, kelompok yang sudah dikabarkan menghilang."
"Aku juga mempunyai dugaan ke arah itu Ki, walaupun kita belum pernah bertemu mereka sebelumnya," jawab Ki Ageng Arisboyo, "Sekarang ini kita hanya bisa menunggu kedatangan mereka."
----- o -----
Sudah dua hari mereka menunggu di kediaman Ki Ageng Arisboyo. Selama waktu menunggu itu mereka pergunakan untuk berlatih dan memulihkan kondisi mereka sampai benar benar pulih. Apalagi keadaan Pantai Parangtritis yang energi alamnya berlimpah dan bagus.
Seperti hari sebelumnya, saat ini mereka sedang duduk beristirahat, ketika tiba tiba mereka semua terdiam.
Mereka merasakan ada banyak getaran energi dari arah timur yang bergerak secara perlahan.
__ADS_1
Yang membuat mereka sedikit terkejut adalah, mereka tidak muncul dari arah utara dan jumlah mereka tidak enam seperti yang mereka perkirakan. Tetapi mereka rasakan ada sekitar sembilan.
Getaran energi yang mereka rasakan memberikan gambaran jika masing masing pemilik energi itu hampir seimbang dan semuanya masuk tingkatan yang sudah tinggi.
Setelah beberapa waktu mereka menunggu, di kejauhan dari arah timur terlihat rombongan berkuda yang berlari cukup kencang menuju ke arah tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo.
Di setiap yang mereka lewati, rombongan berkuda itu selalu meninggalkan kepulan debu.
Mereka semua turun dari kuda ketika sampai di dekat Ki Ageng Arisboyo yang berdiri berjajar menanti kedatangan mereka.
Terlihat Menak Manila berjalan paling depan, diikuti oleh delapan orang berpakaian serba hitam.
"Ki Ageng Arisboyo, kuharap jawaban yang kau berikan bisa memuaskanku, sehingga kita bisa bekerja sama meneruskan kerajaan leluhur kita di ujung timur Jawa Dwipa," kata Menak Manila yang langsung menanyakan tanpa berbasa basi dahulu.
"Baiklah Pangeran Menak Manila, karena tidak suka berbasa basi, aku akan memberikan jawaban," jawab Ki Ageng Arisboyo.
"Tentang cita cita Pangeran untuk melanjutkan kejayaan leluhur kita, maaf, aku tidak bisa membantu Pangeran untuk mewujudkannya, karena aku sudah berjanji membantu perjuangan Panembahan Senopati penguasa Mataram saat ini," lanjut Ki Ageng Arisboyo, "Sedangkan untuk ikatan keluarga dengan niat menjadikan cucuku sebagai istri Pangeran, biar cucuku sendiri yang menjawabnya."
Ki Ageng Arisboyo menoleh ke arah Sekar Ayu Ningrum.
"Karena aku tidak suka dengan orang yang datang tiba tiba dan mengandalkan kekerasan, apalagi untuk melamar perempuan, aku tidak sudi !" ucap Sekar Ayu Ningrum sambil telunjuk jari kanannya menuding muka Menak Manila, "Kalau kamu tidak terima, aku siap menghadapi resikonya, sekalian aku hendak menagih hutangmu karena telah membuat kerusakan di tempat ini !"
Mendengar jawaban ini, Menak manila sejenak terdiam. Mukanya merah padam, kedua tangannya gemetar karena menahan amarah.
Kedua telapak tangannya dikepalkan dengan kencang sambil membuka sedikit kaki kanannya.
Kemudian tanpa berkata kata lagi, Menak Manila melesat melayang ke arah Ki Ageng Arisboyo.
Tetapi belum sampai setengah jarak, gerakan melayangnya dihadang oleh Sekar Ayu Ningrum. Tidak terhindar lagi terjadi benturan serangan.
Plak ! Plak ! Plaaakkk !!!
Dua pukulan dan satu tendangan Menak Manila berbenturan dengan tendangan pukulan dan tendangan Sekar Ayu Ningrum
Pada benturan itu Menak Manila dan Sekar Ayu Ningrum sama sama terdorong kebelakang. Hal ini membuat Menak Manila penasaran, ada perempuan yang mampu menghadapi dan mengimbangi energinya. Dengan cepat Menak Manila segera melesat kembali.
Sekar Ayu Ningrum segera melesat menyambut datangnya serangan itu sambil menambah aliran energi ke kedua tangannya.
__ADS_1
Kedua tapak tangannya mengeluarkan pendaran sinar putih.
Plak ! Plak ! Plak !
Terdengar lagi suara benturan pukulan dan tendangan. Disusul dengan suara tendangan yang mengenai punggung.
Buuuggghhh !!!
Menak Manila terdorong ke belakang dengan keras sampai tubuhnya bergulingan karena terkena tendangan Sekar Ayu Ningrum.
Melihat Menak Manila terjatuh, salah seorang yang berpakaian hitam hitam segera melesat dan menghentikannya.
"Pangeran, perlu kubantu ?" tanya pendekar itu.
Menak Manila hanya diam saja sambil mengibas ibaskan kedua tangannya pada bajunya.
Orang berbaju serba hitam tadi segera melesat menyerang Sekar Ayu Ningrum.
Swing !!! Plaaakkk !!!
Terjadi benturan yang sangat berat Persis di depan mukanya. Yang kemudian terlihat ada dua sosok yang terdorong lagi ke belakang.
Sosok berbaju serba hitam yang serangannya disambut oleh Ki Ageng Arisboyo, segera bersiap dan membuat kuda kuda lagi.
"Nduk Sekar, kamu hadapi saja dia. Biar ini kakek yang menghadapi !" kata Ki Ageng Arisboyo sambil sekilas melihat Sekar Ayu Ningrum.
Menak Manila segera menyerang Sekar Ayu Ningrum lagi. Kembali terdengar suara benturan tangan dan kaki mereka.
Beberapa waktu memudian, terlihat sedikit demi sedikit Sekar Ayu Ningrum mampu mendesak dan melayangkan pukulan berkali kali. Hingga akhirnya Menak Manila terlempar lagi dengan tubuh penuh luka. Menak Manila segera bangun kembali dan bersiap untuk menyerang lagi.
Tiba tiba terdengar kesiuran angin, saat salah seorang berbaju hitam tiba tiba sudah menyerang ke arah Sekar Ayu Ningrum yang segera menghadapinya dengan pukulan tangan kanan.
Plaaakkk !!!
Sesaat setelah benturan itu, terlihat orang berbaju serba hitam itu terdorong selangkah ke belakang. Sedangkan Sekar Ayu Ningrum terhuyung huyung hingga tiga langkah.
__________ 0 __________
__ADS_1