
Beberapa saat kemudian, Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina merasakan hawa yang sudah terbiasa mereka rasakan dan ada getaran energi yang mereka rasakan.
Belum juga mereka memutar tubuh, terdengar suara perempuan.
"Kenapa kalian lama sekali, anak muda ?"
Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina dengan cepat memutar tubuhnya. Di depan mereka berdiri dua orang perempuan, Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu.
"Kami terlempar hingga ke daratan besar, ke Negeri Atap Langit," jawab Lintang Rahina.
"Itu negeri yang sangat jauh. Makanya kalian lama sekali, hingga dua tahun baru kembali," kata Putri Dyah Pawatu.
Mendengar perkataan Putri Dyah Pawatu, membuat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum saling pandang.
"Apa maksudnya hingga dua tahun, Putri ?" tanya Lintang Rahina lagi.
"Ketahuilah anak muda. Sejak terjadinya ledakan pohon keabadian dahulu itu, kami berdua terlempar ke alam dunia, di pulau ini, dan kebetulan di hutan Panjalu. Jadi kami tahu persis perhitungan waktu di alam dunia ini. Kami sudah mencari kalian ke mana mana, di alam dunia ini. Tetapi tidak pernah sekalipun kami mendengar tentang diri kalian," kata Putri Kalistra.
"Kami juga secara rutin bertemu untuk membahas tentang diri kalian. Bahkan, kemaren lusa, kami baru saja pulang dari mencari kalian !" kata Putri Dyah Pawatu lagi, "Dan dari pertama kali, kami selalu menghitung waktunya. Sampai sekarang, kalian sudah dua tahun menghilang."
"Dua tahun ? Perasaan, kami hanya beberapai hari berada di negeri itu," jawab Lintang Rahina.
"Kalian sepasang anak muda yang ditakdirkan mempunyai kekuatan yang hebat, namun diiringi dengan tanggung jawab yang berat," kata Putri Kalistra, "Sekarang kalian berdua kembalilah dan tengoklah anak kalian."
Mendengar kata anak, mereka jadi teringat anak mereka, Seruni yang mereka tinggalkan bersama eyang buyutnya dan guru gurunya yang lain.
Mereka segera meninggalkan hutan Panjalu dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, mereka melesat, melayang dengan sangat cepat
Dengan kemampuan dan tingkat energi mereka yang sekarang, mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari, mereka sudah sampai di lereng gunung Merbabu.
__ADS_1
Namun mereka berdua merasakan ada yang aneh. Mereka tidak bisa merasakan getaran energi keempat gurunya itu.
Segera saja mereka naik ke punggung gunung Merbabu di kedalaman hutan Alas Penahun. Sesampainya di tempat tinggal Ki Penahun, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tidak menemukan keberadaan keempat gurunya. Dan sepertinya tempat ini sudah lama tidak ditempati.
Kemudian Lintang Rahina mencoba merasakan getaran energi dari anaknya ataupun keempat gurunya.
Dari benda atau tempat yang pernah dilewati energi anaknya dan keempat gurunya, Lintang Rahina memperkirakan, mereka semua menuju ke timur.
Segera Lintang Rahina mengajak Sekar Ayu Ningrum untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur. Dan dari arah getaran yang dia terima, sepertinya mengarah ke puncak gunung Lawu.
Hal itu semakin menambah rasa penasaran mereka. Kenapa kakek dan guru gurunya membawa anak mereka ke puncak Lawu. Apakah ada hubungannya dengan Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mengarahkan terbang mereka langsung ke puncak Gunung Lawu, tempat tinggal sekaligus tempat bertapanya Ki Dipa Menggala.
Sesampai di puncak gunung, mereka segera melesat turun. Begitu Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menginjakkan kaki mereka ke tanah, mereka disambut enam orang tua yang berdiri dengan wajah tegang.
"Eyang dan guru semua, maaf telah membuat menunggu terlalu lama," kata Lintang Rahina.
Kemudian, mereka semua kembali masuk ke ruangan yang dulu untuk tempat tinggal Ki Penahun, saat di'kurung' oleh Ki Dipa Menggala.
Begitu Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai di dalam, mereka melihat ada anak perempuan kecil berusaha sekitar tiga tahun.
"Itu anak kalian. Begitu lamanya kalian meninggalkannya, hingga anakmu sudah sebesar itu" kata Ki Penahun.
"Eyang, apakah benar kami pergi hingga dua tahun ?" tanya Lintang Rahina.
"Kami pun juga bertanya tanya dalam hati, kenapa kalian pergi begitu lama," jawab Ki Penahun.
Kemudian Lintang Rahina menceritakan semua yang telah mereka alami.
__ADS_1
Mendengar cerita Lintang Rahina, Ki Penahun menarik nafas panjang.
"Kalian sudah ditakdirkan mendapatkan kekuatan yang besar, namun tanggung jawab besar juga berada di pundak kalian," kata Ki Penahun.
"Kalian pastinya ke Merbabu dahulu sebelum ke sini. Sejak dari Merbabu hingga ke puncak Lawu ini, apakah kalian merasakan adanya getaran energi yang sangat besar di sepanjang rute yang kalian lewati ?" tanya Ki Jagad Dahana.
"Untuk menyingkat waktu, kami melakukan perjalanan dengan melesat di udara, guru," jawab Lintang Rahina lagi, "Namun, dari atas, kami sempat merasakan adanya beberapa getaran energi yang sangat besar di bawah kami di tempat yang kami lewati. Namun, bukankah itu wajar guru, karena banyak tokoh persilatan yang memiliki energi tinggi di tanah Jawa Dwipa ini."
"Betul, di tanah Jawa Dwipa memang banyak tokoh dunia persilatan yang energinya masuk tingkat tinggi. Namun, getaran energi yang kalian rasakan itu, sebagian besar berasal dari para tokoh dunia persilatan dari negeri negeri yang ada di jagad ini,' kata Ki Jagad Dahana.
Kemudian Ki Jagad Dahana menceritakan. Bersamaan dengan bermunculannya para tokoh spiritual dari berbagai negeri, di tanah Jawa Dwipa, karena memperebutkan pohon keabadian. Di sekitar Merbabu, tempat keempat guru Lintang Rahina tinggal dan merawat Seruni, anak dari Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, bermunculan banyak tokoh dunia persilatan yang memiliki energi yang sangat tinggi, yang berasal dari berbagai negeri.
Mereka jauh jauh dari negerinya untuk mendapatkan maha kekuatan yang turun di tanah Jawa Dwipa.
Dan ternyata, maha kekuatan yang sangat besar itu, adalah energi yang dibawa oleh Seruni anak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum saat terlahir.
Awalnya hanya satu dua orang tokoh persilatan tersebut yang mendatangi keempat guru Lintang Rahina dan ingin menculik atau merebut Seruni.
Setiap tokoh dunia persilatan yang mendatangi mereka kala itu, dapat mereka kalahkan dan mereka usir.
Namun, tatkala tokoh tokoh dari dunia persilatan itu datangnya berkelompok, keempat guru Lintang Rahina menjadi semakin kewalahan.
Demi keselamatan semuanya, keempat guru Lintang Rahina memutuskan untuk membawa Seruni ke gunung Lawu dan juga untuk menemui Ki Jagad Dahana, agar bersedia ikut melindungi Seruni dengan menempatkannya di ruangan yang sudah diberi tabir pelindung, sehingga keberadaannya tidak bisa diketemukan dengan merasakan getaran energinya. Paling tidak sebagai tempat perlindungan cucu buyut mereka, Seruni, sampai dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum kembali dari tlatah kulon.
Namun, karena kepergian mereka berdua yang cukup lama hingga memakan waktu dua tahun, membuat tabir pelindung itu lama kelamaan bisa dirasakan keberadaannya.
__________ 0 __________
Para pembaca yang berbahagia, karena banyaknya kegiatan menyambut peringatan kemerdekaan di kampung dan juga di organisasi pada bulan Agustus ini, maka membuat waktu update chapter menjadi tidak menentu.
__ADS_1
Namun author tetap berusaha untuk tetap bisa update chapter.
Author ucapkan banyak terimakasih atas kesabaran pembaca semuanya, menunggu lanjutan cerita ini.