
Ki Jagad Dahana menggerakkan tangan kanannya beberapa kali dengan pola gerakan tertentu. Tiba tiba hawa panas di sekitar mereka seperti terserap masuk ke tubuh Ki Jagad Dahana.
Udara pun membali menjadi sejuk seperti udara pegunungan pada umumnya.
Kemudian, sambil tersenyum ramah, Ki Jagad Dahana menatap Ki Pradah.
"Ha ha ha ha .... ternyata Ki Pradah yang mengemban tugas itu," kata Ki Jagad Dahana sambil tangan kirinya mengelus jenggotnya yang panjang.
"Sayangnya bukan saya Ki," kata Ki Pradah, "Ki Penahun yang terpilih. Hatiku masih banyak kotoran."
"Ki Penahun ya .... tugas yang sangat berat," sahut Ki Jagad Dahana.
"Kapan kita berangkat Ki ?" tanya Ki Jagad Dahana pada Ki Pradah, "Tulang tulang tua ini sudah sangat lama menunggu untuk segera menyelesaikan tugasnya."
"Secepatnya Ki," jawab Ki Pradah, "Kita akan bertemu Ki Penahun di punggung gunung yang mengarah ke kawah Merapi."
"Kita berangkat sekarang. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama !" kata Ki Jagad Dahana. Belum selesai berkata, tubuh Ki Jagad Dahana sudah melesat ke arah timur. Tanpa berkata kata lagi, Ki Pradah dan Ki Jagad Anila segera menyusul Ki Jagad Dahana.
Sama seperti Ki Jagad Anila adiknya, Ki Jagad Dahana dulunya adalah seorang brahmana yang juga menekuni olah kanuragan.
Saat Prabu Brawijaya moksa, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila termasuk abdi kerajaan Majapahit dari golongan brahmana, yang mendapatkan petunjuk dalam semedinya.
Dalam semedinya, mereka mendapatkan petunjuk, akan adanya keturunan Prabu Brawijaya yang terpilih dan mampu, mewarisi kekuatan Prabu Brawijaya. Orang orang tertentu, dalam semedinya bertemu Prabu Brawijaya yang telah moksa, dan mendapatkan tugas yang berbeda beda.
Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila mendapatkan tugas mendampingi keturunan Prabu Brawijaya yang akan datang ke kawah Merapi dan membantu menyempurnakan ilmunya.
----- o -----
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum serta Ki Penahun tiba di kaki gunung Merapi pada petang hari. Namun Ki Penahun mengajak untuk tetap melanjutkan sampai di punggung gunung.
Akhirnya pada malam harinya, mereka bertiga sampai di tanah yang cukup datar di punggung gunung.
Di situ telah menunggu Ki Pradah bersama dua orang tua yang berpakaian putih lusuh.
Begitu melihat mereka berdua, Ki Penahun langsung mendekat.
"Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila ... lama tidak berjumpa. Kalian berdua tambah lusuh saja," kata ki Penahun.
__ADS_1
"Ki Penahun, ternyata kedua tanganmu masih tetap beracun !" sahut Ki Jagad Anila.
Ha ha ha ha !!!
Mereka bertiga tertawa tawa.
Kemudian, oleh Ki Penahun, mereka dikenalkan dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Saat berhadapan dengan Lintang Rahina, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila mencoba mengukur energi Lintang Rahina. Tetapi mereka tidak bisa merasakan sama sekali getaran energi Lintang Rahina.
"Apakah sudah sedemikian tingginya energi bocah ini, sampai sampai aku sudah tidak bisa melacak getaran energinya," kata Ki Jagad Dahana dalam hati.
"Prabu Brawijaya memang 'waskita' dalam memilih orang yang dipercaya," Ki Jagad Anila memuji Prabu Brawijaya dalam hati.
Setelah beberapa saat mereka berdua memperhatikan dan menilai Lintang Rahina, tiba tiba Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anika menatap tajam ke arah Sekar Ayu Ningrum. Mereka berdua juga tidak bisa merasakan energi Sekar Ayu Ningrum.
Tetapi yang menjadi perhatian mereka bukan tingkat energi Sekar Ayu Ningrum, tetapi ada sesuatu yang yang mereka berdua rasakan dari diri Sekar Ayu Ningrum.
"Siapa gadis cantik ini Ki ?" tanya Ki Jagad Dahana.
"Pantas ... pantas ... pantas ....," gumam Ki Jagad dahana.
"Kalian sudah berapa lama menikah ?" tanya Ki Jagad Anila.
"Baru sekitar tujuh hari yang lalu Ki," jawab Lintang Rahina.
Mendengar jawaban Lintang Rahina, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ngger Lintang, mau jaga istrimu. Akan bertambah berat tugas yang kau emban sekarang," kata Ki Jagad Dahana sambil menepuk nepuk bahu Lintang Rahina.
Lintang Rahina yang belum paham maksud dari perkataan Ki Jagad Dahana, mengangguk.
"Iya Ki, terimakasih atas pesan dan nasehatnya," jawab Lintang Rahina.
Kemudian, setelah menatap sejenak Sekar Ayu Ningrum, Ki Jagad Dahana mengajak mereka untuk beristirahat dulu dan naik ke puncak Merapi, besok pagi, tidak jadi malam ini.
Mereka berenam akhirnya beristirahat menunggu pagi tiba. Tetapi, selama beristirahat itu, diam diam Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila tidak pernah melepaskan perhatiannya pada Sekar Ayu Ningrum.
__ADS_1
Hingga akhirnya tanpa terasa, pagi hari tiba. Setelah semua selesai mempersiapkan diri, Ki Jagad Dahana mendekati Ki Penahun.
"Ki Penahun, biarlah kami berdua yang mengantarkan Lintang Rahina. Tolong Ki Penahun dan Ki Pradah serta Sekar menunggu di sini saja.
"Tapi Ki .... ," Ki Penahun hendak menanyakan alasannya.
"Ki Penahun percaya pada kami berdua," jawab Ki Jagad Dahana, "Kami hanya berpesan, tolong dijaga gadis itu, jangan sampai dia pergi kemana kemana. Kalau saatnya kami memerlukan bantuan, kami akan memanggil kalian."
Kemudian, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila segera melesat naik ke arah puncak, diikuti oleh Lintang Rahina.
Sesampai di puncak Ki jagad Dahana dan Ki Jagad Anila, membalikkan badannya dan menatap Lintang Dahina.
"Ngger Lintang, kau seranglah kami. Lakukan saja dan tidak usah bertanya mengapa !" kata Ki Jagad Dahana.
Lintang Rahina yang belum memahami apa maksud dari Ki Jagad Dahana, hanya mengangguk dan mulai mengeluarkan sepertiga energinya. Kemudian mengalirkan ke kedua tangannya. Saat itu, barulah Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila bisa merasakan tingkat energi dari Lintang Rahina.
"Benar .... energi anak ini, sudah sangat tinggi," kata Ki Jagad Dahana dalam hati.
"Jagad Dewa Bathara ! Prabu Brawijaya memang tidak pernah keliru memilih orang orang yang akan beliau percayakan sesuatu," Ki Jagad Anila memuji Prabu Brawijaya dalam hati.
Setelah kedua kedua lengannya mengeluarkan pendaran sinar putih tipis, Lintang Rahina melesat cepat ke arah mereka berdua. Tubuhnya seperti menghilang, tahu tahu sudah dihadapan Ki Jagad Anila dan Ki Jagad Dahana dan kemudian melepaskan pukulan dengan kedua tangannya.
Plaaakkk !!! Plaaakkk !!!
Tubuh Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila terdorong ke belakang hingga tiga langkah saat mereka berdua menangkis pukulan Lintang Rahina. Dalam bebedapa saat, tangan mereka terasa kebas.
"Bocah dengan kemampuan yang luar biasa," gumam Ki Jagad Dahana.
Keduanya segera memperbaiki kuda kuda mereka. Dalam sekejap, mereka berdua melesat ke arah Lintang Rahina dari arah yang berbeda.
Lintang Rahina merasakan datangnya dua energi yang berbeda. Yang satu mengeluarkan hawa sangat panas dan yang satunya lagi menimbulkan hawa sejuk dingin.
Blaaammm !!! Blaaammm !!!
Terjadi dua benturan energi yang bersamaan. Kembali terlihat, kedua tubuh yang terdorong ke belakang.
__________ 0 __________
__ADS_1