Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Melawan Putri Galuh Pawatu II


__ADS_3

Setelah berhasil menjatuhkan Dharmajaya Pawatu, Lintang Rahina terus saja melesat memapaki senjata tongkat berumbai milik Putri Dyah Pawatu yang melayang ke arahnya dengan berputar kencang.


Lintang Rahina sengaja mendekat ke arah senjata tongkat yang berputar itu. Dengan posisi pedang yang agak dimiringkan ke belakang, Lintang Rahina menangkis tongkat itu.


Traaannnggg !!!


Begitu berbenturan dengan pedang Lintang Rahina, tongkat yang berputar kencang itu terpental kembali ke belakang, yang kemudian ditangkap lagi oleh Putri Galuh Pawatu yang tubuhnya melayang, melesat di belakangnya.


Sementara, Lintang Rahina merasakan tangannya sedikit bergetar setelah menangkis luncuran tongkat yang berputar.


Namun rasa itu harus segera dia lupakan, karena saat itu, Putri Galuh Pawatu sudah kembali melakukan serangan. Tubuhnya yang melayang, melesat cepat dengan tongkat di tangan kirinya yang lurus mengarah ke mata Lintang Rahina. Sedangkan tongkat di tangan kanannya diayunkan memukul ke arah pinggang Lintang Rahina.


Merasakan ada serangan berbahaya, Lintang Rahina menggeser tubuhnya dengan cepat sehingga serangan tongkat yang mengarah ke matanya bisa dihindari. Kemudian, sambil memutar tubuhnya, Lintang Rahina memapaki datangnya pukulan tongkat dengan tebasan pedang.


Traaannnggg !!!


Dalam benturan dua senjata itu, tubuh Lintang Rahina bergeser mundur selangkah, sedangkan tubuh Putri Galuh Pawatu terdorong mundur tiga langkah.


Baru saja Lintang Rahina menyiapkan serangan berikutnya, dari arah samping, Dharmajaya Pawatu sudah mendekat dengan hantaman tongkatnya.


Dua kali tongkat terayun menghantam ke arah tubuhnya, dua kali pula Lintang Rahina menangkis dengan pedangnya.


Trang ! Traaang !


Ayunan tongkat yang menghantam dengan tehnik memantul itu disusul dengan terjangan kaki ke arah dada Lintang Rahina.


Breeesss !!!


Tendangan Dharmajaya Pawatu ditangkis Lintang Rahina dengan ayunan lengan kiri. Membuat tubuh Lintang Rahina terhuyung ke belakang hingga tiga langkah. Sedangkan tubuh Dharmajaya Pawatu berjumpalitan kembali ke belakang.


Sambil memasang kembali kuda kudanya, Lintang Rahina menambah aliran energinya. Kemudian, tangan kanannya yang memegang pedang, mengibas beberapa kali ke arah samping. Seketika, muncullah empat pendaran energi berbentuk ujung pedang.


Lintang Rahina mengarahkan ujung pedangnya ke depan. Seketika, keempat pendaran energi berwujud ujung pedang itu melesat dengan sangat cepat ke arah Dharmajaya Pawatu. Sesaat setelah itu, dengan ujung pedang mengarah ke depan, tubuhnya yang melayang juga melesat dengan sangat cepat mengarah ke Dharmajaya Pawatu.


Dengan memutar tongkatnya di depan dadanya, Dharmajaya Pawatu berusaha menangkis keempat pendaran energi berbentuk ujung pedang yang meluncur ke arahnya.


Taaakkk !!!

__ADS_1


Tak ! Tak !


Tiga pendaran energi berhasil ditangkis tongkat Dharmajaya Pawatu. Namun, ada satu yang lolos dan berhasil mengenai bahu kiri Dharmajaya Pawatu.


Tssskkk !!!


Disusul kemudian dengan tebasan pedang Lintang Rahina yang berhasil menghentikan putaran tongkat.


Saat Dharmajaya Pawatu menahan tongkatnya agar tidak terlepas dari genggamannya, kaki kanan Lintang Rahina sudah menerjang dadanya.


Tubuh Dharmajaya Pawatu terlempar hingga lebih dari lima meter dengan mulut menyemburkan darah segar.


Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Dharmajaya Pawatu ke tanah, pedang Lintang Rahina berkelebat cepat dan tiba tiba sudah menancap di dada Dharmajaya Pawatu.


Sesaat setelah dadanya terusuk pedang, Dharmajaya Pawatu sempat mengangkat kepalanya sambil tertawa, kemudian terkulai diam tak bergerak, dengan tangan kanan masih memegang tongkatnya.


Lintang Rahina segera membalikkan badan dan menatap Putri Galuh Pawatu.


Sementara itu, begitu melihat ayahnya jatuh terkapar, Putri Galuh Pawatu dengan sedikit menggeram, melesat ke arah Lintang Rahina. Kedua tongkatnya mengurung Lintang Rahina dengan sabetan secara beruntun berulang ulang.


Traaang ! Tang !


Traaang ! Tang !


Pada benturan senjata yang ke sekian kalinya, tubuh mereka berdua sama sama terdorong ke belakang.


Terlihat, saat tubuhnya terdorong ke belakang, Putri Galuh Pawatu segera melayangkan tubuhnya agak menjauh hingga setinggi kepala orang dewasa.


Sejenak terlihat Putri Galuh Pawatu terdiam, namun jelas sekali kalau dia meningkatkan energinya. Terlihat rumbai yang terdapat pada ujung tongkatnya, sedikit bergetar.


Dengan perlahan Putri Galuh Pawatu mengangkat kedua tongkatnya ke depan hingga setinggi dada, kemudian kedua tangannya melspaskan pegangannya pada kedua tongkat itu, sehingga terlihat tongkat itu melayang.


Kemudian, kedua tangannya melakukan gerakan gerakan tertentu disertai gerak bibir seperti mengucapkan mantera.


Sesaat kemudian, kedua telapak tangannya ditarik ke samping dada dan kemudian mendorongkan ke depan dengan sangat cepat dalam posisi kedua telapak tangan terbuka menghadap depan.


Seketika, kedua tombak yang melayang di depan dada, melesat dengan sangat cepat disertai pergerakan udara di sekitarnya yang sangat menekan.

__ADS_1


Sementara itu, melihat Putri Galuh Pawatu melayang, Lintang Rahina pun menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya yang membuat tubuhnya melayang setinggi kepala manusia.


Kemudian, dengan mengibaskan pelan bilah pedangnya, terbentuk lima buah pendaran energi yang berbentuk ujung pedang yang berwarna putih pekat bercampur butiran sinar kuning keemasan.


Bersamaan dengan Putri Galuh Pawatu mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan, Lintang Rahina juga mendorongkan ke depan, tangan kiri dan tangan kanannya yang memegang pedang.


Seketika, lima pendaran energi itupun melesat dengan sangat cepat ke arah Putri Galuh Pawatu.


Sesaat kemudian, di tengah tengah jarak mereka berdua berdiri berhadapan, terjadi benturan antara kedua tombak dengan kelima pendaran putih pekat yang sama sama membawa energi yang sangat kuat yang menciptakan percikan percikan api seperti kilat dan menimbulkan suara yang sangat keras.


Blaaammm !!!


Gerakan udara disertai debu, tanah dan dedaunan, menyebar ke semua arah.


Bersamaan dengan gerakan udara itu, kedua senjata tombak terpental kembali ke arah Putri Galuh Pawatu sedangkan kelima pendaran energi berwujud ujung pedang, ikut meledak dan lenyap.


Sesaat setelah suara ledakan, Lintang Rahina dan Putri Galuh Pawatu yang telah menangkap kembali kedua tombaknya, sama sama melesat ke depan dan melayangkan serangan dengan senjatanya yang mengandung penuh energi.


Dbaaammm !!!


Kedua tubuh sama sama melayang ke belakang. Terlihat Lintang Rahina berdiri dengan tangan kanan tetap memegang pedang. Sedangkan Putri Galuh Pawatu terlihat berdiri agak sempoyongan. Kedua tangannya yang menggantung di samping tubuhnya masih menggenggam senjata tombaknya. Namun terlihat ada darah mengalir di kedua ujung bibirnya.


Melihat lawannya terluka, Lintang Rahina pun melesat kembali untuk memberikan serangan berikutnya.


Dengan tubuh melayang, Lintang Rahina menyerang dengan pedangnya diayunkan, yang masih bisa ditangkis oleh Putri Galuh Pawatu dengan menyilangkan kedua tongkatnya di depan dada. Disusul dengan pukulan telapak tangan kirinya yang berwarna ungu kehitaman yang dengan telak mengenai dada Putri Galuh Pawatu.


Tubuh Putri Galuh Pawatu terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah.


Dbuuummm !!!


Tidak terlihat lagi gerakan tubuh Putri Galuh Pawatu.


Untuk beberapa saat, Lintang Rahina terdiam. Namun, belum juga Lintang Rahina membalikkan badan, terdengar suara teriakan yang disertai gerakan tendangan yang mengenai punggungnya.


"Rasakan ini !"


Buuuggghhh !!!

__ADS_1


Tubuh Lintang Rahina terdorong ke depan dan jatuh bergulingan.


__________ 0 __________


__ADS_2