Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Padang Rumput


__ADS_3

Setelah hampir semua titik getaran energi yang bertebaran di punggung dan kaki gunung Merapi menghilang, Ki Penahun dan Ki Pradah segera melesat ke arah barat mencoba menyusul perjalanan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Selama sehari penuh, Ki Penahun dan Ki Pradah melakukan perjalanan. Hingga sampailah mereka berdua di kaki sebuah gunung yang menjulang tinggi.


Ketika mereka menyusuri kaki gunung dan beniat menempuh jalan memutar, di suatu padang rumput yang cukup luas, Ki Penahun dan Ki Pradah merasakan, di depan mereka ada tiga titik getaran energi yang berhenti agak jauh di depan mereka.


Saat sampai di tengah tengah padang rumput, mereka melihat ada tiga orang berdiri di depan mereka di jalur yang akan mereka lewati.


Ki Penahun dan Ki Pradah berhenti dalam jarak sekitar dua puluh depa dari tiga orang itu.


Selama beberapa saat, suasana hening. Hanya suara hembusan angin yang menerpa mereka dan menggerakkan ujung ujung pakaian mereka.


Ki Penahun dan Ki Pradah saling menatap dengan tajam dengan ketiga orang itu, seolah mereka sedang saling mengukur kekuatan.


Diam diam Ki Penahun dan Ki Pradah terkejut. Tiga orang yang berdiri menghadang di jalan yang akan mereka lewati, menunjukkan kesan tidak bersahabat. Tatapan mata mereka menggambarkan permusuhan.


Setelah hanya saling menatap, tiba tiba, dari tubuh ketiga orang yang menghadang jalan itu terjadi lonjakan energi yang sangat besar.


Ki Penahun dan Ki Pradah kembali terkejut. Mereka merasakan dari getaran energinya, ketiga orang itu memiliki energi yang sangat besar. Paling tidak, setingkat dengan mereka berdua.


Mereka bertiga adalah Ki Rowangbala, Ki Aswa Komara dan Nyi Lanjar Wangi.


Setelah berpisah dengan Ki Ujang Galih, mereka bertiga segera menuju ke arah timur lagi untuk menjalankan tugas berikutnya. Hingga akhirnya mereka sampai di padang rumput seperti yang sudah mereka rencanakan.


"Bagaimana, apakah sudah saatnya ?" tanya Ki Rowangbala.


"Tunggu ! Sebentar lagi ! Biar mereka tepat berada di tengah tengahnya hingga sementara waktu, biar racun Ki Ujang Galih bekerja dulu !" jawab Ki Aswa Komara.


Selama beberapa saat, mereka semua hanya diam dan saling menatap dengan tajam. Sampai akhirnya, Ki Aswa Komara berbisik,


"Sekarang !"


Plaaasss ! Plaaasss !

__ADS_1


Seketika tubuh Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi melesat ke arah Ki Penahun dan Ki Pradah.


Sementara itu, melihat dua orang bergerak menyerang, Ki Penahun dan Ki Pradah yang selalu waspada sejak awal, segera menyambut.


Ki Pradah dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah pada tingkat yang sangat tinggi, segera ikut melesat dan memapaki serangan Ki Rowangbala.


Tangan kanan Ki Rowangbala yang membentuk cakar, terayun cepat mengarah ke leher sebelah kiri Ki Pradah.


Melihat serangan berbahaya, tubuh Ki Pradah memiringkan sedikit tubuhnya dan menangkis serangan itu dengan pukulan ke arah pergelangan tangan kanan Ki Rowangbala.


Taaakkk !


Setelah serangan pertamanya bisa ditepis lawannya, Ki Rowangbala segera menyambung dengan serangan beruntun untuk mengurung lawan.


Sebentar kemudian, terjadilah saling menyerang, adu pukulan dan tendangan. Berkali kali terdengar suara benturan pukulan ataupun tendangan.


Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !


Tanpa terasa, pertarungan mereka sudah berlangsung selama belasan jurus. Mereka berdua pun sudah meningkatkan aliran energinya hingga enam puluh persen.


Merasa agak keteter dalam kecepatan, Ki Rowangbala yang berbadan kecil melenting ke atas dan cakar tangan kanannya dengan sangat cepat mengarah ke ubun ubun Ki Pradah.


Melihat lawannya seolah seperti hendak mengadu nyawa, Ki Pradah bukannya menghindar, namun menghadangnya dengan pukulan tangan kanan.


Blaaammm !!!


Debu langsung beterbangan mengepung Ki Pradah yang masih berdiri di tanah. Sedangkan Ki Rowangbala terlempar kembali ke belakang hingga lima depa dan mendarat dengan kuda kuda kedua kakinya. Nafasnya agak tersengal akibat dari benturan energi tadi.


Sementara bersamaan dengan pertempuran Ki Pradah melawan Ki Rowangbala, Nyi Lanjar Wangi yang melesat bersama Ki Rowangbala, segera menyerang Ki Penahun.


Ki Penahun baru saja hendak melompat menghadang gerak Nyi Lanjar Wangi, tatkala tiba tiba tangan kanan Nyi Lanjar Wangi sudah sangat dekat dengan pelipis kirinya. Terpaksa Ki Penahun mengurungkan gerakan melompatnya dan segera merendahkan tubuhnya. Kepalan tangan Nyi Lanjar Wangi lewat di atas kepalanya. Namun disusul dengan tendangan kaki kanan Nyi Lanjar Wangi yang juga sudah mengancam perutnya.


Ki Penahun langsung menggeser tubuhnya sedikit ke belakang sehingga tendangan Nyi Lanjar Wangi hanya lewat di depannya.

__ADS_1


Ki Penahun terkejut, melihat Nyi Lanjar Wangi masih berada sekitar empat depa dari dirinya. Ternyata kaki dan tangan Nyi Lanjar Wangi bisa memanjang.


Melihat lawannya terkejut, Nyi Lanjar Wangi segera mengirimkan serangan lagi.


Kali ini kedua tangannya yang memanjang dan mengepung Ki Penahun dari arah kiri dan kanan dengan melakukan pukulan ke arah kepala dan dada Ki Penahun.


Merasa penasaran, Ki Penahun mencoba menangkis kedua serangan itu dengan pukulan tapaknya.


Kedua tangannya yang sudah berubah warna menjadi merah berbenturan dengan keras dengan kedua tangan Nyi Lanjar Wangi.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Kedua lengan Nyi Lanjar Wangi terpental ke belakang agak keras. Tetapi Nyi Lanjar Wangi tidak memberi kesempatan pada Ki Penahun. Serangan bertubi tubi segera menghujani Ki Penahun. Sehingga benturan tangan ataupun kaki yang dilapisi dengan energi tak terelakkan lagi.


Plak Plak !


Plak Plak Plak !


Tetapi diam diam, Nyi Lanjar Wangi juga terkejut. Lawannya, selain memiliki tingkat energi yang sedikit di atasnya, juga jurus tapaknya yang membuat kedua tangannya seperti tersengat petir, setiap berbenturan.


Melihat kedua temannya belum bisa mengatasi lawan lawannya, bahkan ada kemungkinan terdesak, Ki Aswa Komara segera ikut masuk ke dalam pertarungan. Karena kalau mereka bertiga tidak bisa menahan kedua lawannya, akan sangat membahayakan berjalannya rencana kelompok mereka.


Selain itu, Ki Aswa Komara serta Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi, dalam hati terkejut, kedua lawannya seperti tidak terpengaruh oleh racun yang telah ditebarkan oleh Ki Ujang Galih di seluruh rerumputan tempat Ki Penahun dan Ki Pradah berdiri.


Ki Aswa Komara segera melesat ke arah Ki Penahun.


"Nyi Lanjar Wangi ! Biar aku yang menghadapinya ! Cepat bantu Ki Rowangbala !" ucap Ki Aswa Komara sambil melakukan serangan ke arah Ki Penahun.


Nyi Lanjar Wangi sedikit jengkel dengan Ki Aswa Komara.


"Kenapa bukan Ki Rowangbala saja yang kau bantu ! Aku masih mampu menghadapinya !" teriak Nyi Lanjar Wangi sambil mempercepat cecaran serangannya pada Ki Penahun.


Ki Penahun menghindari semua serangan Nyi Lanjar Wangi dengan memiringkan dan meliukkan tubuhnya sedemikian rupa, hingga semua serangan Nyi Lanjar Wangi hanya tipis melewati tubuhnya.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2