
Setelah dirasa cukup istirahatnya dan energi mereka berdua telah pulih sepenuhnya, siang itu juga, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum meneruskan perjalanannya.
Mereka berdua melesat ke atas agak lebih tinggi, kemudian melayang ke arah timur menuju ke Pulau Dewata dengan tidak terlalu cepat, karena mereka ingin menghemat tenaga. Selain itu juga untuk menjaga segala kemungkinan, karena baru pertama ini mereka terbang menyeberangi lautan.
Beberapa saat kemudian, pemandangan di bawah di sekeliling mereka hanyalah hamparan air laut.
Setelah sekitar dua puluh tarikan nafas, mereka berdua merasakan seperti ada energi yang sangat kuat yang mengikuti mereka. Semakin lama, energi itu terasa semaki besar. Tubuh mereka berdua rasanya seperti hendak ditarik ke bawah.
Lintang Rahina mencoba melihat ke beberapa arah. Ternyata energi itu berasal dari seseorang yang berjalan di permukaan air laut.
Tidak ! Tidak berjalan, karena kecepatannya bisa mengimbangi kecepatan terbang mereka berdua. Berlari di atas permukaan air juga tidak, karena kakinya tidak bergerak.
Seseorang yang melayang di atas permukaan air laut.
Seorang laki laki paruh baya berusia sekitar tujuh puluh tahunan.
Tiba tiba Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mendengar suara pelan tetapi terdengar jelas di telinga mereka.
"Hendak kemanakah kalian, anak muda ?" tanya orang yang melayang di atas permukaan air laut itu.
Dengan bisa mengirimkan suara langsung ke telinga orang yang dituju, sudah menunjukkan jika orang itu mempunyai energi yang sangat tinggi.
"Maaf kalau kami kurang sopan, paman," jawab Lintang Rahina, "kami permisi numpang lewat."
"Kalian harus mampir dulu !" kata orang yang tadi melatang di atas permukaan air laut.
"Maafkan kami, bukannya kami menolak. Kami ada urusan yang mendesak. Permisi," jawab Lintang Rahina lagi.
Kemudian dengan cepat Lintang Rahina memesat menambah kecepatan melayangnya sambil tangannya meraih tangan Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina bukannya takut. Dengan tingkat energi yang dimilikinya sekarang ini, sudah cukup membuat Lintang Rahina percaya diri walaupun energinya yang hilang belum pulih keseluruhan. Tetapi dia mementingkan keselamatan Sekar Ayu Ningrum dan juga supaya urusannya dengan senjata trisula segera selesai.
Baru melesat lagi lima tarikan nafas, tiba tiba di samping mereka berdua sudah berdiri melayang pria paruh baya yang tadi berdiri di bawah mereka tadi.
"Kalian boleh lewat, asal kalian tinggalkan barang yang kalian bawa !" kata pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Maaf paman, terpaksa kami tidak bisa memenuhi permintaan paman," jawab Lintang Rahina.
Kemudian mereka berdua melesat ke kanan untuk menghindari pria paruh baya itu.
Sambil menambah kecepatannya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke arah timur. Saat ini perjalanan yang mereka tempuh sudah tiga perempat, hingga kurang dari seperempat jarak lagi, mereka akan sampai di pesisir barat pulau Dewata.
Melihat dua orang yang dihadangnya melesat pergi, orang itu mencoba menghadangnya. Tiba tiba di bawah agak depan mereka, muncul ombak yang sangat besar, sampai sampai, ombak tersebut bisa menjangkau mereka berdua.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menghindari datangnya ombak yang menghadang di depan mereka dengan melayang lebih tinggi lagi.
Begitu ombak tadi menghilang, kembali ke lautan, segera muncul lagi ombak yang lebih tinggi dan besar dari yang pertama tadi.
Dari ujung permukaan ombak melesat gumpalan gumpalan air yang mengarah ke tubuh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
"Adik Sekar, jangan ditangkis ataupun dihadapi. Cukup dihindari saja. Kita tidak ingin berurusan dengannya di tengah laut begini," kata Lintang Rahina.
Tidak ingin banyak berurusan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum hanya menghindar.
Mereka berdua segera melesat meneruskan perjalanan kembali kearah timur.
Dari arah timur, terlihat titik kecil yang melesat cepat ke arah mereka berdua. Lintang Rahina merasakan adanya energi yang sangat besar dari setitik kecil yang melayang ke arah mereka.
Seorang wanita yang matang, berusia sekitar empat puluh tahunan. Wajahnya cantik. Berpakaian warna merah dan hitam. Berdandan layaknya seorang putri.
Begitu jarak mereka sudah cukup dekat, wanita itu berhenti dan membiarkan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melewatinya.
Wanita itu baru bergerak saat pria paruh baya yang mengejar mereka berdua sampai di dekat wanita itu.
"Hih hi hi hi .... Ugra Asipatra, kau berani mengganggu tamuku ?" tanya wanita itu sambil tangan kanannya menuding pria yang ternyata bernama Ugra Asipatra.
"Huhhh !!! Ni Luh Pawitra ! Mereka bukan tamumu ! Jangan kau mencari masalah denganku !" jawab Ugra Asipatra.
"Mereka menuju ke pulauku ! Berarti mereka adalah para tamuku !" kata Ni Luh Pawitra lagi.
"Anak muda ! Lanjutkan perjalananmu. Tunggu aku di pantai. Biar ku urus dulu kakek kakek ini !" kata Ni Luh Pawitra.
__ADS_1
"Heiii !!! Ni Luh Pawitra ! Aku yang lebih dulu bertemu mereka ! Jangan kau seenaknya saja mengambilnya dariku !" teriak Ugra Asipatra.
"Hih hi hi hi ..... tapi mereka sudah melewatimu ! Kamu sudah gagal mendapatkannya. Dan mereka sudah masuk pulauku, mereka sudah menjadi tamuku !" jawab Ni Luh Pawitra lagi.
"Huhhh !!! Dasar nenek nenek tua mau menangnya sendiri ! Bukannya aku takut padamu ! Tetapi aku masih menghormati perjanjian antara leluhur kita !" kata Ugra Asipatra dengan jengkel.
Wanita yang dipanggil Ni Luh Pawitra itu sebenarnya usianya lebih tua dari keadaan sebenarnya. Sebenarnya dia seangkatan dengan Ugra Asipatra, jadi usia sebenarnya sekitar tujuh puluhan, tetapi dengan tehnik dan ramuan tradisioanal yang dia kuasai, bisa membuat wajahnya tetap terlihat muda.
"Hih hi hi hi .... Jadi kamu tidak terima ? Apa yang akan kamu lakukan Ugra Asipatra ?" tanya Ni Luh Pawitra.
Ugra Asipatra diam saja. Dia melesat kembali ke arah tengah lautan dengan wajah yang menampakkan kejengkelan.
Bersamaan dengan itu, tidak berapa lama, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai di pantai pulau sebrang. Pantai barat Pulau Dewata.
Karena teringat kata kata wanita yang datang dari arah timur tadi, Lintang Rahina menunggu di pantai.
Tidak berapa lama, terlihat Ni Luh Pawitra kembali dari atas lautan.
Melihat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum masih menunggu, Ni Luh Pawitra segera mendekati mereka berdua.
"Hih hi hi hi .... anak anak, sekarang, mari singgah ke istanaku," ajak Ni Luh Lawitra.
"Maaf Nyaì, kami sedang tergesa gesa, kami ...."kata Lintng Rahina yang belum selesai, keburu dipotong oleh Ni Luh Pawitra.
"Panggil aku Ni Luh Pawitra," kata Ni Luh Pawitra.
"Harap maafkan kami Ni Luh, kami untuk sekarang ini belum bisa memenuhi permintaanmu," jawab Lintang Rahina.
"Hih hi hi hi ... tidak apa apa .... saya akan menunggu sampai selesai urusanmu," kata Ni Luh Pawitra lagi.
Kalau begitu kami permisi Ni Luh," jawab Lintang Rahina.
"Kamu menunggu di sini saja gadis cantik, hih hi hi hi ...." kata Ni Luh Pawitra sambil memandang wajah Sekar Ayu Ningrum.
"Dia tetap bersamaku Ni Luh," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
Segera saja Lintang Rahina menggandeng tangan Sekar Ayu Ningrum dan dengan cepat mereka keluar dari daerah pantai meninggalkan Ni Luh Pawitra yang masih tertawa aneh.
\_\_\_◇\_\_\_